Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Perguruan Tinggi Islam antara Peluang dan Tantangannya

Posted by Edi Purwanto pada April 26, 2008

Abstrak
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan dan mengkritisi peluang dan berbagai tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi Islam. Penelitian ini adalah penelitian kajian pustaka yang dilakukan dengan metode deskriptif-analisis. Bardasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa Perguruan tinggi Islam sebagai salah satu penyelenggara pendidikan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi. Era globalisasi bisa menjelma sebagai peluang, dan sekaligus menjadi ancaman bagi pendidikan Islam. Beberapa tantangan yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini di antaranya; masalah liberalisasi pendidikan, peningkatan kualitas kelembagaan, dan lemahnya sumber daya manusia (SDM). Terhadap berbagai tantangan tersebut, ada beberapa alternatif solusi yang mungkin bisa dilakukan di antaranya perluya dukungan kebijakan nasional, perubahan paradigma, kepemimpinan, jaringan kerjasama, dan juga pengembangan penelitian.

Kata Kunci : Perguruan Tinggi Islam (PTI), Globalisasi, liberalisasi pendidikan

A. Pendahuluan

Pendidikan, sebagaimana pernah dikemukakan oleh R.J. Menges, adalah keseluruhan proses dalam rangka membantu manusia menapaki kehidupannya. Dalam konteks yang demikian, pendidikan menempati posisi yang sangat sentral dan strategis dalam rangka membangun kehidupan manusia baik kehidupan individu maupun sosial yang diharapkan mampu memposisikan manusia dalam kehidupan yang plural. Posisi sentral dan tantangan yang berat sejalan dengan semakin kompleksitasnya roda kehidupan manusia menyongsong era global. (Hamim, 1999: 1)

Perguruan Tinggi Islam, sebagai salah satu institusi penyelenggara pendidikan di Indonesia, tidak luput dari berbagai tantangan yang harus dihadapinya. Tantangan tersebut antara lain berupa timbulnya aspirasi dan idealitas masyarakat yang multi-interest dan multi-kompleks, terutama dalam menghadapi dan memenuhi kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian perguruan tinggi Islam tidak lagi menghadapi kehidupan yang simplisistis, melainkan amat kompleks.

Mencermati fenomena yang demikian penelitian ini mencoba menelaah sekaligus mengkritisi berbagai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi Islam, serta memberikan beberapa pemikiran mengenai langkah strategis yang mungkin bisa dilakukan.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kajian pustaka yang dilakukan dengan metode deskriptif-analitis. Data-data yang diperlukan dalam penulisan ini diperoleh dari tulisan-tulisan yang berhubungan dengan pokok bahasan, antara lain, karya, Samuel P. Huntington, The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century. T Jacob, Manusia, Ilmu dan Teknologi: Pergumulan Abad dalam Perang dan Damai. St. Sularto (ed.). Visi dan Agenda Reformasi Menuju Masyarakat Indonesia Baru. John Naisbitt & Patricia Aburdene, Megatrens 2000. Ten New Directions for the 1990`s. Yuhara Sukra, Pandangan Mengenai Kebijaksanaan Pemerintah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia. HAR Tilaar, “Pendidikan Tinggi di Indonesia Dewasa ini menghadapi Tantangan Abad 21”.Alvin Toffler, Gelombang Ketiga. Juga beberapa literatur yang berkaitan dengan pokok bahasan.

Sistematika hasil penelitian ini disusun sebagai berikut; (a) pendahuluan, yang berisi latar belakang masalah; (b) metode penelitian; (c) hasil dan pembahasan, meliputi: PTI dan tantangan globalisasi, liberalisasi pendidikan, kemungkinan langkah strategis, simpulan, dan daftar pustaka.

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Perguruan Tinggi Islam dan Tantangan Globalisasi

2. Liberalisasi Pendidikan

Sebagaimana telah disebut di atas, bahwa dengan datangnya era globalisasi menyebabkan liberalisasi di segala bidang. Liberalisasi ini sangat mengungkinkan terjadinya kesenjangan, ketegangan dan konflik dalam berbagai bidang kehidupan. Hal ini karena liberalisasi dalam satu bidang secara otomastis akan berpengaruh pada bidang yang lain.

Demikian pula liberalisasi di bidang pendidikan yang sedang ramai diperbincangkan dewasa ini, tak lepas dari pengaruh liberalisasi di bidang-bidang yang lain. Ada perkembangan pemahaman yang memandang bahwa pendidikan adalah salah satu sektor publik dan dipandang sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari komoditi ekonomi. Kalau dahulu pendidikan hanya dianggap sebagai kegiatan non komoditi ekonomi, sekarang pendidikan dipandang sebagai bagian integral dari biro jasa. Oleh karenanya, pendidikan pada saat ini memegang peran penting dalam perdagangan.

Meskipun dalam konteks Indonesia, persoalan liberalisasi pendidikan masih menjadi silang pendapat, namun dapat dipastikan bahwa liberalisasi pendidikan akan menjadi sebuah keniscayaan. Liberalisasi pendidikan akan menjadi arus utama dunia di masa depan seiring dengan globalisasi. Di Malaysia, saat ini telah berdiri sebuah lembaga pendidikan internasional dari Australia dan Inggris. Demikian juga dengan di Indonesia, tidak lama lagi diprediksikan akan mengalami hal serupa. Terlebih, menurut catatan Tim Koordinasi Bidang Jasa WTO (World Trade Organization), telah ada permintaan 6 (enam) negara anggota WTO, yakni Amerika Serikat, Cina, Selandia Baru, Australia, Jepang dan Korea Selatan agar Indonesia segera melakukan liberalisasi sektor pendidikan. Di samping enam negara tersebut, sudah ada beberapa lembaga pendidikan tinggi asing yang beroperasi di Indonesia, seperti Politeknik Swis, Swiss German School dan sebagainya. (Kompas, 2001: 4-6)

Dengan demikian, dunia pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk perguruan tinggi Islam saat ini, sedang menghadapi tiga skala tuntutan, yaitu skala global, nasional, dan tuntutan dalam lingkup perguruan tinggi itu sendiri. Tuntutan pada skala global di antaranya berupa tuntutan kualitas, relevansi, dan internasionalisasi pendidikan tinggi. Hal tersebut seiring dengan tuntutan yang digariskan oleh UNESCO kepada perguruan tinggi-perguruan tinggi di dunia. Persoalan kualitas dan relevansi barangkali bukan persoalan baru, tetapi mengenai internasionalisasi pendidikan tinggi telah menjadi perhatian serius di kalangan para praktisi dan pemikir pendidikan. (Sukra, 1996: 76) Dalam konteks ini, perguruan tinggi Islam mau tidak mau harus mempersiapkan diri dalam menghadapi arus liberalisasi pendidikan ke depan. Terlebih, bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global tidak dapat bebas bersikap, karena terikat dengan kesepatakan-kesepatan dunia.

Pada skala nasional, saat ini masyarakat telah mengalami perubahan dalam memandang pendidikan. Kalau dahulu pendidikan hanya dianggap sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan dasar akademik manusia, bisa baca-tulis-hitung, saat ini pendidikan dipandang sebagai investasi (human invesment). Tidaklah berlebihan, jika saat ini masyarakat menuntut perguruan tinggi sebagai sebuah institusi yang akan mampu mencetak lulusan yang tangguh, berkualitas, dan sanggup bersaing dengan yang lain.

Selain itu, realitas kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang dipandang kurang dibanding bangsa-bangsa lain, maka tuntutan peningkatan kualitas pendidikan tinggi termasuk perguruan tinggi Islam menjadi hal yang sangat wajar dan rasional. Sebagaimana dilaporkan Kompas (30/3/2002) mutu pendidikan Indonesia berada pada posisi paling buruk di kawasan Asia Tenggara. Demikian halnya dalam hal daya saing, peringkat Indonesia juga sangat rendah. Indonesia memiliki peringkat ke-41 dari 46 negara di antara negara-negara yang diteliti. Bahkan untuk skala Asia, peringkat daya saing berada pada posisi paling rendah. Posisi Indonesia di bawah India, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Sedangkan menurut laporan UNDP, kualitas sumberdaya manusia Indonesia berada pada urutan 102 dari 162 negara yang disurvei. (Kompas, 2001: 4)

Secara internal, perguruan tinggi dituntut senantiasa menata diri baik dengan menyatukan langkah seluruh anggota civitas akademikanya dalam mengantisipasi perubahan dan tantangan ke depan. Dalam konteks perguruan tinggi Islam, penting untuk melakukan refleksi dalam rangka reorientasi pergururuan tinggi Islam sebagai landasan filosofis bagi upaya gerakan dan penyatuan langkah bagi seluruh anggota civitas akademika. Di samping itu, penataan secara internal yang menyangkut aspek managemen, administrasi, organisasi, pengembangan akademik, adalah hal penting lainnya yang harus segera dilakukan.

Berkenaan dengan hal ini, diskursus ilmiah tentang karakteristik perguruan tinggi Islam, epistemologi pengembangan keilmuan, dan sosok lulusan yang dihasilkan harus menjadi tema sentral. Konseptualisasi hal-hal tersebut harus dilakukan sebab konsep tersebut akan menjadi dasar kebijakan pengembangan perguruan tinggi Islam lebih lanjut mulai dari tataran konsep abstrak, seperti visi dan misi, struktur kelembagaan, struktur kurikulum di setiap fakultas, jurusan dan program studi, sampai pada arah dan strategi pembinaan dan pengembangan dosen, mahasiswa dan seluruh civitasnya.

Perputaran roda kehidupan, telah mengantarkan manusia untuk menapaki kehidupan barunya yaitu di awal milenium ketiga. Banyak trend dan estimasi yang dilontarkan oleh para pemikir dan futurolog baik yang bernada optimis maupun pesimis. Di antaranya adalah Alvin Toffler dengan “Future Schock, Powershift atau The Thrid Wave”, John Naisbitt dan Patricia Aburdene dengan “Megatrend 2000”, Michael Poster dengan “The Competitive Advantage of Nation” dan Kenichi Ohmae dengan “The borderless World”. (Hamim, 1999: 2)

Inti dari prediksi dan estimasi tersebut adalah pada milenium ketiga ini akan terjadi pergeseran dan perubahan kehidupan sosial yang maha dahsyat, sehingga terjadi apa yang disebut dengan cultural and social discontinuity. Perubahan yang akan terjadi 100 tahun mendatang nampak akan melampaui perubahan yang terjadi 1000 tahun lalu baik dari segi dampaknya, kecepatannya, luasnya dan pentingnya. Masyarakat dunia akan mengalami fenomena baru di mana seluruh tatanan sosial akan didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagaimana Tofler melihat bahwa perjalanan masyarakat dunia memasuki gelombang baru, yaitu gelombang ketiga. Menurut Tofler, gelombang pertama dicirikan oleh adanya revolusi agraris, gelombang kedua memiliki ciri revolusi industri, dan gelombang ketiga bercirikan dominasi teknologi komunikasi. Kemajuan teknologi komunikasi menjadikan informasi sebagai sarana yang amat vital bagi kehidupan masyarakat moderen. Teknologi informasi modern memudahkan orang memperoleh informasi mutakhir di bidang apapun dari manapun asalnya dan memudahkan orang untuk saling berhubungan di manapun orang itu berada dengan biaya yang relatif lebih murah dan waktu yang lebih cepat. Apabila kita tidak bisa menguasai dan memanfaatkan kemajuan di bidang teknologi informasi ini, kita akan dilindas oleh informasi yang kita ciptakan sendiri. Realitas inilah yang menghantarkan masyarakat dunia menapaki situasi baru yang biasa disebut dengan globalisasi. (Kholis, 2000: 3)

Globalisasi menyebabkan liberalisasi dalam berbagai bidang kehidupan, baik bidang politik, budaya, ekonomi dan ilmu pengetahuan-teknologi. Dalam bidang politik terlihat dengan jelas isu demokratisasi melanda di sebagian besar negara-negara dunia. Menurut Sparringa dalam Demokrasi: Visi Alternatif dan Pilihan Strategis, sejak tahun 70-an jumlah negara yang mengadopsi sistem politik demokrasi meningkat menjadi lebih dua kali lipat, dari 44 menjadi 107 negara, sehingga sampai tahun 1999 lalu tidak kurang 58% dari kurang lebih 187 negara-negara dunia menggunakan demokrasi sebagai pilihan sistem politik yang sah dengan variasinya masing-masing. (Huntington, 1991: 12)

Di dalam bidang kebudayaan telah terjadi perkembangan yang sangat cepat. Jacob dalam Manusia, Ilmu dan Teknologi (Jenie, 1994: 2) menjelaskan bahwa selama perjalanan sejarahnya, manusia hidup sebagai pemburu dan peramu dengan perkembangan kebudayaan yang lambat. Barulah dengan adanya revolusi dalam bidang pertanian dan sesudah mereka hidup dalam jumlah yang besar, menetap, dan bahasa tulis semakin berkembang, perkembangan peradaban mulai terakselerasi. Akselerasi ini semakin dipercepat dengan adanya interaksi di antara pengolahnya selama beberapa abad terakhir dengan munculnya revolusi industri. Secara kasat mata dapat dicermati, revolusi industri inilah yang pada gilirannya banyak berpengaruh dalam konstruksi budaya masyarakat dan gaya hidupnya. Terlebih, dengan adanya perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini.

Proses budaya saat ini menuju kepada suatu budaya nasional yang semakin terintegrasi. (Tilaar, 1996: 4) Pada abad ke-21 telah lahir kecenderungan suatu budaya dunia yang baru, budaya yang mengidealisasikan budaya global dalam bentuk berbagai budaya dominan. Inilah yang disebut sebagai budaya trans-nasional. Mode kebudayaan ini menjadi sangat mungkin ditunjang oleh hubungan komunikasi yang semakin cepat dan tak berbatas.

Ilmu pengetahuan dan teknologi selain berperan dalam memacu proses globalisasi, berperan juga untuk dipengaruhi perkembangan globalisasi. Globalisasi menyebabkan IPTEK harus dikonsumsi oleh banyak komunitas. Kemajuan IPTEK tidak lagi hanya diukur dalam inovasi-inovasi untuk dirinya sendiri, tetapi sejauh mana ia bermanfaat secara lebih luas bagi masyarakat. Dalam konteks inilah, menjadi tidak dapat dihindari bahwa seiring dengan globalisasi inovasi-inovasi IPTEK yang mudah dikonsumsi dan dirasakan masyarakat menjadi niscaya. Di samping itu, sosialiasi penggunaannya menjadi hal yang tidak dapat dihindarkan.

Dalam bidang ekonomi terjadi perubahan besar dalam sistemnya. Perubahan itu terwujud dalam bentuk perubahan dari sistem ekonomi kapitalisme menuju terbentuknya sistem multinational corporation. Pada abad ke-21, telah ada pergeseran menjadi sistem ekonomi konsumerisme dengan gaya hidup global menjadi sangat menonjol. Komoditi gaya hidup menjadi sesuatu yang sangat penting dalam konteks ekonomi. Kecenderungan ini akan terus menguat seiring dengan adanya perkembangan hubungan-hubungan ekonomi yang sangat cepat dan seolah menyatukan planet bumi sebagai satu kesatuan ekonomi global.

Kuatnya pengaruh globalisasi di bidang ekonomi ini, memunculkan dampak yang kuat bagi adanya pasar bebas. Pasar bebas untuk kawasan ASEAN diberlakukan pada tahun 2003 dan untuk kawasan Asia Pasifik pada tahun 2010. Inti dari perjanjian pasar bebas adalah penghilangan hambatan non-tarif atas lalu lintas orang, barang, jasa, dan uang dari dan ke negara anggota. (Kholis, 2000: 3)

Pasar bebas ini membawa peluang sekaligus ancaman. Perjanjian ini akan membuka peluang bagi lulusan kita untuk bekerja di negeri orang dengan lebih mudah. Sebaliknya orang luar juga akan lebih mudah untuk masuk ke negara kita. Orang luar juga bebas membuka lembaga pendidikan di negara kita, sebaliknya kitapun juga demikian. Dari kedua hal tersebut, yang menonjol adalah terjadinya persaingan bebas antara tenaga kerja, barang, jasa, dan modal dari dalam dan luar negeri, baik di pasar luar negeri maupun di pasar domestik.

Persaingan bebas, menyebabkan tuntutan masyarakat akan kualitas semakin tinggi. Dengan semakin banyaknya perguruan tinggi, maka jumlah lulusannyapun menjadi semakin banyak. Di dalam hukum ekonomi “ketika penawaran lebih besar daripada permintaan, maka masyarakat pengguna jasa akan lebih selektif dan menuntut kualitas layanan yang lebih tinggi. Ini berarti lembaga pendidikan tinggi yang tidak berkualitas akan ditinggalkan orang. (Kholis: 2000: 4)

Dengan demikian tugas Perguruan tinggi Islam menjadi sangat jelas, yakni menyiapkan para lulusannya memiliki kualitas dan kemampuan handal yang mampu bersaing, tidak hanya ahli di bidang ilmu agama saja, akan tetapi juga di bidang ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan oleh pasar.

D. Kemungkinan Langkah Strategis

Dalam rangka merespon tantangan perguruan tinggi Islam di era global ada beberapa langkah strategis yang mungkin bisa dilakukan, antara lain; Pertama, kebijakan nasional yang mengacu pada pengembangan kualitas sumber daya manusia secara terus-menerus. Kebijakan nasional ini tidak hanya pada wilayah ide, tetapi harus diaplikasikan secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Kemauan politik dan aksi politik untuk menopang kebijakan ini sangat penting dalam menciptakan SDM yang memiliki keunggulan kompetitif dalam skala global. Sektor pendidikan harus difungsikan sebagai ujung tombak untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, agar memiliki unggulan kompetitif dalam berbangsa dan bernegara di tengah-tengah kehidupan dunia global.

Kedua

, kepemimpinan yang handal dan visioner. Tipe pemimpin seperti ini, biasanya memiliki ciri utama: berkarakter, berkarisma, berkompeten dan berkomitmen terhadap lembaga yang dipimpinnya. Kepemimpinan ini mencakup semua lini dalam sebuah perguruan tinggi. Kepemimpinan yang demikian, sangat penting dalam rangka menjadi kekuatan penggerak bagi dinamika dan pengembangan sebuah institusi. Di era yang sarat dengan berbagai perubahan yang cepat seperti sekarang ini, tampilnya pemimpin yang handal dan visioner di sebuah perguruan tinggi tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Ketiga

, membangun dan memperluas jaringan kerjasama (networking). Secemerlang apapun sebuah ide yang digagas para pemimpin sebuah perguruan tinggi, ia tidak akan berarti jika perguruan tinggi itu tidak membangun jaringan kerjasama (networking). Terlebih dalam era global seperti sekarang ini, membangun dan memperluas jaringan kerjasama adalah sebuah keniscayaan dalam pengembangan sebuah perguruan tinggi. Melalui kerjasama ini, diharapkan akan membuka isolasionalisme PTI di tengah kondisi masyarakat yang semakin global dan saling terkait satu dengan lainnya. Di samping itu, dengan kerjasama berbagai kendala institusional barangkali akan menjadi semakin mudah untuk diatasi.

Keempat

, sudah menjadi pandangan umum jika kebesaran sebuah perguruan tinggi, tidak terkecuali perguruan tinggi Islam, tidak sekedar ditentukan oleh seberapa banyak mahasiswanya, seberapa megah kampusnya, bagaimana fasilitas yang dimiliki, dan seterusnya. Tetapi, kebesaran sebuah perguruan tinggi akan sangat ditentukan dan diukur oleh seberapa banyak penelitian berkualitas yang telah dihasilkan oleh perguruan tinggi itu. Penelitian adalah tolak ukur moral akademik, demikian kata Umar A. Jenie. Oleh karena itu, dalam pengembangan pendidikan tinggi ke depan domain penelitian ini harus menjadi hal yang penting. Telah dipaparkan di atas, dalam era globalisasi di mana perkembangan IPTEK menjadi hal yang niscaya, maka inovasi-inovasi dan kreatifitas dalam bidang keilmuan menjadi hal yang niscaya. Perguruan tinggi Islam pun harus mampu menjadi salah satu pengemban pengembangan berbagai keilmuan. Dalam konteks inilah “penelitian” menjadi sebuah hal yang tidak bisa dinafikan.

Kelima

, dalam konteks pendidikan, termasuk perguruan tinggi Islam, terdapat sifat yang diharapkan dari pendidikan, yakni keputusan pendidikan selalu mengacu ke masa depan. Perhitungan yang kita buat adalah seberapa jauh pemikiran dan langkah tindakan pendidikan merupakan sesuatu yang dibutuhkan di masa yang akan datang. Pendidikan merupakan usaha mempersiapkan manusia untuk kehidupan masa depan. Pendidikan Islam, dengan demikian, harus berfungsi sebagai “anticipatory learning institutions”. Perguruan tinggi Islam harus mampu menjadi produsen bagi ketersediaan sumber daya manusia yang tangguh, cerdas secara intelektual, sosial dan spiritual, memiliki dedikasi dan disiplin, jujur, tekun, ulet dan inovatif. Sekurang-kurangnya manusia seperti inilah yang harus dipersiapkan oleh pendidikan Islam, kalau kita berharap perguruan tinggi Islam mampu bersaing di era kontemporer seperti sekarang ini.

Keenam

, mengembangkan paradigma inklusif dan multikultural. Dalam era kesejagadan ini, persentuhan antar kebudayaan berbagai bangsa di dunia menjadi hal yang niscaya. Tuntutan untuk bersikap terbuka dan saling toleransi menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Rasulullah telah mengajarkan kepada umat Muslim tentang prinsip integrasi sosial untuk membangun sebuah masyarakat yang berkeadaban (civil society). Islam menjadikan rujukan nilai, pengetahuan dan tindakan bagi para penganutnya untuk berta’aruf dengan kelompok lain di masyarakat yang berbeda latar belakang agama, sosial dan budaya. Prinsip seperti inilah yang hendaknya ditransformasikan dan dijadikan paradigma dalam pengembangan PTI ke depan. Dalam masyarakat (nasional maupun internasional) yang demikian majemuk, pendidikan Islam perlu dikemas dalam watak multikultural, ramah menyapa perbedaan budaya, sosial dan agama, sehingga hal-hal yang bersifat kontraproduktif akan dapat dihindarkan. Setidaknya hal inilah yang patut diperhatikan dalam rangka pengembangan pendidikan tinggi, khususnya perguruan tinggi Islam.

E. Kesimpulan

Upaya mewujudkan perguruan tinggi Islam yang mampu menghadapi berbagai tantangan di era global, masih memerlukan kerja keras oleh semua pihak, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Upaya-upaya ini bisa dilakukan di antaranya dengan peningkatan kualitas sumber daya yang ada, perluya dukungan kebijakan nasional, perubahan paradigma, kepemimpinan yang visioner, memperluas jaringan kerjasama, dan pengembangan di bidang penelitian. Hanya dengan kerja keras inilah perguruan tinggi Islam ke depan akan mampu bersaing dan menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Daftar Rujukan

Hamim, Nur, 1999. “PTI dalam Menyongsong Milenium Ketiga: Suatu Refleksi Menuju PTI yang Marketable”, dalam “Nizamia”, Vol. 2, No. 3, 1999.

Huntington, Samuel P, 1991. The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century. Norman: University of California Press.

Jacob, T, 1993. Manusia, Ilmu dan Teknologi: Pergumulan Abad dalam Perang dan Damai. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

Jenie, Umar A, 2004. Makna Filosofis dan Prospek Pengembangan Penelitian Inter/Trand-Disiplin. Makalah disampaikan pada Kuliah Tamu di UIN Malang, Malang 1 April, 2004.

Kholis, Nur, 2000. “Mencari Alternatif Formulasi Pengembangan Sistem Pendidikan Revolusioner di Era Millenium III, dalam “Nizamia”, Vol. 3, No 6, 2000

Kompas, 2001. Posisi Pendidikan Kita di Kawasan Asia Tenggara, 12 Juli 2001.

Kompas, 2001. Urgensi Liberalisasi Pendidikan di Era Global, 26 Juli 2001.

Naisbitt, John & Patricia Aburdene, 1990. Megatrens 2000. Ten New Directions for the 1990`s, New York: William Morrow.

Sparingga, Daniel, 1999. Demokrasi: Visi Alternatif dan Pilihan Strategis. Dalam St. Sularto (ed.) 1996. Visi dan Agenda Reformasi Menuju Masyarakat Indonesia Baru. (hal. 23-30). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sukra, Yuhara, 1996. Pandangan Mengenai Kebijaksanaan Pemerintah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia. “Makalah” pada Seminar Nasional Membangun Daya Saing Bangsa di Universitas Merdeka Malang 11-12 Nopember 1996.

Tilaar, HAR, 1996. “Pendidikan Tinggi di Indonesia Dewasa ini menghadapi Tantangan Abad 21”, “Makalah”, 11November 1996.

Toffler, Alvin, 1987. Gelombang Ketiga, Jakarta: Panca Simpati.

Siti Mahmudah
(Dosen Psikologi Universitas Islam Negeri Malang)


2 Tanggapan to “Perguruan Tinggi Islam antara Peluang dan Tantangannya”

  1. asuna17 said

    Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di Social Bookmarking Indonesia http://www.infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://pendidikan.infogue.com/
    http://pendidikan.infogue.com/perguruan_tinggi_islam_antara_peluang_dan_tantangannya

  2. trima kasih telah berkunjung ke blog saya!
    semoga bisa membuat dunia semakin indah.

    oya salam kenal ya dari saya!

    trims,

    Edi Purwanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: