Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Psikologi Minoritas – Mayoritas

Posted by Edi Purwanto pada Maret 18, 2010

Hubungan mayoritas-minoritas agama pastilah sangat kompleks, apalagi di Indonesia yang memang secara historis dan sosial sangat majemuk dari sudut keagamaan. Karena itu, jika terdapat konflik bernuansa agama di antara para penganut agama yang berbeda, mestilah dilihat tidak hanya dari sudut agama, melainkan juga dari sudut budaya, ekonomi, dan politik. Perspektif yang melihat dari sudut agama saja bisa dipastikan tidak hanya gagal memahami dinamika hubungan antara komunitas-komunitas keagamaan, melainkan juga bisa tidak historis dan tidak sosiologis.

Sejauh menyangkut hubungan antara komunitas-komunitas keagamaan yang berbeda, terdapat apa yang saya sebut “psikologi mayoritas-minoritas”. Psikologi semacam itu pada dasarnya mencerminkan kompleks psikologis yang muncul, berkembang, dan bertahan dalam pengalaman interaksi yang panjang; dan ia juga menggambarkan ketakutan-ketakutan yang ada dalam sebuah masyarakat agama vis-a-vis komunitas keagamaan lain yang berbeda.

Dalam konteks itu, banyak konflik dan bahkan kekerasan yang melibatkan komunitas-komunitas keagamaan yang berbeda muncul dari ambang kesadaran yang bertumpu pada “kenangan bersama” (collective memory) masing-masing komunitas keagamaan satu sama lain. “Kenangan bersama” itu tidak dengan mudah pudar dalam perjalanan waktu; bahkan sebaliknya bisa muncul kembali sewaktu-waktu dan dapat mewujudkan dirinya dalam berbagai bentuk tindakan kekerasan komunal yang kadang-kadang dipicu masalah sepele belaka.

Psikologi Minoritas

Secara umum, kaum minoritas keagamaan di mana pun memiliki psikologi tertentu yang pada dasarnya menggambarkan ketakutan-ketakutan ketika berhadapan dengan kaum mayoritas di lingkungan sekitar mereka. Sekali lagi, psike semacam itu terbentuk tidak hanya karena posisi mereka yang rentan vis-a-vis kaum mayoritas, melainkan juga karena tindakan kaum yang disebutkan terakhir ini memang pernah mendatangkan ancaman eksistensial bagi kaum minoritas.

Salah satu “psikologi minoritas” paling menonjol yang tidak bisa hilang begitu saja dalam perjalanan waktu di Indonesia adalah “bayangan” dan mitos tentang “negara Islam”. Dalam berbagai pertemuan dan dialog dengan kelompok-kelompok agama minoritas, saya dari waktu ke waktu menemukan psikologi semacam itu. Dalam psikologi ini, kaum minoritas umumnya melihat orang-orang Islam Indonesia selalu berusaha mewujudkan negara Islam dengan cara apa pun –baik melalui cara-cara evolusi damai maupun revolusi kekerasan, seperti pemberontakan Darul Islam.

Psikologi semacam itu, pada hemat saya, cenderung meningkat di bawah permukaan di kalangan minoritas di Indonesia. Dan karena itu, gejala perlawanan eksistensial di kalangan masyarakat keagamaan minoritas juga meningkat. Peningkatan psikologi minoritas itu berbarengan dengan atau bahkan sebagai reaksi terhadap meningkatnya apa yang sering disebut sebagai santrinisasi di Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir, yang dalam perspektif kaum minoritas kian mengancam eksistensi mereka.

Pada masa pasca-Soeharto yang penuh dengan hiruk-pikuk kekebasan dan demokrasi, terlihat berbagai perkembangan yang tidak bisa lain hanya meningkatkan psikologi minoritas tersebut, mulai usaha parpol dan gerakan Islam tertentu mengembalikan Piagam Jakarta ke Pembukaan UUD 1945, usaha penegakan syariah, adanya perda-perda yang dipandang mengandung syariah, sampai mencoloknya tayangan-tayangan dakwah Islam dalam berbagai saluran TV.

Berhadapan dengan gejala-gejala seperti itu, kaum minoritas melakukan tidak hanya kontra-wacana, melainkan juga kontra-aksi. Gejala terakhir ini bisa dilihat, misalnya, pada kesulitan-kesulitan yang dialami kaum muslimin minoritas di Bali untuk mendirikan masjid dan di daerah lain, tempat non-muslim menjadi mayoritas.

Dua kali pengeboman di Bali yang dilakukan kelompok Amrozi dan kawan-kawannya jelas meningkatkan rasa keterancaman itu, yang pada gilirannya menimbulkan kontra-reaksi di kalangan masyarakat mayoritas Hindu Bali. Hasilnya, kaum muslimin yang sebenarnya tidak ada urusan dengan Amrozi cs menerima dampaknya dalam bentuk meningkatnya kesulitan-kesulitan keagamaan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya.

Masih dalam konteks itu, muncul kontra-wacana yang lebih radikal di kalangan minoritas di Indonesia, tetapi mayoritas di wilayah tertentu. Ini, misalnya, terlihat dengan upaya melegislasi kota atau wilayah tertentu sebagai “kota Injil” dan sebagainya. Kaum muslimin minoritas di wilayah ini tentu saja tidak bisa berbuat banyak, karena proses legislasi itu terjadi di daerah tempat mereka tidak memiliki kekuatan politik untuk menolaknya. Karena itu, yang bisa mereka lakukan adalah berusaha menggalang oposisi terhadap upaya seperti itu, baik pada tingkat lokal maupun nasional.

Berhadapan dengan peningkatan “psikologi minoritas” tersebut –kaum non-muslim pada level Indonesia dan sebaliknya kaum muslimin pada daerah tertentu– saya menyarankan agar masing-masing kelompok tidak over-reactive. Dalam konteks itu, upaya-upaya memperkuat posisi politik agama tertentu, baik pada tingkat nasional maupun lokal, hendaklah dipandang bukan sebagai representasi keseluruhan umat beragama.

Di kalangan muslim pada tingkat nasional dan lokal, terdapat organisasi-organisasi mainstream yang tidak mendukung usaha kelompok tertentu di kalangan umat Islam yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Karena itu, tidak perlu ada perasaan ketakutan berlebihan di kalangan minoritas yang pada gilirannya menguasai psike mereka dalam kehidupan. Dan, bisa dipastikan, jika psikologi minoritas yang tumbuh menjadi “exaggerated fear” (ketakutan berlebihan) itu terus bertahan –apalagi meningkat– maka dapat mendorong kontra-reaksi yang tidak sehat dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan secara keseluruhan.

Psikologi Mayoritas

Jika di kalangan minoritas terdapat “psikologi minoritas” –yang dapat meningkat menjadi “exaggerated fear” — di dalam diri kaum muslimin mayoritas Indonesia juga terdapat semacam “psikologi mayoritas”. Lagi-lagi psikologi semacam itu tumbuh dan berkembang karena faktor-faktor historis, sosiologis, dan politis yang sangat kompleks.

Salah satu bentuk “psikologi mayoritas” muslim Indonesia adalah apa yang disebut sosiolog Belanda, CAO van Niewenhuijze, pada 1980-an sebagai “majority with minority complex”, masyarakat mayoritas tetapi dengan sikap mental sebagai minoritas. Psikologi seperti ini muncul karena pengalaman historis-politis sejak zaman Belanda, ketika kaum muslimin mengalami marjinalisasi sosial, ekonomi, dan politik. Dan ini terus berlanjut dalam masa Orde Lama dan Orde Baru, ketika parpol-parpol, organisasi-organisasi, dan tokoh-tokoh muslim yang dipandang mewakili Islam (baca: Islam santri) mengalami marjinalisasi dan bahkan supresi penguasa.

Dengan psikologi “mayoritas dengan kompleks minoritas” itu, terdapat kalangan muslimin yang merasa asing di rumahnya sendiri dan tidak menganggap pemerintahan yang ada sebagai bagian dari mereka. Lebih dari itu, psikologi seperti itu memendam ketakutan berlebihan terhadap kalangan minoritas keagamaan –khususnya Kristen– yang mereka pandang memiliki agenda-agenda yang mereka jalankan secara agresif untuk menguasai Indonesia melalui program Kristenisasi. Dalam perspektif ini, Kristenisasi dilakukan dengan berbagai cara; bukan hanya dengan evangelisasi yang persuasif, melainkan juga dengan mengeksploitasi kemiskinan orang-orang Islam melalui bantuan pendidikan, kesehatan, pangan, dan sebagainya.

Psikologi seperti inilah yang sering menguasai imajinasi (capturing imagination) banyak kalangan muslim tentang kaum minoritas Kristen yang mereka pandang sangat agresif dan ekspansif sejak zaman Belanda sampai sekarang. Lebih jauh, menurut perspektif ini, jika dulu misi Kristenisasi mendapat dukungan kekuasaan Belanda, sekarang menyandarkan diri pada kekuatan pendanaan gereja internasional, khususnya Amerika Serikat. Dan, pihak terakhir ini memang terkenal tidak hanya memiliki kemampuan finansial berlimpah, sumber daya evangelis sangat bersemangat, melainkan juga berani melakukan langkah-langkah evangelisasi yang dramatis.

Karena itu, dalam psikologi “majority with minority complex” itu, belakangan ini menguat pula kepercayaan pada “teori persekongkolan” (conspiracy theory). Dalam teori ini, kaum muslimin percaya, terdapat persekongkolan Kristen Barat untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin; membuat orang-orang Islam menjadi Kristen; dan juga menguasai wilayah-wilayah muslim, seperti pernah dilakukan Eropa sepanjang abad ke-18 sampai masa berakhirnya Perang Dunia II.

Dalam kerangka psikologi seperti itulah, kita bisa melihat kenapa dalam dua dasawarsa terakhir muncul banyak kelompok Islam yang menyebut diri “kelompok anti-pemurtadan”, “kelompok pembela akidah”, dan seterusnya. Mereka tidak hanya melakukan dakwah mencegah konversi orang-orang Islam ke dalam agama Kristen, melainkan juga melakukan aksi-aksi menentang pembangunan gereja atau menutup gereja-gereja yang mereka pandang berdiri secara tidak sah dan seterusnya.

Dengan demikian, proses santrinisasi yang meningkat sepanjang dua dasawarsa terakhir –misalnya dalam bentuk kian meluasnya pemakaian jilbab di kalangan kaum muslimah dan makin banyaknya lembaga baru Islam seperti bank syariah– gagal menghapuskan psikologi “majority with minority complex” tersebut. Mungkin psikologi seperti itu berkurang dalam bidang politik, tetapi kelihatannya tidak dalam hubungan antar-agama.

Penutup

Baik psikologi minoritas maupun psikologi mayoritas tadi jelas tidak sehat bagi kehidupan antar-agama dan kebangsaan. Memang tidak mudah menghapus “ketakutan-ketakutan” yang ada di balik psikologi seperti itu, karena akar-akar historis, sosiologis, dan politisnya begitu kuat sehingga telah menjadi memori kolektif dan menguasai psike masing-masing kelompok umat beragama.

Bagi saya, upaya-upaya serius untuk menghilangkan –atau mengurangi– psike itu dapat dilakukan, antara lain, melalui dialog-dialog antar-agama yang berani, jujur, dan ikhlas. Memang dialog-dialog antar-agama telah lama dilakukan umat beragama yang berbeda, tetapi kecenderungannya adalah: dialog-dialog tersebut masih formalitas dan basa-basi. Atau dialog-dialog itu menjadi forum “pemadam kebakaran” ketika konflik dan kekerasan terjadi di antara umat beragama yang berbeda. Jika kita menginginkan hubungan umat beragama yang genuinely harmonis dan damai, tidak bisa lain, keberanian dan keikhlasan dalam dialog-dialog antar-agama menjadi keharusan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Azyumardi Azra
Guru besar sejarah dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
[Mukaddimah, Gatra Edisi Khusus beredar Kamis, 25 September 2008]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: