Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Saya, Facebook dan Autisme Simbolik

Posted by Edi Purwanto pada Mei 13, 2009

Apa yang sedang kamu pikirkan? Itulah pertanyaan muncul setiap kita masuk ke dalam Facebook. Seorang teman sempat risih banget dengan pertanyaan ini. Sehingga pada suatu ketika dia menulis di dindingnya ”Facebook ini goblok banget sich masak udah dijawab masih tanya-tanya terus dengan pertanyaan sama”. Paling tidak itulah umpatan dari seorang teman di dindingnya. Banyak ekspresi yang senantiasa dituliskan di dinding pengguna Facebook. Mulai dari hal politik sampai suasana hati yang tidak menentu.

Semenjak mengetahui seorang teman dari Jakarta yang pada saat itu main ke Averroes bermain Facebook, saya tidak sama sekali tertarik. Karena saya menganggap facebook hanyalah permainan biasa yang hanya bercelometan ria tanpa jelas apa yang menjadi perbincangan. Kalau hanya sekedar Say Hello pada teman-teman pada saat itu saya hanya menggunakan Yahoo Masangger.

Pada saat itu memang komunitas saya lagi demam tentang Yahoo Masangger, Blog, Frienster dan millis sehingga keberadaan Facebook tidak begitu menjadi perhatian saya. Blog dan millis menjadi tujuanku ketika pertama kali saya membuka internet. Untuk mengetahui teman-teman yang online saya membuka Yahoo Masangger. Keberadaan aplikasi ini saya rasa sangat menarik pada saat itu. Saya senantiasa mencari teman baru dengan cara berkunjung dari blog satu ke blog lainnya. Dengan memberikan komentar pada tulisan-tulisan yang pernah dia tulis, atau hanya sekedar lewat saja dengan memberikan sedikit jejak kunjungan.

Akhir tahun 2008 hampir semua orang di sekelilingku sudah menggunakan facebook. Saya tetap bersikukuh tidak mau menggunakan fitur ini. Kampungan lho kalau tidak menggunakan Facebook” begitulah isi pesan yang saya dapatkan dari chatting yang saya lakukan di YM. ”Saya bukan tidak mau menggunakan Facebook akan tetapi saya takut kalau menjadi candu”, begitu balasan saya.

Setelah hari-hari berikutnya banyak sudah cercaan dan anjuran teman-teman supaya saya bisa bergabung dan menggunakan Facebook. Dengan bahasa yang sangat sederhana saya berusaha menjawab beberapa email yang memberikan anjuran supaya saya memakai facebook. Lama-kelamaan saya mencoba juga untuk sign up di fitur ini. Sekali dua kali saya memang belum begitu nyaman dengan keberadaan facebook sehingga ketika saya membuka internet pasti saya mash membuka yahoo masangger, Blog saya, email, dan friendster.

Ketika teman-teman lama mulai memberikan coretan di dinding facebook saya. Saya juga mulai sering mencari teman-teman lama dan berharap dia bisa ketemu di medan maya ini. Semakin lama saya semakin kategihan juga dengan aplikasi ini.

Facebook rupanya merangkum dari Friednster, Yahoo Masangger, Blog dan email. Sebelumnya setiap membuka internet saya harus membuka beberapa aplikasi itu, kini saya hanya cukup membuka facebook. Facebook rupanya menawarkan aplikasi yang komplit mulai dari Chatting, bermain game online, mengirim surat elektronik, serta mengupload foto dan video.

Selain itu, Facebook juga memiliki keunggulan lain yaitu library API (Aplication Programing Interface). Program ini memberikan kemungkinan kepada siapa saja untuk membuat aplikasi mini atau widget yang nantinya dapat dipasang di Facebook. Aplikasi ini menjadikan orang semakin mudah untuk berkreasi.

Yach begitulah ceritanya hingga kini saya menjadi kecanduan banget dengan jejaring sosial dunia yang tak berbatas ini.

Sejarah Facebook
Kita semua mungkin tidak asing lagi dengan sebuah kisah tentang drop outnya seorang mahasiswa dari Harvard University. Kini mahasiswa yang bernama Bill Gates ini menjadi orang terkaya di dunia. Pendiri Microsoft ini memang bukan orang yang asing di dunia maya. Hasil karyanya kini dinikmati oleh hampir seluruh dunia. Orang hampir saja tidak bisa lepas dari microsoft ciptanya.

Melihat kesuksesan yang diraih oleh seniornya di Harvard University, Mahasiswa bernama Mark Eliot Zukenberg ingin mengikuti jejak kesuksesannya. Pria yang dilahirkan pada 14 Mei 1984 ini juga Drop out dari Harvard University.

Bersama dengan teman sekamarnya yang bernama Dustin Moskovitz dan Cris Hughes dan sahabat kulahnya Andrew Mc Collum, iseng-iseng membuat Facebook. Aplikasi ini pada awalnya hanya digunakan untuk komunikasi terbatas dengan rekan-rekannya di asrama. Tidak ada yang menyangka jika aktivitas main-main itu berbuah milyaran dolar sekarang ini.

Autisme simbolik
Facebook merupakan fenomena menarik di dunia maya. Keberadaannya sebagai jejaring sosial kini menjadi trend tersendiri. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa bahkan para profesional kini mulai terhipnotis oleh jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 ini. Kemudian aplikasi ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 2006.

Dalam catatan alfabook.com jumlah orang Indonesia yang menggunakan jejaring ini lebih dari 1,5 juta orang. Maka dari itu jangan heran jika Indonesia merupakan negara yang memiliki pertumbuhan pegguna facebook tercepat di Asia Tenggara. Bahkan dalam catatan kompas, 7 Mei 2009, Indonesia merupakan sepuluh negara pengguna jejaring sosial terbesar di dunia.

Fenomena ini merupakan bukti bahwa masyarakat Indonesia kini sudah termakan oleh semangat kapitalisme lanjut. Jean Baudrilard menamai dengan kapitalisme dalam bentuk Simulacrum. Jual beli tanda semakin digandrungi oleh masyarakat Postmodern. Yang paling menarik adalah orang tidak lagi sadar menjadi konmsumen dunia maya. Orang tidak lagi memperhitungkan waktu, duit dan energi untuk berlama-lama di depan layar monitor.

Apalagi aplikasi ini sekarang bisa langsung diakses melalui hand phone. Jangan heran jika melihat orang kadang senyum-senyum sendiri bahkan tertawa terbahak-bahak di depan hand phone. Mereka seolah memiliki keasyikan tersendiri dan melupakan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ironis memang facebook membantu kita untuk bisa berhubungan secara virtual, namun secara fisik kita semakin menjauh.

Autisme simbolik. ya itulah istilah saya melihat kondisi psikologis yang hari ini menggejala pada para pengguna facebook. Orang menjadi kurang peka terhadap apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingnya. Orang menjadi asyik dengan dunianya sendiri.

Dalam istilah medis, autis dimaknai sebagai ganguan perkembangan kompleks yang biasanya muncul pada anak berusia 3 tahun yang mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibatnya adalah kurangnya kemampuan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Pemahaman seperti ini didasarkan pada kriteria-kriteria diagnosa tertentu. Itulah medis melihat autis.

Namun dalam medan maya seperti ini pengertian autis tidak seperti yang didiagnosa oleh para pakar medis. Autis tidak melulu terjadi pada anak-anak usia dini. Kini penyakit sosial ini sudah menggejala pada seluruh kalangan. Termasuk saya ini mungkin adalah penderita autisme simbolik yang sudah akut. Bagaimana dengan anda?

Saxofone 57 Malang,
9 Mei 2009 10:43

11 Tanggapan to “Saya, Facebook dan Autisme Simbolik”

  1. ciwir said

    fesbuk, hanya bagi mereka yang kurang kerjaan.
    ngeblog hanya bagi mereka yang pengen berbagi

  2. wiek said

    saya juga daftar facebook tapi sekarang lagi suntuk2nya dengan aktivitas di facebook
    Saya belum menemukan manfaat yang lain, selain bisa nemuin teman lama

  3. saya belum ikutan pesbuk sampai sekarang. bukan berarti saya “mengharamkan” fesbuk. mungkin saya tipe asketis yang belum siap untuk turun ke dunia luas. semua nabi menyepi dulu sebelum muncul ke dunia :p

  4. facebook dan autisme, ada pergumulan anatara keduanya? memisahkan dua discors yg berbeda.

  5. Abu Ahmad said

    saya diajak kawan dan telah masuk fesbuk, tetapi tak tahu apa tujuannya. Kepada kawan-kawan semuanya, saya hendak mengetahui apa saja manfaat fesbuk dari semua sisi kehidupan sekarang dan bagi mereka yang telah eksis nikmat apa yang telah diraih. Sudikiranya menyampaikan kebaikan dan kekurangnya.

  6. joko said

    Saya juga sudah buka account di facebook. Awalnya cukup menyenangkan karena bisa hunting teman-teman lama saya tapi lama kelamaan facebook cukup membosankan buat saya. Bagaimana tidak? Setiap login selalu dipenuhi status “What are you doing” teman2 yang sama sekali tidak menarik. Tidak sedikit malah update berupa omelan, keluhan dan hal2 yang sebenarnya tidak pantas dishare ke orang lain.

    Mungkin jiwa saya sudah terlanjur lebih cocok dengan ngeblog. Karena ngeblog ada unsur edukasi, berpikir dan sosialnya karena bisa berbagi. Dan paling tidak dengan umur saya yang makin tua otak saya masih terasah terus dan tidak cepat menjadi pikun dengan banyak menulis dan berdiskusi.
    Maaf, Mas Edi kok saya jadi bicara panjang disini. He…He…

    • kita bisa berargumen apapunkq tentang FB. namun ini adalah fenomena budaya. kita bisa memberikan apresiasi apapun. Saya sebenarnya juga lebih suka untuk ngeblog. namun saya tidak tahu beberapa bulan ini sudah jarang sekali tersentuh blognya.
      yach semoga tulisan anda ini menginspirasi saya untuk kembali ke blog…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: