Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Peran Psikologi Positif Mengatasi Prasangka Sosial dalam Masyarakat Multikultural

Posted by Edi Purwanto pada Desember 2, 2010

A. Latar Belakang

Bangsa indonesia adalah bangsa yang memiliki beragam budaya dan etnis. Perbedaan ini justru berfungsi  mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut.  Pluralisme masyarakat, dalam tatanan sosial,  agama dan suku bangsa, telah ada sejak nenek moyang, kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan, merupakan kekayaan dalam khasanah budaya Nasional, bila identitas budaya dapat bermakna dan dihormati, bukan untuk kebanggaan dan sifat egoisme kelompok, apalagi diwarnai kepentingan politik. Permasalahan silang budaya melalui prasangka sosial dapat terjembatani dengan membangun kehidupan multikultural yang sehat dilakukan dengan  meningkatkan toleransi dan apresiasi antarbudaya. Yang dapat diawali dengan pengenalan ciri khas budaya tertentu,  terutama psikologi  masyarakat yaitu pemahaman pola perilaku masyarakatnya. Juga peran media komunikasi, untuk melakukan sensor secara substantif dan distributif, sehingga dapat menampilkan informasi apresiatif terhadap budaya masyarakat lain.

Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai budaya secara logis akan mengalami berbagai permasalahan, persentuhan antar budaya akan selalu terjadi  karena permasalahan pransangka sosial yang senantiasa terkait erat dengan dalam hubungan antara satu dengan yang lainnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan menjadi acuan sikap dan perilaku manusia sebagai makhluk individual  yang tidak terlepas dari kaitannya pada kehidupan masyarakat  dengan orietasi kebudayaannya yang khas, sehingga baik pelestarian maupun pengembangan nilai-nilai budaya merupakan proses yang bermatra individual,  sosial dan cultural sekaligus.

Prasangka merupakan faktor yang potensial menciptakan konflik antar etnik. Prasangka bahkan terbukti telah melahirkan konflik antar etnik yang paling merusak. Atas alasan demikian, prasangka dapat dikategorikan sebagai ancaman besar-berbahaya bagi terbentuknya suatu masyarakat multietnik yang sehat. Dalam rangka membentuk masyarakat plural (multi etnic) yang sehat dan damai, rendahnya prasangka adalah prasyarat penting. Oleh karena itu upaya-upaya mengurangi prasangka di masyarakat sangatlah penting dan mendesak.

Upaya mengurangi prasangka bisa dilakukan dalam banyak cara. Beberapa upaya yang bisa dilakukan diantaranya melalui rekayasa dalam hubungan antar kelompok, melalui sosialisasi dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan, melalui rekayasa sosial, maupun melalui penyadaran diri pribadi. Kita tahu, prasangka dipengaruhi juga oleh sejarah, politik, ekonomi, dan struktur sosial (Brown, 1995), karenanya diperlukan pula adanya political will yang kuat dari pemerintah untuk melakukan upaya-upaya mengurangi prasangka. Sebab hanya pemerintah yang memiliki kemampuan melakukan social engineering secara luas dan memaksa, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial.

Prasangka muncul dalam kondisi rendahnya pemahaman lintas budaya di masyarakat. Sementara itu, pemahaman lintas budaya adalah sendi dari sebuah masyarakat multietnik yang sehat, dimana setiap orang sadar akan perbedaan dan menghargai perbedaan itu. Pemahaman lintas budaya merupakan kemampuan seseorang untuk memahami perbedaan dan sadar akan adanya perbedaan budaya, serta mampu menerima adanya perbedaan itu melalui kemampuan melihat fenomena dunia melalui sudut pandang budaya yang lain. Pada hakekatnya mengurangi prasangka sama artinya dengan menumbuhkan pemahaman lintas budaya. Menumbuhkan pemahaman lintas budaya dan upaya-upaya mengurangi prasangka lainnya, bisa dilakukan di segenap aspek kehidupan, dimulai dari keluarga, lingkungan pertetanggaan, sekolah, organisasi, dan masyarakat secara lebih luas.

Dalam rangka memberikan penjelasan tentang peran psikologi positif dalam mengatasi prasangka sosial, maka dalam tulisan ini nanti akan dibahas tentang pengertian prasangka sosial dan penyebabnya. Dalam tulisan ini, dipaparkan beberapa teori tentang psikologi positif dan prasangka sosial. Dengan harapan bisa mengkomparasikan dua teori ini dalam menjaga kompleksitas dan multikulturalisme kebudayaan yang ada. Pada akhir tulisan dipaparkan tentang kesimpulan-kesimpulan yang barangkali bisa dijadikan refleksi bersama.

 

B. Psikologi Positif dan beberapa Kritiknya

Psikologi Positif adalah sebuah gerakan baru dalam ilmu psikologi yang lebih menekankan pada eksplorasi potensi-potensi produktif dalam diri manusia. Berbeda dengan Behaviorisme dan Psikoanalisis misalnya, yang cenderung pesimis melihat takdir manusia. Kedua mazhab psikologi yang sampai sekarang masih dominan ini terlalu berburuk sangka pada manusia. Paradigma keilmuan yang dibangunnya terlalu bersifat klinis, dan kosekuensinya, tugas ilmu psikologi hanya memahami gangguan-gangguan mental yang diderita manusia, bukan berusaha membantu manusia untuk mengembangkan kemampuannya secara optimal. Menurut Martin Seligman (2002), pendiri gerakan psikologi positif, kedua mazhab ini telah mewariskan ilmu psikologi yang bersifat patogenis.

Jika psikologi patogenis sibuk mempelajari kelemahan dan kerentanan manusia kemudian berusaha memperbaikinya, psikologi positif memusatkan perhatian pada kelebihan dan kekuatan manusia. Alih-alih berusaha memperbaiki apa yang rusak dalam diri manusia, psikologi positif mencoba membangun hidup di atas apa yang terbaik dari diri manusia. Psikologi positif mengidentifikasi kekuatan dalam diri manusia untuk mencapai kesehatan dan kebahagiaan. Bukan hanya terhindar dari penyakit, tetapi juga hidup bahagia. Bukan hanya sekedar hidup (living), tetapi juga bagaimana mengembangkannya (thriving).

Pada saat pelantikannya sebagai Presiden American Psychological Association tahun 1997, Seligman menyampaikan sebuah pidato yang dianggap sebagai tonggak lahirnya gerakan psikologi positif di dunia. Dalam pidatonya, ia menyebutkan bahwa sebelum Perang Dunia II, sebenarnya ada tiga misi utama psikologi: menyembuhkan penyakit mental, membuat hidup lebih bahagia, dan mengidentifikasi dan membina bakat mulia dan kegeniusan. Setelah Perang Dunia II, dua misi yang terakhir diabaikan sama sekali. Berdasarkan tiga misi inilah, ditegakkan tiga prinsip psikologi positif : (1) studi tentang emosi positif (optimisme, kebahagiaan, kasih sayang, dsb.), (2) studi tentang sifat-sifat positif (kebajikan, kreativitas, kegigihan, keberanian, cinta, dsb.), dan (3) studi tentang lembaga-lembaga positif yang mendukung kebajikan.

Bila psikologi positif dianggap sebagai “science of happiness” seperti diungkap Tal Ben Shahar (dalam Mabe, 2008), maka kritik yang pernah muncul ialah bahwa dengan adanya gelombang psikologi positif, terdapat “tekanan kultural” terhadap setiap orang untuk menjadi bahagia sepanjang masa yang akhirnya membuat orang senantiasa mengkaji tingkat kebahagiaannya dan selanjutnya menginginkan hal yang lebih. Kebahagiaan menjadi “obsesi” yang hanya membuat orang lebih tidak berbahagia (Wilson dalam Megan, 2008). Kendati demikian, menurut Shahar (Megan, 2008), ahli-ahli psikologi positif tidak hanya berbicara mengenai kebahagiaan dan juga tidak menafikan aspek negatif dari kehidupan (sebagaimana terdapat dalam Pollyannaisme), melainkan:

“Mereka berbicara mengenai keterlibatan (engagement), mengenai perasaan yang dalam akan makna, sebuah hidup yang bertujuan. Hal-hal ini bersama dengan kenikmatan (pleasure) merupakan bagian bersama dari sebuah kehidupan bahagia. Tidak ada jalan pintas, tidak ada lima langkah mudah untuk menuju kebahagiaan.”

Berdasarkan kalimat Shahar, guru besar psikologi di Universitas Harvard, di atas jelas bahwa terdapat perbedaan kandungan isi dan metodologi antara “psikologi positif” yang ditawarkan oleh kebanyakan psikologi di pasar dengan boosterism (pemercepatan dengan upaya ekstra) peraihan kebahagiaannya, yang boleh jadi bersifat ilmiah semu (pseudoscientific) bagi ilmu psikologi serta psikologi positif yang dikembangkan oleh para ilmuwan (scientific psychology). Menurut dasar ontologis scientific psychology, jelas adanya bahwa titik berangkat psikologi justru ketidakbahagiaan (Takwin, 2009). Senada dengan Takwin, De Rubeis (2000) jauh hari sebelumnya telah mengungkap bahwa “Psikologi negatif (negative psychology) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari psikologi positif.” Lebih jelas, Takwin (2009) menjelaskan:

“Psikologi tidak bisa memulai dari pendefinisian kebahagiaan karena kebahagiaan sulit dikenali. Titik berangkat psikologi adalah ketidakbahagiaan jelas adanya. Tetapi, kebahagiaan tidak dapat diartikan sebagai tidak adanya ketidakbahagiaan. Kebahagiaan bukan juga sekadar terselesaikannya masalah seseorang. Kebahagiaan selalu merupakan situasi jiwa yang baru, situasi yang mengandung kebaruan yang dapat menghubungkan jiwa dan kebahagiaan.

 

Secara umum, situasi psikologis selalu merupakan sesuatu yang dikenali sebagai hubungan antara disposisi chaotic dari jiwa (mencakup perasaan, tingkahlaku, dan pikiran) dan apa yang dikenali sebagai kebahagiaan. Dalam konteks ini, termasuk juga menghubungkan apa yang tadinya dianggap kebahagiaan namun dalam kenyataannya tidak menghasilkan kebahagiaan,  dengan apa yang mungkin menghasilkan kebahagiaan Psikologi mencoba mengajukan proposisi baru yang menata keadaan chaotic dari jiwa sehingga menghasilkan kebahagiaan.”

Bila membaca hal di atas, kita dapat memadankannya dengan basis pernyataan Seligman (1999) ketika membicarakan pemberdayaan komunitas sebagai salah satu tonggak psikologi positif, bahwa peradaban bukan hanya berarti tiadanya ketidakberadaban (civility is not just the absence of incivility), bahwa peradaban yang terbangun akan terus terbangun dan meluas. Hal ini pada hakikatnya sesuai dengan perjalanan penelitian Martin Seligman (2002) dari ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness), upaya terapi terhadapnya, yang menuju kepada optimisme atau kebahagiaan yang dipelajari (learned optimism atau learned happiness) dan upaya promosinya.

Terdapat hubungan paradoksal dan dialektis dalam pengalaman manusia antara learned helplessness dan learned optimism. Patut dicatat dalam kaitan ini bahwa Seligman mengakui, “Saya terlahir sebagai seorang pesimis dan saya pikir hanya para pesimis yang dapat mengerjakan karya serius mengenai optimisme” (Scherer, 2008). Tulisan lain dalam bahasa Indonesia yang meskipun berbasis pengalaman empiris sehari-hari dan bukannpenelitian sistematis, namun mampu menggambarkan secara memadain bahwa “psikologi negatif” tidak selalu negatif hasilnya adalah buku “Be Negative” karya Naomi Susan.

Kritik lain terhadap psikologi positif adalah pertanyaan apakah terdapat kongruensi antara aplikasi psikologi positif dalam tataran individual dan dalam tataran kelompok (kelompok bisnis, sekolah, komunitas, dan sebagainya). Untuk jelasnya, mari kita cermati riset yang dilakukan oleh departemen psikologi Northwestern University (2008). Riset ini meneliti bagaimana pengaruh penaikan harga diri (self-esteem) melalui pengkontemplasian pencapaian seseorang atau penerimaan umpan balik positif dari orang lain terhadap dorongan menyelamatkan mukanya sendiri (face-saving) untuk membenarkan dan tetap menjalankan keputusankeputusan yang hasilnya sesungguhnya diragukan efektivitasnya. Hasil penelitian itu antara lain sebagai berikut:

“Dalam sebuah penelitian, para partisipan yang merupakan para manajer senior dari sebuah bank investasi yang besar menerima umpan balik positif yang menekankan betapa rasionalnya mereka. Alih-alih berakibat positif, umpan balik ini juga secara erat berkaitan dengan keputusan yang mereka buat ketika menerima seorang karyawan yang kemudian diketahui memiliki riwayat kinerja yang tidak baik. Para manajer senior tersebut secara membabi buta mengomitmenkan diri mereka berulang-ulang dengan keputusan awal mereka untuk mempekerjakan orang tersebut, serta merekomendasikan untuk menyediakan waktu dan menghabiskan uang tambahan untuk melatih orang ini, ketimbang mengakui keputusan buruk mereka serta memotong rantai efek keputusan mereka yang keliru.”

Menurut Seligman, Steen, Park, dan Peterson (2005), psikologi positif merupakan istilah yang memayungi studi-studi terhadap emosi-emosi positif, sifat-sifat dasar positif, dan pemberdayaan institusi/komunitas. Dalam pembahasaan yang lain, psikologi positif mempelajari kondisi-kondisi dan proses-proses yang berkontribusi terhadap penyuburan atau pemfungsian individu, kelompok, dan lembaga secara optimal (Gable & Haidt, 2005).

Psikologi positif tidak menyangkal nilai-nilai dari penelitian-penelitian yang sudah ada tentang psikopatologi, namun melampaui itu, berfokus pada kemungkinan-kemungkinan untuk meningkatkan keberfungsian manusia dengan berupaya membangun kekuatan individual daripada berfokus pada kelemahannya (Garr, 2007). Kekuatan-kekuatan ini dideskripsikan dalam peristilahan pendidikan karakter (character education) atau keutamaan-keutamaan (virtues) (Peterson & Seligman, 2004).

Sementara Martin Seligman, sang pendiri psikologi positif, berpendapat bahwa psikologi positif dapat dengan cukup mudah ditransfer kedalam kehidupan korporat (Scherer, 2008); apakah hasil penelitian di atas berimplikasi bahwa dengan memaksimalkan harga diri (dan hal-hal positif lain, seperti optimisme, kepercayaan, engagement, dan sebagainya) tiap-tiap orang dalam kelompok atau organisasi, psikologi positif justru membawa organisasi kedalam bahaya? Ataukah, kita harus merujuk kembali pada hukum psikologi Gestalt bahwa keseluruhan atau totalitas (dalam hal ini: kelompok, organisasi) bukanlah penjumlahan dari bagian-bagian (individuindividu) totalitas itu? Sebagaimana diungkap oleh Irwanto (2002), dalam totalitas terdapat unsur baru, struktur dan arti yang ditentukan oleh hubungan antar bagian dalam totalitas tersebut. Transfer psikologi positif dari level individual ke level social dan institusional memang nampak memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

C.     Prasangka Sosial dan Penyebabnya

Prasangka merupakan salah satu fenomena yang hanya bisa ditemui dalam kehidupan sosial. Munculnya prasangka merupakan akibat dari adanya kontak-kontak sosial antara berbagai individu di dalam masyarakat. Seseorang tidak mungkin berprasangka bila tidak pernah mengalami kontak sosial dengan individu lain. Akan tetapi prasangka tidak semata-mata dimunculkan oleh faktor sosial.

Faktor kepribadian turut berperan dalam menciptakan apakah seseorang mudah berprasangka atau tidak. Walaupun faktor sosial sangat menunjang untuk menciptakan prasangka, belum tentu seseorang akan berprasangka karena masih tergantung pada tipe kepribadian yang dimiliki, apakah ia memiliki tipe kepribadian berkecenderungan berprasangka atau tidak. Lalu manakah yang lebih penting faktor sosial atau faktor kepribadian dalam menciptakan prasangka? Jawabannya bisa keduanya sama penting atau bisa salah satu lebih penting. Apabila tekanan dalam melihat prasangka adalah konteks sosialnya, tentu saja faktor sosial merupakan faktor terpenting. Sedangkan bila konteks individu yang ditekankan, maka faktor individual bisa jadi dinilai lebih penting.

Menurut Johnson (1986:356) prasangka yang didasari pada rasisme dan etnisitas erat dengan keberhasilan komunikasi sesama manusia. Prasangka, yang menurut terdiri dari tiga faktor utama, yaitu: (1) stereotip; (2) jarak sosial; dan (3) diskriminasi itu berhubungan dengan efektivitas komunikasi; yang oleh Devito (1978:261) sangat tergantung dari faktor-faktor; (1) keterbukaan; (2) empati; (3) perasaan postif; (4) dukungan; dan (5) keseimbangan.

Liliweri (2005) menjelaskan pengertian prasagka telah mengalami transformasi. Pada mulanya prasangka merupakan pernyataan yang hanya didasarkan pada pengalaman dan keputusan yang tidak teruji terlebih dahulu. Pernyataan ini bergerak pada suatu skala suka tidak suka, mendukung tidak mendukung terhadap sifat-sifat tertentu. Pengertian prasangka kini mengarah pada pandangan emosional dan bersifat negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang tetentu.

Dalam istilah psikologi sosial, prasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan ras, ataukebudayaan yang berlainan dengan elompoknya. Prasangka sosial terdiri atas attitude-attitude sosial yang bersifat negatif terhadap golongan lain. Prasangka sosial mempengaruhi tingkah laliu orang terhadap golonga manusia lain itu. Prasangka sosial lambat laun memunculkan sikap diskriminatif tanpa alaanalasan objekktif (Gerungan, 1996:167).

Istilah prasangka (prejudice) berasal dari kata latin prejudicium yang berarti suatu preseden, atau suatu penilaian berdasarkan keputusan dan pengalaman terdahulu. Prasangka pada dasarnya cara pndang atau perilaku seseorang terhadap orang lain secara negatif. Itu sebabnya, prasangka sangat potensal menimbulka kesalahpahaman ketimbang kesepahaman dalam berkomunikasi (Liliweri 2005).

Mulyana (1990) menjelaskan prasangka merupakan sala satu rintangan atau hambatan bagi suatu kegiatan komunikasi, oleh karena orang-orang yan mempunyai prasangka belum apa-apa suda bersikap curiga dan menentang komunikator yang melakukan komunikasi. Dalam prasangka emosi memaksa kita menarik kesimpulan atas dasar syak wasangka tanpa menggunakan pikiran dan pandangan kita terhadap fakta yang sebenarrnya. Andai seseorang sudah dihinggapi prasangka terhadap orang lain, maka apapun yang dilakukan orang itu akan diangganya negatif.

Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari kecenderungan individu untuk membuat kategori sosial (social categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (in group) dan “kelompok mereka” (out group). In group adalah kelompok sosial di mana individu merasa dirinya dimiliki atau memiliki (“kelompok kami”). Sedangkan out group adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”).

Timbulnya prasangka sosial dapat dilihat dari perasaan in group dan out group yang menguat. Ciri-ciri dari prasangka sosial berdasarkan penguatan perasaan in group dan out group adalah:

1. Proses generalisasi terhadap perbuatan anggota kelompok lain.

Menurut Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu dari kelompok luar berbuat negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua anggota kelompok luar. Sedangkan jika ada salah seorang individu yang berbuat negatif dari kelompok sendiri, maka perbuatan negaitf tersebut tidak akan digeneralisasikan pada anggota kelompok sendiri lainnya.

2. Kompetisi sosial

Kompetisi sosial merupakan suatu cara yang digunakan oleh anggota kelompok untuk meningkatkan harga dirinya dengan membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain dan menganggap kelompok sendiri lebih baik daripada kelompok lain.

3. Penilaian ekstrim terhadap anggota kelompok lain

Individu melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian positif ataupun negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan berupa penilaian negatif.

4. Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu

Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan stereotipe. Stereotipe adalah keyakinan (belief) yang menghubungkan sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat tertentu atau anggapan tentang ciriciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Jadi, stereotipe adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok, suatu image yang pada umumnya sangat sederhana, kaku, dan klise serta tidak akurat yang biasanya timbul karena proses generalisasi. Sehingga apabila ada seorang individu memiliki stereotype yang relevan dengan individu yang mempersepsikannya, maka akan langsung dipersepsikan secara negatif.

5. Perasaan frustasi (scope goating)

Menurut Brigham (1991), perasaan frustasi (scope goating) adalah rasa frustasi seseorang sehingga membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas ketidakmampuannya menghadapi kegagalan. Kekecewaan akibat persaingan antar masing-masing individu dan kelompok menjadikan seseorang mencari pengganti untuk mengekspresikan frustasinya kepada objek lain. Objek lain tersebut biasanya memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan dirinya sehingga membuat individu mudah berprasangka.

6. Agresi antar kelompok

Agresi biasanya timbul akibat cara berpikir yang rasialis, sehingga menyebabkan seseorang cenderung berperilaku agresif.

7. Dogmatisme

Dogmatisme adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan dengan masalah tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain. Bentuk dogmatisme dapat berupa etnosentrisme dan favoritisme. Etnosentrisme adalah paham atau kepercayaan yang menempatkan kelompo sendiri sebagai pusat segala-galanya. Sedangkan, favoritisme adalah pandangan atau kepercayaan individu yang menempatkan kelompok sendiri sebagai yang terbaik, paling benar, dan paling bermoral.

D. Upaya Psikologi Positif Meminimalisir Prasangka Sosial

Berbagai prasangka sosial memang senantiasa muncul pada masyarakat yang multicultural. Hal ini dikarenakan perbedaan pandangan, pemahaman dan ideology yang ada pada masing-masing kelompok dan etnis. Ada berbagai ragam cara yang bisa digunakan untuk meredam prasangka sosial. Upaya-upaya yang bisa dilakukan dalam mengurangi prasangka, yakni melalui hubungan antar kelompok, melalui sosialisasi, melalui rekayasa sosial, maupun melalui penyadaran diri pribadi. Hal ini bisa jadi sangat efektif, karena prasangka sosial itu mucul akibat dari minimnya komunikasi antar etnik itu sendiri.

Adapun lebih detilnya bisa kita lihat keterangan berikut ini.

1. Melalui Hubungan Antar Kelompok

Dengan berhubungan antar kelompok, bisa diasumsikan bahwa anggota kelompok yang berbeda bila melakukan interaksi satu sama lain akan mengurangi banyak prasangka antara mereka, dan menghasilkan sikap antar kelompok dan stereotip yang lebih positif. Semakin banyak dan erat interaksi yang terjadi maka prasangka dan stereotip negatif akan semakin berkurang. Karena dengan mengadakan hubungan antar kelompok ini masing-masing kelompok akan saling mengenal untuk kemudian mendapatkan dukungan sosial dan dukungan institusional dari kelompok lain. Selain itu masing-masing kelompok akan memiliki hubungan yang sejajar yang kemudian akan membentuk kerjasama antar kelompok.

2. Melalui Sosialisasi

Selain hubugan antar kelompok, sosialisasi juga merupakan metode yang sesuai untuk mengurangi prasangka. Upaya sosialisasi nilai-nilai egalitarian dan tidak berprasangka bisa dilakukan di rumah atau keluarga, di sekolah maupun dimasyarakat. Keluarga adalah faktor yang sangat penting dalam sosialisasi nilai-nilai yang mendorong anak-anak tidak berprasangka. Hanya memang, keluarga tidak menjadi satu-satunya faktor yang dominan. Bisa jadi keluarga yang telah mendorong sikap berprasangka tetap tidak berhasil membuat anak tidak berprasangka karena sekolah atau teman-teman sebayanya tidak mendukung upaya itu. Demikian juga sebaliknya, upaya sekolah untuk mengurangi prasangka mungkin tidak akan berhasil jika di rumah situasi keluarga tidak mendukung.

3. Melalui Rekayasa Sosial

Prasangka etnik tidak hanya disebabkan oleh faktor psikologis semata, ia juga disebabkan oleh faktor sejarah, ekonomi, politik, budaya, dan struktur sosial (Brown, 1995). Karenanya diperlukan adanya political will yang kuat dari pemerintah untuk melakukan upaya-upaya mengurangi prasangka. Sebab hanya pemerintah yang memiliki kemampuan melakukan social engineering secara luas dan memaksa, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial.

4. Melalui Penyadaran Diri

Sejauh ini telah dikemukakan beberapa upaya mengurangi prasangka melalui interaksi dengan pihak lain, melalui keluarga, sekolah dan media, maka tiba saatnya kita berupaya mengurangi prasangka yang kita miliki sendiri yang mungkin kurang kita sadari. Inilah yang sebenarnya menjadi sumber yang paling signifikan dalam prasangka sosial. Karena proses prasangka diri inilah yang biasanya berkembang menjadi prasangka sosial dan menjadi konflik antar etnis dan kelompok masyarakat. Adapun untuk melakukan hal ini individu bisa melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. Degan cara sebagai berikut: Mengakui bahwa kita berprasangka dan bertekad untuk menguranginya.

  1. Mengidentifikasi stereotip yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya.
  2. Mengidentifikasi tindakan-tindakan yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya.
  3. Mencari umpan balik dari teman dan rekan yang berbeda-beda latar belakangnya tentang seberapa baik cara kita berkomunikasi, apakah terlihat cukup respek pada mereka dan menghargai perbedaan yang ada.

E.     Kesimpulan

Dari paparan di atas, upaya mengurangi prasangka etnik nyaris identik dengan upaya menumbuhkan pemahaman lintas budaya dan menumbuhkan energi positif dalam diri individu. Tapi ada hal yang berbeda, yakni bahwa pemahaman lintas budaya berupaya lebih dari sekedar mengurangi prasangka. Di dalamnya juga terkandung pemahaman akan keberagaman dan penghargaan akan perbedaan, serta bagaimana bersikap dan bertindak dalam situasi multietnik-multikultur. Pemahaman lintas budaya ini jelas sangat terasa penting dalam masyarakat multienik-multikultur seperti di Indonesia, meskipun belakangan ini berbagai variasi kultur etnik, terutama folkways mulai menghilang digantikan oleh kultur-kultur baru yang diadopsi dari kultur ‘barat’

Salah satu bentuk nyata dari terbangunnya pemahaman lintas budaya dalam masyarakat adalah terbangunnya komunikasi antar kelompok yang efektif. Liliweri (2005) menyatakan bahwa dalam masyarakat majemuk, efektivitas komunikasi antar etnik sangat ditentukan oleh mutu efektivitas komunikasi intraetnik. Sedangkan efektivitas komunikasi intraetnik dapat dicapai manakala setiap etnik mempunyai kemampuan untuk memelihara suasana kemajemukan melalui :

1.      Efektivitas komunikasi antara intraetnik dengan antaretnik.

2.      Memandang ciri dan sifat khas yang positif antara intraetnik dengan antaretnik.

3.      Memilih dan memelihara keseimbangan dalam pelbagai bentuk interaksi sosial intraetnik dengan antar etnik.

4.      Bertindak secara adil dalam tindakan diskriminasi anggota intraetnik dengan antaretnik.

Lebih lanjut Liliweri (2005) juga menambahkan bahwa masalah SARA, yang diasumsikan sebagai bahaya laten dapat dipecahkan melalui peningkatan dan pengembangan pelbagai media komunikasi antar etnik. Media itu harus tidak memihak dan menggambarkan secara objektif jika memberitakan suatu kelompok etnik tertentu. Bila tidak, media hanya akan meneguhkan dan melebarkan jarak antaretnik. Media bisa berperan memberikan pengetahuan akan kelompok lain dan cara hidup dalam masyarakat multikultur. Untuk menciptakan suatu komunikasi yang efektif antar etnik, maka perlu ditingkatkan sensitivitas bahasa dan kesadaran akan adanya gaya-gaya dasar yang berbeda dalam berkomunikasi.

Daftar Rujukan

 

Danandjaja,  James. 1988. Antropologi Psikologi. PT.  Raja Grafindo  Persada: Jakarta.

Gable, S. L., & Haidt, J. 2005. What (and why) is positive psychology? Review of General Psychology, 9(2), 103-110.

Gerungan, W. A. 1996. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco.

Irwanto. 2002. Psikologi Umum. Jakarta: Prenhallindo.

Johnson, G. Allan. 1986. Human Arrangements & Introduction to Sociology. Harcourt Brace. Inc. Sandiego.

Liliweri, Alo. 2005, Prasangka Dan Konflik. Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara.

Megan, K. (2008). The pursuit of unhappiness: Let’s give melancholy its due, experts advise.

Mulyana, Deddy, dan Rakhmat, Jalaluddin. 1990. Komunikasi Antarbudaya. Rosdakarya. Bandung.

Peterson, C., & Seligman, M. E. P. 2004. Character strengths and virtues. Washington, DC: American Psychological Association.

Scherer, K. 2008. Importance of Happiness in the Workplace. Diambil pada 25 November 2010 dari http://www.nzherald.co.nz/humanscience/news/article.cfm?c_id=314&objectid=10504853

Seligman, M. E. P. 2002. Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment. New York: Free Press.

Seligman, M. E. P., Steen, T. A., Park, N., & Peterson, C. 2005. Positive Psychology Progress: Empirical Validation of Interventions. The American Psychologist, 60, 410-421.

Seligman, M.E.P. 1999. Seligman Speech at Lincoln Summit. Diambil pada 25 November 2010 dari http://www.ppc.sas.upenn.edu/lincspeech.htm

Takwin, B. 2009. Psikologi Menghubungkan Jiwa dan Kebahagiaan dengan Aktivitas Sosial. Dalam Godwin, R. (Ed.). Psikologi Pemberdayaan Komunitas. Depok: Insos

3 Tanggapan to “Peran Psikologi Positif Mengatasi Prasangka Sosial dalam Masyarakat Multikultural”

  1. dildaar80 berkata

    Sangat betul bahwa prasangka positif sangat penting guna membentuk masyarakat damai sejahtera.

    Masyarakat yg multikultural sendiri tdk hanya disebabkan oleh etnis yang beragam melainkan juga oleh sistem kepercayaan atau golongan agama.

    Salah satu golongan agama (Islam) yg mendapatkan prasangka negatif sehingga mengalami persekusi adalah Jemaat Ahmadiyah di Indonesia.

    Sy berharap artikel diatas banyak dibaca oleh orang-orang agar pemikiran ini tersebar lebih luas.

  2. [...] [3] http://jendelapemikiran.wordpress.com/2010/12/02/peran-psikologi-positif-mengatasi-prasangka-sosial-… di unduh tanggal 27 Februari 2011 jam [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: