Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Bukan Sekedar Guyonan Sufi

Posted by Edi Purwanto pada Februari 28, 2008

Kehidupan sufi identik dengan dzikir, taffakur, mujahadah dan kegiatan positif lainya yang intinya mendekatkan diri dan menyatu dengan kehadiran ilahi robbi. Dalam ajaran tasawuf titik tekan yang akan dicapai adalah kebahagiaan yang tiada taranya. Kebahagiaan ini tidak bisa dilukiskan dengan dengan tulisan, tidak bisa dikhayalkan dengan penglihatan mata, atau pendengaran telinga yaitu sebuah ketentraman jiwa dalam kampung yang kekal bernama akhirat.Dalam memperoleh kebahagiaan ini tidak bisa semata-mata diperoleh oleh sembarang kecuali orang yang memang dipilih oleh Allah sebagai waliyyullah dimuka bumi. Dalam memperoleh kebahagiaan ini hal yang paling penting adalah rasa atau Zauq yang berada dalam hati kecil manusia. Memang dalam pergulatanya dengan kehidupan duniawi, seorang sufi harus mampu memiliki sifat-sifat yang terlepas dari kehidupan duniawi. Sebuah kedai atau warung di desa-desa biasanya tiap hari digunakan sebagai mediasi untuk nongkrong, ngopi ataupun hanya sekedar cangkrukan.

Dalam cangkrukan itu orang biasa membicarakan masalah rumah tangga, anaknya yang lagi sekolah sampai pada masalah politik negara yang berkembang dewasa ini. Lukman Hakim menawarkan kondisi yang berbeda dari fenomena warung atau kedai sebagai media bertemunya orang-orang yang memiliki hobi ngobrol. Warung yang dahulunya hanya digunakan sebagai guyonan dirubah menjadi warung yang lebih membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan esensi kehidupan. Dalam perbincangan dan guyonan yang ada didalamnya menyangkut kehidupan duniawi maupun kehidupan akhirat. Bagaimana orang harus bersikap dan berbuat untuk memperoleh kebahagiaan yang tak ternilai.

Bagaimana pula orang harus menyikapi problematika kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab bab II dalam buku ini. Dalam menyampaikan tentang pergulatan pemikiran seseorang yang menempuh perjalanan sufi, Lukman Hakim mencoba menawarkan sebuah buku kecil yang berisi tentang pergulatan seorang Pardi dan Dulkamdi dalam mencari eksistensi dirinya dengan tuhanya.

Perbincangan-perbincangan yang berawal di kedai Cak San bukan hanya sebuah guyonan, tetapi lebih bermakna tentang kehidupan. Terlebih dalam kehidupan manusia dan eksistensi manusia dalam memperoleh substansi kehidupan di dunia dan akhirat. Walaupun buku ini seperti konsultasi sufi dari seorang Dulkamdi, Pardi, Cak San dengan kang Sholeh selaku pembimbing yang memang sudah dianggap mursyid dalam hal keilmuanya.

Buku ini memberikan inspirasi baru dan atau mengingatkan kepada orang yang mungkin sudah lupa dengan kedirianya sebagai manusia di dunia. Buku ini menceritakan tentang pergulatan pemikiran menuju dunia sufistik. Dalam memperoleh dunia sufisme tidaklah mudah. Diperlukan seorang mursyid yang kamil-mukammil supaya kita tidak terjebak dalam dilematika antara syari’at dan hakekat.(hal.128)

Seringkali orang terjebak dalam logika syari’at dan hakikat yang akan menjerumuskan pikiran manusia. Syari’at dan hakekat merupakan dua sisi yang berbeda. Ketika tidak ada kesinambungan antara syari’at dan hakekat maka yang akan terjadi adalah orang akan melakukan hakekatnya saja dan melupakan syari’at. Orang yang memiliki pemahaman seperti ini adalah orang yang memahami bahwasanya syari’at adalah sarana untuk menuju hakekat saja.

Ketika manusia sudah sampai pada hakekat maka syari’at tidak diperlukan lagi. Ini merupakan sebuah pandangan yang keliru dan sekaligus juga menyesatkan. Dalam buku ini Lukman Hakim menjelaskan bahwa syari’at adalah merupakan perintah Allah. Dalam pencarian sebuah hakekat juga tidak lepas dari syari’at. Semisal dalam perintah aqimush sholah. Dalam perintah ini terkandung arti lahiriyah dan batiniyah. Makna lahiriyah berupa syari’ah sedangkan makna batiniyahnya adalah berupa hakekat. Jadi dalam memperoleh hakekat kita tidak bisa terlepas dari syari’at, artinya syari’at bukan sebagai sarana menuju hakekat (hal. 131) dalam menuju syari’at diperlukan sebuah jalan sufi yang sering kita sebut sebagai thoriqoh. Buku ini juga bercerita tentang perjalanan kiyai madun yang harus menyelesaikan pergulatan pemikiranya dengan mendatangi pekerja seks.

Kiyai Madun yang memiliki santri berjumlah ribuan itu harus menyelesaikan penyakit takut matinya dengan mendatangi para pekerja seks. Terlihat kontroversi sekali memang, akan tetapi setelah Kiyai Madun secara inten datang ke tempat pelacuran itu ia mulai mendapatkan semangat hidup. Suatu pagi ia melihat ada seorang kakek yang umurnya sudah mendekati ajal keluar dari kamar dengan seorang perempuan, yang jelas mereka habis melakukan sesuatu. Melihat fenomena itu dalam hati Kyai Madun berkata “orang yang sudah tua renta saja masih berani melakukan hal itu dengan santai dan seolah tanpa dosa mengapa saya yang masih muda begini sudah takut mati kualitas iman macam apa yang saya miliki ini ?” Dengan peristiwa itu kiyai Madun sadar imanya kepada Allah masih kurang dan ia mendapatkan iman itu belajar dari pergulatanya bergaul dengan para pekerja seksual. (hal. 140)

Masih banyak cerita-cerita guyonan dan obrolan yang dilakukan oleh Dulkamdi dan Pardi diwarung Cak San yang merupakan bahasan utama dalam buku ini. Hampir seluruh cerita yang ada di dalam buku ini berawal dari perbincangan antara Dulkamdi dan Pardi kemudian kang Sholeh menanggapinya. Banyak sekali yang dikupas dalam buku ini mulai dari kehidupan sehari-hari sampai wilayah yang sifatnya masih hangat untuk dibicarakan akhir-akhir ini. Semua cerita yang ada dalam buku ini ditulis dengan frame analisis sufisme yang disajikan dalam bentuk dialog, tebak-tebakan dan bahkan dengan lelucon.

Walaupun penyajianya sangat sederhana dan terkesan tidak serius, buku ini tidak lepas dari substansi yang ingin disampaikan kepada pembaca. Penyajianya yang kadang aneh, lucu, dan kadang pula membuat para pembaca berfikir keras membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca. Dalam buku ini penulis ingin berpesan kepada pembaca bahwa dalam menuju pergolakan pemikiran sufi tidak harus berada di tempat-tempat sunyi dan sepi. Dimana saja kita berada disitu merupakan mediasi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan jalan menuju ma’rifat billah. Buku ini akan lebih menarik ketika disajikan lebih sistematis. Atau mungkin akan lebih menarik lagi ketika buku ini disajikan dalam bentuk novel utuh. Dalam bentuk novel perjalanan seorang tokoh akan sangat kelihatan utuh. Dengan demikian pembaca akan lebih bisa melihat proses pergulatan Dulkamdi, Pardi dan Cak San Ataupun Kang Sholeh dalam bermujjadah menuju pada kebenaran hakiki yaitu Ilahi Robbi.

Judul buku : Kedai Sufi Kang Lukman

Tebal : xii + 334

Tahun penerbitan : April 2005

Penerbit : LkiS Yogyakarta

Penulis : Lukman Hakim

Oleh : Edi Purwanto

Tulisan ini diambil dari http://puspek-averroes.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: