Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Seberapa Jauh Kinerja Pemerintah dalam Pengentasan Kemiskinan?

Posted by Edi Purwanto pada Juli 7, 2010

Pada September 2000, pemerintah Indonesia bersama 188 negara lainnya menandatangani Deklarasi Milenium Persatuan Bangsa-bangsa yang lebih sering disebut dengan Milenium Development Goals (MDG’s). Tujuan dari kesepahaman itu adalah untuk mengentaskan kemiskinan, memperbaiki kualitas kesehatan dan pendidikan, meningkatkan perdamaian dan hak asasi manusia, kesataraan gender dan kesinambungan lingkungan hidup. Pertemuan itu juga menyepakati target terukur yang harus dicapai masyarakat global pada tahun 2015. Dalam pengentasan kemiskinan pemerintah harus menurunkan proposisi jumlah penduduk yang pendapatannya di bawah USD 1/hari menjadi setengahnya yaitu sebanyak 10,3 persen dari jumlah penduduk. Sampai dimanakah kinerja pemerintah dalam menyepakati forum itu, terutama dalam penanggulangan kemiskinan?

Menurut data BPS tahun 2010 laju penurunan angka kemiskinan selama Maret 2009-Maret 2010 hanya 0,82 Persen. Lebih lambat jika dibandingkan dengan dengan periode Maret 2008-Maret 2009 sebesar 1,27 Persen. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta orang atau 13,33 Persen. Tahun ini berkurang 1,51 juta orang jika dibandingan dengan Maret 2009 sebanyak 32,53 juta orang atau 14,15 Persen (Kompas, 12 Juli 2010).

Penurunan penduduk miskin ini juga diamini oleh pengamat ekonomi, Faisal Basri. Dia mencatat bahwa selama 15 tahun terakhir ini angka kemiskinan cendurung menurun, namun lambat yakni, dari 17,7 persen pada tahun 1996 menjadi 13,3 persen di pada 2010. Namun pada tahun 2006 angka kemiskinan mengalami kenaikan sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta pada tahun itu.

Berbagai program pengentasan kemiskinan di Indonesia sebenarnya telah dilakukan pemerintah. Misalnya Program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Jaringan Pengaman Sosial (JPS) yang sekarang berubah nama menjadi JAMKESMAS, Program Pengentasan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) yang sekarang berubah menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) baik pedesaan maupun perkotaan, Program Kompensasi Kenaikan BBM berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Tidak Langsung (BTL), Program Keluarga Harapan (PKH) yang semuanya itu telah menghabiskan dana yang tidak sedikit. Akan tetapi berbagai program pengentasan kemiskinan ini seakan belum membuahkan hasil yang maksimal.

Akar kemiskinan

Berbagai program pengentasan kemiskinan yang ada, kenyataannya justeru menghasilkan kondisi yang tidak menguntungkan masyarakat miskin. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kasus yang ada misalnya salah sasaran, terciptanya benih-benih fragmentasi sosial, dan yang paling mendasar adalah melemahkan capital sosial (gotong-royong, musyawarah, kepedulian, musyawarah, keswadayaan dan lain-lain). Lemahnya capital sosial di masyarakat ini pada gilirannya juga akan mendorong pergeseran perilaku masyarakat yang semakin jauh dari sifat kemandirian, kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama. Kondisi capital sosial yang melemah serta memudar ini lebih disebabkan oleh keputusan, kebijakan atau tindakan pengelola program dan pemimpin-pemimpin masyarakat yang selama ini cenderung tidak adil, tidak transparan dan tidak bisa terganggugugat, serta yang paling penting adalah tidak adanya keberpihakan kepada masyarakat miskin. Hal ini mengakibatkan kecurigaan, ketidakpedulian dan skeptisme di masyarakat.

Di sisi lain, upaya-upaya penanggulangan kemiskinan lebih banyak diarahkan hanya untuk meningkatkan penghasilan masyarakat miskin melalui berbagai program ekonomi. Seperti peningkatan penghasilan, pemberian kridit lunak, dsb. Semua ini tidak bisa disangkal akan meningkatkan penghasilan masyarakat miskin akan tetapi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan kemiskinan. Kesalahan mendasar yang saat ini terjadi adalah melihat kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasarnya yang disebabkan oleh rendahnya penghasilan mereka, sehingga pemecahan yang paling logis adalah dengan cara meningkatkan penghasilan. Peningkatan penghasilan di sini dianggap sebagai obat paling mujarab untuk keluar dari belenggu kemiskinan. Padahal kenyataannya akar kemiskinan malah bukan berasal dari penghasilan. Karena tinggi rendahnya penghasilan seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai peluang yang dapat diraihnya. Kemiskinan lebih disebabkan karena kebijakan-kebijakan politik pemerintah yang tidak adil sehingga menyebabkan sebagian masyarakat tersingkir dari sumber daya kunci yang dibutuhkan dalam menyelenggarakan hidup mereka secara layak.

Akar dari kemiskinan di masyarakat bisa dilihat dari dua segi, yakni eksternal dan internal. Sebab eksternal bisa meliputi musibah atau bencana alam, krisis ekonomi, kebijakan politik yang tidak berpihak, struktur ekonomi yang tidak adil dan lainnya. Sedangkan sebab internal, bisa dikarenakan kemalasan, ketakutan, kepelitan, lilitan hutang  atau ketidakmampuan seseorang dalam menjalin interaksi dengan sesama. Selain itu, minimnya akses ekonomi dan ketidakmampuan dalam mengelola pendapatan juga menjadi penyebab gurita kemiskinan. Dua komponen ini saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Selama pemerintah masih memiliki nalar yang korup dan perilaku yang kurang baik, maka kemiskinan akan senantiasa menjadi permaslahan tersendiri di negara kaya ini. Karena kebijakannya tidak pernah menguntungkan orang miskin. Target MDG’s yang telah disepakati bersama 10,3 persen secara kuantitatif mungkin bisa tercapai karena ukurannya adalah pendapatan, namun target kualitatif terkait dengan kepekaan dan kemandirian dalam menyelesaikan masalah kemiskinan masih dipertanyakan. Akankah kemiskinan senantiasa menjadi momok peradaban yang senantiasa menghantui negara kita yang kaya ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: