Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Paul Feyerabend: Against Method

Posted by Edi Purwanto pada Mei 14, 2008

Paul Feyerabend (1924-1994) mempelajari sejarah dan sosiologi sebelum memutuskan untuk mendalami fisika. Tesis doktornya diperoleh dalam filsafat di bawah bimbingan Karl Popper. Karya terbesar Feyerabend adalah Against Method yang ditulis pada tahun 1975.

Pada awalnya, sebagai murid Popper, Feyerabend mendukung filosofi dan prinsip falsifikasi Popper namun kemudian dia berbalik menjadi salah seorang penentang Popper. Feyerabend berpendapat bahwa prinsip falsifikasi Popper tidak dapat dijalankan sebagai satu-satunya metode ilmiah untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Menurut Popper, setiap teori harus melalui proses falsifikasi untuk menemukan teori yang benar. Bila suatu teori dapat ditemukan titik lemahnya maka teori tersebut gugur.

Sedangkan menurut Feyerabend tidaklah demikian. Feyerabend berpendapat bahwa untuk menemukan teori yang benar, suatu teori tidaklah harus dicari kesalahannya (falsifikasi) melainkan mengembangkan teori-teori baru.

Fokus Feyerabend kemudian berpindah ke pluralisme teoritis, yang mengatakan bahwa untuk memperbesar kemungkinan mem-falsifikasi teori yang berlaku, kita harus mengkonstruksi teori-teori baru sebanyak mungkin dan mempertahankannya. Pluralisme ini penting, karena kalau tidak, akan terjadi keseragaman yang akan membatasi pemikiran kritis.

Jika teori baru ini dapat dipertahankan dan lebih baik daripada teori lama maka yang baru akan menggantikan yang lama (yang dinamakan ‘perubahan paradigma’ oleh Thomas Kuhn). Feyerabend menuturkan hal ini dalam artikel ‘On a Recent Critique of Complimentary’.

Menurut Feyerabend, dalam bukunya Against Method, tidak ada satu metode rasional yang dapat diklaim sebagai metode ilmiah yang sempurna. Metode ilmiah yang selama ini diagung-agungkan oleh para ilmuwan hanyalah ilusi semata.

Prinsip dasar mengenai tidak adanya metodologi yang berguna dan tanpa kecuali yang mengatur kemajuan sains disebut olehnya sebagai epistemologi anarkis. Penerapan satu metodologi apa pun, misal metodologi empiris atau Rasionalisme Kritis Popper akan memperlambat atau menghalangi pertumbuhan ilmu pengetahuan.

Dia mengatakan ‘anything goes’ yang berarti hipotesa apa pun boleh dipergunakan, bahkan yang tidak dapat diterima secara rasional atau berbeda dengan teori yang berlaku atau hasil eksperimen. Sehingga ilmu pengetahuan bisa maju tidak hanya dengan proses induktif sebagaimana halnya sains normal, melainkan juga secara kontrainduktif.

Dalam pengembangan prinsip ini Feyerabend mengakui adanya penerapan prinsip liberalisme John Stuart Mills dalam konteks tertentu (sains) dalam metode sains. Feyerabend menganut liberalisme ini karena menurut dia, tidak ada satu hipotesa apa pun, bahkan yang tidak masuk akal, yang tidak berguna untuk kemajuan sains.

Dengan pegangan ini, Feyerabend mengatakan bahwa sains dan mitos tidak dapat dibedakan dengan satu batas prinsip tertentu. Mitos adalah sains dengan tradisi tertentu dan sebaliknya sains hanyalah sesuatu tradisi mitos. Asumsi bahwa ada batasan antara sains dan mitos akan menimbulkan batasan-batasan yang menghalangi pemikiran kreatif dan kritis.

“Sains itu lebih dekat dengan mitos daripada filsafat sains mau akui. Mitos adalah salah satu bentuk pemikiran yang dibuat manusia, dan belum tentu yang terbaik. …[Mitos] bersifat superior hanya pada yang sudah memihak pada suatu ideologi tertentu, atau yang menerimanya tanpa mempelajari keuntungannya dan batasannya.” (Against Method, hal. 295).
Kriteria yang biasa digunakan untuk menguji kebenaran hipotesa, seperti logika dan hasil eksperimen, bukan sesuatu yang harus dipenuhi. Logika dapat dibantah kalau ada kecurigaan bahwa teori yang berlaku berlandaskan pada asumsi-asumsi tertentu (misalnya, Newton dahulu berasumsi waktu tidak berhubungan dengan ruang, yang kemudian dibantah oleh Einstein). Hasil eksperimen tidak perlu dipenuhi kalau dicurigai adanya kesalahan teori pengamatan.

Dalam Against Method, Feyerabend menulis,

“Selalu ada keadaan di mana itu tidak hanya dianjurkan untuk tidak menghiraukan aturan, tetapi untuk mengadopsi lawannya. Contohnya, selalu ada keadaan di mana itu dianjurkan untuk memperkenalkan, mengemukakan dan mempertahankan hipotesa ad hoc (untuk suatu tujuan), atau hipotesa yang mengkontradiksi hasil eksperimen yang sudah diterima secara umum, atau hipotesa di mana isinya lebih kecil daripada isi alternatif yang berlaku dan memadai secara empiris, atau hipotesa yang konsisten pada dirinya, dan selanjutnya..”

Menurut Feyerabend, sebuah hipotesa atau teori baru tidak harus memenuhi seluruh elemen dari teori lama karena hal tersebut hanya akan menyebabkan teori lama dipertahankan daripada mencari teori yang benar. Mempertahankan teori lama akan mempersempit pemikiran sehingga tidak bisa membuka lahan teori baru dan mengarahkan ilmu pengetahuan pada subyektivitas, sentimen atau prejudis. Seperti halnya teori kuantum pada awalnya ditentang bahkan oleh Einstein (“God does not play dice”), karena implikasi teori ini menyebabkan ketidakpastian yang sangat mengganggu pikiran.

Teori baru akan selalu muncul dengan sangat sulit, dan akan ditentang dengan fakta-fakta yang memberatkan yang berasal dari teori lama. Padahal teori baru ini merupakan revolusi ilmiah yang sangat penting dan sangat diperlukan untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Feyerabend mengatakan bahwa dikekang oleh teori sains modern yang sedang berlaku sama saja seperti dikekang oleh ajaran dogmatik jaman pertengahan Eropa. Dalam hal ini, ilmuwan sains modern mempunyai peran yang sama seperti kardinal Gereja jaman dahulu yang menentukan apa yang benar dan apa yang salah.

Prinsip falsifikasi (Popper), menurut Feyerabend, mungkin merupakan metode ilmiah yang pantas digunakan, namun banyak teori baru yang tidak diketahui cara memfalsifikasikannya. Teori-teori yang tidak dapat dilalui proses falsifikasi masih bisa dianggap kebenaran. Hal ini berbeda dengan Popper yang menganggap bahwa semua teori baru harus melewati proses falsifikasi dan bila gagal melaluinya maka teori tersebut tidak ilmiah dan tidak dapat dibenarkan (tidak dapat di-verifikasi).

6 Tanggapan to “Paul Feyerabend: Against Method”

  1. Aku melihat bahwa yang dilawan Feyerabend bukanlah sains melainkan fundamentalisme sains, karena dengan menghancurkan metafisika sesungguhnya kita mengekalkan dogma baru.
    Dan yang dibela Feyerabend bukanlah anarkisme melainkan manusia, karena ia menempatkan manusia di atas metodologi, karena pengalaman kita lebih kaya dari metodologi.
    Tulisan lengkapnya bisa dibaca di
    http://onisur.wordpress.com/2009/05/31/membela-pendekatan-anarkistik-feyerabend/

    • Sepakat mas Ony…
      itulah yang sebenarnya menjadi konsern fayeraband..dia memang tidak mengharamkan keberadaan sain…
      yang menjadi fokus dari bahasannya memang dogmatika pemahaman sains yang cenderung positivistik dan fundamentalis

  2. syarif said

    terima kasih sharingnya, mohon ijin copas untuk kepentingan mengajar filsafat di garasi rumah saya. silakan klik linknya untuk mengetahui kegiatan filsafat di garasi rumah saya tersebut.

  3. hening said

    tulisannya sangat bermanfaat buat saya meningkatkan pemahaman. saya sedang belajar filsafat di studi s3 saya di US, susah untuk dapat referensi berbahasa Indonesia yang membantu saya ngerti filsafat. makasih mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: