Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Alternatif Pemecahan Perilaku Bullying Pada Anak Sekolah Dasar

Posted by Edi Purwanto pada Desember 1, 2010

A. Latar Belakang Masalah

Sekolah adalah suatu lembaga tempat menuntut ilmu.. Berbicara sekolah, erat kaitannya dengan pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Namun tanpa kita sadari banyak  terjadi kasus kekerasan dilingkungan sekolah yang nota bene tempat luhur. Betapa tidak, hampir setiap hari, selalu saja ada berita tentang kekerasan di kalangan pelajar. Mulai dari tawuran, pencurian, pelecehan seksual, sampai konsumsi narkoba. Bahkan, kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri dibeberapa sekolah di Indonesia, telah membuka mata semua orang, betapa kekerasan di kalangan pelajar kian hari kian mengkhawatirkan.

Belakangan ini kasus kekerasan terhadap anak marak terjadi. Bentuk ancaman atau pemalakan lebih sering muncul dalam beberapa bentuk seperti minta makanan, minta dibuatkan tugas sampai disaat ujian minta untuk diberikan contekan. Kasus lain yaitu berupa ejekan kepada teman-temannya sampai teman yang diejek menangis. Selain itu juga terjadi kebiasaan untuk memanggil temannya dengan nama bapaknya atau bukan nama siswa yang sebenarnya dengan maksud melecehkan.

Seorang teman penulis dengan bangga menceritakan perilaku anak perempuannya yang baru duduk di Sekolah Dasar yang melakukan bullying kepada teman-temannya dengan jalan menguasai alat permainan saat jam istirahat. Seorang anak SD dengan bangga bercerita pada orangtuanya bahwa dia sangat terkenal di sekolahnya karena ditakuti teman-temannya. “Saya yang adalah ketua geng di sekolah,”  kata anak itu dengan bangga.

Umumnya para orangtua, guru dan masyarakat mengganggap fenomena bullying di sekolah adalah hal biasa dan baru meresponnya jika hal itu telah membuat korban terluka hingga membutuhkan bantuan medis dalam hal bullying fisik. sementara bullying sosial, verbal dan elektronik masih belum ditanggapi dengan baik. Hal ini diakibatkan karena kurangnya pemahaman akan dampak buruk dari bullying  terhadap perkembangan dan prestasi anak di sekolah dan tidak adanya atau belum dikembangkannya mekanisme anti bullying di sekolah kita. Selain itu anak-anak juga masih jarang diberikan pemahaman tentang bullying dan dampaknya.

Anak yang menjadi korban bullying akan menderita secara fisik, tertekan, tidak dapat berkonsentrasi dengan baik di sekolah atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Anak korban bullying juga akan mencari pelampiasan yang bersifat negatif seperti merokok, mengonsumsi alkohol atau bahkan narkoba. Karena stres yang berkepanjangan korban bullying bisa terganggu kesehatannya. Bahkan dalam situasi yang sangat ekstrim seorang korban bullying sosial bisa melakukan tindakan bunuh diri.

Pelaku bullying akan mengganggap bahwa penyelesaian masalah dengan cara-cara kekerasan atau mengintimidasi orang lain adalah cara yang harus ditempuh dalam memenuhi keinginannya. Hal ini akan mendorong sifat premanisme yang akan terbawa hingga dewasa. Sehingga tanpa sadar kita telah menjadikan sekolah kita  sebagai tempat latihan bagi para calon preman yang nantinya akan menjadi profesi mereka saat dewasa nanti.

Dari mana anak-anak kita belajar atau terinspirasi melakukan bullying? Anak-anak umumnya mengikuti perilaku orang dewasa di sekitarnya seperti orangtua dan guru. Cara mendidik anak yang cenderung menggunakan kekerasan di rumah dan di sekolah tanpa sadar mengajarkan anak-anak kita untuk melakukan hal yang sama kepada teman-temannya. Menghukum anak dengan cara-cara yang negatif akan mengajarkan anak untuk berkuasa terhadap anak lain serta  membenarkan tindakan kekerasan kepada anak lain yang lebih lemah. Sering karena terbatasnya pengetahuan dan pemahaman kita tentang bullying tanpa sadar kita mendorong anak-anak kita melakukan bullying di sekolah atau di lingkungan kita

B. Landasan Teori

Pengertian perilaku bullying masih menjadi perdebatan dan belum menemukan suatu definisi yang diakui secara universal, sehingga belum ada pengertian yang baku hingga saat ini. Bullying berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang menyeruduk kesana kemari (Sejiwa, 2008: 2). Istilah ini akhirnya diambil untuk menguraikan suatu tindakan yang destruktif.

Berbeda dengan negara lain, seperti di Norwegia, Finlandia, Denmark, dan Finlandia yang menyebutkan bullying dengan istilah mobbing atau mobbning. Istilah aslinya berasal dari Inggris, yaitu mob yang menekankan bahwa biasanya mob adalah kelompok orang yang anonim dan berjumlah banyak dan terlibat kekerasan.

Sedangkan Schwartz dkk (2005:1) menyebut bullying dengan istilah victimization. Buhs dkk. (2006: 2) menambahkan istilah peer exclusion dan victimization untuk menggambarkan perilaku bullying. Tattum (dikutip, Smith, Pepler and Rigby, 2007: 5) memandang bahwa bullying adalah keinginan untuk menyakiti dan sebagian besar harus melibatkan ketidakseimbangan kekuatan yaitu orang atau kelompok yang menjadi korban adalah yang tidak memiliki kekuatan dan perlakuan ini terjadi berulang-ulang dan diserang secara tidak adil.

Berbeda dengan tindakan agresif lain yang melibatkan serangan yang dilakukan hanya dalam satu kali kesempatan dan dalam waktu pendek, bullying biasanya terjadi secara berkelanjutan  dalam jangka waktu cukup lama, sehingga korbannya terus-menerus berada dalam keadaan cemas dan terintimidasi. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan Djuwita (2006: 2) bahwa bullying adalah penggunaan kekuasaan  atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya, dan peristiwanya mungkin terjadi berulang.

Pendapat yang relatif sama dikemukakan oleh Sejiwa (2008: 1) yang menyatakan bahwa bullying adalah situasi dimana seseorang yang kuat (bisa secara fisik maupun mental) menekan, memojokkan, melecehkan, menyakiti seseorang yang lemah dengan sengaja dan berulang-ulang, untuk menunjukkan kekuasaannya. Dalam hal ini sang korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya sendiri karena lemah secara fisik atau mental.

Hal yang penting disini bukan sekedar tindakan yang dilakukan, tetapi apa dampak tindakan tersebut terhadap korbannya. Misalnya, seorang siswa mendorong bahu temannya dengan kasar; bila yang didorong merasa terintimidasi, apalagi bila tindakan tersebut dilakukan berulang-ulang, maka perilaku bullying telah terjadi. Bila siswa yang didorong tak merasa takut atau terintimidasi, maka tindakan tersebut belum dapat dikatakan bullying (Sejiwa, 2008: 2).

Menurut Sullivan (2000: 14) bullying juga harus dibedakan dari tindakan atau perilaku agresif lainnya. Pembedaannya adalah tidak bisa dikatakan bullying jika seseorang menggoda orang lain secara bercanda, perkelahian yang terjadi hanya sekali, dan perbuatan kasar atau perkelahian yang tidak bertujuan untuk menyebabkan kehancuran atau kerusakan baik secara material maupun mental. Selain itu tidak bisa dikatakan bullying jika termasuk perbuatan kriminal seperti penyerangan dengan senjata tajam, kekerasan fisik, perbuatan serius untuk menyakiti atau membunuh, pencurian serius, dan pelecehan seksual yang dilakukan hanya sekali.

Definisi yang diterima secara luas adalah yang dibuat Olweus (2004: 9) yang menyatakan bahwa siswa yang melakukan bullying adalah ketika siswa secara berulang-ulang dan setiap saat berperilaku negatif terhadap seorang atau lebih siswa lain. Tindakan negatif disini adalah ketika seseorang secara sengaja melukai atau mencoba melukai, atau membuat seseorang tidak nyaman. Intinya secara tidak langsung tersirat dalam definisi perilaku agresif.

Berdasarkan beberapa pengertian bullying di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku bullying adalah suatu tindakan negatif yang dilakukan secara berulang-ulang dimana tindakan tersebut sengaja dilakukan dengan tujuan untuk melukai dan membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Kekerasan-kekerasan yang dilakukan siswa tersebut yang berlangsung secara sistematis disebut dengan istilah bullying. Bullying sendiri didefinisikan sebagai tindakan menyakiti secara fisik dan psikis secara terencana oleh pihak yang merasa lebih berkuasa terhadap yang lemah (Kompas, 2007). Istilah lain untuk bullying adalah peer victimization dan hazing. Bullying secara sederhana diartikan sebagai penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya (Suryanto, 2007: 1).

Perbuatan pemaksaan atau menyakiti ini terjadi di dalam sebuah kelompok, misalnya kelompok siswa satu sekolah, itulah sebabnya disebut sebagai peer victimization (Djuwita, 2007: 2). Sedangkan hazing adalah perilaku yang sama namun dilakukan oleh anggota yang lebih senior kepada yuniornya. Djuwita juga menjelaskan kasus lain dari bullying yang berkenaan dengan kegiatan orientasi sekolah untuk siswa baru, dimana siswa senior sering “membenarkan diri” memerintah adik-adik kelasnya yang baru masuk.

Perilaku bullying tidak hanya dalam bentuk fisik yang bisa terlihat jelas, tetapi bentuk bullying yang tidak terlihat langsung dan berdampak serius. Misalnya, ketika ada siswa yang dikucilkan, difitnah, dipalak, dan masih banyak lagi kekerasan lain yang termasuk dalam perilaku bullying ini (Djuwita, 2006: 2).

Alexander (dikutip Sejiwa, 2008: 10) menjelaskan bahwa bullying adalah masalah kesehatan publik yang perlu mendapatkan perhatian karena orang-orang yang menjadi korban bullying kemungkinan akan menderita depresi dan kurang percaya diri. Penelitian-penelitian juga menunjukkan bahwa siswa yang menjadi korban bullying akan mengalami kesulitan dalam bergaul. Merasa takut datang ke sekolah sehingga absensi anak tinggi dan ketinggalan pelajaran, mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan kesehatan mental maupun fisik jangka pendek maupun panjang akan terpengaruh (Rigby, 1999 dikutip Djuwita, 2006). Sedangkan menurut Bangu (2007: 2), anak korban bullying sering menampakkan sikap : mengurung diri atau menjadi school phobia, minta pindah sekolah, konsentrasi berkurang, prestasi belajar menurun, suka membawa barang-barang tertentu (sesuai yang di minta si pelaku bullying). Anak jadi penakut, gelisah, tidak bersemangat, menjadi pendiam, mudah sensitif, menyendiri, menjadi kasar dan dendam, mudah cemas, mimpi buruk, melakukan perilaku bullying kembali terhadap orang lain.

Bauman dan Rio (2006: 219) menjelaskan bahwa di dalam bullying, pelaku maupun korban berkaitan dengan drop out dari sekolah, kurangnya penyesuaian psikososial dan perlakuan negatif dari orang lain. Swearer dkk (dikutip Bauman dan Rio, 2006: 219) menemukan bahwa baik pelaku maupun korban bullying memiliki self esteem atau harga diri yang rendah.

Hal ini berkaitan dengan penilaian diri pada pelaku bullying yang terlalu tinggi. Pada Workshop Nasional Anti-bullying 2008 diungkapkan bahwa salah satu penyebab seseorang menjadi pelaku bullying adalah adanya harga diri yang rendah. Coopersmith (dikutip Harre dan Lamb, 1996: 273) menyatakan bahwa harga diri adalah penilaian yang dibuat seseorang dan biasanya tetap tentang dirinya. Hal itu menyatakan sikap menyetujui atau tidak menyetujui, dan menunjukkan sejauh mana orang menganggap dirinya mampu, berarti, sukses dan berharga.

Bukhim (2008: 1) mengatakan berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan anak ditengarai disebabkan oleh minimnya pemahaman anak terhadap nilai diri yang positif. Sikap saling menghargai, menolong, berempati, jujur, lemah lembut dan sebagainya tidak jarang hilang dari pribadi anak. Sebaliknya, mereka justru akrab dengan hal-hal yang negatif seperti kekerasan, kebohongan, licik, egois dan sebagainya.

Bukan berarti anak tidak tahu bahwa apa yang dilakukan salah tetapi pemahaman baik buruk anak masih mengacu pada suatu tingkah laku benar bila tidak dihukum dan salah bila dihukum (Monks dkk, 2004: 200). Pemahaman anak yang berdasar perilaku baik bila tidak dihukum dan buruk dihukum termasuk dalam pemahaman moral yang pra-konvensional.

Kohlberg (dalam Monks dkk, 2004: 203) menjelaskan bahwa fase perkembangan pemahaman moral anak terdiri dari 6 fase dan tingkatan itu tidak berkorelasi dengan meningkatnya usia seseorang. Seorang anak yang memiliki pemahaman moral yang tinggi, maka kecenderungan melakukan tindakan yang melanggar norma seperti mengejek, memukul, menendang temannya lebih rendah. Hal ini berkaitan dengan pemahaman moral bahwa hal-hal tersebut merupakan tindakan yang tidak baik dan melanggar moral. Pendapat ini dikuatkan oleh Hains (1984: 72) bahwa semakin seorang individu memiliki tingkat pemahaman moral yang tinggi akan mengurangi perilaku menyimpangnya.

Pemahaman moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan, dari pada sekedar arti suatu tindakan, sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk. Budiningsih (2004: 25) menjelaskan bahwa pemahaman moral bukanlah tentang apa yang baik atau yang buruk, tetapi tentang bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk. Pemahaman moral ini yang menjadi indikator dari tahapan kematangan moral seseorang.

Harga diri yang rendah dan pemahaman moral anak yang rendah memunculkan perilaku bullying. Anak yang melakukan bullying pada temannya karena anak ingin mendapatkan perhargaan dari temannya dan anak belum memahami suatu perbuatan  benar atau salah berdasarkan norma moral. Sisi lain hasil penelitian Hains menunjukkan adanya ketidakkonsistenan skor pemahaman moral terhadap perilaku menyimpang dan harga diri rendah tidak selalu memunculkan perilaku bullying. Hal ini berarti harga diri dan pemahaman moral tidak memberikan pengaruh pada perilaku bullying. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Sejiwa (2008: 14) yang menyatakan salah satu faktor penyebab seorang anak melakukan tindakan bullying adalah adanya harga diri yang rendah dan juga bertentangan dengan pendapat Hains (1984: 72) bahwa semakin seorang individu memiliki tingkat pemahaman moral yang tinggi akan mengurangi perilaku menyimpangnya.

Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pendapat berkaitan apakah harga diri dan pemahaman moral anak memberikan pengaruh pada perilaku bullying. Hal ini mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh harga diri dan pemahaman moral anak terhadap perilaku bullying.

C. Analisis Perilaku Bullying di Sekolah Dasar

Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan bullying di sekolah kita? Pertama, di lingkungan sekolah harus dibangun kesadaran dan pemahaman tentang bullying dan dampaknya kepada semua stakeholder di sekolah, mulai dari murid, guru, kepala sekolah, pegawai sekolah hingga orangtua. Sosialisasi tentang program anti bullying perlu dilakukan dalam tahap ini sehingga semua stakeholder memahami dan pengerti apa itu bullying dan dampaknya.

Kemudian harus dibangun sistem atau mekanisme untuk mencegah dan menangani kasus bullying di sekolah. Dalam tahap ini perlu dikembangkan aturan sekolah atau kode etik sekolah yang mendukung lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua anak dan mengurangi terjadinya bullying serta sistem penanganan korban bullying di setiap sekolah. Sistem ini akan mengakomodir bagaimana seorang anak yang menjadi korban bullying bisa melaporkan kejadian yang dialaminya tanpa rasa takut atau malu, lalu penanganan bagi korban bullying, dll.

Tidak kalah pentingnya adalah menghentikan praktek-praktek kekerasan di sekolah dan di rumah yang mendukung terjadinya bullying seperti  pola pendidikan yang ramah anak dengan penerapan positive discipline di rumah dan di sekolah.

Langkah ini membutuhkan komitmen yang kuat dari guru dan orangtua untuk menghentikan praktek-praktek kekerasan dalam mendidik anak. Pelatihan tentang metode positif disiplin perlu dilakukan kepada guru dan orangtua dalam tahap ini.

Terakhir adalah membangun kapasitas anak-anak kita dalam hal melindungi dirinya dari pelaku bullying dan tidak menjadi pelaku. Untuk itu anak-anak bisa diikutkan dalam pelatihan anti Bullying serta berpartisipasi aktif dalam kampanye anti bullying di sekolah. Dalam tahap ini metode dari anak untuk anak (child to child) dapat diterapkan dalam kampanye dan pelatihan.

Lalu bagaimana peran pemerintah? Sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan memberikan perhatian terhadap isu bullying di sekolah serta berupaya membangun kapasitas aparaturnya dalam mengatasi isu ini. Langkah strategis yang perlu diambil adalah memasukkan isu ini ke dalam materi pelatihan guru serta mengembangkan program anti bullying di tiap sekolah. Dalam kasus tertentu bullying bisa bersentuhan dengan aspek hukum, maka melibatkan aparat penegak hukum dalam program anti bullying akan sangat efektif.

Sekolah  sebagai lembaga yang bertugas mencerdaskan bangsa sudah seharusnya menjadi tempat yang aman,  nyaman dan bermartabat bagi anak-anak kita sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan  demikian maka  kita telah mempersiapkan generasi mendatang yang unggul dan siap menjadi warga negara yang baik.

D. Terapi Melaui Konseling Behvior

Selama ini beberapa upaya telah dilakukan oleh sekolah bagi pelaku pelaku bullying, yaitu pemberian hukuman sanksi dan panggilan orang tua ke sekolah untuk bekerja sama memberikan penanganan. Sejauh ini hasil yang dicapai belum maksimal, karena menurut pengamatan penulis, perubahan sikap dan perilaku pelaku bullying hanya sementara. Karena mereka kembali mengulang perbuatannya dilain hari.

Untuk membantu penanganan masalah bullying ini penulis mencoba menawarkan konsep konseling behavioral. Menurut Gerald corey bahwa : “terapi tingkah laku (konseling behaviour) adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Sedangkan menurut Kramboltz dan Khoresen yang di kutip oleh H. Moch Surya (1992) bahwa “Terapi behaviour adalah suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional dan kepentingan tertentu”. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini ialah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (konseli ) belajar atau mengubah perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar menciptakan konvisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.

Penggunaan konseling behavioral sebagai alternatif pemecahan masalah, menurut penulis karena mengingat konseling behavioral  memiliki konsep-konsep dasar sebagai berikut :

1.      Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupan dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.

2.      Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.

3.      Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar (pembiasaan klasik, pembiasaan operan dan peniruan).

4.      Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidakpuasan yang diperolehnya.

5.      Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi- kondisi pembentuk tingkah laku.

Dengan melihat keunggulan konseling behavioral tersebut diatas, penulis berharap dapat meminimalisir pelaku bullying di institusi sekolah, sehingga sekolah dapat menjadi tempat belajar yang aman, menyenangkan, merangsang keinginan untuk belajar, bersosialisasi dan mengembangkan semua potensi siswa baik akademik, sosial maupun emosional

Daftar Pustaka

Albo, JM., Nunez, Jl., Navarro, JG., Grijalvo, F.  (2007). The Rosenberg Self-Esteem Scale: Translation and Validation in University Students. The Spanish Journal of Psychology, 10, 458-467.

Bangu, AE. (2007). Waspadai fenomena bullying di sekolah. diunduh 20 Nov 2010, dari www.batampos.co.id.

Budiningsih, C A. (2004). Pembelajaran Moral. Berpijak pada Karakteristik Siswa dan Budayanya. Jakarta : Rineka Cipta.

Harre, R. & Lamb, R. (1996). Ensiklopedi Psikologi. Pembahasan dan Evaluasi Lengkap Berbagai Topik, Teori, Riset dan Penemuan Baru dalam Ilmu Psikologi. Editor : Danuyasa Asihwardji. Jakarta : Arcan.

Ling, Y & Dariyo, A. (2002). Interaksi Sosial di Sekolah dan Harga Diri Pelajar Sekolah Menengah Umum (SMU). Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Vol. IV. No. 7.

Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono, S.R. (2004). Psikologi Perkembangan. Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Sejiwa. (2008). Bullying : Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta : Grasindo.

Schwartz, D.dkk. (2005). Victimization in the Peer Group and Children’s Academic Functioning. Journal of Educational Psychology, 97, 425 – 435.

Smith, PK., Pepler, D. and Rigby, K. (2007). Bullying in Schools : How successful can Interventions be? diunduh 20 Nov 2010, dari www.cambridge.org

15 Tanggapan to “Alternatif Pemecahan Perilaku Bullying Pada Anak Sekolah Dasar”

  1. muliana said

    Pak, saya mau nanya, apa Bapak pernah melakukan pelatihan Anti-Bullying buat anak SD..? soalnya saya lagi butuh referensi tentang itu..
    -terimakasih-

  2. liza said

    Salam kenal..

    Pak, saya tertarik dengan ulasan yang disampaikan diatas. selain buku colorosa apakah bapak punya referensi yang lain…

    terima kasih

  3. assalamuaalaikim..salam sejah tera…kalo boelh tau ada gak penelitain yang sudah dilakukan untuk mengurangi prilaku..??
    timakasih…!!

  4. maaf magsud saya penelitian, upaya yang telah dilakukanuntuk untuk mengurangi prilaku bullying..???

  5. boc@h k@mpung said

    Bullying di kalangan manapun terjadinya pasti akan sangat banyak dampak negatifnya. Oleh karenanya semua pihak harus mewaspadai akan terjadinya bullying tersebut agar sampai terjadi, atau kalaupun sudah terjadi jangan sampai terulang kembali amin, terima kasih

  6. bagaimana sich hubungannya pola asuh orang tua terhadap prilaku bullying???

    • perilaku pengasuhan dan lingkungan keluarga memeiliki pengaruh yang sangat signifikant terhadap perilaku bulying ini. Jadi Orang tua memang harus memberikan pemahaman semenjak dini.

  7. vetty arisandi said

    salam kenal…
    apa yg hrs saya lakukan thdp korban bullying yg sdh mengalami school phobia pelarianny ke warnet main game srg bolos.masalahny waktu belajar dah tanggung mo tes kenaikn kls tp ngotot minta pindah sekolah.kl pindah pasti ngulang lg tp kl ga pindah skrg dia dah ga betah dan srg bolos.apa yg hrs sy lakukan menaham dia sampe kenaikn kls dg resiko jiwany tertekan ato mengeluarkn dia dr sekolah dan mengulang kls lg

    • pendampingannya harus dilakukan semenjak dini bu. Kalau memang tidak naik kelas itu adalah punishment yang harus diberikan kepada mereka yang berperilaku seperti itu. So tidak masalah

  8. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: