Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Sumpah Pemuda Harus Difahami Dalam Konteks Zamannya

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 28, 2008

pict0095

Hari ini tepat 80 tahun Sumpah pemuda didentumkan. para pemuda di seluruh pelosok nusantara ini rame-rame merayakannya. namun masihkah semangat perjuangannya seperti para pemuda dikala membeberkan sumpahnya pada saat itu?

Pemuda Indonesia sekarang sedang loyo. Beberapa organ kepemudaan hanya dijadikan organ taktis oleh beberapa elit politik. Kenapa fenomena seperti ini terjadi dan apa yang harus dilakukan organisasi pemuda untuk keluar dari lingkaran setan ini?

Spirit kepemudaan di Indonesia hari ini memang sedang loyo. Jiwa-jiwa pemuda yang tangguh, idealis, ulet dan berani mengatakan kebenaran sekarang sudah mulai sirna. Tidak lagi banyak organisasi kepemudaan yang berpartisipasi mendorong masyarakat agar bisa mengejar ketertinggalan bangsa ini.

Organisasi kepemudaan sekarang ini semakin banyak, akan tetapi keberadaanya belum mampu memberikan makna yang lebih atas keberlangsungan bangsa ini. Organisasi kepemudaan malah terjebak pada masalah-masalah politik praktis. Sehingga upaya untuk melakukan perubahan dan pengkaderan pada organ-organ kepemudaan masih sebatas media untuk menyokong kepentingan politik belaka.

Kelesuan gerakan pemuda ini ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, minimnya doktrinasi atas paham kebangsaan. Hal ini menyebabkan krisisnya pemahaman anak muda terhadap-nilai-nilai kebangsaan. Dahulu pada masa orde baru, doktrin kebangsaan dan nasionalisme digembleng habis-habisan. Walupun keterlaluan, tetapi doktrinasi seperti ini tidak selamanya salah. Akan tetapi penggemblengan paham kebangsaan harus dirancang sebaik mungkin supaya bisa lebih mengena sasaran.

Kedua, laju informasi yang begitu kuat menerpa anak bangsa. informasi yang diberikan lewat media elektronik maupun media massa memiliki pengaruh yang kuat atas keberlangsungan arah pemuda Indonesia. Para pemuda yang seharusnya produktif dan kreatif, kini malah menjadi masyarakat yang konsumeris. Kini para pemuda lebih senang berbicara masalah trend fashion dari pada berbicara masalah-masalah kebangsaan.

Ketiga, minimnya pendidikan di keluarga. Keluarga merupakan salah satu sarana pendidikan yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Orang tua tidak hanya berkewajiban untuk mencari nafkah buat anaknya. Sebenarnya yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Dengan demikian sebenarnya keluarga memiliki andil yang sangat penting untuk menopang keberlangsungan gerakan pemuda ini.

Keempat, tidak jelasnya arah pengkaderan di organisasi kepemudaan. Penggemblengan dan pengkaderan yang selama ini dijalankan tidak jauh hanya sebagai kepentingan sesaat. Yang paling membahayakan adalah ketika organ-organ kepemudaan sudah bersifat ideologis dan hanya mementingakan kepentingan kelompoknya. Hal ini juga mempengaruhi kinerja internal organisasi kepemudaan kurang bisa maksimal. Munculnya jiwa-jiwa individualis telah menjangkiti para aktivis muda.

Sumpah Pemuda harus dilihat sesuai dengan zamannya. Semangat para pemuda pada tahun 1928 berbeda dengan sekarang. Kalau dahulu, Sumpah Pemuda merupakan media untuk memupuk nasionalisme dan jiwa kebangsaan. Sumpah Pemuda juga merupakan sebuah semangat awal untuk bahu-membahu mengusir penjajah dari bumi tercinta ini. Bekumpulnya para pemuda dari berbagai daerah pada tahun 1928 merupakan spirit awal untuk menuju kemerdekaan bangsa ini. Persamaan nasib dan perjuangan inilah yang menjadikan gerakan pemuda tahun 1928 ini berhasil.

Semangat kepemudaan dari tahun-ketahun ada pergeseran makna. Kalau pada masa orde baru, kepemudaan senantiasa dipertahankan dengan mendoktrin setiap pemuda hingga akhirnya pemuda memiliki jiwa nasionalisme dan kebangsaan yang tinggi. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya organisasi kepemudaan bentukan orde baru.

Semangat kepemudaan ketika orde baru tumbang dan bergser menuju era reformasi bebeda. Pada era ini, pengungkungan, doktrinasi, hegemoni dan banyak yang lainnya sudah mualai dihilangkan fungsinya. Akan tetapi menurutnya, hal ini justru membuat para pemuda melakukan kebebasan yang melampaui batas-batas normal. Nilai-nilai kebangsaan hilang total dan digantikan dengan nilai-nilai baru yang jauh dari nilai-nilai kepemudaan, tambahnya.

Sumpah Pemuda memang harus dipahami dalam konteks zamannya. Kalau sekarang, Sumpah Pemuda tidak hanya sebatas semangat bersama-sama untuk mengusir penjajah. Lebih jauh semangat Sumpah Pemuda harus kita gunakan untuk menumpas kebodohan, kemiskinan, kelaparan dan mendesak para praktisi hokum untukmenindak tegas para pelaku korupsi yang akhir-akhir ini banyak menghabiskan uang Negara.

Agar semangat pemuda ini senantiasa terjaga, gerakan pemuda harus bisa mengkombinasikan sistem yang pernah dikembangkan oleh orde baru dengan yang ada sekarang. Dengan cara mencari nilai-nilai lama yang baik kemudian mencari nilai-nilai kekinian yang lebih baik. Dengan metode yang seperti ini, maka semangat kepemudaan akan bisa bangkit kembali.

Selain itu, untuk menyelamatkan organisasi kepemudaan, harus menciptakan figur yang baik. Karena pasca reformasi 1998, belum ada figur pemuda yang bisa dijadikan panutan bagi para pemuda di Indonesia. Yang ada adalah para politisi yang hanya memanfaatkan banyak hal dari pemuda.

Terakhir, marilah kita semua senantiasa menjaga semangat kebangsaan. Mengingat kebesaran arti sejarah Sumpah Pemuda bagi perjalanan bangsa kita, maka sepatutnyalah kiranya bahwa kita semua tidak hanya “mengenang” peristiwa besar itu, melainkan juga merenungkan, dalam-dalam, betapa urgennya bagi kita semua untuk menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu di antara berbagai sarana pendidikan bangsa kita .

Tentunya semangat itu harus berbeda dengan kebiasaan zaman Orde Baru yang hanya memperingati peristiwa bersejarah itu sebagai “ritual” yang diisi dengan pidato-pidato para “elite” yang munafik dan kosong isinya, maka adalah tugas kita semua untuk menjadikan Hari Sumpah Pemuda sebagai alat untuk meneruskan tugas “national and caracter building” yang pernah di bangun dengan tetesan darah dan cucuran air mata para pendahulu kita.

Satu Tanggapan to “Sumpah Pemuda Harus Difahami Dalam Konteks Zamannya”

  1. Tambur said

    tahu g…? tuch foto yang jepret gw….hehehehhehehehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: