Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Pengetahuan, Kekuasaan dan Produksi Wacana

Posted by Edi Purwanto pada Juli 25, 2008

Oleh : Edi Purwanto

Mungkin kita rancu dengan paradigma yang seringkali kita gunakan dalam gerakan kita. Kita masih terbuai mimpi-mimpi tentang keseimbangan, keselarasan harmonisasi ataupun paradigma yang seringkali memberikan alternatif jawaban pada equality antara rakyat dan negara, intelektual dengan anitntelektual, maju dan terbelakang. Jangan salah memahami bawa pada praktiknya pola relasi antara central dan ordinat ini datang dengan tiba-tiba. Binary oposition ini diproduksi oleh sekelompok tertentu yang ingin melanggengkan kekuasanya. Proyek demokratisasi, civil society dan developmentalisme ataupun proyek pluralisme dan multikultural selalu diproduksi oleh orang yang memiliki akses kekuasaan dan para pemilik modal. Perlu difahami bahwa proyek itu selalu dikembangkan dan disebarkan melalui pewacanaan. Politik pewacanaan inilah yang seringkali luput dari bacaan para aktivis gerakan sosial. Bagaimana wacana itu diproduksi? siapa yang mempruduksi wacana itu? dan apa efek dari wacana? Itulah yang mencoba saya derivasi dari makalah saya ini.

Untuk lebih jelasnya tentang hal ini sebelumnya kita perlu menegaskan perbedaan antara teks dan wacana. Hal ini saya kemukakan karena orang seringkali memberikan pengertian yang sama antara keduanya. Perlu diketahui wacana berkembang berada dalam wilayah ketidaksadaran kita. Kita tidak pernah merasakan kalau wacana ini dan itu sudah menjadi paradigma kita. Hampir sama sekali tidak pernah kita merasakanya. Wacana bergerak menuju kognitif kita dengan tanpa adanya sebuah persetujuan dari kita. Dengan sendirinya kita akan meregulasi wacana yang baru kemudian menjadikan itu sebagai paradigma kita. Dengan demikian kita dengan sendirinya akan medisiplinkan tubuh kita sesuai dengan diskursus yang berkembang.

Berbeda halnya dengan teks, teks adalah perangkat yang paling efisien untuk menyebarkan wacana. Teks adalah penyederhanaan atas realitas yang seringkali lepas dari konteksnya. Tapi kalau kita mau melihat secara lebih mendalam, kita akan mengetahui bahwasanya teks memiliki kekuatan yang cukup dahsyat untuk memberikan proposisi terhadap kelompok yang mana yang berkepentingan. Realitas itu selalu dikemas dengan kata-kata. Dengan pembacaan teks secara serius kita akan menemukan ketimpangan yang ada pada teks. Baik itu secara diksi maupun secara sruktur kalimatnya.

Misalnya dalam teks berita kita bisa membaca. ………pekerja seks komersial yang berada dialun-alun kota Surabaya tadi malam digaruk oleh polisi…… dari sekilas berita yang disampaikan ini kita bisa menganalisis. Dari pilihan kata digaruk dan PSK, kenapa seorang wartawan menulis dengan bahasa menggaruk bukan dengan ditangkap ataupun diamankan, atau didisiplinkan. Hal ini terlihat bahwa sebenarnya yang ingin dipaparkan oleh wartawan adalah treatment atas PSK yang amoral, tidak beradab, dan harus dijauhi.

Kemudian kata yang kedua PSK. Mengapa wartawan tidak menulisnya dengan kupu-kupu malam atau perempuan penghibur atau bahasa lain yang memiliki kesamaan sinonim? Dengan memilih diksi PSK, diskursus yang berkembang di kepala kita melalui moralitas yang kita pahami adalah perempuan yang bengal, perempuan yang pekerjaanya menjual harga diri dan sebagainya. Dengan demikian akan memberikan kontribusi kepada pembaca untuk sama-sama menghakimi perempuan malam ini sebagai sesuatu yang salah, amoral, dan tidak disiplin dan dianggap menjadi sampah masyarakat.

Dengan demikian kita bisa memberikan kesimpulan bahwasanya bahasa yang tertulis dalam bentuk teks selalu menyimpan kuasa. Kuasa atas teks inilah yang kemudian menjadi diskursus diruang kognitif kita. Bahasa selalu membentuk dan merangkai realitas dalam bentuk teks. Teks selalu mendistorsi realitas, oleh karena itu teks selalu menyimpan diskursus tertentu. Dengan teks ini ketimpangan diproduksi dan disebunyikan. Dengan struktur kalimat tertentu proyek peminggira dan pendiskriminasian disebarkan dan dijaga keberadaanya.

Kuasa dan Produksi  Pengetahuan

Tidak ada kekuasaan tanpa wacana dan tidak ada wacana tanpa adanya kekuasaan. Itulah magnum opus yang disuarakan oleh Foucoult dalam bukunya Power of Knowlegde. Ini berarti bahwa wacana selalu bekerja melewati jaringan kuasa. Wacana selalu terakumulasi melewati pengetahuan dan pengetahuan selalu punya efek terhadap kuasa. Penyelenggara kekuasaan selalu memproduksi pengetahuan sebagai basis dari kekuasaanya. Hampir tidak mungkin kekuasaan tanpa ditopang oleh suatu politik kebenaran. Pengetahuan tidak merupakan pengungkapan samar-samar akan tetapi justru pengetahuan itu berada dalam relasi-relasi kuasa itu.

Untuk menganalisis kekuasaan diperlukan penelitian mengenai produksi pengetahuan yang melandasi kekusasaan. Tanpa itu kita tidak akan mampu melihat kontruksi kekuasaan. Perlu dipahami bahwasanya kekuasaan itu disusun, dimapankan dan diwujudkan lewat pengetahuan dan wacana tertentu. Wacana tertentu ini akan menghasilkan kebenaran dan kebenaran inilah yang menjadi legitimasi bagi fihak-fihak yang berkepentingan dalam hal ini adalah kuasa itu sendiri. Hal ini dilakukan semata-mata hanya untuk mengukuhkan eksistensinya.

Kebenaran selalu direproduksi melalui kekuasaan. Perlu diketahui kebenaran itu tidaklah datang dari langit akan tetapi kebenaran itu dibuat. Setiap kekuasan selalu menghasilkan kebenaran sendiri. Artinya setiap kekuasaan senantiasa berpretensi menghasilkan rezim kebenaran tertentu yang disebarkan lewat wacana dan dibentuk oleh kuasa tertentu. Kuasa bekerja melalui normalisasi dan regulasi. Dalam hal ini publik tidak dikontrol lewat kekuasaan yang sifatnya fisik akan tetapi dikontrol, diatur dan disiplinkan lewat wacana. Jadi masyarakat tidak ditundukan dengan menggunakan kontrol yang sifatnya langsung dan represif serta hukuman fisik akan tetapi dengan menggunakan wacana. Mekanisme  pendisiplinan itu dengan menggunakan prosedur, aturan, tata cara dll.

Wacana selalu membagi realitas menjadi 2 pilihan yang selalu oposisional. Antara penguasa dan yang dikuasai, antara benar dan salah antara superior dan inferior dan sebagainya. Karena wacana selalu memiliki korelasi dengan kekuasaan maka kekuasaan selalu memberikan pilihan terhadap wacana tertentu, sehingga wacana tersebut menjadi dominan. Hal ini megakibatkan wacana yang lainya menjadi terpinggirkan. Ada 2 konsekuensi dari wacana dominan tersebut. Pertama, wacana dominan memberikan arahan bagaimana suatu obyek harus dibaca dan difahami. Sehingga tidak memberikan kesempatan bagi kita untuk berfikir tentang yang lain, kecuali harus bergelut dengan wacana dominan yang harus dikonsumsi. Kedua, struktur diskursif yang tercipta atas objek tidaklah berarti kebenaran yang mutlak akan tetapi justru selalu mereproduksi ruang kosong yang tidak pernah bisa terbaca oleh subyek. Sehingga mengakibatkan wacana yang lainya terpinggirkan.

Discursif Practice

Dalam analisis wacana sebenarnya yang dilihat bukanlah apa yang sebenarnya terjadi akan tetapi apa yang ada dibalik kejadian itu, dan kenapa peristiwa itu terjadi? Analisis wacana sebenarnya ingin melihat tentang bagaimana setiap kelompok tertama yang memiliki akses kekuasaan mempruduksi kebenaran atas suatu wacana. Produksi wacana itu dia sebarkan dengan melalui organ dan institusi yang mereka miliki. Analisis wacana hadir dalam rangka untuk mempelajari bagaimana kekuasaan itu disalah gunakan, atau didominasi dan ketidakadilan itu dijalankan dan direproduksi melalui teks.

Institusi pewacanaan adalah seperangkat infra struktur untuk mendesiminasikan wacana. Institusi itu bisa berupa pendidikan, NGO, lembaga agama, ormas, media massa dan elektronik serta institusi lainya baik itu yang ada hubunganya dengan negra maupun yang memiliki Funding dari luar negeri. Institusi ini hanya sebagai mediasi untuk mengembangkan proyek pewacanaan dalam bingkai idiologi tertentu.

Misalnya saja proyek pluralisme dan multikultural yang hari ini banyak dibicarakan dalam berbagai seminar dan kolokium. Kita bisa melihat berapa banyak teks dalam bentuk buku yang mengulas tentang multikultural mulai dari paradigma penelitian sosial, pendidikan multikultural sampai pada fiqh yang bernuansa pluralisme. Pertama-tama bagaimana pluralisme itu harus dibaca dan difahami.

Proyek pluralisme ini melibatkan hampir semua institusi. Lewat sekolah-sekolah dan institusi pendidikan dikembangkan kurikulum berbasis multikultural. lewat NGO juga dikembangkan wacana tentang pluralisme, media masa juga mendeklarasikan pluralisme dan multikultural. Hampir semua kelompok lokal dan nasional bisa kita temukan tentang diskursif multikulturalisme ini. Bahkan orang-orang islam yang merasa dirinya liberal dan memiliki faham pluralisme berlomba-lomba mencari tafsir tentang pluralisme ini. Dengan cara mencari legitimasi hukum Al-Qur’an sebagai jaminanya.

Desiminasi gagasan yang seperti ini akan mendikte kita untuk berfikir ala pluralisme dan multikultural. Dengan demikian akan semakin terlihat siapa yang paling pluralisme pasti akan berkuasa. Itulah praktik diskursus kekuasaan. Dari paradigma pluralisme dan multikultural ini sebenarnya apa yang ingin di pinggirkan? Pertama pluralisme menolak univesalisme yang berkembang. Bahwasanya masyarakat indonesia memiliki faham yang sangat plural dan majmuk sehingga tidak boleh seragam. Faham fundamentalisme misalnya yang memiliki faham universalisme agama menjadi terpinggirkan dan terstigma jelek dalam pandangan kita. Kedua, Faham multikulturalisme seperti yang sudah saya singgung diatas tentang praktik pewacanaan, yaitu menyisakan 2 oposisi tentang mana yang pluralisme dan mana yang non pluralisme. Yang pluralisme harus diwacanakan sementara yang nonpluralisme harus dihilangkan. Dengan demikian akan semakin terlihat kebenaran pluralisme sebagai posisi yang meanstream dan harus menjadi kesadaran komunal.

Ketiga, dengan praktik pewacanaan yang dikembangkan oleh paradigma pluralisme memaksa masyarakat indonesia keseluruhan untuk memiliki paradigma yang seragam yaitu faham pluralisme. Keempat, ketika paham pluralisme ini diregulasi terus menerus baik itu oleh institusi pendidikan maupun para intelektual muda maka akan menjadi idiologi baru yaitu idiologi pluralisme. Dengan demikian akan semakin terlihat proyek pluralisme menjadi meanstrim dalam setiap gerakan sosial.

Jika demikian halnya lantas apa bedanya faham pluralisme dengan faham developmentalisme yang menghendaki keseragaman dalam berfikir dan berbudaya? Apa bedanya pula dengan civil society yang memiliki anggapan bahwasanya lokal bisa berbicara sendiri? Pluralisme dan faham sebelumnya hanyalah segebok proyek kaum elit untuk merubah kondisi masyarakat Indonesia. Tidak lebih dari kepentingan sekelompok kecil untuk menguasai mayoritas. Ada kepentingan tersendiri dalam proyek pluralisme yaitu kepentingan untuk menguasai yang lain.

Wacana Sebagai Alternatif Gerakan

Seperti yang saya sebutkan diatas bahwasanya kondisi sosial kita selalu dibentuk melalui diskursif yang diregulasi melalui normalisasi dan seperangkat aturan. Normalisasi dan aturan itu selalu diproduksi oleh pihak-pihak yang memiliki aset kuasa. Aset kuasa selalu mengembangkan dan menyebarkan kepentingannya lewat diskursif pengetahuan. Kita sudah hampir tidak memiliki paradigma lain untuk melakukan gerakan kecuali melalui teks. Kuasa itu selalu menyembunyikan dirinya dalam teks, untuk mengerti proses kuasa dan relasi kasa yang ada dalam sebuah teks kita harus membaca dibalik teks. Maksudnya kita haris mengetahui diksi, pola relasi dan struktur kalimatnya. Juga tidak ketinggalan tentang kepentingan teks itu diproduksi dan dideseminasikan.

Kalau segala bentuk kontruksi sosial itu dibentuk dengan menggunakan politik diskursif (politik pewacanaan), maka yang harus kita lakukan adalah membongkar seluruh diskursif yang membentuk kesadaran kita yang hilang. Kita harus melacak diskursif yang berkembang kemudian mencari relasi kuasa yang terdapat didalamnya. Dengan melacak relasi kuasa yang ada didalamnya kita akan mengetahui ketimpangan yang terjadi pada diskursif yang sedang berkembang.

Bentuk diskursif itu selalu diimplementasikan dalam teks sehingga kita harus menganalisis sekian banyak teks yang ada. Praktik kekuasaan selalu di diusung dengan menggunakan teks. Media masa merupakan salah satu alat yang sangat penting untuk menyebarkan diskursus tertentu. Dengan menganalisa dan menyusuri dari berbagai teks yang diproduksi pada zamanya, kita akan tahu praksis pewacanaan dan kepentingan serta aspek kuasa yang tersimpan dalam sebuah teks. Saya fikir perlawanan yang harus kita lakukan hari ini adalah perlawanan dengan menggunakan teks. Kita harus terus menelanjangi praktik diskursif yang diproduksi oleh para penguasa. Wallalahu ‘Alam Bishowab.

5 Tanggapan to “Pengetahuan, Kekuasaan dan Produksi Wacana”

  1. Saiful said

    oposisi biner? Wah, ayo diskusi …

  2. ha….ha…
    Oposisi biner ini memang sering menjangkiti para intelektual kita. Kungkungan biner yang selama ini ada di kesadaran kita memang harus kita telanjangi dahulu…

  3. tokyostargirl said

    Thank you! Sorry – I wish I could read your blog!

  4. Edi Psw said

    Met idul fitri ya, Mas.
    Mohon maaf lahir & batin.

  5. subhan said

    salam kenal pak edi,
    maaf lahir bathin,
    tulisannya banyak bahasa langit nya.
    hehhe…
    main2x donk kesini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: