Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Kuasa Bahasa dan Perubahan Sosial

Posted by Edi Purwanto pada Juni 17, 2008

Oleh : Edi Purwanto

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan bahasa tanpa tau asal-usulnya. Bahkan kita tidak pernah mau tau apa sebenarnya bahasa dan bagaimana terbentuknya bahasa? Hal inilah yang akan kita perbincangkan dalam tulisan ini.
Bahasa merupakan penginterpretasian dari sebuah tanda. Tanda yang selama ini menjadi realita dalam kehidupan adalah awal dari munculnya bahasa. Bagaimana sebenarnya tanda itu bisa difahami oleh semua orang adalah fungsi dari bahasa itu sendiri. Bahasa sangat berperan dalam rangka perubahan sosial.
Hal ini dikarenakan dengan bahasa orang bisa mengerti tentang apa yang kita maksudkan. Dengan bahasa pula kita mengetahui apa yang diinginkan oleh orang lain. Saya memiliki asumsi bahwa sebenarnya realitas dari semua yang ada di dunia ini berawal dari adanya bahasa. Dalam artian ketika kita berbicara mengapa sebenarnya ada perbedan besar kecil, tua muda, ada bapak dengan ibu?
Saya fikir ini karena adanya bahasa sehingga struktur masyarakatpun juga tentunya tidak bisa terlepas dari sebuah hegemoni bahasa. Bahasa yang sudah terinternalisasi dalam kehidupan seluruh masyarakat dan disepakati atau paling tidak memahami semua tentang arti dan maknanya maka di situ akan terbentuk apa yang kita sebut dengan bahasa. Demikian halnya dengan kekuasan dengan bahasa orang mampu menguasai orang lain (others) dengan bahasa pula orang jadi tidak percaya dengan orang lain. Karena bahasa pada hari ini adalah konstruk dasar dari sebuah realita. Realitas akan terbentuk ketika isu yang dibuat dalam bentuk bahasa mampu menghegemoni orang lain yang ingin ia kuasai.
Derrida dalam bukunya of Gramatologi mengatakan bahwa sebenarnya bahasa adalah penginterpretasian dari sebuah tanda. Dalam bahasa Gadamer bahasa merupakan sebuah objek dalam melakukan penafsiran sebuah alam. Gadamer menyatakan bahwa realitas yang ada di alam ini adalah teks yang berupa pertanda yang kemudian menjadi sebuah penanda yaitu bahasa. Bahasa sering kali kita konsumsi dalam kehidupan kita hari ini kita cenderung menjadi anator-anator ulung dalam memecahkan sebuah problematika.

Pengertian Bahasa
Bahasa adalah cara utama untuk mengkomunikasikan isi fikiran. Setiap masyarakat manusia memilki bahasa dan manusia memiliki kecerdasan normal memperoleh bahasa aslinya dan menggunakanya tanpa kesulitan. (Atkinson: 570). Dalam memperoleh sebuah bahasa orang bis jadi dipengaruhi oleh faktor bawaan. Faktor ini ,memiliki pengaruh yang penting dan sangat besar dalam proses belajar dalam memperoleh sebuah bahasa. Gangguan dalam berbahasa biasa disebut dengan afesia yang terjadi disebabkan oleh hemisfer kiri. Hemisfer kiri berfungsi sebagai pemahaman dan pemrosesan sebuah bahasa. Di hemisfer kiri kita kita menempatkan antara hubungan kerusakan otak dan apakah defisit yang dihasilkan terutama defisit produksi atau pemahaman. (Atkinson: 592)
Terlepas dari itu semua kini bahasa sudah menjadi sebuah dilematis dan mulai berubah maknanya. Bahasa yang dahulumya hanya digunakan sebagai alat komunikasi kini sudah bergeser ke arah Poltik, budaya, kekuasan dan lain sebagainya. Faucault pernah berkata bahwa dengn menguasai sebuah bahasa kita akan menguasai orang yang menggunakan bahasa itu. Inilah yang disebut Faucault sebagai relasi kuasa bahasa.
Seiring dengan perkembangan wacana, bahasa dijadikan sebuah legitimasi tentang bagaimana orang mampu menguasai orang lain dan bagaimana orang bisa memperdaya dan menguasai musuh-musuhnya.
Wacana-wacana postmodern dan poststrukturalis kiranya telah berperan dalam perubahan makna keambiguitasan sebuah bahasa. Para tokoh postmodern sebenanya hanya ingin membuktikan dan merubah paradigma positivistik yang selama ini sudah mengakar dalam setiap individu yang pragmatis. Mereka tidak bisa menerima bahwa kebenaran sebuah ilmu itu harus rasional dan empiris dalam bingkai objektivitas. Bahwa dalam pencarian sebuah ilmu sebenarnya ada banyak metode diantaranya fenomenologi, hermeneutik, semiologi, etnografi, tekstualisasi, represi dan lain sebagainya. (Criss Barker 1978: 39)
Dalam realitas kontemporer bahasa merupakan sebuah alat yang paling efektif untuk melakukan sebuah perubahan atau untuk menguasai. Satu hal yang paling penting yaitu bahasa adalah sumber dari segala kerusuhan dan kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini baik dalam kancah nasional maupun dalam kancah internasional. Dengan menggunkan bahasa yang cukup ringan orang mampu menjustifiksi seseorang dengan tanpa sebuah pertimbangan yang akhirnya mengakibatkan sebuah pemasalahan yang cukup serius kemudian munculah perang.
Mungkin makna dapat menjadi tidak dapat dipastikan jika kita memandang bahasa secara kontemplatif, sebagai mata rantai penanda pada selembar kertas makna menjadi dapat dipastikan. Kata-kata seperti kebenaran, realitas, pengetahuan, dan kepastian memiliki sebagian daya yang disimpanpanya bila kita melihat bahasa seperti yang biasa kita lakukan sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk kehidupan kita yang praksis. (Madan Sarup,1993: 93)

Bahasa Dan Kekuasaan
Orang mungkin sering bertanya apa sebenarnya yang menjadi hubungan antara bahasa dengan kekuasaan. Apakah bahasa bisa menghasiilkan kekuasaan ataukah justru malah sebaliknya yaitu kekuasan bisa menyebabkan bahasa yang berbeda? Menurut tokoh pewaris madzab Frankfrut Jurgen Habermas bahasa merupakan sebuah kepentingan dari siapa yang akan memakainya. Mereka yang berkehendak dan memiliki kekuasaan, maka dialah yang berkuasa untuk membuat sebuah bahasa akan tetapi bahasa yang ia gunakan tentunya tidak lepas dari bahasa yang membawa kepentingan dari kekuasaanya (Haedar Nashir, 2000: 46)
Melalui bahasa orang tentunya akan dapat menciptakan citra fihak lain sebagai subversif, inkonstitusional, anti kemapanan dan lain sebagainya yang menggambarkan perlawanan terhadap negara. Pada saat yang bersamaan bahasa juga dapat memberikan citra yang positif, baik dan mulia bagi pemegang kekuasan. Oleh karena itu bahasa sebenarnya bukan hanya sekedar tata bahasa akan tetatapi bahasa adalah membawa muatan kepentingan.
Pada zaman orde baru ketika pemerintah menuduh seseorang sebagai anti pembangunan, komunis, ekstrim kiri, ekstrim kanan dan sebutan-sebutan yang lain yang sejenisnya, dia pasti akan tersingkir baik secara politik mupun sosial. Ungkapan-ungkapan itu telah sedemikian ampuh untuk memberaguskan lawan-lawan poitik orde baru. Dalam pandangan orang Athena Abad ke-5, bahasa menjadi instruman untuk mencapai tujuan tetentu, yang kongkret dan pasti. Bahasa dianggap sebagai senjata ampuh dalam percaturan politik tingkat tinggi (Latif dan Ibrahim 1996: 17)
Label-label tersebut diberikan kepada kaum oposan atau kaum terpelajar yang tidak sefaham atau tidak disukai penguasa dengan target utama mengingatkan kegelapan masa lampau. Disini memori publik atas kejadian masa lampau terus dipupuk dan diawetkan terutama bagi generasi muda yang belum pernah mengalami peristiwa traumatik trsebut yaitu peristiwa G30 S /PKI.
Meminjam bahasanya Paottingi (2000) bahasa tidak semata-mata alat komunikasi penguasa kepada rakyatnya tetapi juga sarana stratgis untuk berkuasa. Bahasa adalah ekspresi kekuasaan oleh karena itu bahasa merupakan kancah perhelatan kekuasaan. Dalam riil kehidupan manusia orang seringkali menggunakan sebuah bahasa dalam membohongi dan menghegemoni seseorang. Dalam kancah perpolitikan ada sebuah pergolakan yang terjadi dan itu tentunya tidak lepas dari bagaimana kita mengemas sebuah bahasa sehingga menjadi isu yang bisa membikin konsentrasi para elite bubar.
Kisah manusia adalah kisah liku-liku bahasa, dengan maknanya bahasa mampu menggerakan dunia dengan kekuatanya, dengan bahasa pula banyak tercecer air mata bahkan darahpun mengalir tiada henti tak terasa. Pedang dihunus dan masa dimobilisasi karena bahasa. Aneka kehormatan, kebahagiaan, sakit hati, kekecewaan, semuanya diakhiri dengan kata.-kata.
Penguasa seringkali merasa sebagai pemilik tunggal bahasa karenanya masyarakat haruslah tunduk denganya. Bahasa yang sering digunakan oleh pemerintahan hanya berlaku sefihak dan seringkali pemerintah dalam mengembangkan isunya menjustifikasi kaum-kaum marginal dengan menggunakan undang-undang sebagai salah satu legitimasi. Hal ini digunakan karena devent pemerintah dalam mempertahankan kewibawaan dan kekuasaanya dari orang-oang yang dianggap membahayakan pemarintah. Hal ini merupakan sebuah kewajaran dalam benak penguasa dan merupakan alat untuk mengakomodir kekuasaan dari orang orang yang dianggap menyimpang dengan isu normalisasi dan developmentalisme.
Berbahasa sefihak yaitu bahasa yang sifatnya searah dan hanya menguntungkan fihak-fihak tertentu. Hal ini tidak akan menemukan sebuah kesetaraan sebab dalam bahasa yang bermartabat harus berlangsung secara dialogis yang ini berarti kedua belah fihak harus berlangsung dengan hubungan kesetaraan tetapi kini tampaknya berbahsa secara dialogis mungkin hanya sebuah Utopis (Ariel Hariyanto 2000: 144)
Sebagai realitas simbolik bahasa tidak bisa lepas dari dunia batin pemakainya dan seting sosial yang ada. Fenomena kekerasan yang melanda bangsa ini, kesopanan atau etika berbahasa kini mengalami erosi atau kemunduran yang luar biasa. Untuk mengatasi etik kesopanan berbahasa perlu disikapi dengan konteks pengajaran budaya dalam lahan budaya ketimuran, meminjam dari bahasanya Susbastian dalam jawa pos tanggal 27 April 2004 yaitu “ kesopanan dalam berbahasa antara lain ditentukan oleh pemilihan katanya dan bagaimana kita mengkontekan sebuah realitas dengan bahasa yang indah dan tidak menyakitkan.

Politik Metafora
Metafora adalah proses pembentukan antar hal-hal yang berbeda. Bahasa sehari-hari kita seringkali menggunakan metafora misalkan di masyarakat kita perdebatan perdebatan seringkali distruktur, difahami, dipaparkan dan dibicaakan dalam artian perang. Ada posisi yang harus dipertahankan dan harus menang ataupun kalah. Kita memiliki musuh dan posisinya kita harus kalahkan harus kita serang dan kita hancuran dan argumenya harus kita patahkan. Bahasa debat pada dasarnya adalah bahasa pertempuran fisik. Bahwa perdebatan adalah perang yang dibangun dalam konseptuaal kebudayaan tempat hidup kita.namun kemudian Lakoff dan Jonson kemudian tidak memberikan pengertianya seperti itu. Orang dapat dengan mudah membayangkan masyarakat dimana perdebatan difahami dengan cara yang berbeda misalnya dengan pertunjukan teatrikal.(Foucoult 1980: 163). Di masyarakat tersebut perdebatan menang dan kalah sangat berbeda dengan masyarakat kita.
Sejumlah metafora selama periode tertentu menjalankan peran pembebasan seperti Farid Esack misalnya dia menggunakan bahasa sebagai peran untuk pembebasan di Afrika Selatan. Umat manusia di bebaskan dari sebuah kuasa hegemoni besar yang selama ini ada. Manusia tidak hanya dapat memahami dunia dengan baik, tetapi juga mulai mengubahnya.
Menurut saya aspek kreatif atau teori sosiologis mulai tampak pada penggunaan metafora. Saya mempunyai asumsi bahwa sebenarnya metafora menentukan dalam derajad yang luas, metafora bukanlah sekedar kata-kata manis tanpa makna metafora akan membentuk apa yang kita lakukan. Metafora dapat menciptakan dan mempertahankan bentuk pandangan dunia. Cara metafora membentuk dan menstruktur dan bahkan menghegemoni kita juga perlu kita fahami dengan lebih baik. Selain itu saya juga ingin memaparkan bahwa metafora dapat melahirkan wawasan yang baru dan pencerahan yang segar. Metafora dapat mendorong munculnya paralelisme atau analogi yang tak terduga atau tersembunyi dibalik ide kita semula. Selain itu metafora juga merangkum dan memberikan cara pandang yang lain. Melalui metafora kita dapat meningkatkan kesadaran tentang dunia-dunia alternatif yang mungkin.
Wallahu ‘Alam bisshowab

Referens

Atkinson, dkk. Pengantar psikologi umum jilid I

Foucoult, M. 1980. Bahasa Dan Kekuasaan. Terj. LKis Yogyakarta.

Heriyanto , Ariel. 2000. Perlawanan Dalam Kepatuhan. Bandung: Mizan

Jawa Pos tanggal 27 April 2004.

Latif, dkk. 1996. Bahasa Dan Kekuasaan : Politik Di Panggung Orde Baru. Bandung : Mizan

Madan Sarup, 1993. Poststrukturalis dan Postmodernisme. Terj. Jendela: Yogyakarta.

Nashir, Haedar. 2000. Pragmatisme Politik Kaum Elit. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pabottingi, Mochtar, 1996. Bahasa Kramanisasi Dan Kekerasan. Bandung: Mizan.

6 Tanggapan to “Kuasa Bahasa dan Perubahan Sosial”

  1. moelyono said

    Seharusnya kita bersyukur ditakdirkan jadi manusia yang bisa berbahasa. Seharusnya bahasa dapat menjadi “brand image” bagi diri kita, hanya sayangnya bahasa seringkali membuat kita jadi angkuh, pongah, atau jadi preman kampungan. Bahasa dapat kita jadikan alat kekuasaan, tapi bahasa juga dapat dijadikan alat penebar kasih sayang. Tuhan Maha Pengasih, Dia memberi kesempatan kepada kita untuk memilih, bahasa mau menjadikan kita apa?

  2. trimakasih mas Moelyono!
    benar pendapat anda!
    Sebenarnya dengan bahasa kita mampu melakukan apapun juga. Bahasa merupakan medan komunikasi yang strategis bagi kita. Akan tetapi jangan salah dan marah ketika bahasa oleh orang-orang atau kelompok tertentu seringkali dijadikan tunggangan untuk mencapai tujuannya.
    Kenyataannya sekarang memang seperti itu. kita bisa melihat media kita yang sudah terbeli oleh kelompok-kelompok tertentu. Masih patutkah kita mengungkapkan bahwa bahasa akan menjadikan sesuatunya lebih baik?
    perlu kita pahami bersama bahwa pemaknaan bahasa hari ini mulai bergeser. Sekarang kita harus melihat bahasa sebagai medan pertarungan kuasa.
    trims,
    edi Purwanto

  3. antown said

    Out of Topic:
    saya suka dua kata pada banner di atas. “Senggama Intelektual”. Waow!!, paduan bahasa yang unik. Semacam perbenturan, gesekan dan dinamika pemikiran yang kemudian menyatu menjadi satu–melahirkan sesuatu yang baru.

    Salam kenal…

  4. Bisa aja mas….
    Saya pun juga tidak tidak pernah berfikiran tentang apa yang benjadi tema besar blog ini.
    Tiba-tiba saja saya memiliki ide ini pada saat pertama kali saya ngeblog. setelah saya fikir beberapa hari kemudian, rasanya senggama intelektula menjadi semacam keunikan tersendiri….
    😀

    salam

  5. yamin said

    bagus blognya, saya harus banyak belajar dong mempercantik situs blog, kapan2 diajari bos, ok

  6. Biasa aja lagi, kalau kamu ada waktu senggang main saja ke Averroes Community Pondok ABM permai kav. A-3 Malang. Kita bisa ngobrol bareng di sana tentang apa saja, filsafat, budaya, kebijakan publik, Agama, civil society sampai pada pengelolaan web.

    he2x….

    Tak tunggu ya,,,

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: