Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Tengger Nasibmu Kini

Posted by Edi Purwanto pada Juli 22, 2008

Mentari pagi sudah berada di atas kepalaku. Sengatnya panasnya seolah mau membakar kulitku. Saat itu aku mulai memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Naik turun dan benjolan-benjolan jalan yang sudah tidak karuan itupn kami lalui. Rupanya motor grand milik yudi itu tidak setangguh yang kami fikirkan. Motor itu tidak lulus uji ketika melewati jalan yag terjal dan curam itu. Rupanya jalan yang kami lewati sudah rusak parah. Seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk memperbaiki jalan menuju tempat wisata ini. Jalan ini emang sudah rusak parahkami sampai kebingungan mencari jalan yang bisa kami lewati. Semen yang dicor dengan ukuran 40 cm persegi itu sudah rusak parah. Saya melihat lobangan-lobangan besar memenuhi ruas jalan itu.

Rupanya ada inisiatif dari pengguna jalan untuk memperbaikinya dengan cara memberikan tanah diatas lobangan-lobangan jalan itu. Tapi apa boleh buat matahari tidak akan lelah untuk mengeringkanya. Ketika kami melewatinya, bullll….. tanah yang berada dilobang itu mengebul hingga debunya mengelilingi tubuh kami. Debu-debu itu membuat kulitku yang hitam semakin berwarna dan mukaku yang kusam bertambah jelek.

Bulan ini rupanya membawa suasana yang berbeda sama sekali dengan 6 bulan yang lalu ketika saya berada di sini. 6 bulan yang lalu memang musim penghujan hingga bukit-bukit tampak hijau oleh berbagai tanaman penduduk. Sengkedan yang dibuat oleh para petani sangat rapi seperti tentara yang sedang berbaris dan melaksanakan apel pagi. Saat ini bukit hijau itu kelihatan kuning dan bahkan beberapa petak tanah tidak ada tanamanya sama sekali. Tanah yang kaya akan humus itu merana tak berpenghuni. Mereka meraung terbawa angin kesana kemari. Tanaman kubis yang biasanya membuahkan hasil yang memuaskan itu kini hanya berbuah kecil-kecil. Bawang prei yang dulu tumbuh subur itu sekarang mulai kekurangan air. Rerumputan yang dulu rimba sekarang kering kerontang akibat dari goresan matahari yang begitu panas. Bahkan saya melihat beberapa penduduk harus mencari rumput ke hutan untuk mencari rumput yang segar.

Panas terik matahari dan angin yang membawa debu itu telah menggiringku pada sebuah desa kecil. Desa itu terletak di tengah-tengah lahan pertanian. Ketika kita melihat desa itu dari bawah akan kelihatan rumahnya yang sangat padat. Desa itu membujur dari barat ke timur. Paling timur dari desa itu Sanggar Pamujan yang menjadi tempat ibadah umat Budha Jawa Sanyoto. Seterusnya di Baratnya agak keatas sedikit ada Pure disana. Saya melihat Pure itu seringkali digunakan terlihat pintunya bersih karena sering dipegang orang.

Inilah desa Ngadas. Desa kecil yang masih memiliki konsistensi terhadap warisan nenek moyang. Warisan itu mereka sublimasikan dalam bentuk adat istiadat. Desa kecil ini adalah satu-satunya desa di Malang yang memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap Gunung Bromo. Orang-orang biasa menyebutnya dengan Wong Tengger. Kerukunan dan kedamaian menjadi senjata paling mendasar yang dijadikan prinsip setiap warganya.

Ketika sampai desa itu saya langsung kerumah bak Badri. Disana saya bertemu dengan Pak Boardi yang sedang asik ngobrol dengan tamunya di depan tunggku. Rupanya setelah saya memasuki desa itu suasana berubah awan yang tadinya erah kini mulai tertutup oleh embun hingga membuat tubuhku semakin kedinginan. Melihat saya sedang kedinginan pak Boardi langsung meminta saya aga segera masuk dan menghangatkan badan di depan tungku. Tungku yang berukuran 50 cm x 180 cm itu terlihat penuh dengan arang yang sudah dimasukan mulai dar tadi. Dengan mendekatkan tubuhku pada api lama-kelamaan rasa dingin itu mulai hilang. Sesaat ketika angin berhembus dingin itu mulai menggerayangi tubuhku lagi.

Sesaat kami dikagetkan oleh suara nenek-nenek yang muncul dari balik pintu belakang. Nenek itu membawa sesuatu di tanganya, saya tidak tahu apa yang dibawa oleh nenek itu karena kabut mulai menebal dan membuat pandanganku kabur. Sudah lama dik! Nenek itu menyapa saya dengan senyuman yang lebar seakan dia kedatangan anaknya sendiri yang sudah lama tidak mengunjunginya. Barusan saja saya sampai bu kami hanya berdua naik motor. Kamipun menyambut dengan hangat pertanyaan itu. Dia kemudian mengambil arang disebuah glangsi dipojok belakang pintu. Arang itu langsung dimasukan dalam tungku yang mulai habis arangnya. Sesaat kemudian dia mengambil 3 buah gelas dan dikasih gula dan kopi. Rupanya saya mulai memiliki firasat kalau nenek itu membuatkan kopi buat kami. Sesaat kemudian ia mengambil teko yang rupanya sudah sejak tadi mendidih diatas tunggku itu. Setelah kopi itu jadi langsung diberikan kepada kami. Mari mas diminum mumpung masih panas nanti keburu dingin lho. Yaa buuu!

Sementara disaat saya memperhatikan nenek yang sedang membuat kopi. Di depan kami pak boardi sedang membahas tentang penyewaan tanah. Rupanya pak boardi adalah penggarap tanah milik warga yang disewa oleh orang Tumpang. Diam diam perhatian saya mulai tertuju pada pembicaraan pak boardi dengan tamunya itu. Rupanya mereka sedang membicrakan sesuatu yang sangat serius hingga tidak memperhatikan kehadiran kami berdua di situ. Sambil memegangi gelas yang berisi kopi panas itu kami menyimak pembicaran itu. Rupanya pak Boardi mulai mengerti kalau kami dari tadi memperhatikan pembicaraan mereka. pak Boardi mulai mengalihkan pembicaraanya dan berbalik menyambut kedatangan kami. Kami saling bertanya kabar kami, kemudian setelah merasa pembicaraan pak Boardi dengan tamunya itu dikira sudah usai tamunya pamit undur diri.

Saya mulai bertanya kepada pak Boari, siapa yang datang kesini tadi pak?
Oooo… dia adalah orang tumpang yang dulunya sering kesini untuk cari rongsokan. Kemudian lama-kelamaan dia tertarik untuk bertani di sini. Pada suatu waktu ada warga desa yang menawarkan tanahnya untuk disewa. Dia mau menyewa dengan saya sebagai penggarapnya.

Bagaimana sistem sewa itu pak?

Menyewa itu begini lho mas. Seumpama saya memiliki tanah seluas 1 hektare kemudian saya menyewakan tanah itu kepada orang diluar desa Ngadas ini. Misalnya dengan harga 10 juta pertahun. Kemudian penyewa tanah ini memberikan garapanya kepada sampeyan. Maka sampeyan akan mendapatkan separoh dari hasil panenya setelah dikurangi dengan ongkos pupuk dan bibit. Segala sesuatunya yang berhubungan dengan ongkos manjing, pupuk, dan benih yang menanggung adalh penyewa. Sampeyan sebagai penggarap hanya mengorganisir dan menjaga tanaman itu.

Lantas orang yang menjadi buruh itu bagaimana pak? Tanyaku kebingungan.

Dengan menghisap rokok merk sangkar emas itu pak boardi mulai memberikan penjelasan kepada kami. Rupanya dia mulai menyambung kembali cerita yang sempat kami putus sejenak. Orang yang buruh itu adalah orag yang menentukan orang-orang yang bekerja di ladang. Dia juga yang menentukan kebijakan untuk mengurus sampai tanaman itu panen.

Lantas siapa yang membayar upah para pekerja yang berada diladang-ladang itu pak? Tanayaku. Yang membayar ya yang menyewa tanah itu. Untuk laki-laki 10 ribu dan untuk perempuan 7500 per hari.

Jadi penggarap sawah tetap menjadi juragan dong pak?

Iya! Sebenarnya tanah sini kalau menurut aturan desa tidak boleh dijual pada penduduk di luar desa ini. Hal ini dilakukan untuk menjaga supaya tanah disini hanya dimiliki oleh orang-orang sini saja dan ketika dijual yang beli juga orang sini saja. Berhubung dengan berbagai alasan orang tidak bisa memenuhi hal itu. Masyarakat sini menyiasatinya dengan cara menyewakan atau menggadaikan kepada orang bawah. Mengapa orang bawah karena biasanya orang bawah menyewa dengan harga yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang sini.

Lho sewa dan gadai itu beda ya pak? Tanyaku seperti orang yang belum tahu.

Berbeda mas kalau sistem gada itu lebih mudah dan paraktis diana pemilik tanah menggadaikan tanahnya kepada orang luar dengan tanpa jangka waktu tertentu. tanah itu bisa dikembalikan dengan syarat pemilik tanah bisa mengembalikan uang pinjamanya. Disini penggadai tanah lebih bisa duntungkan karena untung ruginya tidak diperhitungkan oleh waktu. Jadi ketika tanaman itu tahun ini tidak menguntungkan maka besok tahun depanya bisa ditanami kembali selama uang itu belum dikembalikan.

Terus kalau gadai itu sistem bagi hasilnya bagaimana pak?

Ya mirip dengan sistem sewa tadi dimana penggarap mendapatkan separoh dari seluruh hasil panen setelah dikurangi dengan bibit dan biaya pupuk.

Ooo jadi begitu ya pak! Terus bagaimana petani disini menghadapi arus modernisasi ini pak?

Sebenarnya itu yang menjadi masalah besar bagi seluruh masyarakat di sini terutama masyarakat yang tidak memiliki lahan garapan. Pak inggi dan seluruh masyarakat disini sebenarnya sudah berusaha sekuat tenaga. Semakin lama masyarakat di sini semakain bertambah, sementara lahan yang bisa ditanami tetap. Sedangkan pembukaan hutan sudah tidak diperbolehkan lagi oleh fihak pemerintah. Jangankan buka hutan dengna sistem bongkar bangun atau sistem tumpang sari saja tidak diperbolehkan oleh pemerintah.

Sejak kapan seperti itu pak?

Ya sejak adanya kebijakan taman Nasional ini. Kalau dahulu sebelum dikelola oleh taman Nasional masih mudah untuk melakukan hal ini. Warga masyarakat masih diberi kesempatan untuk melakukan bongkar bangun hutan produksi. Pada waktu itu hutan itu masih milik perhutani. Tumpang sari adalah cara untuk membongkar hutan kemudian menanam kembali dengan menanami sekeliling pohon yang tumbuh itu dengan tanaman pangan. Biasanya masyarakat menanaminya jagung. Kemudian setelah pohon yang kita pelihara itu besar, kita bisa pindah lagi ke ladang yang lainya yang sudah rusak. Perbaikan ini dilakukan secara terus menerus. Dari petak satu ke yang lainya. Dahulu bongkar bangun itu diperbolehkan selama 5 tahun kemudian 3 tahun namun setelah adanya kebijakan tentang Tman Nasional kita tidak boleh melakukan hal itu lagi sama sekali. Jangankan melakukan bongkar bangun mengambil kayunya saja kit tidak diperbolehkan. Ya kita yang rakyat kecil seperti ini tidak tahu maunya pemerntah itu seperti apa. Tapi yang jelas kami masih menginginkan hutan itu bisa dibuka seperti masih dikelola oleh perhutani dahulu. Kami sebenarnya mau saja menyogok fihak taman Nasional untuk bisa ikut serta merawat keberadaan hutan lindung itu. Berapa saja kita akn bayar asalkan kita diperbolehkan membuka hutan kembali.

Apakah tidak ad usaha yang dilakukan oleh sesepuh atau pemuka desa ini semisal pak petinggi untuk merebut kembali tanah itu untuk bisa ditanami pak?

Ya! Pak petinggi beberapa saat yang lalu sudah menegosiasikan masalah itu dengan fihak Taman Nasional akan tetapi ditolak. Kemudian Pak Ngatono sudah memasukan proposal tapi rupanya dari fihak Taman Nasional dan dirjen kehutanan belum ada tanggapan. Berbagaia cara kami lakukan agar hal itu bisa terwujud tapi rupanya pemerintah tidak mendengarkan keluhan warga desa sini mas.

Lantas apa yan bisa dilakukan oleh masyarakat selama ini pak?

Ya… masyarakat juga kabingungan menghadapi hal itu. Karena kebijakan Taman Nasional yang tidak boleh merubah kondisi alam agar kelihatan alami. Kita tidak diperbolehkan mengambil rumput dan kayu di kawasan Taman Nasional. Ya masyarakat dengan sembunyi-sembunyi mengambil kayu dan rumput yang ada disana. Ya mau gimana lagi mas sampeyan tahu sendiri disini cuacanya sangat dingin. Jadi orang tidak akan tahan dengan cuaca seperti ini tanpa ada perapian yang bisa menghangatkan badan.

Berarti masih menggunakan kayu bakar dong pak?

Iya masyarakat disini masih mengambil kayu dari hutan akan tetapi sembunyi sembunyi supaya tidak ketahuan oleh PA (bahasa orang Ngadas untuk menyebut penjaga alam fihak taman Nasional). Kami dan seluruh penduduk desa sini masih mengambil kayu ini asalkan yang sudah kering ataupun yang ambruk. Itu sudah diusahakan dan dimintakan oleh pak petinggi kepada fihak taman Nasional beberapa bulan yang lalu. Tapi ada juga masyarakat yang masih menebang kayu yang masih basah. Atau jika mereka tidak mau membawa pulang dlam keadaan basah karena takut kalu ketahuan PA nanti bisa dihukum. Mereka menggaret kayu itu memutar supaya kayu itu pohonya meranggas dan kering sehingga bisa mati dan ketika kayu sudah mati kemudian mereka bawa pulang.

Bagaimana jika membuat arang pak kan kayunya harus basah dan keras?

Ya kebanyakan masyarakat di sini membuat arang dengan kayunya sendiri yang berada diladangnya masing-masing. Akn tetapi jika tidak mamiliki kayu ya pergi kehutan sana. Kebanyakan dari pembuat arang membakar kayunya ditempat yang jauh dari jalan dan sulit dijangkau oleh petugas PA.

Lantas dalam pembuatan arang kan akan mudah diketahui oleh fihak PA karena asapnya pak?

Tidak asap untuk pembakaran arang itu sangatlah kecil sehingga tidak mudah terlacak oleh fihak PA.

Bagaiman jika ketahuan PA pada saat masyarakat sedang melakukan penebangan pohon atau sedang membuat arang pak?

Oo.. itu! Kemungkinanya sangat kecil. Karena masyarakat memiliki cara-cara tersendiri supaya tidak diketahui oleh PA. doi desa ini ad seorang PA namanya pak Suyak, dia selalu mengabarkan kepada kami dan seluruh waga masyarakat sini jika mau ada operasi. Biasanya dia mengabarkan kepada masyarakat sehari sebelum ada operasi. Masyarakat diberitahu dan diingatkan aga tidak pergi kehutan mencari kayu atau berburu. Atau jika memang ketahuan PA pada saat masyarakat melakukan sesuatu yang dilarang itu, mereka oleh fihak PA hanya diperingatkan saja atau disuruh pulang. Kadang-kadang masyarakat lari dan bersembunyi di balik semak-semak.

Apakah PA tidak mengejarnya?

Mengejar tapi PA itu kan penakut dan dia tidak menguasai medan sehingga mereka tidsak tahu persembunyian masyarakat. Setelah petugas PA pergimasyarakat ya kembali lagi melakukan aktivitasnya. Wong itu sudah menjadi kebutuhanya setiap hari mas mau gimana lagi?
Mari diminum mas! Saking asyiknya mendengarkan cerita cerita pak boari kami sampai lupa kalau kopi kami sudah mulai dingin. Kami berusaha mengalihkan pembicaraan kami pada masalah kasada. Oya pak kasada itu kapan tepatnya? Dengar-dengar sudah dekat ya dari sekarang?

Kalau kasada itu ya tanggal 15 bulan kasada mas, tapi kalau bulan umumnya kami kurang tahu mas! Tapi kurang lebih mulai hari ini kurang 14 hari lagi mas yaa.. kira-kira tanggal 6 atau7 lah mas!
Pas yadnya kasada itu sebenarnya tanggal berapa sih pak!
Kalu acara sebenarnya tanggal 14 malam 15 kasada tapi sekarang sampai tanggal 16 kasada.yang tanggal 16 itu acaranya orang Jakarta (dinas pariwisata) yang hanya main-main saja dak tahu kenapa orang jakarta selalu datang terlambat pada saat kasada di bromo sana.sejak kapan acara di bromo mulai berubah sampai tanggal 16 itu pak?

Ya kurang lebih sekitar tahun 2000an lah saya agak lupa kok.
Lantas bagaimana tanggapan masyarakat tengger tentang tambahan hari itu pak?

Ya dak papa dibiarkan saj itu kan kegiatan pemerintah lagi pula tidak mengganggu kegiatan kami dalam melaksanakan kegiatan ritual kok. Itu kan kegiatan pemerintah untuk meningkatkan pariwisata di kawasan Bromo ini. Ya mau gimana lagi mas kita sebagai masyarakat kecil tidak pernah dilibatkan dengan urusan yang berhubungan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang seperti itu. Kita orang kecil yang dianggap bodoh dan tidak tahu menahu masalah itu.

Rupanya sore itu udsara bertambah dingin dan mentari sudah tidak mau lagi menampakan sinarnya. Punggungku terasa kaku kedinginan walaupun tubuh bagian depanku panas akibat terlalu dekat dengan api. Sementara pak Boari sesaat meminum kopi yang hampir dingin itu. Kemudian dia melanjutkan ceritanya. Mas kami sebenarnya mengharapkan bantuan dari orang-orang yang seperti sampeyan ini untk bisa mendengar dan dan menampung keluhan masyarakat desa ngadas sini. Pemerintah selama ini tuli mas! Mereka hanya memntingkan dirinya sendiri dan tidak pernah mau mendengarkan sakitnya penderitaan masyarakat kecil seperti saya ini mas. Maaf pak kami tidak bisa membantu sepenuhnya kami hanya bisa mendoakan agar masalah hutan ini bisa cepat terselesakan. Mari kita bersama-sama berdoa supaya yang diatas sana mendengarkan permintaan kita. Kita berharap agar hutan produksi itu bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat bukan untuk kepentingan komoditas semata. Supaya masyarakat disini bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan untuk berlangsungnya kehidupan masyarakat sampai pada anak cucu.

Hari mulai gelap kabut mulai menyelimuti desa kecil ini.pantatku sudah mulai panas setelah hampir 3 jam duduk di kursi kayu depan tungku dirumahnya pak boari. Jam di hapku menunjukan angka 3 kami mulai pamit undur diri dari rumah pak boari. Pandangan mataku mulai kabur saat kami keluar dari rumah pak boari.

Setelah kami keluar dari rumah pak boari kami kembali ke balai desa. Kami lihat rumah Mas Winanto masih tertutup rapat. Rupanya dia belum pulang dari kebun. Kami berdua sepakat untuk pergi kerumahnya Mas Gunanto yang rumahnya pindahan beberapa hari yang lalu. Kami mendapat informasi dari rudi. Seorang anak kecil yang sudah lulus SD tapi tidak melanjutkan ke paket B itu. Rumahnya di bawah sana lho mas! Sebelah kirinya pak carik. Ya wis terimakasih ya!

Kabut yang sudah menutupi pandangan mataku itu membuat kami harus berhati-hati dalam berjalan. Di pinggir-pinggir jalan banyak kami temui yang sedang asik istirahat setelah seharian berada di ladang. Mereka semuanya memakai sarung. Kami selalu menyapa kepada mereka. sesekali kami berpapasan dengan seseorang di jalan.tidak sampai 10 menit saya sudah sampai di rumahnya mbak Supriasih(istrinya mas gunarto). Disana saya tidak langsung bertemu dengan mas Gunarto karena dia belum pulang dari ngojek. Kami dipersilahkan duduk di depan tungku yang berukuran 1 x 0,5 meter itu. Hawa dingin memang tidak bisa kita hindari dan mba’ supriyasih rupanya sangat paham akan hal itu. Dia lansung memberikan kami 2 cangkir air panas dan menyuruh kami untuk meminumnya. Kami langsung saja memegang gelas yang berisi air panas itu untuk sekedar menghilangkan rasa dingin yang kian membuat tanganku kaku. Sambil sedikit meminum kopi yang ada di tanganku kami mulai bertanya-tanya seputar kasada. Kapan kasada itu dilaksanakan mba’ biasanya apa saja yang dilakukan warga masyarakat ketika kasada berlangsung? Kasada kalau menurut pak dukun ya tanggal 14 malam 15 kasada dan orang-orang akan melakukan ritual itu, dengan cara memberikan seluruh hasil tanaman kemudian disajikan ke kawah gunung Bromo. Apakah ritual kasada itu ada hubunganya dengan tanah mba’ tanyaku lirih. Ya ada mas hampir seluruh upacara yang adat disini ada hubunganya dengan tanah terlebih tanah tegalan itu. Kenapa bisa begitu mba’ ya karena kita semua menggantungkan diri pada tanah apapun yang berada di tanah yang kita makan kan? Dia menjawab sambil bertanya kepada kami. Kami menganggukan kepala.bagaimana kasada itu dilaksanakan mba’? biasanya 1 hari sebelum kasada dilaksanakan. Seluruh warga disini sudah mengumpulkan barang-barang sesaji hasil bumi seperti beras, pisang, kentang, jagung dan lain sebagainya. Lho mba’ beras itu kan bukan hasil bumi tengger kok itu yang dikorbankan kenapa mba’? dahulu dalam cerita yang sering kita kenal anak yang dimiliki dewi mutrim yang ke 25 meminta hasil bumi. Tapi saya juga kurang tahu kenapa kok jagung diganti dengan beras. Tapi yang jelas beras adalah hasil bumi yang juga terasuk diminta untuk dikorbankan di kawah Bromo. Kita hanya menjalankan kewajiban sebagai warga tengger yang masih patuh pada adat istiadat dan kebiasaan di tengger.

Mba’ priasih membesarkan api yang ada di depan kami dengan car menambahkan kayu yang ia ambil di belakang rumah. Kemudian dia menaruh wajan di ats tungku sebelah depan. Tidak lama kemudian dia menaruh minyak kelapa yang sudah membeku itu kedalam wajan. Setelah minyak mencair dia mulai mengambil tahu yang sudah diirisi segi empatdan memasukan ke dalam wajan. Kami hanya mengawasinya dan dan membantu memperbesar api agar cepat matang dan tubuhku yang sejak tadi kedinginan itu agar cepat hangat. Sesaat kami mulai bertanya lagi. Apa sih sebenarnya tujuan dari kasadaitu mba’? tujuanya adalah ntuk meminta keselamatan pada seluruh warga yang berada di lereng aTengger yang meliputi 4 kabupaten itu (lumajang, probolinggo, pasuruan dan malang). Apakah dalam upacara kasada itu menampingi tanahnya dengan sesaji yang dikurbankan disana Mba’? tidak dalam acara kasada masyarakat hanya menampingi gunung Bromo kemudian sesaji itu boleh dibawa pulang atau diberikan kepada orang lain yang ada disana. saja setelah itu mereka pulang ke desanya masing-masing. Kalau tampingan itu biasanya dilakukan pada saat kekerik pada saat pepak puser itu dia melakukan pada tanah yang meraka miliki dan memendam ari-ari bayi di dalam tanah. Walogoro juga melakukan tampingan, bahkan pada saat rabo lagi seperti yang dianut oleh budha jawa sanyata itu. Pokoknya seluruh upcara adat disini pasti melakukan tampingan kepada tanah, danyangan, sumber air dan tidak lupa pada tanah yang merupakan tumpuan hidup masyarakat disini. Berarti masyarakat disini sangat menghargai bumi dong mbak? Iya. Masyarakat disini tidak berani merusak alam. Karena ketika alam rusak maka alam akan marah pada manusia yang terjadi adalah bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan lain sebagainya.

Tak terasa kami ngobrol-ngobrol tahu yang tadi digoreng sudah masak dan sudah siap untu kihidangkan pada kami. Mas silahkan sarapan! Sampeyan pasti lapar setelah perjalanan dari bawah tadi. Ya mbak terimakasih, kami langsung melahap makanan yang dihidangkan ada telur, tahu yang dimasak tadi. Tak terasa 1 piring peuh sudah habis dan perutku yang dari tadi sudah keroncongan kini mulai terisi. Mbak Supriyasih adalah pimpinan pemudi-pemudi sanggar pamujan Budha jawa sunyata di Ngadas. Dia pernah dikirim ke Thailand selama 1 tahun untuk mendalami agama budha disana. Setelah kami selesai makan rupanya mas gunarto yang sejak tadi kai tunggu belum juga muncul. Kami terpaksa undur diri pulang keatas.

Setelah sampai di balai desa ngadas rupanya mas win belum juga datangsambil embershkan motor yang penuh debu itu kami menunggunya. Selang beberapa saat. Dari barat muncul 2 orang laki-laki dan perempuan. Laki-laki itu bertubuh kekar,tinggi semampai, berkumis tipis dan dipunggungnya terletak sebuah cangkul ditangan kananya membawa sabit. Dia memakai sepatu yang tinggi seperti sepatu yang digunakan tentatara setiap hari. Dia berjalan dengan lamban, sangat kelihatan kalau mereka kelelahan setelah bekerja seharian. Dibelakangnya tampak seorang perempuan yang bertubuh kecil dan berkulit sawo matang mengikuti langkah-langkah yang pasti. Dari kejauhan kelihatan dipunggungnya membawa sesuatu. Jalanya seperti onta sangat lamban dan membawa sesuatu di punggungnya. Mereka berdua tampak kelelahan, ini dapat dilihat dari cara mereka berjalan yang cenderung melayang-layang seperti orang mabuk. Setelah sampai didepan kami kira-kira 5 meter, mereka berdua baru tahu kalau kami datang.

Sore itu suasana sudah tertutup kabut dengan rapat. Kabut itu telah membuat udara semakin dingin merayap ke seluruh tubuhku. Mereka menyambut kami dengan hangat walaupun mereka sedang menggigil kedinginan. Kami berdua langsung dipersilahkan masuk. Kamar depan yang selalu menjadi tempat tidur kami ketika kami kesana ternya ta sudah siap. Kami lansung menuju kamar iru untuk meletakan barang-barangku. Kemudian kami langsung menuju tungku yang sudah membara. Tanpa di komando oleh mas Win istrinya langsung memberikan 3 gelas air hangat kepada kami. Setelah agak lama berada di depan tngku lalu kami makan malam. Kami makan bersama-sama sambil bercerita tentang keadan kami masing-masing. Disela-sela kami sedang asik makan tibatiba ada suara yang terdengar dari luar ruangan. Win……win…! Suara itu terdenganr keras sekali seolah membuat seisi rumah bergetar.

Kami langsung menghentikan aktivitas kami dan menyimak siapakah yang datang? Ternyata seorang laki-l;aki yang bertubuh kekar, berkumis tipis dan memakai jaklet berwarna merah itu adalah mas Gunarto yang tadi sore kami kerumahnya. Rupanya kami di jemput untuk diajak kerumahnya. Seusai makan selesai saya langsung diajak kerumahnya. Setelah sampai di sana kami langsung diputarkan vcd PMI tentang penanganan korban bencana di jogja beberapa saa yang lalu. Kami sebenarnya berniat pergi kerumahnya pak dukun malam itu. Tapi dicegah oleh mbak priasih karena sudah larut malam.inikan sudah larut malam pak dukun paling juga sudah istirahat. Besok p[agi ja jam 9 sampeyan pergi kesitu. Dia biasanya pergi ke kebun pagi-pagi dan pulangnya juga pagi. Iya mbak jawabku. Lagi pula memang hawa dingin sudah tidak mungkin lagi kami terjang seolah tubuh kami terasa kaku etertundukan oleh suasana Ngadas malam itu. Selang beberapa waktu kemudian Bujumiati datang dan mengharapkan agar kami tidur dirumahnya. Rumahnya bersebelahan dengan rumah mas gun dan pak carik. Perempuan setengah baya itu mengajak kami kerumahnya. Sesampai kami disana saya dipersilahkan duduk di depan tngku yang sejak dari tadi kelihatan memerah. Kami di san bertemu dengan suaminya bu jumiati yang sedang asik di depan tungku. Kami ngobrol tentang sesuatu yang kmai butuhkan. Tanahnya kok luas bu ? iya mas yang ini rumah saya yang dulu sementaa ynag depan itu rumah kami yang baru. Disini selalu begitu mas! Maksudnya gimana bu? Setiap keluarga selalu membagi tanhnya kepada anak-anaknya. Oo jadi begitu ya bu tapi bagainana dengan orang yang tidak memilki anak bu? Bagi yang tidak memiliki anak tanahnya diberikan kepada orang yang mengasuhnya dikala tua nanti. Tanahnya sekarang ditanami apa bu? Tanyaku lirih. Ya sebagian ditanami kentang dan sebagian lain ditanami oleh bawang pre dan ada yang kami tanamio jagung. Itu kan tanaman baru bu apakah tidak rentan dengan penyakit misalnya serangga dan hama semisal wereng? Karena sekarang ini petani sedang diuji oleh alam ulat dan hama sangatlah banyak. Tapi biarkan saja mas mereka membantu memakan tanaman kami kok mas!apakah tidak pernah dikasih obat bu? Ya pernah mas bahkan kami rutin mengkompres setiap seminggu sekali ketika musim kemarau seperti ini. Tapi kalau musim penghujan bisa 2 hari sekali. Hal ini dilakukan karena kabut putih yang terjadi di musim penghujan itu membawa penyakit pada tananman. Apa tidak rgi bu jika menggunakan obat-obat kimia yang harganya berada diatas rata-rata itu bu! Ya seperti itu lah mas namanya juga petani kalau tidak untung ya rugi. Tapi kalau dilihat dan dihitung kami masih rugi. Tapi kadangkala kami mengalami keuntungan yang sangat besar. Monopoli yang dimainkan oleh pasar menggeser posisi kami.
Harga pasar sangant mrempengaruhi untung atau rugi kami. Bu tanahnya disini seluruh ngadas lahan pertanianya berada di dalam kemiringan yang sangat curam bu, Apakah masyarakat memiliki strategi yang sangat jitu untuk menanggulangi tanah longsor dan banjir Bu? Ya masyarakat selalu membuat terasring untuk menjaga keberadaan tanah. Untuk menjaga agar keasaman tanah tetap terjaga adqlah dengan cara menanami rumputan pada lahan itu. Meraka juga selalu di kebunya memiliki tanaman penyangga untuk mencegah adanya tanah lonmgsor. Untuk menahan air supaya mudah meresap dan tidak terjadi kebanjiran, masyarakat memiliki tumbuhan penyangga. Seperti cemara dan akasia. Memang biasanya gejala alam itu tidak mudah diduga. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha agar perusakan terhadap lingkungan bisa dihindari lagi. Maaf bu sudah larut malam kami harus pulang dulu karena kami belum pamit sama mas win nanti kita takut kalau dicari nanti.

Edi Purwanto

Ngadas Selasa, 22 agustus 2006

8 Tanggapan to “Tengger Nasibmu Kini”

  1. wahyukresna said

    wah rindu main kesana lagi., sayangnya dulu gak mampir ke tengger, cuman naek semeru aja… T_T

  2. Yach lain waktu masih bisa dikunjungi lagi koq mas!
    masih banyak tema yang bisa diperdebatkan masalah Tengger dalam arus perubahan sosial dan modernitas. Adat istiadat yang senantiasa dipertaruhkan untuk melakukan pertahanan identitas sebagai komunitas tengger.

  3. adrozenahmad said

    Ed.. ketoke sing luwih tutuk filsafate ki kowe..🙂🙂 Kowe kenal Slamet Tohari to?? Sing jenenge Slamet Tohari ki ra usah dipercoyo, nggugu dekne ora ono gawene.. hahahahaha… ayo gek ngamen meneh..🙂

  4. wakakak!
    Ayo kita bernostalgia lagi dengan mengamen!
    Hanya sekedar untuk hiburan atau sekedar mencukupi uang rokok.😀

  5. Opo meneh, kowe Zen… po iso digugu. hhahahahah, Amex

  6. wakakak!
    Tunggal guru ora usah podho ganggu!
    Jaga nama baik almamater kalian ya!

  7. kuc said

    Koyoke nek digae bulan madu enak ndek tengger….

  8. rasanya mak nyus mbang uenak tenan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: