Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Puasa Harus Difahami Substansinya

Posted by Edi Purwanto pada September 2, 2008

Puasa Romadlon selama ini masih dipahami kulitnya saja. Akhir-akhir ini banyak orang berpuasa yang puasanya tidak memberikan pengaruh apa pun. Mereka hanya merasakan haus dan lapar, tetapi sikap dan perilaku mereka tidak mengalami perubahan sedikit pun. Mereka berpuasa, namun tetap melakukan kejahatan dan hal-hal munkarat lain, seperti korupsi, dan tidak peduli atas penderitaan orang lain.

Romadlon selama ini masih dipahami sebagian besar umat Islam sebagai ritual belaka. Banyak orang berduyun-duyun secara bersama-sama untuk melakukan ritual yang sangat istimewa ini. Kita bisa melihat aktivitas orang Islam yang sangat padat. Mulai dari pagi hari hinggga sore hari mereka berpuasa. Malam harinya masih ditambah lagi dengan ibadah sholat tarawih belum lagi malamnya dengan qiyamullail. Begitu indah memang bulan Romadlon itu. Tidak ada waktu sedikitpun yang terlewatkan kecuali untuk beribadah.

Akan tetapi amat disayangkan bahwa setelah lebaran tiba, orang menganggapnya bahwa ibadah puasa telah selesai dan lebaran berarti merayakan kemenangan setelah dirinya selama satu bulan penuh melakukan puasa. Sementara nilai-nilai dan perilaku yang benar-benar terjaga selama bulan Romadlon hilang begitu saja. Kalau demikian halnya maka ini merupakan perbuatan yang merugi.

Sangat disanyangkan jika semangat nilai-nilai yang ada pada bulan Romadlon hanya berakhir setelah hari raya tiba. Kemudian setelah selain bualan Romadlon umat Islam kembali lagi pada perilaku-perilaku yang selama ini mereka lakukan. Nilai-nilai pembelajaran pada saat bulan Romadlon tidak teraplikasikan sama sekali pada hidup yang sesungguhnya. Kalau seperti ini halnya maka boleh dikatakan bahwa puasanya belum berhasil. Kalau berhasil kita bisa melihat indikatornya lewat perubahan amal dan perbuatannya.

Selama ini orang memahami ibadah puasa hanya sebatas kulitnya saja. Sehingga puasa hanya dianggap sebagai ritual belaka. Atau dengan bahasa lain puasa Romadlon sekedar gugur kewajiban. Apapun yang menjadi tujuan dari puasa tidak mengena pada intinya. Wajar jika orang hanya lapar-lapar saja akan tetapi tidak ada manfaatnya sama sekali.

Secara umum puasa itu ada beberapa kategori Pertama, puasa am, yakni puasa yang dilakukan sebatas menahan diri dari makan, minum, dan seks. Kedua, puasa khash, yakni puasa yang dilakukan selain dengan menahan diri dari ketiga hal pertama itu juga dengan menjaga penglihatan, pendengaran, dan ucapan yang berbau maksiat. Ketiga, puasa khawasul khawas, yakni puasa yang dilakukan bukan saja menahan diri dari ketiga hal pertama dan kedua, tetapi diikuti dengan menjaga suasana hati atau batin dari hal-hal yang rendah, berorientasi materialis, dan berbagai kecenderungan hati yang destruktif-anarkis.

Selain masalah di atas, masih banyak orang yang belum bisa menghargai orang yang sedang berpuasa. Banyak pula orang yang tidak melakukan ibadah puasa. Sebenarnya ini merupakan tugas dari para ulama’ untuk mendakwahkan tentang arti pentingnya berpuasa. Sehingga apa yang menjadi inti dari puasa ini terlampaui. Hal ini kita lihat dalam keseharian kita. Banyak hal yang dilanggar oleh manusia ini.

Agar puasa tidak terjebak pada ritual belaka, maka umat Islam harus belajar untuk memahami arti dan pentingnya puasa. Dengan memahaminya maka kita akan mampu mengaplikasikan saat-saat bualan Romadlon pada bulan-bulan selain Romadlon.

Para ulama’ juga memiliki tugas yang sangat berat untuk bisa keluar dari masalah ini. Mereka tidak hanya berdakwah tentang kebaikan sementara mental dan perilaku mereka bobrok. Juga tidak sekedar membuat
Sebenarnya umat itu harus didakwai melalui perbuatan. Jadi tidak sebatas pada perkataan saja. Karena kalau perilakunya baik maka sudah pasti bisa ditentukan bahwa orang yang melakukan itu juga baik.
Kita semua sebagai orang Islam yang juga memiliki tanggung jawab untuk menegakkan perintah tuhan ini tidak akan pernah bosan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga, kerabat dan teman-teman dekat kita untuk senantiasa melakukan perintah Allah.

Ada banyak hal yang bisa kita ambil sebagai proses pembelajaran dalam berpuasa diantaranya sebagai berikut. Pertama, puasa Romadlon mendidik orang untuk berperilaku jujur dan takut terlebih kepada Allah. Karena di dalam puasa itu tidak ada orang yang mengawasinya kecuali hanya Allah. Dalam kondisi bagaimanapun orang tetap berusaha untuk menahan diri dari makanan dan minuman yang bisa membatalkan puasa. Hal seperti ini semata-mata hanya menjalankan perintah Allah.

Kedua, puasa mendidik orang untuk bisa mengendalikan syahwatnya untuk berperilaku pada hal-hal yang memang dilarang oleh agama.

Ketiga, melatih diri bersifat kasih sayang. Hal ini mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan sosial seperti memberikan sedekah kepada fakir miskin, memberi bantuan kepada orang-orang yang tertimpa bencana. Karena itu, setiap individu harus menjadikan orang lain tidak ubahnya diri sendiri dan harus diperlakukan seperti itu. Artinya, jika orang lain merasa tidak betah hidup dalam penderitaan, maka setiap Muslim seharusnya mampu berimpati, dan mencari solusi sistematis untuk melepaskan orang-orang yang menderita itu dari jeratan penderitaan

Keempat, puasa mendidik kita untuk memupuk rasa cinta kepada keadilan, dan persamaan derajat manusia dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Pada saat puasa Romadlon, nampak sekali persamaan antara orang-orang kaya dengan fakir miskin, antara penguasa dengan rakyat jelata, di dalam melaksanakan kewajiban agama.

Kelima, membiasakan umat untuk hidup teratur dan menghindari sifat sombong dan iri hati. Puasa memang bukan ide sosial untuk menyelesaikan proses dehumanisasi atau ketersingkiran sosial seperti itu. Tetapi, jika ritus atau ibadah puasa dapat menggugah kesadaran iman yang bersifat self-reflexive, sehingga ideologi kefitrian yang diberikan kepada setiap orang dapat muncul sebagai kepekaan kolektif, barangkali barulah hikmah puasa itu akan mengalir menjadi perubahan sejarah dan bukan berhenti pada semangat mencari pahala untuk pemenuhan fiqihnya saja.

Sebenarnya puasa merupakan upaya refleksi total terhadap seluruh sikap, perilaku, dan atau aktivitas diri orang yang melakukan ibadah itu. Kewajiban untuk menahan diri bukan hanya terhadap segala hal yang dilarang, tetapi juga terhadap sebagian hal yang pada hari-hari biasa (di luar bulan puasa) dibolehkan. Hal ini menjadi bukti jelas tentang keharusan umat Islam untuk melakukan transformasi diri mereka secara menyeluruh.

Melalui pengendalian diri, mereka diharapkan dapat mengasah nurani sehingga spiritualitas mereka memiliki ketajaman.

Ini semua membuat kita bertanya-tanya: apakah ritus puasa yang sesungguhnya secara simbolis sebagai ungkapan pemihakan terhadap mereka yang menderita, yang lapar, dan yang tersingkir masih memiliki substansi keberagamaan yang secara moralitas peka terhadap proses marjinalisasi sosial seperti itu?
Karena itu, puasa dan berbagai aktivitas di dalamnya, seperti salat tarawih, tadarus Alquran, pesantren kilat, dan sebagainya, jangan dijadikan sebagai tren. Puasa adalah untuk mencari rida Allah swt. Rida Allah bisa diperoleh bukan hanya melalui ibadah ritual, melainkan juga ibadah sosial. Artinya, bahwa yang menjadi orientasi utama dari ritualisme Islam adalah, di samping pembentukan kesalehan individual, juga terbentuknya kesalehan sosial.

Akhirnya, marilah kita jadikan bulan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk berbenah diri, introspeksi, cooling down, berkontemplasi, dan merefleksi diri baik sebagai individu yang nyata-nyata dla’if (lemah) di hadapan Tuhan maupun sebagai bangsa yang kini sedang bertaruh atas masa depannya. Aktualisasinya antara lain dengan berani mengadakan reformasi ke arah perbaikan sistem politik, ekonomi, hukum, dan moralitas, sambil membabat habis benalu korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kekerasan politik, aksi terorisme, pelanggaran HAM, dan lebih-lebih kemunafikan diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: