Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Partai Islam Harus Merubah Visinya

Posted by Edi Purwanto pada November 20, 2008

diskusi-bulanan1Dari tahun ke tahun, keberadaan partai Islam semakin menjamur akan tetapi perolehan suaranya tetap. Bahkan bisa dikatakan menurun jika dibandingkan dengan tahun 1955. Hal ini disebabkan oleh kanibalisme dan eksklusivisme yang menggurita di dalam partai-partai Islam.

Suara PKS dari pertama berdirinya hingga sekarang mengalami perkembangan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan partai Islam lainnya. Akan tetapi kalau dilihat dari trend partai PKS memperoleh suara yang besar tetapi itu juga diikuti penurunan partai Islam lainnya. Hal ini dikarenakan PKS mengambil suara dari partai Islam modernis (PAN) daripada dari partai nasionalis dan partai Islam tradisional (PKB). hal ini lebih dikarenakan warga NU (PKB) yang mempunyai kehidupan sosial budaya yang berbeda dengan warga Islam moderat atau Muhammadiyah (PAN, PKS). Inilah yang menyebabkan perolehan suara dari partai-partai Islam menjadi menurun. Hal ini diungkapkan oleh Burhanuddin pada saat diskusi publik di gedung PPI Universitas Brawijaya Malang pada hari Senin, 3 November 2008 yang lalu. Diskusi yang dihelat oleh The Religius Reform Project (Repro) bekerjasama dengan Puspek Averroes beserta Brawijaya Sosiological Thought (BST) dan Kedutaan Swiss di Jakarta itu, hadir sebagai nara sumber Sya’roni (Humas HTI Malang), Burhanuddin (Jaringan Islam Liberal), Zaki Pria Romaduddin (Humas PKS Kabupaten Malang), Ahmad Imron Rozuli (Dosen FIS Brawijaya). Diskusi yang bertemakan “Menatap Partai Politik Berasaskan Islam di Indonesia” itu dimoderatori oleh Edi Purwanto (Puspek Averroes).

Tampil sebagai pembicara pertama adalah Zaki Romaduddin. Dalam diskusi itu ia menegaskan bahwa keberadaan PKS merupakan sesuatu yang berbeda dengan partai Islam yang lain. Da’wah sebenarnya menjadi isu yang utama di dalam PKS. Jadi PKS tidak hanya bergerak dalam wilayah politik belaka. Politik hanya merupakan wadah dan sarana bagi PKS, bukan merupakan tujuan. Politik digunakan sebagai sarana untuk mengejawentahkan nilai-nilai universalitas Islam dalam masyarakat. Gerakan yang dilakukan tidak hanya pada tataran politik, tetapi juga pada tataran hukum, sosial, ekonomi, dsb yang bersifat riil di dalam masyarakat, cetus mantan Presiden Brawijaya ini.

Lebih lanjut menurut humas PKS Kabupaten Malang ini, PKS lebih tepat dikatakan sebagai partai dakwah. Dengan demikian kalau ada beberapa kelompok mengatakan bahwa PKS adalah partai politik semata. Itu tidak benar. PKS memiliki ragam pemberdayaan dan da’wah yang lingkup kerjanya bisa diuji di lapangan. Ini pula yang membedakan dengan partai lainnya yang hanya berjalan lewat lewat politik belaka.

Keuletan, kegigihan dan militansi kader menjadi kunci sukses PKS. Selain itu, PKS senantiasa tegas dalam pemberantasan korupsi. Satu-satunya partai yang bersih di Negara kita adalah PKS, lanjut Calon legislatif DPRD Jatim Dapil Malang Raya ini seolah berkampanye.

Di sisi lain Imron Rozuli menilai bahwa PKS sampai hari ini masih menjadi partai yang eksklusif. Kegaitannya hanya berkutat pada masalah yang berbau-bau Islam saja. Ini merupakan sebuah kewajaran karena PKS memiliki impian untuk mendirikan Negara yang berasaskan Islam. Akan tetapi agregasi kepentingan kelompok-kelompok di luar Islam akan semakin kentara. Di sisi lain, pluralitas yang selama ini menjadi ikon bangsa Indonesia juga akan tergoyang jika Negara Islam benar-benar bisa diimplementasikan, Imbuhnya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Brawijaya ini menilai bahwa partai yang diterima oleh masyarakat adalah yang bisa menampung seluruh kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Sementara partai-partai politik yang berasaskan Islam yang ingin membawa nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tifak mampu diterapkan di daerah lain yang bukan merupakan daerah “Islam”, misal: Papua, Ambon dan Bali.

Sya’roni malah bertanya balik tentang keberadaan Demokrasi di Indonesia. Dia melihat bahwa demokrasi itu hanya sekedar pesta pora belaka dan yang lebih tragis adalah pruduk kapitalisme dan liberalisme. Demokrasi tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat terlebih masyarakat Islam.

Untuk keluar dari jeratan ini menurut sesepuh HTI Kota Malang ini, di Indonesia harus diberlakukan syari’at Islam. Ketika syariat Islam diterapkan di Indonesia, maka pluralitas di dalam masyarakat menjadi tetap terjaga. Cuma selama ini di beberapa golongan masyarakat masih terdapat adanya stigma-stigma negatif tentang penerapan syari’at Islam di Indonesia, Tegas Dosen di Universitas Islam Malang (UNISMA) ini.

Melihat gerak maju PKS yang signifikan, Ustazd Sya’roni memilih jalan lain. HTI sementara ini memilih untuk tidak terlibat dalam politik praktis. Akan tetapi HTI menyarankan kepada PKS agar menggunakan kekuasaan sebagai metode untuk melaksanakan sesuatu, bukan tujuan. Sementara pendidikan politik dan penyadaran terhadap masyarakat melalui syariat Islam harus tetap senantiasa diperjuangkan. HTI selama ini memang masih berjuang secara cultural, akan tetapi perjuangan melalui kekuasaan juga tetap merupakan cara untuk memperjuangkan agar syari’at Islam dapat ditegakkan, tambahnya.

Menurut Burhanuddin, PKS besar dikarenakan ada jaringan dakwah dari atas sampai bawah yang tidak hanya membicarakan masalah politik, teapi juga ekonomi, hukum, masyarakat, dsb. Dengan sistem yang terstruktur rapi ini, kader-kader PKS bisa dioperasikan secara sistematis dan strategis. Dengan menggunakan isu Islam, PKS bisa mencuri kantong-kantong partai Islam.
Menurut peneliti LSI versi Saiful Mujani ini, ada persoalan serius dalam PKS. Dia melihat ada dua persoalan yang harus dihadapi PKS. Pertama label Islam yang sudah melekat di dalamnya.  Label ini membuat partai ini sulit diterima oleh partai nasionalis dan partai Islam tradisional. Hal ini dikarenakan PKS hendak menerapkan ajaran-ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan masyarakat. Permasalahan yang kedua yaitu collective action dari massa PKS dimana aksinya bersifat Islamis dan menyinggung isu-isu internasional yang tetap berhubungan dengan Islam, kalaupun aksi yang bersifat nasionalis yang berada di luar Islam hanya muncul di kalangan elit PKS.

Senanda dengan Imron Rozuli, aktivis The Charta Politica ini juga melihat eksklusivisme di PKS masih kental sekali. Seolah PKS belum mampu menggeser isu-isunya. Sejauh ini masih berkutat pada isu-isu keIslaman saja. Menurut lulusan ANU ini, jika PKS ingin bisa berkembang, maka isunya harus dirubah dari Islam Partikular menjadi Islam yang universal dan humanis. Selain itu PKS dan partai-partai yang memiliki asas Islam juga harus bergegas untuk merubah visi gerakannya. (edhenk)

10 Tanggapan to “Partai Islam Harus Merubah Visinya”

  1. namada said

    baca dulu yaa

  2. eko1984 said

    Andai partai islam nggak terkotak-kotak seperti itu..
    insyaallah, umat islam bisa bersatu..
    nggak isinya berantem terus..

  3. iya betul juga ya.

  4. Partai..??? Hmm.. Perjuangan lewat Partai..? dan Partai Identik dengan Kedudukan dan Kursi Yang EMPUK. Jika sudah duduk..! jangan harap ingat berdiri..! *****lupa dengan tujuan mulia..!

    Islam terpecah belah karena kedudukan dan karena partai. masing-masing merasa benar!!!
    Bersatulah..! dengan satu Tujuan..!

  5. perjuangan memang tidak melulu lewat partai. ada banyak perjuangan lain yang harus dilakukan. partai memang tidak lebih dari media untuk duduk ongkang-ongkang di kursi empuk. kalau sudah berada di sana mereka sudah buta dengan kondisi masyarakat yang kelaparan. mereka juga tuli akan jeritan-jeritan anak jalanan yang tak jelas nasibnya di masa depan. bahkan yang paling menyedihkan mereka lumpuh. sehingga tidak mampu berjalan mengunjungi saudaranya yang sedang dilanda bencana.
    mudah-mudahan mereka diberikan hati yang jernih sehingga mereka tidak hanya datang menemui rakyat miskin jika menjelang pemilu seperti sekarang ini.

    telat boz kemarin-kemarin kemana?

  6. ai said

    salam kenal….nice blog😀

  7. mubin Al Galilei said

    wah aq lagi blajar noto blok…

  8. zee said

    y…visinya harus di ubah…
    visi menggantikan existing sistem (Sekuler-Kapitalis) dgn menerapkan sistem Islam…Partai Islam ya seharusnya mengemban ideologi islam jg…jgn justru bangga thdp demokrasi yg bukan dr islam…

    • Terimakasih atas masukan yang diberikan pak Sulistiyo
      yach semoga kita tidak hendak memberikan pemaknaan lain terhadap demokrasi yang salah arah ini…
      akan tetapi apa yang saya fahami tentang syuro’ di Islam itu tidak seperti demokrasi yang berkembang saat ini.
      yach mungkin benar apa yang sampeyan katakan, lantas kalau menggunakan Ideologi Islam sebagai landasan gerak partai, lantas bagaimana kita memelihara pluralitas dan keragaman bangsa ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: