Oleh Edi Purwanto
Mentari sudah berada diatas kepala, jam tanganku sudah menunjukan pukul 11.00. suara motor terdengar menderu-deru seolah memekakan telingaku. Pedagang kaki lima berjajar memenjang dari utara ke selatan pasar Bandar. Para pedagang asik menawarkan daganganya kepada setiap pembeli yang menghampirinya. Tampak olehku orang tua berumur 70 tahunan sedang berada diatas becak. Tampak dari kejauhan dia sangat lelah sekali. Kelihatanya dia habis mengangkut penumpang. Keringatnya mengalir deras membasahi tubuh dan mukanya. Kulitnya yang hitam bercampur dengan debu jalanan membuat wajahnya mengkilat tersapu oleh sengatan panas mentari. Topi caping yang dia gunakan sebagai pelindung wajahnya dari sengatan matahari tampak kusam. Ketika saya menghampirinya dia tersenyum lebar dan menyambutku dengan bangga. Dialah pak Poyo seniman jaranan yang kegiatan sehari-harinya mengayuh becak dan mengangkut sampah kalu malam harinya. Dia memiliki 5 orang anak dan 6 orang cucu. Dia adalah seniman jaranan. Dengan senyum lebar dia mulai bercerita tentang pergulatan hidupnya sebagai seniman jaran kepang di Kediri. Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk ‘pemikiran tokoh’ Kategori
Pak Poyo: Jaranan Seharusnya Tidak Keluar dari Pakem
Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Desember 28, 2008
Ditulis dalam pemikiran tokoh | Bertanda: jaranan kediri, jaranan samboyo putro, ki Narto sabdo, klana sewandono, pak poyo, pamenang Joyoboyo, pecut kyai samandiman, songgo langit | Leave a Comment »
Sakiya Sunaryo: Saya Tidak Terima Ludruk di Surabaya Hilang
Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada November 28, 2008
Oleh Edi Purwanto
Siang itu Kota Surabaya terasa panas sekali. Panasanya terik matahari seolah-olah membuat kulit setiap orang yang ada dibawahnya terbakar. Asap kendaraan dan pabrik serta bau sampah menyengat. Dari jauh terdengar suara motor yang tidak pernah berhenti berbunyi. Sesekali suara pesawat terbang menambah kebisingan dan hiruk-pikuk kota Surabaya. Tidak jauh dari keramaian Kota Surabaya ada sebuah gedung Ludruk. Gedung ini bernama Gedung Ludruk Irama Budaya. Tepatnya berada di Wonokromo, di Pinggir Sungai Brantas. Gedung itu sangat sederhana arsitekturnya masih model lama. Gedung itu hanya memuat penonton sekitar 120 orang. Peralatan yang digunakan juga masih sederhana. Pada saat pertunjukan, gedung ini hanya menggunakan seperangkat gamelan dan beberapa alat pengeras suara. Di gedung inilah Ludruk Irama Budaya setiap malam melakukan pementasan dengan lakon yang berbeda-beda.
Anggota Ludruk Irama Budaya ini berasal dari berbagai tempat. Ada yang berasal dari Tulungagung, Lumajang, Banyuwangi, bahkan ada yang berasal dari luar jawa. Jumlah keseluruhan personil ludruk Irama Budaya adalah 25. Personil itu terdiri dari 10 laki-laki dan 15 waria. Mereka berkupul di Gedung ini siang dan malam untuk berbagi suka cita bersama. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam pemikiran tokoh | Bertanda: ludruk irama budaya, ludruk surabaya, Ludruk tobongan, nobong, Sakiya Sunaryo | Leave a Comment »
Partai Islam Harus Merubah Visinya
Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada November 20, 2008
Dari tahun ke tahun, keberadaan partai Islam semakin menjamur akan tetapi perolehan suaranya tetap. Bahkan bisa dikatakan menurun jika dibandingkan dengan tahun 1955. Hal ini disebabkan oleh kanibalisme dan eksklusivisme yang menggurita di dalam partai-partai Islam.
Suara PKS dari pertama berdirinya hingga sekarang mengalami perkembangan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan partai Islam lainnya. Akan tetapi kalau dilihat dari trend partai PKS memperoleh suara yang besar tetapi itu juga diikuti penurunan partai Islam lainnya. Hal ini dikarenakan PKS mengambil suara dari partai Islam modernis (PAN) daripada dari partai nasionalis dan partai Islam tradisional (PKB). hal ini lebih dikarenakan warga NU (PKB) yang mempunyai kehidupan sosial budaya yang berbeda dengan warga Islam moderat atau Muhammadiyah (PAN, PKS). Inilah yang menyebabkan perolehan suara dari partai-partai Islam menjadi menurun. Hal ini diungkapkan oleh Burhanuddin pada saat diskusi publik di gedung PPI Universitas Brawijaya Malang pada hari Senin, 3 November 2008 yang lalu. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam pemikiran tokoh | 10 Komentar »
Aguste Comte: Sejarah Masyarakat
Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Juni 4, 2008
Selintas apabila melihat manusia yang satu ini pastinya semua akan berpikir, apakah manusia ini gila ataukah cerdas ? Begitupun saya pada awalnya yang mencoba mempelajari sosiologi dan pemikirannya manusia yang satu ini, Auguste Comte. Seorang yang brilian, tetapi kesepian dan tragis hidupnya.
Auguste Comte yang lahir di Montpellier, Perancis pada 19 Januari 1798, adalah anak seorang bangsawan yang berasal dari keluarga berdarah katolik. Namun, diperjalanan hidupnya Comte tidak menunjukan loyalitasnya terhadap kebangsawanannya juga kepada katoliknya dan hal tersebut merupakan pengaruh suasana pergolakan social, intelektual dan politik pada masanya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam pemikiran tokoh | 2 Komentar »
Anti-Dühring dan Dialektika Engels (1878)
Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Mei 23, 2008
Karya berikut ini sama sekali tidak berasal dari suatu “dorongan kalbu”. Sebaliknya, temanku Liebknecht dapat bersaksi akan usahanya yang keras untuk membujuk diriku mengarahkan sorotan kritik pada teori paling baru Herr Dühring mengenai sosialisme. Sekali kuputuskan untuk melakukan hal itu, aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyelidiki teori ini, yang mengklaim merupakan buah praktikal terakhir dari suatu sistem filosofikal baru, dalam kaitannya dengan sistem ini, dan dengan demikian memeriksa sistem itu sendiri. Karenanya aku terpaksa mengikuti Herr Dühring ke dalam wilayah yang sangat luas, di mana ia berbicara mengenai segala hal yang mungkin dan mengenai hal-hal lain pula. Itulah menjadi asal-usul serentetan karangan yang muncul dalam Vorwärts Leipzig dari awal tahun 1877 dan seterusnya dan disajikan di sini sebagai suatu kesatuan yang berangkaian. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam pemikiran tokoh | Leave a Comment »
Paul Feyerabend: Against Method
Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Mei 14, 2008
Paul Feyerabend (1924-1994) mempelajari sejarah dan sosiologi sebelum memutuskan untuk mendalami fisika. Tesis doktornya diperoleh dalam filsafat di bawah bimbingan Karl Popper. Karya terbesar Feyerabend adalah Against Method yang ditulis pada tahun 1975.
Pada awalnya, sebagai murid Popper, Feyerabend mendukung filosofi dan prinsip falsifikasi Popper namun kemudian dia berbalik menjadi salah seorang penentang Popper. Feyerabend berpendapat bahwa prinsip falsifikasi Popper tidak dapat dijalankan sebagai satu-satunya metode ilmiah untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam pemikiran tokoh | 2 Komentar »
Michael Foucault: Usaha Mengenal ‘Yang Lain’
Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Mei 14, 2008
Banyak pemikiran muncul dan berkembang dilatari oleh kondisi sosio-kultural tempat sang pemikir hidup. Pemikir adalah anak zamannya, walaupun pemikirannya nanti menembus ruang dan waktu. Pemikir dan pemikirannya adalah bagian dari satu gestalt, bisa berupa sejarah atau peradaban (seperti Barat), bisa juga agama (seperti Islam). Pemikiran Al-Ghazâlî bisa dipahami secara jernih dengan melihat gestalt-nya secara keseluruhan, yakni Islam. Ia adalah bagian dari gestalt, yang berarti diterangkan oleh gestalt tersebut. Begitu juga Michel Foucault, Ia adalah bagian dari suatu gestalt, yakni peradaban Barat, karena itu, Ia diterangkan oleh gestalt-nya. Memahami Foucault, berarti juga harus memahami gestalt-nya, sebagai salah satu unsur pembentuk. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam pemikiran tokoh | 2 Komentar »







