Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Menyelami Dunia Positivisme Mencari Dunia Post Positivisme

Posted by Edi Purwanto pada Mei 14, 2008

oleh: Edi Purwanto
Dalam kehidupan yang serba carut marut pasca Revolosi perancis abad 19 seorang ahli fisika dan politehnik terkemuka zaman itu mencoba untuk menstabilkan sebuah masyarakat dengan mencoba untuk memberikan sebuah solusi tentang konsep masyarakat ideal yaitu masyarakat positivistik. Aguste Comte hadir dalam rangka memberikan jawaban atas keresahan dan kecarut marutan masyarakat Prancis. Dengan teori determinanya dia mencoba menggambarkan masyarakat Perancis dalam tiga tahap, yaitu masyarakat teologis atau mitos, masyarakat metafisika, dan masyarakat positivis yang disebut oleh Aguste comte sebagai masyarakat yang mapan.Positivisme memberikan sebuah kunci pencapaian hidup manusia dan ia mrupakan satu-satunya formasi sosial yang benar-benar bisa dipercaya kehandalan dan dan akurasinya dalam kehidupan dan keberadaan masyarakat.

Aguste Comte dilahirkan pada tahun 1798 di kota Monpellir Perancis Selatan, ayah dan ibunya menjadi pegawai kerajaan dan merupakan penganut Agama Katolik yang cukup tekun. Ia menikah dengan seorang pelacur bernama Caroline Massin yang kemudian dia menyesali perkawinan itu. Dia perah mengatakan bahwa perkawinan itu adalah satu-satunya kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dari kecil pemikiran-pemikiran Comte sudah mulai kelihatan, kemudian setelah ia menyelesaikan sekolahnya jurusan politeknik di Paris 1814-1816, dia diangkat menjadi sekretaris oleh Saint Simon yaitu seorang pemikir yang dalam merespon dampak negatif renaisance menolak untuk kembali pada abad pertengahan akan tetapi harus direspon dengan menggunakan basis intelektual baru, yaitu dengan brfikir empirik dalam mengkaji persoalan-persoalan realitas sosial.

Dalam pergulatan intelektual dengan Saint Simon inilah yang kemudian membuat pola fikir Comte berkembang. Karena ketidak cocokan Comte dengan Saint Simon akhirnya memisahkan diri dan kemudian Comte menulis sebuah buku yang berjudul “Sistem Politik Positif” tahun 1824. berawal dari pemikiran Plato dan Aristoteles, Comte mencoba menggabungkanya menjadi positivistik. dalam keadan masyarakat positivis sebuah ilmu harus valid observeble dan objektif dan memenuhi standart ilmiah sebuah ilmu. Dalam hal ini Comte melihat bahwa imu pengetahuan harus bersifat netral dan tidak memihak pada sebuah ideologi manapun. Pengetahuan yang benar harus bersifat ilmiah yaitu harus melalui prosedur-prosedur ilmiah, tanpa melewati prosedur ilmiah maka bukan dianggap sebagai pengetahuan yang ilmiah dan salah.

Melihat perkembangan pengetahuan yang ada pada waktu itu yag mendominasi adalah ilmu-ilmu eksakta yang kemudian bisa menerima metode yang ditawarkan Comte. Dalam realitas ini pula yang dijadikan Comte dan para pemikir waktu itu sebagai sebuah legitimasi yang sangat kuat untuk menerima metodologi Comte sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Berawal dari sebuah ilmu-ilmu eksakta yang berkembang waktu itu Comte mencoba menterjemahkan ilmu-ilmu sosial dengan paradigma eksakta. Dalam paradigma eksakta semua ilmu harus bisa dibuktikan kebenaranya dengan melakukan eksperimen atau dengan melihat realitas sosial yang ada. Mereka berasumsi bahwa tidak ada fakta sosial yang mampu menghasilkan pengetahuan imiah kecuali dikatka dengan fakta-fakta yang lain.

Dalam membangun teori sosiologi Comte lebih memilih unit analisa makro (obyektif) dan bukan individu, dalam hal ini entits yang lebih besar seperti keluarga, struktur sosial dan perubahan sosial. Ia menganjurkan untuk keluar dari pemikiran abstrak dan melakukan riset dengan melakukan eksperimentasi dan aalisis perbandingan sejarah. Comte pada intinya berargumentasi bahwa gagasan terdahulu yang mendasari pengembangan struktur masyarakat maupun negara, atas dasar pemikiran spekulatif, sudah tidak releven dengan adanya teori positivistik. Dalam logika Comte sejarah manusia adalah perkembangan bertahap dari cara berfikir manusia itu sendiri. Dengan berargumen bahwa dengan pemikiran empirik rasional dan positiv maka manusia akan mampu menelaskan realitas kehidupan tidak secara spekulatif melainkan secara konkrit, pasti bahkan mutlak kebenaranya.

Comte memandang dalam perkembanganya manusia mengalami evolusi. Atas landasan evolusi inilah yang melahirkan hukum determinisme perkembangan positivistik yaitu tahap teologis, metafisika dan positivistik. ia meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan melewati tiga tahap itu sesuai degan kompleksitas wilayah pengembanganya masing-masing. Tahap pertama, pemikiran Comte yaitu tahap Teologis, dimana manusia sebagai subyek yang hanya sebagai produk proses proses kosmos yang dikendalikan oleh gagasan-gagasan keagamaan. Dalam tahap ini ada berbagai tahapan yaitu Fethisisme, animisme, polithiesme kemudian menuju pada pemikiran yang lebh sistematis yaitu monotheisme.kekuatan yang beraneka ragam disimplifikasikan menjadi satu tuhan yang berdaulat penuhdan berkuasa mutlak atas langit dan bumi.

Pada tahap yang kedua, yaitu tahap metafisika manusia dengan akal budinya mampu menjelaskan tentang realitas, fenomena, dan berbagai peristiwa dicari dari alam itu sendiri. Dalam penjelasanya Comte berpendapat bahwa metafisika belum bisa bersifat empirik, sehingga tidak akan menghasilkan pengetahuan baru tentang realitas dan belum dapat menjelaskan hukum alam, kodrat manusia dan keharusan mutlak tentang manusia. Baginya cara berfikir manusia harus keluar dari dua term besar itu yaitu dengan pengetahuan positivis, yang dalam hal ini menurut Comte merupakan pengetahuan yang dapat dijadikan sarana untuk memperoleh kebenaran dengan cara observasi untuk menemukan keteraturan dunia fisik maupun sosial.

Logika inilah yang kemudian melahirkan masyarakat industri yang mementingkan rasionalisasi proses kerja sehingga manusia mampu memaksimalkan proses kerja dalam sebuah perusahaan. Comte juga menekankan penemuan-penemuan ilmiah trutama tentang pengetahuan alam untuk menguasai sumber-sumber alam untuk kepantingan umat manusia. Dari sinilah optimisme Comte membawa pada persaigan, menekankan pada semangat individualis, pertentangan antara kaum tradisional dengan kaum industri baru yang berlanjut pada antagonisme antara kaum proletar dan kaum borjuis.

Dalam perkembanganya positivisme mengalami banyak sekali pertentangan diantaranya dari tokoh-tokoh pemikir Eksakta yang merasa bahwa teori-tori positivistik sangatlah menghegemonik pemikiran mereka dan membuat ilmu pengetahuan menjadi mandek. Diantara para Fisikawan yang melawan dan mengkritik dari positivisme ini adalah: Thomas Khun dengan Revolusi paradigmanya, Karl Pooper dengan teori falsifikasinya, kemudian juga Feyerabend dengan Anti metodenya dan masih banyak lagi tokoh yang mengkritik habis-habisan berkenaan dengan teori positivistik ini. Dalam pergulatanya Khun mncoba menawarkan bahwa teori sosial tidak akan berhenti sampai pada tataran positivistik, melainkan akan terus berkembang tergantung bagaimana paradigma seorang pemikir. Dalam teorinya Khun Paradigma ketika sudah mengalami Anomali akan terjadi krisis paradigma kemudian akan terjadi revolusi paradigma kemudian akan muncul paradigma baru sebagai paradigma yang mapan. Kemudian setelah itu akan terjadi anaomali demikian seterusnya.

Paul Feyerabend (1924-1994) mempelajari sejarah dan sosiologi sebelum memutuskan untuk mendalami fisika. Tesis doktornya diperoleh dalam filsafat di bawah bimbingan Karl Popper. Karya terbesar Feyerabend adalah Against Method yang ditulis pada tahun 1975. Pada awalnya, sebagai murid Popper, Feyerabend mendukung filosofi dan prinsip falsifikasi Popper namun kemudian dia berbalik menjadi salah seorang penentang Popper. Feyerabend berpendapat bahwa prinsip falsifikasi Popper tidak dapat dijalankan sebagai satu-satunya metode ilmiah untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Menurut Popper, setiap teori harus melalui proses falsifikasi untuk menemukan teori yang benar. Bila suatu teori dapat ditemukan titik lemahnya maka teori tersebut gugur. Sedangkan menurut Feyerabend tidaklah demikian. Feyerabend berpendapat bahwa untuk menemukan teori yang benar, suatu teori tidaklah harus dicari kesalahannya (falsifikasi) melainkan mengembangkan teori-teori baru. Fokus Feyerabend kemudian berpindah ke pluralisme teoritis, yang mengatakan bahwa untuk memperbesar kemungkinan mem-falsifikasi teori yang berlaku, kita harus mengkonstruksi teori-teori baru sebanyak mungkin dan mempertahankannya. Pluralisme ini penting, karena kalau tidak, akan terjadi keseragaman yang akan membatasi pemikiran kritis.

Jika teori baru ini dapat dipertahankan dan lebih baik daripada teori lama maka yang baru akan menggantikan yang lama (yang dinamakan ‘perubahan paradigma’ oleh Thomas Kuhn). Feyerabend menuturkan hal ini dalam artikel ‘On a Recent Critique of Complimentary’.Menurut Feyerabend, dalam bukunya Against Method, tidak ada satu metode rasional yang dapat diklaim sebagai metode ilmiah yang sempurna. Metode ilmiah yang selama ini diagung-agungkan oleh para ilmuwan hanyalah ilusi semata.
Prinsip dasar mengenai tidak adanya metodologi yang berguna dan tanpa kecuali yang mengatur kemajuan sains disebut olehnya sebagai epistemologi anarkis. Penerapan satu metodologi apa pun, misal metodologi empiris atau Rasionalisme Kritis Popper akan memperlambat atau menghalangi pertumbuhan ilmu pengetahuan. Dia mengatakan ‘anything goes’ yang berarti hipotesa apa pun boleh dipergunakan, bahkan yang tidak dapat diterima secara rasional atau berbeda dengan teori yang berlaku atau hasil eksperimen. Sehingga ilmu pengetahuan bisa maju tidak hanya dengan proses induktif sebagaimana halnya sains normal, melainkan juga secara kontrainduktif.

Dalam pengembangan prinsip ini Feyerabend mengakui adanya penerapan prinsip liberalisme John Stuart Mills dalam konteks tertentu (sains) dalam metode sains. Feyerabend menganut liberalisme ini karena menurut dia, tidak ada satu hipotesa apa pun, bahkan yang tidak masuk akal, yang tidak berguna untuk kemajuan sains. Dengan pegangan ini, Feyerabend mengatakan bahwa sains dan mitos tidak dapat dibedakan dengan satu batas prinsip tertentu. Mitos adalah sains dengan tradisi tertentu dan sebaliknya sains hanyalah sesuatu tradisi mitos. Asumsi bahwa ada batasan antara sains dan mitos akan menimbulkan batasan-batasan yang menghalangi pemikiran kreatif dan kritis.

“Sains itu lebih dekat dengan mitos daripada filsafat sains mau akui. Mitos adalah salah satu bentuk pemikiran yang dibuat manusia, dan belum tentu yang terbaik. …[Mitos] bersifat superior hanya pada yang sudah memihak pada suatu ideologi tertentu, atau yang menerimanya tanpa mempelajari keuntungannya dan batasannya.” (Against Method, hal. 295).

Kriteria yang biasa digunakan untuk menguji kebenaran hipotesa, seperti logika dan hasil eksperimen, bukan sesuatu yang harus dipenuhi. Logika dapat dibantah kalau ada kecurigaan bahwa teori yang berlaku berlandaskan pada asumsi-asumsi tertentu (misalnya, Newton dahulu berasumsi waktu tidak berhubungan dengan ruang, yang kemudian dibantah oleh Einstein). Hasil eksperimen tidak perlu dipenuhi kalau dicurigai adanya kesalahan teori pengamatan.

Dalam Against Method, Feyerabend menulis, “Selalu ada keadaan di mana itu tidak hanya dianjurkan untuk tidak menghiraukan aturan, tetapi untuk mengadopsi lawannya. Contohnya, selalu ada keadaan di mana itu dianjurkan untuk memperkenalkan, mengemukakan dan mempertahankan hipotesa ad hoc (untuk suatu tujuan), atau hipotesa yang mengkontradiksi hasil eksperimen yang sudah diterima secara umum, atau hipotesa di mana isinya lebih kecil daripada isi alternatif yang berlaku dan memadai secara empiris, atau hipotesa yang konsisten pada dirinya, dan selanjutnya..”

Menurut Feyerabend, sebuah hipotesa atau teori baru tidak harus memenuhi seluruh elemen dari teori lama karena hal tersebut hanya akan menyebabkan teori lama dipertahankan daripada mencari teori yang benar. Mempertahankan teori lama akan mempersempit pemikiran sehingga tidak bisa membuka lahan teori baru dan mengarahkan ilmu pengetahuan pada subyektivitas, sentimen atau prejudis. Seperti halnya teori kuantum pada awalnya ditentang bahkan oleh Einstein “God does not play dice”, karena implikasi teori ini menyebabkan ketidakpastian yang sangat mengganggu pikiran.

Teori baru akan selalu muncul dengan sangat sulit, dan akan ditentang dengan fakta-fakta yang memberatkan yang berasal dari teori lama. Padahal teori baru ini merupakan revolusi ilmiah yang sangat penting dan sangat diperlukan untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Feyerabend mengatakan bahwa dikekang oleh teori sains modern yang sedang berlaku sama saja seperti dikekang oleh ajaran dogmatik jaman pertengahan Eropa. Dalam hal ini, ilmuwan sains modern mempunyai peran yang sama seperti kardinal Gereja jaman dahulu yang menentukan apa yang benar dan apa yang salah.

Prinsip falsifikasi (Popper), menurut Feyerabend, mungkin merupakan metode ilmiah yang pantas digunakan, namun banyak teori baru yang tidak diketahui cara memfalsifikasikannya. Teori-teori yang tidak dapat dilalui proses falsifikasi masih bisa dianggap kebenaran. Hal ini berbeda dengan Popper yang menganggap bahwa semua teori baru harus melewati proses falsifikasi dan bila gagal melaluinya maka teori tersebut tidak ilmiah dan tidak dapat dibenarkan (tidak dapat di-verifikasi).

Sori kawan aku bukanya tidak mau memberikan kritik atas pemikiran-pemikiran tokoh diatas, tapi aku mencoba untuk tidak menghegemoni pemikiran kawan-kawan. Dengan tulisan diatas saya berharap kawan-kawan mampu memberikan kritik sendiri.

3 Tanggapan to “Menyelami Dunia Positivisme Mencari Dunia Post Positivisme”

  1. minta dimasukin RSS nya donk, sudah update tuch

  2. trims ya nanti tak masukin RSSnya …………

  3. arif said

    ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: