Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Sakiya Sunaryo: Saya Tidak Terima Ludruk Di Surabaya Hilang

Posted by Edi Purwanto pada Mei 6, 2008

Edi Purwanto

Siang itu Kota Surabaya terasa panas sekali. Panasanya terik matahari seolah-olah membuat kulit setiap orang yang ada dibawahnya terbakar. Asap kendaraan dan pabrik serta bau sampah menyengat. Dari jauh terdengar suara motor yang tidak pernah berhenti berbunyi. Sesekali suara pesawat terbang menambah kebisingan dan hiruk-pikuk kota Surabaya. Tidak jauh dari keramaian kota Surabaya ada sebuah gedung Ludruk. Gedung ini bernama Gedung Ludruk Irama Budaya. Tepatnya berada di Wonokromo, di Pinggir Sungai Brantas. Gedung itu sangat sederhana arsitekturnya masih model lama.

Gedung itu hanya memuat penonton sekitar 120 orang. Peralatan yang digunakan juga masih sederhana. Pada saat pertunjukan, gedung ini hanya menggunakan seperangkat gamelan dan beberapa alat pengeras suara. Di gedung inilah Ludruk Irama Budaya setiap malam melakukan pementasan dengan lakon yang berbeda-beda.

Anggota Ludruk Irama Budaya ini berasal dari berbagai tempat. Ada yang berasal dari Tulungagung, Lumajang, Banyuwangi, bahkan ada yang berasal dari luar jawa. Jumlah keseluruhan personil ludruk Irama Budaya adalah 25. Personil itu terdiri dari 10 laki-laki dan 15 waria. Mereka berkupul di Gedung ini siang dan malam untuk berbagi suka cita bersama.

Di gedung yang serba pas-pasan seperti inilah karya-karya ludruk diproduksi dan dimainkan. Seolah para anggota Ludruk Irama Budaya tidak menghiraukan hiruk pikuknya kota Surabaya. Mereka istiqomah berlatih dan mencari kreasi baru untuk pertunjukan malam harinya. Walaupun honor yang mereka terima hanya cukup untuk beli rokok dan makan sehari-hari, mereka tetap mempertahankan posisinya sebagai seniman Ludruk.

Tepat berada di gedung Ludruk Irama Budaya itu ada sebuah kamar kecil yang letaknya di belakang panggung. Kamar berukuran 3 x 5 meter itu terletak di lantai dua gedung Ludruk Irama Budaya. Hiasan kamar itu sangat beragam beberapa foto pak Karno terpajang rapi di sana. Selain itu makanan dan buah-buahan yang dijadikan sajen kelihatan layu.  Disamping foto pak Karno itu ada Foto Pak Sakiya sewaktu dia masih muda dan berdandan ala perempuan. Kamar berukuran kecil ini di lengkapi dengan keberadaan kipas angin sehingga panasnya kota Surabaya bisa sedikit berkurang. Kamar sederhana itu dihuni Sakiya seorang diri. Disinilah laki-laki yang usianya lebih dari setengah abad ini tinggal. Pada siang itu Edi Purwanto dari Puspek Averroes menemui Sakiya di kamar Pribadiya yang sekaligus ia jadikan sebagai kantor Irama Budaya.

Mak yah. Begitulah laki-laki setengah baya ini akrab dipanggil oleh anggotanya. Laki-laki berperawakan kecil dan bermata lebar ini memiliki nama lengkap Sakiya Sunaryo. Pimpinan Ludruk Irama Budaya ini dilahirkan di Surabaya 56 tahun yang lalu. Ludruk adalah kesenian yang menarik bagi laki-laki yang memiliki seorang anak angkat ini. Dia memulai karirnya sebagai pemain ludruk sejak dia masih remaja.

Ludruk Irama Budaya ini didirikan pada tahun 80-an. Ludruk ini didirikan dikarenakan kegemaran Sakiya menonton pertunjukan-pertunjukan ludruk di Surabaya. Selain itu, alasan ludruk ini didirikan adalah kegelisahan Sakiya melihat keberadaan ludruk yang kembang kempis di Surabaya. Laki-laki yang masih lajang ini, bertekad untuk terus memelihara keberadaan Ludruk di Surabaya.

Walaupun tanpa sentuhan pemerintah, Ludruk Irama Budaya yang dipimpin oleh Sakiya ini mampu bertahan hidup di tengah kota metropolitan. Hal ini lebih disebabkan oleh rasa kekeluargaan yang tinggi antar anggota. Selain itu juga anggotanya yang memiliki rasa kepemilikan terhadap Ludruk. Kreatifitas dan Inonasi dari teman-teman anggota Ludruk juga mendukung eksistensi Ludruk di Surabaya. Kemandirian da keuletan seorang Sakiya menjadi kunci utama dalam pengembangan Ludruk Irama Budaya.

Walaupun hanya dengan nobong (ngamen keliling) dari tempat satu ke tempat lainya. Yang penting bagi Sakiya adalah kesenian ludruk sebagai kesenian asli Jawa Timur ini tetap terjaga keberadaanya. “Biasanya saya berpindah setiap 6 bulan sekali dari daerah satu ke daerah yang lainya di kota Surabaya. Berhubung tahun ini kami tidak memiliki dana untuk menyewa gedung, kami tahun ini tidak pindah”, terang Sakiya.

 “Nobong seperti ini sudah saya lakukan bersama Ludruk Irama Budaya sejak 20 tahun yang lalu”, terang Sakiya dengan penuh semangat. Sakiya dengan teman-temanya melakukan pementasan dari tempat satu ketempat lainya sekedar untuk melestarikan keberadaan Ludruk di Surabaya. Selain itu, penghasilan teman-teman juga hanya dari pertunjukan yang diadakan setiap hari. Penghasilan teman-teman hanya cukup untuk membeli rokok dan makan setiap hari. “Kalau untuk makan biasanya teman-teman anggota urunan (patungan) dan masak bersama di Gedung Ludruk Irama Budaya ini”, tambah Sakiya.

Penonton yang melihat penampilan teman-teman Ludruk Irama Budaya dalam setiap harinya antara 15 sampai 20 orang. Kecuali malam Minggu, penonton bisa sampai 30 sampai 40 orang. Dalam sekali pertunjukan orang dikenai biaya masuk sebesar Rp 3.000,00. Biasanya yang melihat pertunjukan Ludruk adalah penggemar setia. Mereka terdiri dari anak-anak muda dan orang tua.

Penonton tidak jenuh melihat Ludruk Irama Budaya. Hal ini dikarenakan teman-teman selalu menampilkan lakon-lakon yang relatif baru setiap harinya. “Dengan menampilkan lakon yang baru dan banyolan-banyolan yang segar seperti ini, maka dengan sendirinya penonton tidak jenuh melihat penampilan kami”, tutur laki-laki yang dahulu biasa berperan sebagai perempuan ini.

Ludruk Irama Budaya ini tidak menggantungkan diri pada pemerintah. Ludruk ini juga tidak mendapatkan dana pengembangan dari pemerintah. Hanya jika ada even-even besar saja Sakiya dan teman-temanya baru membuat proposal. Biasanya pada saat acara Agustusan, Lebaran, dan Suroan seperti bulan ini Sakiya dan teman teman membuat proposal. Biasanya Sakiya dan teman-temanya mengajukan proposal ke Subdin Kebudayaan atau ke Dinas Pariwisata Jawa Timur. Dana yang diajukan lewat proposal ke dinas-dinas itu jarang sekali cair. Kalau dana itu tidak cair Sakiya mencari dana lain. Bahkan tidak jarang dalam even-even besar Sakiya menggunakan uang pribadinya.

 “Seharusnya kesenian seperti Ludruk ini diprogramkan untuk mendapatkan dana pengembangan” protes Sakiya. Sakiya rupanya melihat bahwa ludruk merupakan kesenian tradsisional jarang sekali diperhatikan pemerintah. Pemerintah selama ini dalam pandangan mantan tandak ini, hanya berkutat pada kesenian-kesenian modern saja. Mereka hanya mengadakan festifal Cak Durasim, Surabaya Full Musik dan lain sebagainya. Pemerintah tidak mau memperhatikan lagi keberadaan seniman tradisional. “Jangankan memberikan dana, melihat pertunjukan kami saja mereka tidak mau”, lanjut Sakiya.

Sakiya bersama Ludruk Irama Budaya sudah meludruk nobong selama 20 tahun, akan tetapi belum pernah sekalipun dikirim ke Jakarta. Padahal setahu pendiri Ludruk Irama Budaya ini, ludruk yang ada di Jawa Timur rata-rata sudah pernah dikirim ke Taman Mini anjungan Jawa Timur di Jakarta. “Entah apa yang dipikirkan pemerintah. Mereka hanya mendanai ludruk yang tidak-tidak” kata Sakiya. Ludruk yang tidak-tidak ini adalah ludruk yang ada orangnya jika ada dana kalau tidak ada dana ya tidak ada senimanya. Kalau Ludruk Irama Budaya ini, ada dana ataupun tidak tetap melakukan pertunjukan, lanjut Sakiya.

Dalam penyusunan dan pelaksanaan program di Dinas Pariwisata, Taman Budaya ataupun Subdin Kebudayaan, Sakiya sebagai seniman Ludruk jarang sekali dilibatkan. Saya tidak mau tahu tentang program pemerintah. Kalau menurut saya ada koordinasi ataupun tidak antara seniman dan Pemerintah terkait penyusunan dan pelaksanaan program saya tidak mau tahu. Yang paling penting bagi Sakiya adalah kesenian ludruk yang ia pimpin masih tetap eksis di Surabaya.

 “Pokoknya saya tidak rela kalau ludruk di Surabaya hilang. Apalagi saya asli Surabaya”, terang Sakiya bersemangat. Sakiya dan teman-teman ludruk Irama Budaya akan senantiasa menjaganya dalam berkontestasi dengan kesenian-kesenian moderen. “Andaikata pemerintah tidak mau menjaga keberadaan Ludruk, biarlah saya dan teman-teman yang akan menjaga dan melestarikan serta mengembangkan ludruk asli Jawa Timur ini”, lanjut Sakiya.

Walaupun usia senja, Sakiya masih giat untuk mempertahankan ludruk di Surabaya. Upaya yang dilakukan adalah mengkader anak-anak muda untuk menjadi pemain ludruk. Dengan melakukan pengkaderan dan memberikan arti pentingnya keberadaan ludruk kepada anak-anak muda ini, Sakiya berharap ada yang bisa meneruskan keberadaan kesenian ludruk di Surabaya.

Seniman Ludruk ini hanya meminta agar pemerintah tahu diri. Posisi seniman yang setiap hari hanya mengandalkan pertunjukan sebagai basis ekonominya ini, harusnya diperhatikan. Pemerintah jangan hanya memperhatikan perutnya sendiri. Sakiya sebagai pimpinan ludruk sudah jenuh untuk meminta kepada pemerintah. Jika tidak meminta mereka butuh, akan tetapi kalau mereka meminta jarang sekali dikasih. Dalam anggapan laki-laki yang sudah tidak mau menikah lagi ini, sebenarnya pemerintahlah yang berkewajiban melayani masyarakat bukan sebaliknya. Kalau pemerintah tanggap terhadap kebutuhan seniman, kejadian yang seperti ini tidak akan terjadi.  

Seharusnya DPRD Jatim menganggarkan sendiri dana untuk seniman. Jadi seniman jika ada kebutuhan bisa langsung mengambil di dinas P dan K Jawa Timur. Sebelumnya pemerintah harus mencatat seluruh kesenian yang ada di Jawa Timur.kemudian pemerintah menganggarkan kebutuhan akan pengebangan kesenian. Dengan demikian para seniman bisa berekspresi dan berkreasi dengan tenang.

Sebenarnya di Jatim ada lembaga kesenian yang menampung keluhan-keluhan seniman. Lembaga itu bernama Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT). Namun dalam pandangan Sakiya, DKJT tidak ubahnya dengan pemerintah. Mereka hanya mengurusi kebutuhan perutnya sendiri-sendiri. Kesenian ludruk selalu dinomor duakan dalam setiap programnya.

 Dinas Pariwisata sebagai lembaga pemerintah yang berkewajiban untuk mengembangkan kesenian dan kebudayaan Jatim, juga tidak mampu mempromosikan ludruk Irama Budaya kepada wisatawan. Sebenarnya Irama Budaya adalah datu-satunya ludruk yang eksis di Surabaya. Kalau begitu adanya sudah seharusnya pemerintah memberikan dukungan kepada ludruk Irama Budaya ini. Melihat pemasalahan yang seperti ini sebenarnya pemerintah perlu untuk melakukan beberapa hal. Pertama, pemerintah harus mendorong semua elemen yang ada di masyarakat untuk peduli terhadap kesenian.

Kedua, pemerintah juga sudah seharusnya memberikan peluang-peluang kreatif kepada seniaman untuk berkreasi. Bukan hanya subsidi berupa materi saja akan tetapi pada wilayah perhatian dan kebijakan juga perlu. Hal yang seperti ini akan membeikan stimulus kepada seniman untuk senantiasa berkreasi.

Ketiga, pemerintah harus memikirkan lembaga-lembaga seni. Seperti halnya Ludruk Irama Budaya ini.   Program-program pemerintah itu harusnya memberikan suport kepada lembaga-lembaga kesenian. Mungkin dari pemerintah memang belum memiliki respon dan sensibilitas yang tinggi tehadap seniman-seniman yang ada di komunitas-komunitas seni.

Terakhir, “Saya berharap Dinas pariwisaata, Dinas P dan K lewat Taman Budaya dan Subdin Kebudayaan mampu mengangkat keberadaan ludruk di Surabaya. Saya melihat dinas pariwisata hanya mengurusi tentang tempat-tempat wisata. Seharusnya dinas pariwisata lebih memperhatikan kesenian-kesenian tradisional daripada dana dari pemerintah hanya digunakan untuk foya-foya saja”, pungkas Sakiya Sunaryo. (Edi Purwanto)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: