Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Pak Poyo: Jaranan Seharusnya Tidak Keluar dari Pakem

Posted by Edi Purwanto pada Desember 28, 2008

Oleh Edi Purwanto
Mentari sudah berada diatas kepala, jam tanganku sudah menunjukan pukul 11.00. suara motor terdengar menderu-deru seolah memekakan telingaku. Pedagang kaki lima berjajar memenjang dari utara ke selatan pasar Bandar. Para pedagang asik menawarkan daganganya kepada setiap pembeli yang menghampirinya. Tampak olehku orang tua berumur 70 tahunan sedang berada diatas becak. Tampak dari kejauhan dia sangat lelah sekali. Kelihatanya dia habis mengangkut penumpang. Keringatnya mengalir deras membasahi tubuh dan mukanya. Kulitnya yang hitam bercampur dengan debu jalanan membuat wajahnya mengkilat tersapu oleh sengatan panas mentari. Topi caping yang dia gunakan sebagai pelindung wajahnya dari sengatan matahari tampak kusam. Ketika saya menghampirinya dia tersenyum lebar dan menyambutku dengan bangga. Dialah pak Poyo seniman jaranan yang kegiatan sehari-harinya mengayuh becak dan mengangkut sampah kalu malam harinya. Dia memiliki 5 orang anak dan 6 orang cucu. Dia adalah seniman jaranan. Dengan senyum lebar dia mulai bercerita tentang pergulatan hidupnya sebagai seniman jaran kepang di Kediri.
Pak Poyo itulah namanya. Laki-laki berperawakan kurus dan tinggi ini mulai menekuni kesenian jaranan pada tahun 1977, semenjak jaranan Samboyo Putro berdiri. Sambil mengepulkan asap rokoknya, pria kelahiran 1942 itu mulai bercerita tentang asal-usul jaran kepang di Kediri. Jaman dahulu kala di Kediri ada seorang raja yang masyhur di Nusantara. Dia bernama Lembu Amiseno (Airlangga). Dia memiliki seorang anak perempuan yang bernama dewi Songgo Langit.

Kecantikan Dewi Songgo Langit membuat orang yang mendengarnya terkagum-kagum. Rupanya kecantikanya sudah didengarkan oleh para adipati dan punggawa kerajaan yang ada di tanah jawa dan sekitarnya. Para adipati dan punggawa kerajaan banyak yang tertarik untuk melamarnya. Dewi Sangga Langit tidak mau menikah, dia ingin menjadi petapa saja.

Karena banyak sekali yang melamar Dewi Sangga Langit, akhirnya Lembu Amiseno ayahnya memaksa. Dewi sangga Langit sebagai anak, tentunya tidak bisa menolak permintaan ayahnya. Dia mau menikah akan tetapi harus dengan syarat. Syaratnya orang yang ingin mempersuntingnya harus bisa membuat tontonan yang belum pernah sama sekali ada di tanah jawa, yaitu tontonan yang tidak menempel dengan tanah.

Bagi siapa saja yang bisa memenuhi permintaan dewi sangga Langit, dialah yang kelak akan menjadi pendampingnya kelak. Tidak peduli dia itu berasal dari bangsawan, adipati, punggawa kerajaan atau rakyat jelata yang tidak memiliki apa-apapun. Itu adalah janji dewi sanggo langit.

Secepat kilat sayembara itu menyebar kepada para adipati dan punggawa kerajaan diseluruh tanah jawa. Mendengar sayembara itu para banyak orang yang ingin menguji kepandaianya dalam memboyong dewi Songgo Langit. Dari wengker ada utusan yang bernama Pujangganom. Dahulu dia adalah raja muda di wengker dengan nama Klono Sewandono. Dia berubah menjadi jelek itu karena sabdanya prabu dahana wengker.

Dalam perjalanannya melamaar Dewi Sangga Langit, Klana Sewandana kesasar sampai ke alas Lodoyo. Di Lodoyo Klana Sewandono bertemu dengan Toh Bagus yang merupakan utusan Singo Barong. Mereka berdua berkeinginan untuk berangkat ke Kediri bersama-sama. Ditengah perjalanan mereka dihalangi oleh Singo Kucing/Singo Barong/Singo Ludoyo yang berasal dari Aryo Dibyo Blitar.

Mereka bertiga berperang untuk memperebutkan dewi Sangga Langit. Toh Bagus dan Singo Barong meninggal dengan senjata Klana Sewandono yang bernama Pecut Kyai Samandiman. Setelah itu untuk mengenang peristiwa itu orang-orang Ponorogo membuat Reog. Sedagkan orang-orang di kediri membuat sebuah kesenian yang dinamakan Jaranan.

Jaranan itu artinya belajaro sing tenanan (belajarlah yang sungguh-sungguh). Maksudnya dalam menjadi seniman jaranan itu haruslah sungguh-sungguh dan tidak boleh ragu-ragu dalam belajar jaranan.

Jaranan itu jumlahnya harus 6 atau 4. kalau jaman dahulu jaranan sebelum dicat harus ditaruh dahulu di senthong tengah (kamar tengah) selama 36 hari. Setelah 36 hari berada di senthong tengah jaranan yang belum dicat itu dikeluarkan dan dicat warna-warni sesuai keinginan yang ngecat.

Setelah memiliki jaranan tentunya kita perlu perangkat gamelan yang terdiri dari 4 jenis yaitu kenong kethuk, gong kempul, kendang dan terompet yang berasal dari bambu. Ini adalah alat dasar yang digunakan untuk musik pengiring jaranan. Dalam perkembanganya bisa ditambahi dengan piano, angklung dan lain sebagainya.

Kethuk kenong itu kalau bahasa jawanya adalah thukno….thukno…(sesuaikan…sesuaikan…) gong kempul itu fungsinya sebagai bass, kendang bisa diartikan sing nuntun yo sing ngglandang maksudnya kendang itu adalah alat musik yang memimpin jalanya musik. Setiap memulai atau mengakhiri musik selalu menggunakan kendang. Kalau terompet itu untuk memancing agar singo barong mau menari. Dalam perkembanganya jaranan ditambahkan dengan sinden yang berfungsi sebagai penyanyi. “Sinden” ojo isin senden neng tengah-tengahe wong lanang, maksudnya adalah kalau jadi sinden itu tidak boleh malu berada di tengah-tengahnya orang laki-laki.

Kakek 5 anak dan 6 cucu itu adalah orang yang tergolong generasi tua di komunitas jaranan di kota kediri. Walaupun demikian dia masih senang dan aktif dalam berkesenian. Kesenian adalah kehidupanya sejak kecil. Dalam kondisi jaman yang sudah edan ini dia tidak lelah untuk tetap berkarya dalam rangka mengembangkan kesenian daerahnya. Dia bersama teman-temanya akan terus berusaha agar kesenian tradisional semisal jaranan tetap bisa lestari. Dia juga masih aktif mengkader bibit-bibit muda dalam berseni.

Sebagai ahli peniup terompet dan MC mantan pemain ludruk ini hatinya gundah. Kegundahanya lebih dikarenakan oleh anak-anak muda yang belum ada yang bisa menggantikanya sebagai peniup terompet. “Anak muda sekarang itu susah sekali kalau disuruh belajar meniup terompet. Mereka kebanyakan tidak telaten” itulah keluhanya. Memang untuk belajar terompet itu butuh keahlian, ketelatenan dan kesabaran yang tinggi.

Jaranan ini untuk mengenang keberadaan dewi Sangga Langit sebagai putri Kediri yang sempat menggegerkan pulau Jawa pada saat itu. Simbol jaranan ini dimaksudkan agar generasi penerus bisa mengetahui kehebatan putri kediri pada masa itu.

Seniman berdarah Kediri ini dahulu adalah seniman wayang kulit. Dia pernah manggung untuk gebyakan wayang kulit sebanyak 18 kali di Kediri. Selain sebagai seniman wayang kulit dia juga aktif sebagai seniman ludruk, jaranan dan ketoprak. Pada tahun 63-65 dia aktif sebagai seniman wayang kulit. Akan tetapi laki-laki yang meikah pada tahun 1965 itu, pada saat itu tidak mengikuti salah satu dari tiga lembaga kesenian yang ada. Dia hanya mengamati dari luar system saja.

Dalam pengamatan laki-laki yang sebagian rambutnya sudah muhampir putih semua ini, pada 63-64 kesenian jaranan sudah menjadi varian yang patut dipertimbangkan keberadaanya di kediri. Dari golongan LKN, LEKRA, dan Lesbumi, masing-masing memiliki kesenian jaranan. Pada tahun-tahun itu para seniman ini bisa hidup rukun dan saling berdampingan satu sama lain. Tidak pernah ada percekcokan antara satu dengan lainya. Dari kalangan agamawan juga memiliki pandangan yang positif terhadap kesenian. Ketiga ormas itu bersaing dalam menciptakan kesenian, dan mengembangkan kesenian sesuai dengan misinya masing-masing.

Tahun 1965 adalah tahun yang sangat menyedihkan bagi seniman. Tahun itu semua seniman yang berbau komunis dibunuh. Punden-punden seperti di selomangleng dirusak. Orang-orang yang tidak beragama dianggap sebagai komunis harus dibunuh. Para seniman ludruk, ketoprak, wayang orang dan jaranan yang pernah terlibat dengan PKI dibunuh. Sepertinya seniman pada waktu itu tidak pernah ada yang hidup dengan tenang. Kemanapun kami melangkah selalu kami dihantui oleh rasa takut dan was-was secara terus menerus.

Setelah tahun itu jaranan sudah dianggap sebagai kesenian yang dilarang tampil di masyarakat. Jaranan adalah kesenianya orang-orang PKI. Masyarakat juga memiliki pandangan yang negatif terhadap jaranan. Akhirnya pasca tahun 1965 sampai tahun awal 1970an kesenian jaranan lumpuh total. Hal ini dikarenakan seniman jaranan takut dcap sebagai komunis. Kecuali jaranan yang berlindung dibawah bendera LKN ataupun Lesbumi. Itupun hanya beberapa jaranan saja. Masayarakatpun juga sudah tidak mau lagi melihat jaranan.

Pada awal tahun 1970an kami bersama teman-teman mulai merintis jaranan yang sempat lumpuh. Teman-teman seniman pada saat itu rata-rata masih takut dengan klaim yang diberikan kepada jaranan. Para seniman masih trauma dengan peristiwa berdarah yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Seniman lebih banyak diam dan takut untuk berseni. Klaim komunis dari kelompok-kelompok agamawan rupanya masih meghantui perasaan para seniman jaranan. Terlebih lagi jaranan itu juga diklaim masyarakat sebagai kesenianya orang komunis.

Kemuadian pada tahun 1977 setelah berdirinya Samboyo Putro, jaranan mulai mendapat pengakuan dari masyarakat dan pemerintah. Jaranan Samboyo Putro ini didirikan oleh mantan Polwil Kediri yang bernama pak Samboyo. Dengan adanya jaminan dari fihak kepolisian inilah jaranan mulai berani bertengger di kediri bersaing dengan kesenian lainya. Jaranan samboyo itu dahulu mendapatkan wangisit dari Pamenang Joyoboyo. Pak samboyo mendapatkan wahyu dari pamenang agar mendirikan jaranan dan menguri-uri kesenian asli kediri ini.

Atas wangsit yang berasal dari pamenang itulah samboyo berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan cerita negative masyarakat terhadap jaranan. Pak samboyo mulai berafiliasi dengan pemerintah, agamawan serta masyarakat untuk mendukung eksistensi jaranan di kediri.pasca tahun 1977 inilah jaranan mulai bisa dipercayai sepenuhnya oleh masyarakat kediri sebagai kesenian yang bebas dari komunis.

Pada saat tahun 1977 itu pula pak Poyo mulai menggeluti kesenian Jaranan. Seniman yang dahulu pernah aktiv sebagai seniman tayub dan ketoprak itu mulai mengembangkan kesenianya lagi. dia mulai belajar meniup terompet. Keahlianya yang dahulu pernah hilang sebagai dalang, pada tahun 1977 mulai dikembangkan lagi dengan menjadi MC jaranan.

Dalam hal perilaku seniman jaranan harus sopan, kalem, sumeh dan guyup. Perilaku semacam ini dilakukan oleh para seniman jaranan dengan tujuan untuk menghilangkan stigma negative dari masyarakat. Dengan berperilaku seperti itu masyarakat akan menguji kebenaran kesenian jaranan. Masyarakat akan belajar memahami jaranan dari berbagai sisinya.

Pada pakaianya jaranan sudah mulai ada perubahan. Kalau dahulu jaranan pada tahun-tahun sebelum 1965, jaranan hanya menggunakan celana kombor warna hitam dan dengan telanjang dada. Kemudian jaranan didandani lebih baik lagi dengan memberikan pakaian-pakaian yang lebih sopan. Dalam make upnya jaranan juga bisa lebih kelihatan sopan.

Pada saat saat tertentu atau pada saat ada pertunjukan, pak poyo dan teman-temanya terlebih dahulu senantiasa datang ke pamenang untuk memuja dan meminta keselamatan. Kalau dahulu semua seniman jaranan yang akan tampil, semuanya harus datang semua kesitu. Akan tetapi sekarang hanya dukunya saja yang pergi kesitu.

Mantan dalang wayang kulit asuhan Ki Mardi Harsoyo ini merupakan tokoh jaranan yang menolak versi jaranan yang ditawarkan oleh pemerintah. Dia menolak pemakeman jaranan yang lebih mengutamakan tari-tarian. Karena menurutnya kesenian jaranan itu tidak hanya seni tari saja. Akan tetapi yang lebih penting adalah ritual magis yang ada di jaranan (ndadi). Kalau sekedar tari-tarian saja atau campur sari saja itu namanya bukan jaranan.

Punden-punden dan benda-benda keramat yang ada di kediri pada tahun 1970an hingga sekarang banyak yang dipindah di museum airlangga sana. Setelah berada di museum patung-patung dan punden itu tidak ada manfaatnya lagi kecuali hanya untuk tontonan saja. Dengan hanya ditaruh di museum, nilai magis dari benda itu hilang dan lebih berfungsi sebagai tontonan saja.

Pak Poyo dan masyarakat yang lain yang masih mengugemi tempat-tempat seperti itu, sangat keberatan dengan kebijakan pemerintah yang seperti itu, tapi papa daya mereka. Mereka adalah masyarakat kecil yang tidak memiliki kekuatan dalam menentukan keputusan. Sekarang tempat yang selama ini menjadi tuntunan mereka jadi tontonan di museum Airlangga.

Dalam pandangan laki-laki yang suka tembang dandang gula ini, kelompok santri pasca terjadi peristiwa 1965 tidak mau mengusik lagi keberadaan kesenian jaranan. Walaupun mereka tidak satu jurusan, mereka tetap bisa saling menghormati. Seniman jaranan tetap bisa berbagi ruang dengan para santri. Pada bulan Romadlon misalnya, para seniman jaranan tidak ada yang tampil dalam pertunjukan. Hal ini dikarenakan para seniman menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Pesantren memandang jaranan memang berbeda. Mereka beranggapan kita yang membakar dupa tidak sesuai dengan jaran mereka. Akan tetapi ada juga santri yang senang melihat jaranan seperti daerah Mojo. Daerah mojo itu adalah tempatnya pesantren, disana juga basisnya jaranan akan tetapi mereka bisa hidup berdampingan dengan tanpa ada saling mengusik.

Dinas pariwisata kota Kediri akan menambah tarian Dewi Songgo Langit disetiap penampilan jaranan. Penambahan ini dimaksudkan agar cerita jaranan ini tidak putus dan menjadi satu cerita yang utuh. Bagi pak Poyo secara pribadi tidak sepakat dengan kreasi seperti ini. Karena kalau dalam pandanganya, Dewi Sangga Langit itu biasanya hanya diceritakan saja oleh MCnya. Pak Poyo dan para sesepuh jaranan lain, banyak yang kurang sepakat dengan penambahan dewi Songgo Langit sebagai Pakem jaranan.

Dewi sangga Langit yang menjadi Ikon Jaranan tidak Perlu ditunjukan sebagai simbolik yang harus ditampilkan pada setiap pertunjukan jaranan. Bagi Golongan tua seperti Pak Poyo ini, lebih sepakat jika tari-tarian tentang dewi Sangga Langit itu dibentuk saja dalam bentuk tarian. Akan tetapi untuk jaranan yang ada tidak boleh du otak-atik.

Laki-laki yang ahli meniup terompet mulai tahun 77 ini, melihat bahwa jaranan di kediri mulai berkembang pesat itu setelah Samboyo bubar yaitu tahun 1990an. Bubarnya Samboyo telah membuat orang semakin mempercayai bahwa jaranan merupakan kesenian daerah yang harus dilestarikan dan dikembangkan sebagai identitas ketimuran. Jaranan paska tahun 1990an ini bisa tumbuh subur di kota tahu ini. Mereka bisa terus berkontestasi dengan kesenian-kesenian lain yang ada di kediri.

Jaranan orang yang memiliki hobi tayuban ini, sering diundang ke taman wisata selomangleng. Disana dai bersama dengan teman-temanya hanya disuruh main dan hanya sekedar untuk hiburan para wisatawan. Dari dinas pariwisata tidak pernah menyambut baik kehadiran seniman jaranan itu. Mereka tidak pernah mengurusi pertunjukan jaranan. Kesenian jaranan yang tampil pada saat itu hanya dibiarkan saja. Entah dari seniman jaranan itu mau menampilkan apa terserah. Yang penting dari dinas pariwisata tahu kalau kesenian jaranan kelompok A main disitu. Dinas pariwisata rupanya hanya memanfaatkan kelompok jaranan untuk meramaikan acara di Selomangkleng.

Seringkali sesepuh gang Mbalong ini ketika menjadi MC, mengarang sendiri urut-urutan acara ketika tampil di dinas pariwisata Selomangleng. Dinas pariwisata itu memiliki peranan yang minim sekali dalam pengembangan jaranan. Dana pengembangan saja ridak ada. Upah yang diberikan oleh dinas pariwisata sangat kecil sehingga banyak seniman yang kuranmg bersemangat saat tampil disana.

Para seniman jaranan kebanyakan tidak serius saat tampil di taman wisata selomangleng. Ketika mereka ndadi, mereka biasanya hanya pura-pura saja. “Rupanya teman-teman tahu kalau dirinya hanya digunakan sebagai alat saja oleh dinas pariwisata.” keluh ayah dari 5 anak ini. Para seniman hanya dijadikan sarana untuk meramaikan keberadaan selomangleng sebagai tempat wisata. Berbeda ketika jarananan diundang tanggapan atau saat gebyakan, mereka akan tampil dengan karakter yang sebenarnya.

Proyek pemerintah untuk memakemkan kesenian jaranan dikediri rupanya belum menuai hasil yang cemerlang. Saya secara pribadi tidak mau jika jaranan itu harus seragam semua. Penyeragaman sepewrti ini akan mematikan kreatifitas para seniman. Penyeragaman adalah pembatasan dalam berkreasi. Dengan demikian kesenian jaranan akan mati karena sudah terejerembab dalam pakem-pakem yang tidak bisa diotak-atik. Selain itu karakteristik dari kelompok-kelompok jaranan akan hilang. Karena di kediri ini setiap kelompok jaranan memiliki pakem sendiri-sendiri. Pakem yang mereka miliki itu adalah cirri khas dari kelompok jaranan masing-masing.

Walaupun sudah lanjut usia, namun jiwa kesenianya sangat tampak dalam berbagai aktivitasnya di bidang kesenian. Dia akan senantiasa hidup sebagai orang yang memiliki naluri seni. Karena seni adalah dunianya yang tidak bisa dilepaskan. “Walaupun sampai tua nanti saya akan terus berseni” begitulah katannya. Untuk menjaga agar kesenian jaranan tetap bisa lestari dan diyakini sebagai ajaran dan tuntunan. Pak poyo beserta teman-temanya dikomunitas jaranan tidak akan jenuh mendidik dan menurunkan keahlianya dalam mengembangkan kesenian jaranan kepada generasi penerusnya.

Eksistensi jaranan ini tergantung pada managerial pimpinan jaranan dalam mengatur dan memimpin lajunya sebuah komunitas jaranan. Tanpa adanya orang yang masih memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, kesenian yang ada ini tidak akan lestari. Kita sebagai bangsa Indonesia yang baik, seharusnya senantiasa menghormati dan menjaga agar kesenian daerah itu tidak kalah dengan kesenian yang mengikis habis moralitas bangsa Indonesia. Kebudayaan itu seharusnya dipelihara keberadaanya dan kalau bisa dikembangkan.

Dalam berbagai kesempatan pengagum berat Dalang Ki Narto Sabdo ini, seringkali menganjurkan pada masyarakat agar tetap mempertahankan dan menjaga kebudayaan daerah. Karena sekarang ini banyak sekali Negara yang mengiginkan kebudayaan Indionesia. Jangan sampai kebudayaan bangsa Indonesia ini kalah dengan kebudayaan orang mancanegara.

sumber: http://puspek-averroes.org

8 Tanggapan to “Pak Poyo: Jaranan Seharusnya Tidak Keluar dari Pakem”

  1. nanang hp said

    Kesenian jaranan harus tetap dilestarikan dan dikembangkan selain nanti bisa menjadi simbol kota kediri kesenian tersebut pasti akan mendatangkan wisatawan untuk lebih ingin mengenal kota kediri, mengenai asal usul kesenian jaranan sy setuju untuk memasukkannya dalam cerita saat berlangsungnya kesenian jaranan agar para penonton yg menyaksikan kesenian tersebut memahami alur cerita kesenian jaranan yg diharapkan mereka dapat menceritakan kepada orang yg baru mengenal kesenian tersebut, jika klaim ttg jaranan adalah sekumpulan orang2 yg berpaham komunis sy rasa masyarakat sekarang ini khususnya para seniman jaranan sbg WNI pasti sudah mempunyai Agama sebagai pegangan hidup sesuai Pancasila yang menjadi lambang dasar negara kita, dan bg Pemerintah Kota Kediri agar tidak apatis terhadap kesenian tersebut karena secara langsung atau tdk langsung pasti akan bisa membawa kota kediri utk lebih dikenal masyarakat Nasional ataupun Internasional serta memperbaiki perekonomian masyarakat kediri.
    Jangan takut mempertahankan kebudayaan masyarakat jawa yg sdh dikenal di berbagai negara dan tetap saling harmat menghormati sesama yg sdh mjd ikon masyarakat indonesia pada umumnya, krn wisatawan manca negara lebih mengenal negara Indonesia khususnya orang jawa adalah orang yg ramah.

  2. dani eko prasetyo said

    Ά̲Ќʊ̈ stuju it, semoga jaranan bsa lestari smpai ank cucu kita kela. Trimakasi

  3. dani eko prasetyo said

    Tetap lestari jaranan, Ά̲Ќʊ̈ stuju it

  4. Fei Madiun said

    minta alamatnya lengkap pak poyo untuk temen temen yang tau saya mau spwan

  5. nyuwun sewu pak….ceritanya kurang lengkap tanpa payung tunggul nogo,kendi pertulo,selendang sutro,keris nogo sosro lan pecut kyai samandiman….matursuwun…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: