Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Pergeseran Makna Ramadhan

Posted by Edi Purwanto pada September 22, 2008

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan masih dianggap sebagai bulan yang penuh berkah bagi banyak orang. Boleh dikatakan bahwa Ramadhan selain bulan turunnya Al-Qur’an juga merupakan bulan penebus dosa dan berlimpahnya pahala. Segala aktivitas kita sehari-hari dianggap sebagai nilai ibadah. Kalau sholat, i’tikaf, tarowih, membaca Al Qur’an dan ibadah sunah lainnya memang jelas-jelas terhitung ibadah. Pada bulan ini tidur saja sudah dihitung sebagai ibadah. Alangkah indahnya Ramadhan itu.

Dalam rangka menyambut bulan yang penuh rahmat ini, ada Berbagai macam cara orang mengekspresikan euforia Ramadhan. Barangkali memang masih ada orang yang menyambut Ramadhan dengan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Akan tetapi tidak sedikit orang yang justru mengambil keuntungan materi dari bulan Ramadhan.

Suasana Ramadhan memang seolah menyulap banyak hal. Industri pertelevisian yang awalnya banyak menyajikan acara-acara yang kurang senonoh, kini berubah menjadi serba religi. Beberapa liputan Infotaiment banyak memberitakan para artis yang sebelumnya tidak pernah mengenal jilbab, rame-rame menggunakan jilbab pada bulan Ramadhan. Walaupun demikian, toh kenyataannya tayangan-tayangan itu sudah menjadi nafas buat masyarakat. Sehingga jangan heran jika masyarakat ketagihan untuk mengkonsumsi tayangan-tayangan itu.

Belum lagi acara-acara opera yang menghiasi hampir di seluruh televisi pada saat buka puasa dan sahur. Tanpa terasa bahwa acara-acara semacam ini menggeser spiritualitas masyarakat muslim. Pada awalnya masyarakat menghabiskan sepertiga malamnya untuk melakukan solat malam, kini hanya digunakan untuk menonton hiburan sahur. Spiritualitas masyarakat memang benar-benar berubah.

Selain Industri pertelevisian, Ramadhan rupanya juga merangsang pemerintah daerah untuk menertibkan tempat-tempat yang dianggap bisa menimbulkan maksiat. Sweeping ini dilakukan dengan tujuan semata-mata untuk menghormati datangnya Ramadhan. Tidak mengherankan jika beberapa perda ini menjadi angin segar ormas-ormas yang getol membasmi kemungkaran.

Tentunya kesempatan seperti ini tidak akan disia-siakan begitu saja oleh kelompok yang menamakan dirinya sebagai pembela Islam. Mereka justru menunjukan kekuatannya untuk senantiasa berkeliling mencari tempat-tempat maksiat. Tidak jelas maksud mereka berkeliling itu apa dan untuk siapa. Asalkan mereka menemukan kemaksiatan, maka yang harus dilakukan adalah membubarkannya. Tidak jarang operasi yang dilakukan berbuntut pada kekerasa. Akan tetapi lucunya mereka senantiasa berkelakar bahwa yang dilakukan adalah semata-mata perintah Tuhan.

Para politisi juga tidak mau ketinggalan. Rupanya mereka memang sudah mengkalkulasi bahwa cost politik pada bulan Ramadhan kecil bahkan bisa dikatakan gratis. Masyarakat yang senantiasa berkumpul dalam forum-forum keagamaan membuat para kandidat ini musah merasukinya. Majelis-majelis ta’lim dan zikir senantiasa menjadi sasaran untuk mempromosikan dirinya. Entah itu untuk pemilihan kepala daerah, Gubernur ataupun pilihan legislative. Mereka berpura-pura baik kepada masyarakat, bersifat ramah, dekat dengan masyarakat kecil, santun dan bijaksana.

Bahkan tidak jarang para calon pejabat pemerintah itu mengobral janji. Seolah-olah apa yang dilakukannya adalah semata-mata untuk kepentingan rakyat kecil. Dalam praktiknya, selama ini belum ada politisi yang benar-benar mengabdi kepada rakyat. Justru yang ada adalah mengabdi kepada partainya masing-masing atau kepada para pengusaha yang sudah membiayai kampanye. Setelah terpilih, mereka sama sekali lupa dengan masyarakat. Posisinya dengan masyarakat juga semakin determinan.

Itulah hingar-bingar Ramadhan yang saya rasakan hari ini. Nilai spiritual Ramadhan sudah mulai hilang. Spirit untuk membangkitkan ketakwaan kepada Allah telah digantikan dengan tontonan-tontonan televisi. Majelis-majelis ta’lim yang seharusnya menjadi ajang silaturrahmi dan beribadah untuk meningkatkan ketaqwaan berubah menjadi tempat untuk konsolidasi politik. Sedangkan kesempatan untuk saling menghormati dan merasakan penderitaan orang lain berubah menjadi saling menyalahkan.

Seyogyanya memang puasa bisa mendidik orang untuk menjadi taqwa. Al-Qur’an menyebutkan bahwa produk akhir ibadah puasa adalah manusia-manusia bertakwa (QS 2: 183). Transformasi dan reformasi seseorang ke dalam bentuk pribadi muttaqin merupakan proses metamorfosis spiritual. Predikat muttaqin merupakan prestasi yang tidak terikat oleh materi dan pernik-pernik kemegahan duniawi yang semu. Karena, para muttaqin mendasarkan kehidupannya hanya kepada keridaan Tuhan.

Taqwa bisa kita lihat dalam dua muka yaitu taqwa secara vertikal maupun horizontal. Taqwa secara vertical ini merupakan ketaqwaan seorang hamba kepada Allah. Keberadaannya tidak bisa diukur oleh siapapun kecuali seorang hamba dengan Allah sendiri. Sedangkan ketaqwaan horizontal bisa kita maknai sebagai ketaqwaan sosial. Ketaqwaan ini menuntut orang untuk bisa menghayati, menghargai dan menghormati orang lain serta peduli terhadap lingkungan sosial.

Apa yang hendak di banggakan dalam Ramadhan ketika kita masih mementingkan kegiatan-kegiatan yang bersifat keduniaan itu? Apakah Ramadhan hanya berkisar pada hal-hal yang bersifat ritual tahunan belaka?

Wallahu’alam.

Saxofone, 57 Malang

20 September 2008

Edi Purwanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: