Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Eksklusivisme itu Berlabel Kos Muslim

Posted by Edi Purwanto pada Mei 26, 2008

“ Di mana ada gula di situ ada semut” barangkali adalah pepatah yang tepat untuk menggambarkan hubungan antara rumah kos dengan kampus. Hampir dipastikan tak jauh dari kampus di situlah rumah-rumah kos bertebaran. Demikian pula di Malang yang konon katanya terkenal sebagai salah satu kota pendidikan.

Entah darimana asal usul bahasa kos itu sendiri. Lazimnya di Malang dan juga kota –kota yang lain, rumah kos adalah rumah tinggal yang menyewakan kamar-kamar tidurnya untuk disewakan kepada orang lain. Sewa menyewa itu dikenai biaya untuk jangka waktu tertentu. Penyewa seringnya diberi tanggung jawab atas kamar yang disewanya. Ini membedakan dengan tanggung jawab rumah kontrak(an) yang biasanya disewakan seisi rumah beserta fasilitasnya untuk dikelola oleh penyewa.

Rumah kos dan rumah kontrakan merupakan pilihan bagi mereka yang jauh dari rumah untuk menetap di Malang selama masa studi berlangsung. Hal ini dikarenakan alasan efisiensi seperti waktu, biaya, dan tenaga seandainya bolak balik rumah dengan area studi. Di Malang, satu kamar biasanya maksimal dihuni oleh dua orang walaupun banyak juga yang menyediakan satu kamar per orang dan masing-masing kamar terdapat kasur, meja belajar dan lemari. Fasilitas kamar yang demikian ini tidak lazim dijumpai pada kamar kos di Yogyakarta. Biaya sewa kos bervariasi, tergantung pada fasilitas kamar dan tempat tinggal antara Rp. 900.000 s.d 1.700.000 per tahun. Pada rumah kos, ada yang tinggal bersama keluarga induk semang dan ada pula yang pengelolaan dan pengawasan diserahkan pada pengurus yang bertanggung jawab pada pemilik rumah kos.

Bagi calon penyewa kos pastinya akan menyesuaikan koceknya dengan fasilitas yang ditawarkan. Hanya saja kecenderungan rumah kos untuk muslim telah menjamur di Malang tahun belakangan ini.

Paradigma Baru Rumah Kos di Malang

Dalam pandangan Mashudiana, dosen Pendidikan Agama Islam Fakultas Ekonomi Brawijaya, keberadaan kos khusus muslim sudah ada sejak tahun 1980-an. Pada saat itu hanya orang-orang tertentu saja yang membuka kos muslim. Keberadaan kos khusus muslim pada era itu belum dipublikasikan seperti sekarang ini. “Label itu dipasang secara terbuka setidaknya pada kurun waktu sekitar tiga tahun yang lalu”, ujar pemilik rumah kos di Jalan Watu Mujur ini. Keberadaan kos muslimah ini dalam penilaianya hanya memanfaatkan momen saja. Karena dalam pandangan laki-laki satu anak ini, kos muslim yang ada di dekat kampus tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap penanggulangan kenakalan remaja.

Seiring dengan kuatnya arus syariatisasi yang melanda sekitar kampus, akhirnya para pemilik kos memiliki paradigma lain. Sekarang para pemilik kos yang beragama Islam mulai menerima anak kos yang memiliki identitas muslim saja. Mereka sekarang mulai memasang papan pengumuman di depan rumahnya. Papan berukuran 40 x 25 cm atau kertas folio itu bertuliskan “menerima kos putri muslimah” atau “hanya menerima kos putra muslim”. Rumah kos seperti ini bisa kita jumpai hampir di beberapa daerah yang lokasinya tidak jauh dari kampus-kampus. Seperti Unibraw di sekitar Jln. Watu Gong, Watu Mujur, dan kawasan Kerto-kertoan. Kemudian UIN yakni di Jl. Sunan Ampel, Sunan Derajat, Sumbersari; ITN di seputar Jl. Bendungan Sigura-gura dan UM di Jl. Jombang..

Keberadaan kos khusus muslim ini dalam praktiknya tidak lebih dari sekedar bisnis para pemilik kos. Hal ini bisa dibandingkan antara harga rumah kos muslim dengan kos “tak beragama tertentu”. “Kos muslim itu biayanya berkisar antara 1,5 juta hingga 1.7 juta. Sedangkan kos yang tidak berlabelkan muslim pada umumnya harganya lebih rendah jika dibandingkan dengan kos muslim,” ujar Aninda, mahasiswi salah satu perguruan tinggi Islam di Malang. Ia lebih memilih kos tidak berlabelkan muslim karena pertimbangan finansial. “Selain itu kos muslim juga tidak menjanjikan peningkatan pengetahuan saya dalam hal beragama”, tambahnya.

Menurut Ida yang ngekos di Kerto Rejo, Malang yang beranggapan bahwa kos itu sama saja, baik itu muslimah atau non muslimah. Karena jika anaknya tidak benar, hal-hal yang negatif tetap saja bisa terjadi, “Yang terpenting adalah bagaimana anak kos tersebut menjaga dirinya sendiri dari hal-hal yang negative,” imbuhnya.

Sedangkan keberadaan kos khusus muslimah menurut Gufron Hambali, pemilik salah satu rumah kos khusus muslimah, adalah untuk memberikan pembinaan mental dan mempertebal pengetahuan agama. Dengan adanya kos muslim ini diharapkan anak kos bisa lebih mempertajam pengetahuan agamanya. “Rumah kos ini saya desain seperti layaknya pondok pesantren, tapi saya tidak mau kalau rumah kos ini disamakan dengan pesantren” seru bapak kos yang memiliki lebih dari 30 anak kos itu. Dalam pergaulan sehari-hari dia membebaskan anak kosnya untuk berteman dengan siapa pun sejauh mereka tidak saling mempengaruhi dalam hal aqidah. Untuk memupuk kedalaman agama para penghuni kos laki-lagi setengah baya ini, mengajarkan kitab-kitab fiqh dan tasawuf untuk mahasiswa yang ada di rumah kosnya. Selain ngaji, rumah kos yang berada di jalan Sunan Drajad ini juga melakukan acara rutinan seperti tahlilan dan istighosah.

Hal senada idem ditto bagi Soleh, pemilik kos muslimah di Jln. Watu Gong. Ia mengatakan bahwa labelisasi kos muslimah ini dimaksudkan untuk menjaga aqidah Islam dari pengaruh-pengaruh pergaulan yang tidak diinginkan di samping untuk mengembangkan misi dakwah agama Islam. Selanjutnya Soleh juga tidak mengiginkan aqidah Islam dicampuradukan dengan aqidah agama lain. “Dengan memberikan label kos muslimah kita akan bisa meminimalisir penyelewengan aqidah” lanjut Soleh.

Fenomena kos khusus muslim/ah sebagai kemasan pemasaran para pemilik kos memasarkan rumah kosnya menurut Batin, Lurah Ketawang Gede.adalah hak insiatif para pemilik kos sendiri. “Dengan ketetapan seperti ini secara otomatis orang akan senantiasa memilah dan memilih kos mana yang hendak mereka tempati”, ujarnya. Hanya saja ia berharap agar politik golongan terlebih golongan “fundamentalis” tidak merasuk di daerah binaannya.

Hanya untuk firqoh tertentu

Dalam praktik sehari-hari ada beberapa kos Muslimah yang hanya memberikan tempat kepada golongan tertentu. Misalnya saja rumah kos milik Irianto yang bertempat di Jln. Sumbersari Gang III. Dua tahun yang lalu kos ini masih biasa. Artinya masih menerima orang dari golongan apapun. Pengelola dan pemilik kos itu dahulu bernama Titin. Dia adalah seorang janda yang hanya hidup dengan Ana anaknya. Pada awal 2006, Titin sakit keras dan tidak bisa lagi mendampingi anak kosnya. Sehingga tanggung jawab tersebut ia limpahkan pada anak dan menantunya, Irianto.

Irianto beserta istrinya setelah beberapa saat mengelola kos itu rupanya membuat aturan-aturan yang membuat sebagian anak kos tidak betah lagi tinggal di situ. Ia menetapkan aturan dan mulai memasang label kos muslim.

“Saya tidak mau menerima anak kos yang bukan muslim, karena ini akan mencampuradukkan ajaran Islam yang sebenarnya,” kata Irianto, pemilik kos muslimah yang berada di Jln. Sumbersari Gang 3. Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa keberadaan kos muslimah ini ditujukan untuk memperkuat aqidah Islam.

Dalam rangka menjaga keberadaan aqidah Islam dan menjaga ketertiban penghuni kos, Irianto membuat aturan-aturan secara tertulis yang harus ditaati oleh penghuni kos. Dalam pembuatan peraturan itu, Irianto tidak melibatkan satu pun penghuni kos. Peraturan itu di antaranya adalah dilarang memasukkan tamu laki-laki ke rumah, dilarang berkunjung melebihi jam 20.30, dan penghuni kos harus senantiasa menggunakan jilbab. Jilbab yang dimaksudkan di sini adalah jilbab yang panjangnya hingga menutup lutut. Jika ada pelanggaran-pelanggaran tentang peraturan itu, maka penghuni kos akan diperingatkan. Setelah tiga kali diperingatkan, mau tidak mau akan dikeluarkan dari rumah kos.

Jam’iyah, salah satu penghuni kos Irianto merasa kaget dengan peraturan baru itu. Dia dan teman-temannya merasa bahwa peraturan itu sangat berat. Peraturan sepihak itu membuat ia dan teman-temanya diusir secara halus. Pengusiran itu dilakukan karena Jam’iyah dan beberapa temannya tidak mau menggunakan jilbab yang sampai batas lutut. “Pemilik kos seringkali menyindir tentang jilbab yang saya paka. Mereka beranggapan bahwa jilbab yang saya pakai itu adalah salah dan berdosa,” jelasnya. Bakan mereka kerapkali mengungkapkan hal tersebut padanya. Meski demikian, kondisi seperti itu masih dijalani Jam’iyah dengan tabah. Rupanya sang pemilik kos belum puas dengan cara itu. Untuk berhasil mengusir mereka, tiba-tiba Irianto menaikan harga sewanya. Harga sewa itu dinilai Jam’iyah dan temannya tidak wajar karena begitu jauh dari standar lingkungan sekitarnya. Dengan tekanan yang seperti ini akhirnya Jam’iyah dan beberapa temannya keluar demi mengalah, kepergiannya ini kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain. Akhirnya Jam’iyah mulai sadar bahwa kos yang dia tempati hanya untuk orang-orang yang memiliki jilbab panjang saja. Sampai sekarang, rumah kos itu memiliki aturan yang sangat ketat, sehingga tamu perempuan saja tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamar kecuali bagi mereka yang berjilbab panjang

Kisah Jam’iyah ini bisa dijadikan refleksi bagi kita semua. Betapa sakitnya ketika label kos muslimah ini digunakan untuk mengunggulkan beberapa golongan dan mendiskriminasikan yang lain. Ternyata pluralisme yang dahulu pernah diagungkan dan menjadi slogan negara kita, belum bisa dilaksanakan dengan baik. Bhinneka Tunggal Ika hanya dijadikan simbol saja. Masyarakat tidak akan memahami makna dari slogan bangsa kita selama mereka masih memiliki sifat fanatisme yang berlebihan. Selama masyarakat tidak bisa menerima golongan yang lain diluar golonganya, Indonesia akan tetap menjadi negara yang tercerai berai. Politik golongan seperti ini juga akan membuat kita buta akan arti perbedaan. Kita seolah lupa dengan hadist Nabi Saw yang mengatakan bahwa perbedaan itu adalah rahmat bagi manusia. (Edi Purwanto).

Kos Muslim seolah menjadi tren sendiri dalam kehidupan indekos di Malang saat ini. Mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut ini petikan wawancara Edi Purwanto dari Puspek Averroes dengan Faisol Fatawi, Dosen Sastra Arab Universitas Islam Negeri, Malang.

Bagaimana pandangan anda terhadap keberadaan kos Muslim yang sedang marak di seputar kampus Kota Malang?

Labelisasi kos muslimah, dalam pandangan saya, merupakan konsekuensi logis dari dampak islamisasi yang lagi marak di Indonesia. Gerakan Islamisasi ini mulai marak di Indonesia pada tahun 1997. Pada saat itu, tokoh Islam banyak yang gegar dan gundah dengan kondisi bangsa ini. Mereka ingin bangkit dari keterpurukan umat Islam. Mereka menawarkan khilafah dan perda syari’at sebagai solusinya. Menurut saya, Khilafah Islamiyah merupakan tawaran yang sangat tergesa-gesa. Khilafah Islamiyah akan menjadikan agama tidak lebih dari seperangkat aturan yang baku.

Saya tidak bisa membayangkan jika Khilafah Islamiyah diterapkan di Indonesia, apakah keamanan dan ketertiban itu bisa terciptakan. Kita bisa mengambil contoh Arab Saudi, sebuah negara yang menerapkan Khilafah Islamiyah. Dalam praktiknya, negara Islam ini masih banyak terjadi kekacauan. Di sana tidak sedikit orang yang masih mencuri dan memperlakukan buruh sebagai budak. Artinya, dengan menggunakan Khilafah Islamiyah ataupun tidak sama saja. Pencurian dan perselingkuhan tetap saja akan terjadi. Ini menunjukan khilafah juga tidak bisa menanggulangi permasalahan sosial.

Dalam kenyataannya di lapangan kos Muslim ini dijadikan sebagai politik aliran tertentu. Bagaimana menurut anda?

Menurut saya, politik aliran ini lebih disebabkan pada pemahaman agama yang sifatnya eologis semata. Kalau pemahaman agama kita berdasarkan pada akhlak atau moralitas, maka diskriminasi dan politik golongan tidak akan terjadi. dalam pandangan saya, semua agama itu mengajarkan moralitas. Dengan demikian kita tidak bisa memberikan justifikasi bahwa Islam adalah agama yang paling bermoral. Jika keberagamaan itu hanya disederhanakan dalam konsep teologi saja, maka betapa sempitnya agama itu?

Diskriminasi yang terjadi lebih disebabkan oleh pudarnya konsep tasamuh (toleransi). Masyarakat muslim sudah kehilangan nilai pluralitas yang pernah dimilikinya. Padahal tasamuh itu menjadi pondasi yang sangat penting dalam perkembangan Islam. Jika konsep tasamuh ini hilang dari ingatan orang muslim, maka yang terjadi fanatisme agama semakin tinggi. Dengan demikian, orang muslim semakin memberikan batas yang jelas antara dirinya dengan lainnya. Jika sudah seperti ini, konflik antar agama akan mudah sekali terjadi.

Jika permasalahan keberadan kos Muslim adalah pergaulan bebas, maka tidak bisa hanya Islam yang memonopoli pergaulan bebas. Semua Agama melarang pergaulan bebas. Pergaulan bebas tidak bisa hanya dinilai dari segi teologi saja, akan tetapi harus masuk pada akhlak atau moralitas. Akhlak yang baik tidak hanya dimiliki oleh orang Islam saja. Tidak sedikit pula non muslim yang memiliki moral lebih baik.

Bagaimana seharusnya manusia itu beragama?

Dalam beragama, manusia tidak hanya dituntut untuk melakukan aturan-aturan dan hukum-hukum tertentu. Hal yang paling penting dalam beragama adalah ta’ammul (perenungan). Ta’ammul itu sangat penting dilakukan, karena berhubungan langsung dengan bertambah dan berkurangnya iman. Kenapa bisa tambah dan berkurang? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab tanpa adanya ta’ammul yang dilakukan terus menerus.

Keimanan dalam pandangan saya, tidak hanya terkait dengan ibadah wajib saja. Keimanan harus dipahami sebagai ibadah yang mampu menginternalisasikan ta’ammul dalam bentuk akhlak yang baik. Juga tidak lepas dari tanggung jawab individu terhadap tuhanya pada konteks sosial. Sehingga, munculah Islam kaffah. Kaffah bukan berarti harus berlabelkan Islam atau back to Islam. Kaffah harus dimaknai sebagai usaha untuk selalu melakukan ta’ammul yang tidak pernah henti.

Ketika kita hidup dalam lingkungan yang plural, sementara akhlak atau moralitas tetap terjaga maka tidak akan menjadi masalah. Akhlak merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan sosial. Sedangkan teologi itu hanya bersifat individual dan transenden. Teologi tidak ada implikasi langsung terhadap sosial. Teologi hanya mengatur tentang keimanan.

EdiPurwanto

14 Tanggapan to “Eksklusivisme itu Berlabel Kos Muslim”

  1. irsyad said

    lek, ojo ngaku-ngaku perkembangan pemikiran lebih berkembang dari rekan-rekan seusia… hehehe, tak lacak “metafisika kehendaknya nanti..Klaim itu selain narsistik juga tidak baik untuk kesehatan jiwa raga batin dan keuangan, hehehe.. Maaf belum bisa ke Jatim, puengen banget jane.. tapi yo sepurane, dereng saget. nanti nek iso tak kabari.. piye nek awakmu sing ngulon? hehehehe

  2. heeee2x!
    trims atas kunjungannya. Kapan2 saya main ke Jogja. Nanti kita sambung lagi perdebatan kita. kadangkala narsis itu perlu lho!!
    trims,

  3. edhenk said

    trims bos ya!!

  4. alvi said

    aku mas, baru kali ini baca tulisan pyn.iseng2 ada artikel averus, ada pyn. ywes kirim pisan. Kapan k Jkt lagi. tk tunggu y..
    aku jadi tau sp anda..
    thx yo…
    sepurane lom bs k malang

  5. Trims mbak alvi nanti kita sambung lagi ya!
    Jangan lua sering-sering berkunjung ke rumahku yangsatu ini ya!!
    Kalau main ke Malang jangan lupa main ke tempatku ya salam buat semuanya…..
    😀

  6. halo, bro
    Pemandangan serupa itu juga nampak di depok. Bedanya di depok bukan rumah kos, tapi kompleks-kompleks perumahan. Belakangan, di kawasan tempatku tinggal ini, menjamur hunian-hunian baru berlabel “Hunian Islami” atau “Perumahan Islami”, dan seterusnya. Kalo anda sempat ke depok dan berjalan-jalan di sepanjang jalan margonda, satu-satunya jalur arteri penghubung Depok-Jakarta saat ini, pasti anda temukan berjejer sepanduk yg menawarkan hunian-hunian semacam itu. Aku ga tau sejak kapan persisnya gejala itu muncul, dan sudah berapa puluh perumahan semacam itu sekarang ini diseluruh kawasan Depok, tapi sepertinya perumahan-perumahan itu menjadi basis (konsolidasi?) yang menyumbangkan suara signifikan dalam memenangkan Nurmahmudi Ismail sebagai Walikota Depok.

    Tapi sebenarnya aku juga ga terlalu yakin hipotesis ini, perlu etnografi yang memadai untuk melihat detail peta “geografi sosial”. Penelitian kecil seperti yang anda bikin itu amat sangat menarik…

    Caiooo..

  7. Trimakasih bung!
    ini merupakan penelitian kecil-kecilan yang aku lakukan di sekitaran Kota Malang.
    Menmang perlu me;akukan penelitian yang agak serius untuk masalah yang satu ini. supaya kita tidak terjebak di claim kebenaran.
    akhir-akhir ini fenomena kos muslim menjadi trend tersendiri di Malang. Saya memang hanya melakukan penelitian kecil-kecilan di Malang. Kalau ternyata ternyata di Depok memiliki indikasi yang sama seperti yang terjadi di Malang, itu lebih menarik dan menguatkan pembongkaran saya dibalik fenomena kos Muslim di Malang.

    Tapi kalau kita bisa melakukan penelitian secara komperhensif di beberapa tempat mungkin kita akan bisa menemukan jawan itu.

    Salam

  8. Sama. Aku orang Depok. Dulu kos-an ku muslim banget. Sampe ada mushola-nya, dan ada kultum subut tiap hari. Isinya kebetulan aktivis anak Gunadarma semua. Tapi itu dulu…, sekarang setelah anak2 itu lulus, musholanya jadi gudang. Agak disayangkan sih.

    Tapi bukan itu yang mau kukomentari.

    Aku ingin melihat ini sebagai sebuah gejala menutup diri untuk konsolidasi. Beberapa umat Islam merasa mereka harus membentengi diri melawan arus perubahan: entah itu modernitas, globalilasi, sekularisme, apalah… Ini berbeda sekali dengan Islam tradisional. Aku besar di tengah Islam melayu yang gak gitu jelas apa mereka NU apa Muhammadiyah. Afiliasi politik dan ormas bagi mereka tidak penting. Yang jelas mereka Islam menurut kebiasaan orangtua mereka. Dan mereka pede, tidak merasa mereka tergerus oleh zaman. Kohesi adat masih kuat, yang diakulturasi dengan ajaran Islam. Tidak ada gejala2 membentengi diri dan merasa terancam. Gak ada tuh yang melarang buku kantin di bulan puasa. Yang puasa dan tidak puasa saling menghargai. Dan walhasil, para pendatang yang baru pindah ke sana, malah merasa diterima dan terbaur ke dalam budaya melayu yang memang melting pot, alias menerima semua perbedaan, asal gak neko2, atau nganeh-nganehi kata orang jawa.

    Di awal 90-an sempat masuk gerakan Salafi di salah satu mesjid di kampungku. Mereka malah dijauhi oleh penduduk kampung karena dianggap melawan tradisi yang selama ini telah berkembang dan membawa kedamaian. Anehnya gerakan tersebut justru mendapat simpati dari bujangan pengangguran (katanya sih mereka dapat gaji gitu). Saya sudah lama gak pulang kampung, jadi gak tau bagaimana perkembangan selanjutnya.

  9. Menarik cerita mas oni ini. Saya juga terlahir dari pergulatan pertemuan antara Islam dan Jawa. Jadi saya tidak begitu heran melihat fenomena keberbedaan itu sendiri. Saya melihat bahwa keberbedaan itu merupakan sesuatu yang wajar dan tidak perlu diperdebatkan.

    Akhir-akhir ini, ketika gerakan Salafi mengembang di nusantara ini, keberagaman dan keberbedaan menjadi perdebatan sendiri. Bahkan hal-hal yang jauh dari peradaban Islam (Arab) di permasalahkan bahkan kalau perlu di bubarkan.

    Kalau dahulu jaman Sunan, persebaran Islam menggunakan da’wah bilhikmah. Sekarang kita malah tidak melihat da’wah dengan cara ini. Yang ada adalah da’wah dengan kekerasan yang tentunya ini akan menjadi boomerang bagai Islam sendiri.

    Kita tahu kasus yang terjadi pada Ahmadiyah misalnya, kalau kita menggunakan pandangan yang agak toleran begitu, kita tentumya akan mengakuinya sebagai Islam. kenapa demikian? kalau kita tidak mengakuinya sebagai Islam, mereka akan lari dari Islam dan bahkan menjadi agama Islam. lho da’wah semacam apa seperti ini. da’wah koq memurtadkan orang…… bikahnkan da’wah itu untuk menuju kebaikan?? yach itulah dampak dari salafi yang sudah mulai memporak-porandakan keberagaman dan keberagamaan kita.

    Kalau yang direfleksikan mas Ony mungkin mungkin adalah pluralitas yang ada pada masa lalu. atau bahkan hari ini masih seperti yang diceritakan itu akan tetapi bagaimana kedepan??

    Apakah orang yang berbuka puasa di siang hari itu akan menjadi masalah, ataukah malah orang tidak boleh membuka warung pada siang hari?? atau malah keberbedaan ini menjadipengkafiran??

    Ini merupakan salah satu permasalahan bangsa yang menjadi bagian dari permasalah nakita secara personal.

  10. Ketika ( pemeluk)agama mulai merasa terpinggirkan maka ada banyak cara untuk memberikan “perlawanan” :

    Selain melawan secara frontal, bisa juga menutup diri atau mendirikan “surga kecil” yang diusahakan bebas dari kekotoran dunia.

    ketika gesekan antara agama dan sekuler makin meningkat maka saya rasa tren tersebut juga pasti meningkat.

    SALAM.

  11. ariefdj™ said

    .. sebenarnya, jujur ajah.. hal itu ada bagusnya juga.. meski ada sisi jeleknya pula..

  12. bundamu manis said

    ga sengaja kok nemuin tulisanmu, kapan ya kita ketemu lagi…? jadi tambah kangen sama temen2 di malang. yo opo kabare pean….?
    tak tunggu tulisanmu berikutnya….
    jombang lagi hujan coyyyyyyyy dueressss

  13. flozzy said

    Menurutku,label kayak gitu sah-sah aja.Dari segi konsumen,kini orang ingin mengontak atau mencari kos bukan cuma mempertimbangkan fasilitas dan harga tapi juga kebutuhan akan suasana religius, persaudaraan/ukhuwah dan pergaulan di dalam kos itu sendiri.Pengalamanku waktu masuk di beberapa kontarakan muslimah memang beda-beda tapi semua bisa dilihat dari sisi positifnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: