Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Emosi dan Perilaku Belajar Mahasiswa Berprestasi Rendah Dalam Perspektif Suryomentaram

Posted by Edi Purwanto pada Maret 24, 2008

oleh Adi Atmoko

Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan emosi dan perilaku belajar mahasiswa yang berprestasi rendah. Penelitian menggunakan paradigma mikro-objektif-terap teori dan desain studi kasus kualitatif dari sudut pandangan Suryomentaram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa berprestasi belajar rendah bukan karena potensi intelektual yang rendah, melainkan karena emosi negatif terhadap perkuliahan sehingga ia berperilaku menjauhi dosen dan tugas kuliah, dan mengembangkan rasa aku kramadangsa “bukan mahasiswa” dan kegiatan di luar kuliah. Di samping emosi negatif, ada mahasiswa berorientasi lulus kuliah yang mengembangkan emosi berpura-pura senang terhadap dosen dan proses kuliah, walaupun sebenarnya merasa bosan. Budaya kelas yang hirarkis merupakan persoalan lebih substantif dan berdampak besar bagi emosi dan perilaku mahasiswa. Dikaitkan dengan tuntutan masyarakat di abad 21, maka budaya kelas tersebut akan mengalami culture lack. Disarankan (1) ada bantuan bagi mahasiswa berprestasi rendah untuk mawas diri sampai mencapai aku ukuran iv, dan 2) budaya kelas yang hirakhis diubah menjadi budaya berpikir yang memiliki sifat lebih kolegial, komunikasi terbuka, dan menjunjung kejujuran akademik. Budaya berpikir mampu mengikis emosi negatif dan kepura-puraan, dan menghasilkan lulusan yang ilmuwan indonesia, bukan sekedar pemegang ijasah.

Kata kunci: emosi Suryomentaram, mawas diri, kramadangsa

A. Pendahuluan
Sejak semester gasal tahun akademik 1997/1998 sampai semester genap tahun akademik 2000/2001 rata-rata banyaknya mahasiswa yang memiliki indeks prestasi belajar  2,00 adalah 9,75 % atau sebanyak 731 dari sekitar 7.500 mahasiswa (UPTBK UM, 2000-2001). Penelitian yang dilakukan Brand dan Powell (1986: 280-285) menemukan bahwa emosi positif secara signifikan meningkatkan, dan sebaliknya, emosi negatif melemahkan keterlibatan pebelajar dalam pembelajaran. Selanjutnya beberapa penelitian lain yang dikutip oleh Bender (1992) menemukan bahwa pembelajar yang berprestasi rendah umumnya kurang terlibat secara kognitif dan emosional dalam tugas-tugas belajar, lebih sering off-task dari kegiatan belajar. Fallis dan Opotow (2002: 11) menemukan bahwa, siswa-siswa meninggalkan kelas karena melampiaskan rasa bosan. Di sisi lain, partisipasi aktif pembelajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar (Praton dan Hales, 1986), secara signifikan berhubungan dengan hasil tes prestasi (Cornbleth dan Korth, 1986; Braggio 1986) menemukan bahwa prestasi belajar akan tinggi ketika tugas belajar direspon secara optimal, dan sebaliknya prestasi akan rendah jika tugas respon pembelajar tidak optimal.
Belajar adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya untuk mencapai perubahan tingkah laku. Proses interaksi mahasiswa dengan lingkungannya terjadi dalam perkuliahan yang terdiri atas kegiatan tatap muka, terstruktur dan mandiri (Pedoman Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2004, pasal 122 ayat 5). Perubahan yang diinginkan adalah tercapainya tujuan instruksional suatu mata kuliah dalam rangka mencapai tujuan atau visi yang telah ditetapkan oleh program studi tertentu. Perilaku belajar dalam penelitian ini mencakup kegiatan perkuliahan tersebut.
Ada unsur universal dalam emosi, namun di sadari bahwa ada faktor kontekstual atau sosio-budaya dalam bentuk, ekspresi, dinamika dan berkembangnya emosi (Matsumoto, 2000; Shiraev dan Levy, 2001). Budaya juga mempengaruhi display emosi individu yakni berperan dalam menentukan kapan, di mana, dan bagaimana harus menyatakan suatu emosi. Selain itu, budaya juga ikut menentukan apa yang dirasakan orang seperti marah, sedih, kesepian, bahagia, malu dan sebagainya (Wade dan Tavris, 2003). Orang dari budaya kolektivis seperti Asia, Amerika Selatan, dan Timur Tengah mendeskripsikan emosi mereka berasal dan dipengaruhi oleh orang lain, sedangkan orang dari budaya individualis seperti Amerika Utara dan Eropa mendeskripsikan emosi mereka berasal dari dalam diri sendiri (Mesquita & Frijda,1992; Mesquita, 2001; Wade dan Tavris, 2003).
Terdapat keterbatasan budaya (culture bond) dan ketidaktahuan budaya (culture blind) pada mainstream psikologi yang berorientasi Eropa-Amerika. Konsep ilmu sebagai alat untuk mempersepsi realitas selalu dimediasi oleh realitas sosial, budaya dan tradisi tempat ilmu dibangun. Realitas sosial menjadi kondisioning bagi ilmu pengetahuan dalam menentukan konsep, metode dan prioritas penelitian. Konsekuensinya, teori yang berasal dari Barat (western oriented) tidak selalu pas dalam mendeskripsikan dan memahami emosi di masyarakat Timur (Indonesia). Oleh karena itu perlu pendekatan yang menekankan pada kekhususan yang berakar dari masyarakat dan budaya yang spesifik (Sinha, 1997).
Suryomentaram, adalah ahli indonesia yang telah mendeskripsikan secara orisinal tentang emosi, hubungan emosi dan perilaku, dan dalam konteks hubungan dengan masyarakatnya. Tidak jauh dari ciri masyarakat indonesia yang kolektivis. Teori Suryomentaram sangat menekankan pada aspek “rasa” (emotion) dan harmonisasi hubungannya dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan fisik. Menurutnya, “rasa” adalah inti kepribadian yang menggerakkan tingkah laku manusia dalam berbagai kehidupan. Suryomentaram memiliki kekhasan penggunaan istilah, analisis dan penjelasan yang kontekstual Indonesia. Di sinilah perlunya emosi dan perilaku belajar mahasiswa berprestasi rendah (IPK  2,00) secara intensif dideskripsikan dalam konteksnya dari sudut pandang Suyomentaram.
Fokus penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran emosi dan perilaku mahasiswa yang berprestasi belajar rendah dalam pandangan Suryomentaram. Gambaran itu bukan hanya aspek yang tampak dari luar, melainkan juga simpulan-simpulan yang lebih dalam yang berkaitan dengan kepribadian mahasiswa secara holistik yang mencerminkan dinamika rasa-pikiran-perilaku.
Emosi mencakup jenis dan intensitas yang merupakan hasil aprasial individu atas stimulus emosional. Dari sisi jenis, emosi bisa berupa emosi negatif (marah) atau positif (senang). Dari sisi intensitas, emosi merupakan perasaan subjektif dan kesiapan aksi yang dibarengi dengan perubahan biologis yang memungkinkan aksi baik secara verbal maupun nonverbal tertentu lebih intensif daripada keadaan non-emosi. Perilaku sebagai salah satu ekspresi emosi merupakan reaksi yang terorganisir secara sistemik sebagai hasil proses apraisal antara relasi individu dan lingkungan, yang meliputi tiga komponen yaitu (1) pengalaman subjektif seperti marah dan senang, (2) pola perubahan fisiologis yang berpasangan dengan perasaan subjektif tersebut, dan (3) intensitas dorongan yang memobilisasi fisik untuk bertingkah laku tertentu (Lazarus, 1991).

B. Emosi Menurut Suryomentaram
Suryomentaram menggunakan istilah “rasa” (bahasa jawa = roso atau raos) untuk mendeskripsikan emosi. Karyanya dihimpun dalam buku Kawruh Jiwa terbit tahun 1989 oleh Dr. Grangsang Suryomentaram (ed.). Jiwa diyakini keberadaannya melalui rasa ketika seseorang merasakan sesuatu. Misalnya rasa susah, senang dan sakit, maka menunjukkan bahwa jiwa ada pada orang itu. Suryomentaram menyimpulkan bahwa jiwa adalah rasa (mila jiwa punika raos).
Suryomentaram mendeskripsikan emosi sebagai suatu keadaan (emotion as state) dalam dua kategori yaitu senang (positif) dan sedih atau tidak senang/benci (negatif). Masing-masing bisa berubah (malih rupa) dalam berbagai bentuk emosi dan perilaku. Emosi senang, misalnya, bisa berwujud dalam senyuman, gembira, ceria (bingar), juga bisa berupa perilaku ingin menunjukkan kepada orang lain (pamer) dan memberi pujian. Emosi tidak senang bisa berwujud dalam rasa marah, malu, dan risih, juga bisa berupa perilaku menghina, merendahkan, menjauh atau menolak. Di samping sebagai state, pengalaman subjektif, istilah rasa juga digunakan dalam konteks proses fisiologis seperti rasa haus, lapar, ngantuk, dan sakit. Selain itu, juga dalam konteks emosi-motivasional (raosing karep), misalnya rasa yang berkaitan dengan keinginan untuk menang, dan dalam konteks emosi-behavioral misalnya ungkul yaitu rasa berkaitan dengan perilaku mengungguli orang lain.
Sifat rasa berkaitan erat dengan keinginan yang mulur dan mungkret. Mulur adalah rasa senang (raos manah sekeca, lega, marem, ayem, gembira, bingar) yang muncul sebagai konsekuen keinginan tercapai sehingga menimbulkan lagi keinginan-keinginan yang lainnya. Rasa senang itu mengakibatkan keinginan menjadi seperti karet yang bisa mulur atau ditarik menjadi lebih panjang. Mungkret adalah rasa susah (raos manah gela, cuwa, mboten sakeca, kagol, muring, wirang, sakit, risi) yang muncul sebagai konsekuen keinginan yang gagal sehingga mengurangi keinginan atau menurunkan derajat keinginan itu ke yang lebih mudah. Ketika telah dikurangi, keinginan masih gagal, maka ia akan dikurangi atau diturunkan (diungkret) lagi sampai suatu saat ada keinginan yang bisa dicapai.

1. Kramadangsa
Rasa menggerakkan perilaku manusia. Rasa yang telah menyatu dengan diri sendiri yang membedakannya dengan rasa yang dirasakan oleh orang lain disebut kramadangsa. Jika ia bernama krama, maka orang itu merasa “aku si krama” yang membedakannya dengan rasa “aku si suta”. Kramadangsa hakikatnya adalah semua rasa yang ada dalam diri sendiri, di luar aku adalah orang lain yang disebut “kamu”. Dalam konsepsi Barat, konsep kramadangsa agak dekat dengan konsep emosi yang telah menjadi karakter atau bagian inti dari kepribadian manusia, menjadi the self.
Kramadangsa mencatat semua pengalaman yang dilihat, didengar, diraba, dirasa (manis, pedas, asin, pahit) dan dicium (bau-bauan). Perantara untuk mencatat adalah panca indera, sedangkan alat untuk mencatat adalah mata batin (ingatan). Di samping mencatat benda-benda dan peristiwa, kramadangsa juga mencatat rasa (emosi) yang menyertai benda atau peristiwa itu. Berjuta-juta catatan mengelompok ke dalam beberapa kelompok catatan. Suryomentaram mengidentifikasi 11 macam kelompok catatan yaitu (1) kepemilikan, (2) kehormatan, (3) kekuasaan, (4) keluarga, (5) golongan, (6) bangsa, (7) jenis manusia, (8) kepandaian, (9) kebatinan, (10) ilmu atau pengetahuan dan (11) rasa hidup (Suryomentaram, 1989: 110).
Ketika kelompok catatan itu menyatu dengan ”rasa aku”-nya masing-masing orang, maka lahirlah kramadangsa yang sudah mampu membedakan antara “aku” dan “kamu”. Kelahiran itu kira-kira terjadi pada umur tiga tahun, tumbuh terus sampai dewasa bahkan sampai mati.

2. Definisi Aku
Aku adalah kata untuk menunjuk pada diri sendiri, yang membedakan dengan orang lain atau benda. Ada dua tahap penting tentang konsep aku yaitu aku ukuran iii dan iv. Dalam tahap ukuran iii, aku adalah kramadangsa yang berdimensi fisik (jasad), keinginan (karep) dan rasa yang menyatu dan digerakkan oleh kelompok catatan (ingatan tentang berbagai peristiwa). Aku dalam tahap ini memiliki sifat sewenang-wenang, ingin merasa paling benar dan membela diri sehingga seringkali bertindak keliru dalam menanggapi lingkungannya.
Pada tahap ukuran iv, aku bukan lagi fisik, keinginan dan rasa, melainkan aku adalah “yang melihat dan mengawasi” keinginan dan rasa (aku kang nyawang karep). Aku dalam tahap ini adalah aku yang asli (sejati), tidak bisa hilang, tidak mudah berubah. Ia bersifat weruh (melihat, mengawasi, mengontrol) dan kasih (sih) terhadap keinginan dan rasa, dan menganggap keduanya sebagai mainan dan tontonan. Aku sejati inilah yang menimbulkan rasa bahagia (bejo), tanpa ciri (tanpa wangun lan tanpa rupi) sehingga bertindak secara tepat dan benar ketika berhadapan dengan orang lain, barang dan dengan diri sendiri.

3. Mawas Diri (Pengawikan Pribadi)
Mawas diri adalah proses yang harus dilalui oleh seseorang untuk mencapai aku ukuran iv. Mawas diri adalah usaha untuk mengetahui dan mengendalikan diri sendiri, yakni konsep bahwa seseorang harus memahami apa yang ia rasakan, ia pikirkan, ia inginkan dan ia lakukan bahkan sampai apa yang ia angan-angankan. Kemudian mampu melihat perilaku diri sendiri, perilaku orang lain, dan perilaku apa yang ada di dunia ini dan disimpulkan bahwa semua itu “bukan diriku yang sejati” (kuwi dudu aku sing sabenere) tetapi hanya keinginan-rasaku saja, sehingga akhirnya bisa mengendalikan diri. Perasaan muncul bersamaan dengan tercapai atau gagalnya keinginan.
Keinginan bersifat mulur dan mungkret, bersamaan dengan itu kadang muncul rasa bungah kadang muncul rasa susah. Oleh karena itu manusia perlu melihat, mengukur dan mengawasi keinginannya. Mawas diri dimulai dari hal yang permukaan seperti konfigurasi rasa-keinginan-perilaku, sampai hal yang substantif (dalam) seperti apakah aku masih di tahap ukuran iii (kramadangsa) ataukah aku sudah mencapai ukuran iv. Bila diri sendiri sudah dipahami dengan baik dan jernih, maka seseorang akan mampu merasakan kedamaian (kelegaan) dan selanjutnya berperilaku secara tepat sesuai dengan lingkungannya.

4. Model Emosi dan Perilaku Menurut Suryomentaram
Berdasarkan konsep Suryomentaram dapat disusun model teoritis emosi dan perilaku mahasiswa dalam belajar seperti pada gambar 1. Dalam menghadapi stimuli lingkungan belajar berupa barang, orang dan gagasan, mahasiswa bisa berinteraksi dengan menggunakan rasa aku kramadangsa ukuran iii yang didominasi oleh rasa senang (positif) atau tidak senang (negatif) dengan sifat dasar sewenang-wenang, merasa benar sendiri dan membela diri, atau dengan menggunakan aku ukuran iv yang bersifat selalu mawas diri, menggunakan aku sejati yang melihat dan mengontrol keinginan dan rasa.
Ketika menggunakan aku ukuran iii, kelompok catatan pengalaman mahasiswa menggerakkan aku kramadangsa untuk berperilaku sedemikian rupa. Jika ia berinteraksi dengan rasa senang, maka kelompok catatan berkaitan dengan kepandaian dan ilmu akan menjadi tumbuh subur. Sehingga perilaku belajar cenderung menguat, berperilaku melebihi batas dengan merasa benar sendiri dan membela diri. Hal ini tidak selalu baik bagi mahasiswa karena perilakunya berpotensi besar menimbulkan tabrakan atau konflik dengan aku kramadangsa si dosen. Eksistensi aku dosen bisa terancam, sehingga mahasiswa yang sudah berusaha keras tadi belum tentu akan dinilai baik oleh dosen. Tujuan mahasiswa bisa gagal dan akhirnya menimbulkan emosi negatif pada mahasiswa itu.
Jika mahasiswa berinteraksi dengan rasa tidak senang, maka kelompok catatan berkaitan dengan kepandaian dan ilmu akan mati atau salah atau luka (ndemblok). Selanjutnya, perilaku yang timbul cenderung menghindar atau off-task dari tugas-tugas belajar yang disertai pembelaan diri dan merasa benar. Dalam hal ini mungkin sekali mahasiswa menghidupkan kelompok catatan yang lainnya yang lebih memberikan roso marem, puas dan senang di luar kuliah. Besar kemungkinan mahasiswa mengembangkan aku bukan mahasiswa. Seperti interaksi dengan dominasi oleh rasa senang, interaksi dengan rasa benci juga berpotensi, bahkan lebih besar, menimbulkan tabrakan rasa, keliru bergaul dengan dosen, tugas perkuliahan dan lingkungan. Keinginan atau tujuan mahasiswa gagal sehingga menimbulkan emosi negatif.
Ketika mahasiswa menanggapi perkuliahan dengan aku ukuran iv, maka aku sejati itu mendorong mahasiswa untuk melihat dan memahami rasa orang lain (dosen dan teman-teman), benda dan gagasan (buku dan tugas kuliah) di samping diri sendiri. Kemudian, ia berusaha mencari rasa sama dan damai dengan lingkunganya. Pemahaman tentang orang lain dan diri sendiri tersebut membantu mahasiswa untuk bertingkah laku secara tepat atas dasar pengetahuan tentang rasa diri dan rasa orang lain, keinginan diri dan orang lain terutama dosen, sifat benda dan gagasan-gagasan di seputar perkuliahan dengan prinsip di sini dan sekarang. Ketepatan (trep, leres) perilaku mahasiswa akan memudahkan ia mencapai tujuan. Pencapaian itu akan menimbulkan rasa enak tanpa membuat luka baik pada diri sendiri maupun orang lain (dosen dan teman). Akhirnya, prestasi belajar mahasiswa dapat meningkat dan muncul emosi positif.

C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma teori kritis kuadran iii pada paradigma Ritzer yakni posisi mikro-objektif-terap teori (Denzin & Lincoln, 1994; Dimyati, 2004). Secara ontologis dipercayai bahwa realitas masalah penelitian merupakan hasil bentukan dari faktor histori-sosio-budaya. Secara epistimologis penelitian akan lebih ditekankan pada transaksi subjektif antara subjek terteliti (kasus) dan lingkungan sosio-budaya. Pengalaman subjektif kasus ditangkap sebagai realitas subjektif yang merupakan data dasar penelitian. Secara metodologis instrumen yang lebih banyak digunakan adalah wawancara intensif dengan subjek.

Gb 1. Rasa aku-kramadangsa dan kemungkinan perilaku yang muncul.

Desain yang digunakan adalah studi kasus kualitatif (qualitative case study) yakni proses penyelidikan secara sungguh-sungguh, intensif, deskriptif holistik dan analitis terhadap satu kesatuan yang utuh berupa fenomena atau unit individu-sosial atau suatu produk (Merriam, 1998). Orientasi disiplin ilmu yang digunakan adalah psikologi pendidikan yang berfokus pada individu sebagai unit analisis dan konsep Suryomentaram sebagai alat analisis.
subjek penelitian ini adalah seorang mahasiswa yang memiliki catatan indeks prestasi (IP) = 0,00 pada semester i, (IP) = 0,75 pada semester ii, dan ia lulus pada semester x dengan IP = 2,59, orang tua dan keadaan rumah, dosen pembimbing akademik yang sekaligus juga pembimbing skripsi dan sekretaris jurusan, dan teman-teman akrab yang sering datang dan menginap di rumah mahasiswa itu. Subjek tersebut menjadi sumber data primer penelitian dan dilengkapi dengan sumber data sekunder berupa arsip hasil tes psikologis.
Pengambilan data dilakukan pada saat peneliti menginap beberapa hari secara periodik di rumah subjek terteliti. Analisis data dilakukan dengan pokok langkah (Moleong, 1991), yaitu: (1) telaah data, (2) reduksi data, (3) menyusun satuan-satuan data, (4) kategorisasi data, (5) pemeriksaan keabsahan data dengan metode pengamatan lebih dalam dan pelibatan peneliti yang lebih lama, dan trianggulasi, dan (6) interpretasi data dengan menggunakan konsep atau teori Suryomentaram.

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Konteks penelitian: perkuliahan, rumah, orang tua, kasus dan teman
Kasus (k) kuliah di sebuah Universitas Negeri yang sudah termasuk tua dan ternama. Menurut penuturan k, yang juga dibenarkan oleh teman-temannya dan dosen pembimbingnya, budaya hirarkis sangat kental terjadi di jurusan. Dalam perkuliahan, hubungan dosen-mahasiswa terkesan sangat kaku, formal. Dosen berada pada posisi lebih tinggi daripada mahasiswa, memiliki hak dan wewenang akademis yang bisa dikatakan prerogratif. Umumnya dosen menjaga jarak yang terasa sulit dicairkan mahasiswa.
Pola struktur sosial hirarkis kaku tersebut menimbulkan dua macam pola emosi dan perilaku pada mahasiswa. Pertama, mahasiswa yang sulit menyesuaikan diri karena tidak biasa atau sulit berpura-pura atau karena merasa takut terhadap dosen. Mahasiswa golongan ini lebih banyak diam ketika di kelas, cenderung duduk di deretan kursi belakang dan sulit menangkap materi kuliah. Mereka merasa takut salah atau berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan dosen yang dapat berakibat fatal bagi kelancaran kuliah. Kasus adalah salah satu mahasiswa yang sulit menyesuaikan diri dengan iklim tersebut.
Kedua, mahasiswa yang berusaha “menyesuaikan diri”: pura-pura merasa senang, tertarik kepada dosen dan mata kuliahnya walaupun sebenarnya bosan. Ketika lulus, maka perasaan itu menjadi acuh atau biasa-biasa saja kecuali mahasiswa tahu bahwa dosen akan mengajar lagi di semester berikutnya. Pada prinsipnya, mahasiswa hanya berusaha menyenangkan dosen agar dosen meluluskan atau memberi nilai tinggi. Sikap dan perilaku yang dikembangkan dalam kisah si a (w5) adalah contoh kepura-puraan yang dinilai “sudah keterlaluan” oleh teman-teman a sendiri. Perilaku a terbukti berhasil dalam membuat dosen merasa senang dan memberikan nilai bagus kepada a, walaupun a kadang memanipulasi tugas praktikum. Kisah si w (w4) adalah bentuk lain kepura-puraan yang lebih halus. Si w tidak secara terang-terangan memuji dosen, tetapi ia dengan cerdik mencermati apa yang disenangi oleh dosen, kemudian memberikan jawaban ujian sesuai dengan kesenangan dosen, walaupun fakta sebenarnya dan kata hatinya tidak sependapat dengan dosen. Kecenderungan pura-pura lebih kuat pada perilaku mahasiswa terhadap dosen yang suka memberikan cap negatif tertentu kepada mahasiswanya (jawa: ngecing) dan dosen killer.
Rumah k terletak di pinggir jalan raya yang strategis, berukuran sekitar 400 m2, ada dua mobil, dan perabotan tergolong mewah. Dalam keseharian, rumah k lebih sering tampak sepi karena hanya ditempati oleh k dan seorang pembantu wanita dan dua penjaga rumah yang datang ketika malam hari. Bapak-ibu dan seorang adik k lebih sering berada di lain kota. Kamar k berukuran 3 x 5 meter lengkap dengan AC, seperangkat komputer dan tape recorder. Di sebelahnya, ada sebuah ruang keluarga yang berisi TV ukuran 32”, tape compo merk sony dengan VCD player dan Play Station versi terbaru. Di kamar dan ruang keluarga k sering menghabiskan waktu untuk bermain game, mendengarkan lagu atau menonton TV.
Ayah k seorang kepala proyek yang tinggal lain kota, sedangkan ibu k adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Ibu k masih memiliki hubungan darah dengan keraton dan karena itu ayah k memperoleh gelar kehormatan dari keraton. Ayah k berpendidikan S-2 luar negeri. Orang tua k mengakui bahwa keadaan yang tercukupi tanpa susah payah itu merupakan hal yang tidak mendidik bagi k. Beliau menyatakan bahwa jabatan pimpinan menjadikannya sangat sibuk sehingga kurang memperhatikan pendidikan anak. Sifat k yang kurang mandiri, kurang ulet, kurang berusaha, ingin serba cepat dan mudah merupakan buah dari pola asuh yang selama ini terjadi.
K lahir tahun 1978 sebagai anak pertama dari dua bersaudara, adiknya masih kuliah di kota yang berbeda. Hasil tes psikologis menunjukkan bahwa k memiliki kecerdasan umum sangat baik, kemampuan logika dan numerik baik dan memiliki minat bidang bisnis yang sangat tinggi. Ia memiliki kecepatan, ketelitian dan keajegan kerja yang sangat kurang, minat pribadi sosial yang rendah dan minat seni dan sains sangat rendah. Di sisi kepribadian, ia kurang memiliki motivasi berprestasi, cara kerja yang tidak sistematis, tidak disiplin, kurang tekun, ada kecenderungan rasa bersalah dan perlu bantuan dari luar untuk mengambil keputusan dan membuat suatu perubahan walaupun kemampuan penyesuaian dirinya tergolong cukup. Kemampuan kecerdasan itu diakui oleh teman-teman akrabnya pada saat mereka berdiskusi atau berdebat tentang persoalan aktual bisnis dan politik. Mereka mengatakan bahwa k sangat pintar dan menguasai berbagai persoalan, namun, ketika membahas materi kuliah tampak bahwa k sangat enggan dan tidak menguasai sama sekali.
K suka membaca buku yang bersifat religius, bisnis dan politik. Seperangkat buku Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali telah habis ia baca. Menurutnya, buku itu sangat enak dibaca dan mbetahi sehingga k menghabiskan waktu berjam-jam sampai-sampai membolos kuliah. Buku bisnis populer yang telah ia baca adalah ”The Rich Dad, Poor Dad” yang dapat ia ceritakan kembali secara lancar, runtut dan meyakinkan kepada peneliti. Buku-buku dan artikel politik di beberapa koran juga rajin ia baca. Ia sangat fluency ketika menceritakan situasi terkini politik di indonesia dan dunia, termasuk politik Amerika, Yahudi dan orang Islam (Indonesia) dalam konteks dunia.
Di samping membaca buku, waktu sehari-hari ia habiskan untuk bermain game yang umumnya menuntut strategi bermain dengan kemampuan berpikir cepat dan strategik. Ia memiliki lebih dari 100 buah keping CD game, sebagian besar menghendaki pemrograman awal yang menentukan kemenangan bermain. Game yang ia sukai adalah strategi perang dunia pertama dan kedua, detektif, dan sepak bola. Aktivitas membaca buku dan bermain game menyita hampir seluruh waktu k, bahkan waktu makan dan mandi pun sering terlewati. Oleh karena itu, hampir tidak ada jam untuk membaca buku kuliah dan mengerjakan tugas sehinga seringkali ia terlambat atau tidak mengumpulkan tugas kuliah.
K merasa tidak kerasan di kampus untuk berkumpul bersama teman-teman sejurusan apalagi dengan dosen. Ia merasa jenuh, bosan, tidak mengerti isi kuliah, bahkan merasa menjadi korban dari dosen tertentu yang menurutnya tidak mau mengatakan secara terus terang tetapi tiba-tiba marah dan tidak meluluskan kuliah. Bagi k, berangkat kuliah walaupun dengan mobil pribadi, merupakan tugas yang sangat berat dan melelahkan. Pernah suatu saat ia sudah sampai di depan kelas, tetapi tiba-tiba ingin kembali ke rumah dan tidak jadi mengikuti kuliah.
Riwayat prestasi belajar k sebelum kuliah termasuk selalu naik kelas di sekolah dengan nilai rata-rata baik. Prestasi belajar k saat kuliah berkebalikan dengan prestasi sebelum kuliah, pada semester i dan ii ia meraih IP kurang dari 1,00. K merasa sangat malu dengan IP tersebut dan selanjutnya lebih sering tidak masuk kuliah dan tidak mengerjakan tugas-tugas, tetapi terbenam dalam membaca buku non-kuliah dan bermain game.
Teman-teman k semuanya berasal dari jurusan yang berbeda dan dari berbagai angkatan. Menurut k, ia sama sekali tidak punya teman dari sejurusan bahkan seangkatan karena pola hubungan yang kaku menimbulkan kesulitan bagi k untuk bergaul. Ia menganggap bahwa teman-teman di jurusannya sulit diajak berteman akrab. Ia justru memiliki teman dari jurusan lain yang semuanya sangat akrab, egaliter, sampai-sampai mereka menginap di rumah k pada hampir setiap malam minggu. Mereka tidur, mandi dan makan di rumah k secara cuma-cuma dan itu semua dijinkan oleh orang tua k.

2. Analisis Emosi dan Perilaku Kasus
Dinamika emosi dan perilaku belajar k menurut konsep Suryomentaram digambarkan dalam gambar 2. K lebih sering menanggapi budaya perkuliahan yang kaku hirarkis dengan menggunakan emosi negatif seperti wedi (takut) dan getun-sumelang (menyesal-khawatir). K belum memiliki rasa tatag, jika ditelusuri dari pengalaman kehidupan keluarga, k kurang memiliki pengalaman pahit, ia boleh dikatakan “termanjakan” oleh fasilitas keluarga. Akibatnya, muncul rasa tidak puas dalam menghargai diri sendiri, kemudian tidak mampu nyawang karep (mengawasi keinginan) dirinya sendiri sebagai mahasiswa. Meskipun ia memiliki kecerdasan sangat tinggi, kemampuan logika dan numerikal tinggi, dan minat bisnis yang sangat tinggi, ia tidak mengoptimalkan potensi tersebut karena ketidakmampuannya nyawang karep dirinya sendiri. Artinya, ia tidak mampu memilah dan memilih keinginan yang seharusnya dikembangkan (di-mulur-kan) dan mana yang seharusnya dikurangi (di-ungkret).
K justru mulur pada keinginan sebagai bukan mahasiswa, ia lebih banyak membaca buku non kuliah dan menghabiskan waktu untuk game. Tugas-tugas kuliah dan perilaku belajar yang relevan sebagai mahasiswa justru semakin mungkret. Dalam hal tersebut, k boleh dikatakan belum memiliki piageming gesang artinya tidak mampu belajar dari pengalaman pahit dirinya atau teman-temannya yang kurang beruntung dari sisi kemampuan dan fasilitas.

Ketika mengikuti kuliah di kampus, ketidakmampuan nyawang karep membuat k tidak mampu memahami rasa orang lain terutma dosen, bahwa sebagai seorang dosen tentu memiliki “rasa aku dosen” punya hak dan kewajiban. Perilaku k banyak didorong oleh rasa khawatir (sumelang), takut salah, takut dimarahi oleh dosen dan takut tidak lulus kuliah. Akibatnya, k justru sering menabrak rasa yang dimiliki dosen. Ia membela diri dengan menganggap bahwa dosen killer dan sulit diajak akrab, dan situasi kuliah sangat membosankan.
Jika k mampu memahami situasi dari sisi rasa si dosen, maka anggapan itu tidak akan muncul atau paling tidak akan jauh berkurang. Jika ia mampu merasakan bahwa adalah hak dosen untuk berbuat sesuai hak dan kewajibannya sebagai dosen, maka akan muncul rasa dhame, tenteram dan tatag dalam bergaul dengan dosen dan mata kuliah yang diajarkan. Rasa dhame, tenteram dan tatag yang ada akan mendorong k untuk berkomunikasi dan lebih memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh dosen (nyawang karep-nya si dosen). Selanjutnya ia berperilaku sesuai karep si dosen dalam batas tugas kuliah.
Dari sisi kramadangsa, tampak bahwa catatan yang tumbuh subur bukan catatan aku si kramadangsa mahasiswa, tetapi justru catatan lain yakni “aku si jago main game canggih atau aku si jago analisis situasi politik”. Kramadangsa yang terakhir yang menimbulkan rasa marem (puas), sedangkan kramadangsa mahasiswa justru menimbulkan rasa cuwa (kecewa). Akibatnya, bisa dipahami jika perilaku k justru mulur bukan pada kramadangsa sebagai mahasiswa. Ia semakin banyak mengoleksi berbagai variasi CD game dan buku yang sama sekali tidak berhubungan dengan kuliah. Semakin banyak pikiran, waktu dan biaya yang dihabiskan untuk menghidupkan kramadangsa bukan mahasiswa. Ketika ia berdiskusi dengan teman-teman akrabnya, kramadangsa k semakin merasa unggul (ungkul), semakin hidup, semakin bungah dan marem, dan semakin menggerakkan semua perilakunya ke arah di luar tugas kuliah, sementara tugas kuliah ia abaikan.
Di sisi lain, kramadangsa k sebagai mahasiswa semakin tidak jelas dan semakin tidak hidup. Pengalaman kuliah yang tidak mengenakkan yang penuh dengan sumelang dan rasa cuwa membuat kramadangsa ini meredup dan semakin dilupakan oleh k. Akibatnya, ia semakin menjauh dari apa-apa yang berkaitan dengan kuliah, bahkan secara fisik tidak mau datang ke kelas untuk ikut kuliah. K memiliki kramadangsa non-mahasiswa yang setiap hari bertemu bahkan dituntut mengikuti kramadangsa si dosen dan tugas kuliah. Di sinilah terjadi tabrakan (konflik) antara kramadangsa k dan kramadangsa dosen. Tabrakan ini sempat muncul dalam bentuk kemarahan dosen terhadap k yang berakibat k semakin menjauh dari dosen dan semua yang berhubungan dengan kuliah, dan semakin menghidupkan kramadangsa non-mahasiswanya. K masih ditutupi oleh mbela dhiri (membela diri) dan pemanggih leres (merasa dirinya yang benar, dosen yang salah tidak mengerti mahasiswa). K masih hidup dalam tataran kramadangsa ukuran iii yang tetap berseberangan dengan kramadangsa dosen-dosennya. Ia belum mampu mawas diri untuk mencapai ukuran iv.
Di sisi lain, teman-teman k mampu “menyesuaikan diri” dengan perkuliahan. Mereka mampu memahami rasa (emosi) dari sisi dosen dan iklim perkuliahan, dan mampu menanggapinya dengan rasa pura-pura senang serta oleh perilaku yang menyenangkan dosen. Walaupun mereka sebenarnya merasa bosan atau tidak senang terhadap perkulihan, tetapi mencoba bersikap dan berperilaku yang membuat dosen merasa senang (marem), dosen tidak tersinggung dan kuliah lancar yang pada gilirannya mahasiswa bisa lulus kuliah.

E. Refleksi

1. Arah Pendidikan di Masa Depan: Yang Seharusnya
Ujung tombak sistem pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan adalah proses pembelajaran yang berlangsung sehari-hari antara dosen dan mahasiswa. Tujuan pendidikan pada masa depan adalah mendidik pembelajar mampu berpikir dan menyelesaikan masalah dengan memberikan pengalaman belajar berpikir rasional, kritis dan abstrak di sekolah, di samping perolehan ilmu pengetahuan (Dwiyogo, 2000). Secara normatif, Dimyati (2001) menggarisbawahi bahwa pendidikan ilmu pengetahuan yang sebagian porsinya ada di perguruan tinggi harus menumbuhkan ilmuwan Indonesia yang mampu berpikir rasional objektif dan reflektif proporsional tentang: lokalisme, nasionalisme, universalisme, globalisme, dan absolutisme. Untuk itu, Semiawan (1999) merekomendasikan agar pendidikan tinggi memfokus pada pengembangan kemampuan manusia berkualitas tinggi yang mampu mandiri dan bertahan dalam gejolak dunia, menghasilkan pembelajar yang kritis, pengamat yang berani memiliki pendapat yang benar yang original walaupun mungkin berbeda, serta memiliki minat dan motivasi belajar tinggi. Dengan demikian kemampuan berpikir merupakan tuntutan yang harus dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi di Indonesia.

2. Kenyataan Proses Perkuliahan di Perguruan Tinggi: Temuan Penelitian
Menurut Dimyati (2001), pembelajaran mahasiswa di indonesia kurang menonjolkan kemampuan 3m (membaca, menulis, memikir), o (observasi), dan 5e (ekspresi estetis, etis, epistemis, teknologis, teologis). Pengamatan Semiawan (1999) menyatakan bahwa telah terjadi formalisasi proses pembelajaran di perguruan tinggi. Dosen menjadi aktor utama di kelasnya yang memiliki fungsi terutama menyajikan, menjelaskan, menganalisis dan mempertanggungjawabkan “body of material” kuliah. Mahasiswa mengikuti secara pasif dan mehafalkan bahan kuliah untuk direproduksi saat ujian.
Iklim perkuliahan di kampus yang bersifat kaku-hirarkis hasil peneltian ini memperkuat pendapat di atas. Dalam iklim tersebut terdapat dua jenis emosi dan perilakunya mahasiswa. Pertama, mahasiswa yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan iklim perkuliahan sehingga mengembangkan emosi negatif (bosan, tertekan, jengkel, marah) dan perilaku menghindar dari tugas-tugas kuliah (off-task behavior). Selanjutnya, mahasiswa mengembangkan kepribadian (ke”aku”an) yang justru sebagai “bukan mahasiswa”, walaupun sehari-hari mereka pergi ke kampus, di sisi lain “aku mahasiswa” justru terus mungkret (mengecil, bahkan hampir mati) sehingga tidak lagi menggerakan perilaku belajar yang semestinya dilakukan warga perguruan tinggi.
Kedua, adalah mahasiswa yang mampu “menyesuaikan” diri dengan iklim tersebut dengan orientasi hanya lulus kuliah. Menurut konsep suryomentaram, mahasiswa jenis kedua ini telah mampu membaca situasi dan rasa si dosen, dan berperilaku yang trep dengan situasi tersebut sampai mereka memperoleh prestasi akademik yang tinggi. Namun, jika dikaitkan dengan tuntutan pendidikan tinggi yang lebih luas daripada kuliah, maka akan muncul persoalan baru yakni mahasiswa tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dunia. Dalam terminologi Dimyati (2001) mereka bukan sebagai ilmuwan indonesia yang seharusnya berperan memecahkan masalah bangsa (termasuk ketenagakerjaan), melainkan lebih sebagai pemegang ijasah yang berebut mencari kerja.
Dengan demikian, dilihat dari produk lulusan baik mahasiswa jenis pertama maupun kedua, iklim perkuliahan tersebut mengakibatkan kemampuan berpikir mahasiswa kurang terangsang, tidak komunikatif dan tidak memiliki keterampilan menyatakan gagasan atas dasar pikiran sendiri. Dalam jangka panjang, pembelajaran demikian justru merugikan perkembangan kepribadian mahasiswa menjadi tidak mandiri, tidak percaya diri, tidak mampu berkomunikasi dan tidak mampu memecahkan masalah hidup yang penuh perubahan.

F. Kesimpulan
Mahasiswa berprestasi belajar rendah bukan karena memiliki potensi intelektual yang rendah, tetapi karena lebih banyak dikuasai dan digerakkan oleh emosi negatif berkaitan dengan perkuliahan sehingga perilakunya cenderung menjauh dari tugas-tugas kuliah dan justru mengembangkan kegiatan-kegiatan yang kurang berkaitan dengan kuliah. Mereka juga kurang mampu memahami diri sendiri (ora nyawang karep) sehingga tidak mampu pula memahami posisi, hak dan kewajiban dirinya dan dosen-dosennya. Mereka mengembangkan (mulur) pola kepribadian kramadangsa yang cenderung di luar bahkan berseberangan dengan kramadangsa yang dituntut oleh kuliah. Mereka memiliki pola kramadangsa pada tingkat iii yang masih bersifat membela diri dan merasa benar sendiri sehingga tidak mampu memandang situasi dari sisi kramadangsa orang lain (dosen).
Emosi mahasiswa sangat berpengaruh pada prestasi belajar. Untuk itu perlu dikembangkan teori belajar mengajar yang berdasar atas pola-pola emosi manusia bukan hanya kemampuan intelektual. Dosen perlu memahami sisi kramadangsa mahasiswa agar dapat menyajikan program dan proses perkuliahan yang mampu menimbulkan rasa marem dan kebanggaan pada mahasiswa sehingga meningkatkan keterlibatan perkuliahan dan prestasi belajar mahasiswa. Perlu dikembangkan perkuliahan yang mampu mendorong mahasiswa untuk berpikir dan kelas yang memiliki budaya berpikir di samping berorientasi penguasaan bahan.

Daftar pustaka

Bender, William N. 1992. Learning disabilities: characteristics, identification, and teaching strategies. Boston: Allyn and Bacon.
Brand, Alice G dan Powell, Jack l. 1986. Emotions and the Writing Process: A Description of Apprentice Writers in Writing Process. Journal of Educational Research.v.79, no.5 h. 280-285.
Braggio, John T; dkk. 1986. Predicting Succes and Failure of Learning Disabled Children on Academic Tasks. Journal of Educational Research.v.74, no.2 h. 88-94.
Cornbleth, Catherine dan Korth, Willard, 1986. Context Factors and Individual Differcences in Pupil Involvement in Learning Activity. Journal of Educational Research. v. 73, no. 6 h. 318-323.
Dimyati, M, 2001. Dilema Pendidikan Ilmu Pengetahuan. Cet.1. Malang: Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia Cabang Malang bekerjasama dengan Prodi tep PPS Universitas Negeri Malang.
Dimyati, M, 2004. Paradigma dan Prinsip Penelitian Kualitatif. Makalah tidak diterbitkan. Disampaikan pada Lokakarya Penelitian Kualitatif di Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang.
Dwiyogo, Wasis D. 2000. Proses Pemecahan Masalah Soal Cerita Siswa Sekolah Dasar Kelas Tiga. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.
Fallis, Kirk R dan Opotow, Susan, 2002. Are Student Failing School or are School Failing Student? Class Cutting in High School. Social Development. V.11.issue 1. H. 11.
Lazarus, Richard S. 1991. Emosi and Adaptation. New York: Oxford University Press
Matsumoto, David, 2000. Culture and Psychology: People Around the World. edisi 2. San Fransisco: Wadsworth.
Merriam, Sharan B. 1998. Qualitative Research and Case Study Aplications in Education. San Fransisco: Jose-bass pub.
Hasil pemeriksaan psikologis kasus, tanggal 2 November 1999.
Moleong, lexy J. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Pratton, Jerry dan Hales, Loyde W. 1986. The Effects of Participation on Student Learning. Journal of Educational Research. v. 79, no. 4 h. 210-215.
Semiawan, Conny, 1999. Pendidikan Tinggi, Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayat Seoptimal Mungkin. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.
Shiraev, Eric dan Levy, David, 2001. Introduction to Cross-Cultural psychology: Critical Thinking and Contemporary Applications. Boston: Allyn and Bacon.
Sinha, D. 1997. Indigenizing Psychology. Dalam Berry, JW; Poortinga, YH; Pandey, J. 1997. Handbook of cross-cultural psychology. Boston: Allyn and Bacon.
Suryomentaram, Grangsang, 1989. Kawruh Jiwa. Jilid 1, 2, 3 dan 4. Jakarta: CV Haji Masagung.
Universitas Negeri Malang, 2004. Pedoman Pendidikan Universitas Negeri Malang. Malang: Universitas Negeri Malang Pers.
UPT Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang, 2000/2001. Laporan Indeks Prestasi mahasiswa.
Wade, Carole & Tavris, Carol, 2003. Psychology. Edisi 7. New jersey: Prentice Hall.

Adi Atmoko adalah Dosen Universitas Negeri Malang

3 Tanggapan to “Emosi dan Perilaku Belajar Mahasiswa Berprestasi Rendah Dalam Perspektif Suryomentaram”

  1. edi said

    allow

  2. Soe Drops-Drips said

    wiiiiiiiiih, kuliah dan doseen?
    sereeeeeemmm!?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: