Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Archive for September, 2010

What is Positive Psychology / Psikologi Positif ?

Posted by Edi Purwanto pada September 27, 2010

Martin Sligman

Seperti yg kita tau, psikologi awalnya lahir dari orang-orang neurotik. Sehingga akhirnya segala diagnosis di psikologi selalu diidentikkan dengan gangguan jiwa, neurosis, dll(intinya buruklah). Sehingga munsullah sebutan psikologi negatif.

Nah, sekarang mulai lahir psikologi positif, atau tenarnya psikologi orang waras. Dalam ilmu ini mencakup aspek kebersyukuran(gratitude). Sejauh ini saya belum terlalu tahu perkembangan psikologi positif itu sendiri. Mungkin ada yg mau berbagi ide?

Psikologi Positif (Positive Psychology) muncul sebagai cabang psikologi (terbaru) pada tahun 1998. Martin Seligman Presiden APA (American Psychological Association), adalah tokoh utama cabang psikologi ini. Psikologi Positif mempelajari tentang kekuatan dan kebajikan yang bisa membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi berhasil (dalam hidup atau meraih tujuan hidupnya), dan oleh karenanya ia menjadi bahagia. Salah satu pusat perhatian utama dari cabang psikologi ini adalah pencarian, pengembangan kemampuan, bakat individu atau kelompok masyarakat , dan kemudian membantunya untuk mencapai peningkatan kualitas hidup (dari normal menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih bahagia).

Psikologi Positif  berakar pada mazhab atau aliran Psikologi Humanistik. Abraham Maslow, Carl Rogers dan Erich Fromm, adalah para tokoh psikologi humanis yang telah dengan gemilang mengembangkan penelitian, praktek dan teori tentang kebahagiaan atau kehidupan individu yang positif. Upaya ini kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh para ahli dan praktisi Psikologi Positif untuk terus mencari fakta empirik dan fenomena baru untuk mengukuhkan hasil kerja para psikolog humanis. Salah satu teori yang dikemukakan oleh Psikologi Positif adalah Self-determination Theory.

Jika ditelusuri lebih jauh ke belakang, pengaruh-pengaruh yang ikut andil dalam lahirnya cabang Psikologi Positif  ini berasal dari ilmu Filsafat dan Agama. Jauh sebelum psikologi moderen muncul di akhir abad ke XIX. Judaisme mengajarkan bahwa kebahagiaan dan rewards akan terjadi jika orang menjalankan perintah-perintah dari Sang Pencipta. Socrates berpendapat bahwa pengetahuan diri (self knowledge) adalah jalan menuju kebahagiaan. Aristoteles percaya bahwa kebahagiaan atau eudaimonia terjadi jika kegiatan-kegiatan rasional selaras dengan tata nilai (individu atau masyarakat). Agama Kristen kemudian mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak akan pernah terjadi di dunia ini melainkan pada kehidupan sesudah kematian.

Era Renaissance, kemudian menempatkan orang sebagai fokus dan sesuatu yang sangat bernilai. Akibatnya orang-orang kreatif memiliki prestise atau nilai lebih di mata masyarakat. Para pemahat, pelukis, musician tidak lagi dianggap hanya sebagai pekerja seni melainkan sebagai Artis. Ahli filsafat seperti John Stuart Mill percaya bahwa bagi kebanyakan orang, tindakan moral akan bisa menimbulkan atau meningkatkan kebahagiaan hidup. Oleh karenanya ilmu pengetahuan tentang kebahagiaan harus dimanfaatkan untuk menentukan perbuatan-perbuatan apakah yang termasuk dalam tindakan (ber)moral. Thomas Jefferson dan para pelopor demokrasi lainnya, percaya bahwa Hidup, Kebebasan dan Upaya mencari Kebahagiaan adalah hak azasi yang mutlak, dan oleh karenanya tidak boleh ada pihak-pihak tertentu (misalnya pemerintah) yang bisa menghalangi seseorang untuk meraih “kemutlakan” hak ini. Di jaman Romantik, orang menghargai ekspresi emosional individu dan mencari “wajah asli” emosi individu yang harus terbebas dari norma-norma sosialnya. Pada waktu yang bersamaan, Hubungan interpersonal dan rasa cinta adalah tema atau motivasi utama mengapa orang kemudian menikah dan membangun keluarga.

Dari refleksi singkat ini, semoga kita dapat semakin tahu apa, dimana dan bagaimana eksistensi Psikologi Positif dalam kerangka atau bingkat Psikologi secara keseluruhan. Mata kuliah dan praktek-praktek seperti Kesehatan Mental, Psikologi Kebugaran, Psikologi Inspirasi, dsb.  pun pula karya-karya (tulisan, buku, penelitian) tentang self-inspiration, self-fulfillment, self-determination  adalah buah-buah manis yang dihasilkan Psikologi melalui cabang Psikologi Positif.

Ada buku sangat bagus bagi pemula yang ingin mengetahui tentang Psikologi Positif. Judulnya Authentic Happiness, tulisan Martin Seligman, si mbahnya Psikologi positif. di bab awal buku itu om seligman cerita tentang bagaimana ia bersama dua temannya (om Diener sama satu lagi lupa aku namanya) mendirikan mahzab baru ini sambil berlibur bersama keluarga mereka di sebuah vila di tepi danau. saat om seligman terpilih jadi presiden APA pun ia menjadikan dekade kepemimpinannya sebagai decade of well-being.

Bukunya sendiri sekarang sudah susah dicari, saya pernah muter-muter Social Agency, Togamas, Gramedia, Shopping, udah gak nemu. kalo banyak yang berminat saya sarankan untuk datang langsung ke Penerbit Mizan Pustaka di Jl. Kaliurang KM 6, dan tanyakan apakah stok buku tersebut masih ada atau bisakah dipesan. hoho… agak ngiklan nih, tapi mudah-mudahan bermanfaat ya…

Seorang teman bilang, buku ini adalah buku psikologi populer paling ilmiah, sekaligus buku ilmiah yang paling populer. heee… intinya, enak dibaca dan dilengkapi dengan skala-skala tentang kebahagiaan. kalo susah dapet bukunya bisa lihat di http://www.authentichappiness.com

Saya sendiri lebih tertarik untuk mempelajari psikologi positif daripada belajar hal-hal yang bersifat abnormal. Salah-salah belajar nanti malah penasaran dan menjajal hal yang tidak normal, atau saking hapalnya dengan hal-hal yang tidak normal, semua-muanya dilihat tidak normal, hiiiy… so, lebih baik fokus dengan sesuatu yang positif bukan?

Barangkali ada kaitan menarik juga antara positive psychology dan critical psychology. nah, klo critical psychology atau psikologi kritis adalah kritik terhadap ilmu psikologi arus utama/modern yang selama ini kita kenal. lebih gampangnya begini, ketika ada orang mengalami stres ahli psikologi cenderung akan mengalisis kenapa dia stres, pemicunya, apa, dan bagaimana orang tersebut bisa mengatasi pemicu stres. ahli psikologi arus utama tidak berusaha bersama untuk mengatasi pemicu yang membuat stres alih-alih mendorong orang tersebut untuk dapat beradaptasi terhadap lingkungan yang menenkan (misalnya pekerjaan yang overload, gaji kecil, sering lembur, keluarga kebutuhan banyak, dll, maka biasanya yang terjadi adalah bagaimana menyesuaikan dengan kondisi tersebut, tidak mengatasi kenapa sampai terjadi kondisi tersebut)

Inti dari ajaran psikologi kritis setahu saya adalah ilmu psikologi harus lebih bisa membawa kepada arah keadilan sosial bagi semua..

Sekedar catatan kecil: kleptomania adalah istilah yang tercipta pada masa-masa awal munculnya supermarket dimana orang menjadi terdorong/tergiur untuk memiliki sesuatu karena display yang menarik dan konsumen dapat menyentuh bahkan mencoba barang yang dijajakan. ketika orang kelas rendah mencuri di supermarket dan tertangkap dia diperlakukan sebagai kriminal namun ketika orang kelas atas yang mencuri di supermarket dia dianggap memiliki kelainan dan dapat dibebaskan dari jerat hukum (bukan kriminal). inilah salah satu kritik kecil terhadap psikologi arus utama..yang tidak berkeadilan sosial

Sumber: http://forum.psikologi.ugm.ac.id

Posted in jurnal pemikiran, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Perdebatan antara NU dan Muhammadiyah

Posted by Edi Purwanto pada September 27, 2010

Siang itu usai melihat Film Sang Pencerah seorang Profesor dengan sangat percaya diri menceritakan kepada mahasiswanya tentang perjuangan Ahmad Dahlan. Di antara perjuangan Ahmad Dahlan adalah melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Di bidang pindidikan pendiri Muhammadiyah yang bernama kecil Muhammad Darwisy ini telah menggunakan sarana dan prasarana modern seperti meja kursi dan papan tulis. Biasanya papan tulis meja dan kursi hanya digunakan oleh orang-orang kolonial Belanda. Beberapa Ulama’ konservatif seperti KH. Hasyim Asy’ari tidak mau menggunakan perangkat moderen seperti ini, karena milik orang Belanda dan kafir. Di bidang keagamaan A Dahlan telah membuat gebrakan dengan menggeser arah kiblat. Konon perilaku pembaharuan yang dilakukannya, Dahlan dianggap sebagai orang kafir dan sesat oleh orang-orang konservatif. Namun A Dahlan tidak pernah putus asa untuk melakukan pembaharuan Islam di Indonesia.

Selain itu A Dahlan sangat gigih memerangi khurafat, bid’ah dan tahayul.  “Saya baru saja melihat film sang pencerah, untungnya saya Muhammadiyah sehingga mati langsung masuk surga. Berbeda dengan orang-orang NU yang masuk surganya setelah seribu hari”, ungkap Profesor bercanda dan Kontan seluruh isi kelas pada saat itu tertawa semuanya.

Ada seorang mahasiwanya bertanya. Pak Prof. Saya boleh bertanya ndak?

lho boleh silahkan. Profesor merasa senang karena ceritanya ada yang merespon.

Bagaimana Prof. bisa langsung masuk surga pak lha wong bapak tidak bisa menjawab pertanyaan Malaikat Mungkar dan Nangkir di dalam kubur koq.

Jadi kalau bapak mati, bapak malah pusing dan digebukin sama malaikat terus menerus karena tidak bisa menjawab pertanyaannya. Kalau orang NU walaupun seribu hari baru masuk surga tapi kan tidak digebukin malaikat. Karena sudah ditalqin (dikasih bocoran sebelum dikubur). Pertanyaan sekaligus jawabannya sudah tau pak. Nah kalau bapak kan pertanyaannya saja tidak tau apalagi jawabanya?

Seluruh kelas sontak tertawa terpingkal-pingkal melihat sang profesor terkalahkan oleh mahasiswa selenge’an ini. Rupanya sang profesor tidak mau kalah berdebat. lantas dia mencoba bertanya kepada mahasiswanya itu.” Apakah diterima doa orang hidup kepada orang mati itu? kalau di terima kenapa tidak ada balesannya?”, Tanya Profesor. Dengan nada yang sangat datar mahasiswa itu bertanya balik. “Kalau memang tidak diterima, selama hidup saya mendoakan orang mati tidak pernah dikembalikan tuh pak. Logikanya kalau tidak diterima kan mestinya dikembalikan. ini tidak. Berarti kan diterima…??

Profesor pun langsung mengumpat keluar dengan nada jengkel. “Memang susah berbicara dengan kamu”, seru Profesor menunjuk mahasiswa selenge’an itu. Semua mahasiswa cekikian, namun tidak berani tertawa lebar karena takut sama Profesor. Setelah Profesor keluar beberapa langkah dari pintu, baru satu kelas tertawa terbahak-bahak.

gambar: http://desieria.blogspot.com/2009/10/dosen-suka-suka.html

Posted in serba-serbi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pingin Slamet, Warga Junwatu Bersih Dusun

Posted by Edi Purwanto pada September 26, 2010

Batu, JB. Terdengar sayu-sayu dari kejauhan suara kendang kempul yang dipadukan dengan gong, kenong dan gong. Suara itu semakin nyata ketika saya mendekati sebuah punden yang berada di Junwatu Desa Junrejo Kota Batu. Rupanya itu adalah suara kesenian reog kendang yang tampil sebelum selametan dusun.

serius mendengarkan doa dari sesepuh desa

Tampak di pagi itu seluruh warga dusun tumplek blek memenuhi pelataran danyangan di Junwatu. Mereka datang dengan membawa makanan dan buah-buahan yang sudah ditata rapi dalam baskom atau ambeng.Masing-masing kepala keluarga membawa minimal satu baskom makanan, sementara untuk buah-buahan boleh membawa dan boleh tidak. Mereka datang dengan bergelombang dan hampir bersamaan antara RT satu dengan yang lainnya. Setelah dirasa semua warga masyarakat berkumpul, maka acara selametan pun bisa dimulai.

Pembawa acara membuka acara diteruskan dengan sambutan Petinggi Desa. Kemudian dilanjutkan dengan do’a yang didpimpin oleh sesepuh dusun. Do’a yang dipimpin oleh Pak Ta’in itu mengisyaratkan banyak hal. Diantaranya menjelaskan tentang maksud dan tujuan selamatan itu diadakan. “Ingkang dipun petri menika inggih punika Nabi Muhammad, Nabi Ilyas ingkang nguasai daratan ugi nabi khidir ingkang nguasai banyu. Ugi bapa biyung ingkang mbedah krawang Dusun Junwatu meniko mugi-mugi dipun paringi padang dalane lan jembar kubure. Mugi-mugi slamet sedayanipun, slamet ingon-ingone, keluargane, masyarakate, tandurane ugo slamet sak kabehe…..” Setelah selesai doa dan upacara penyerahan yang dilakukan oleh sesepuh desa, acara dilanjutkan dengan doa bahasa arab yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Selesai berdoa bukan berarti acara selesai, namun masih ada acara ijol-ijolan (saling menukar) ambeng. Tanpa dikomando oleh siapapun mereka sudah ijol-ijolan dengan sendirinya. Mereka saling membagikan makanan yang mereka bawa dari rumah kepada keluarga yang lain. Sehingga ketika sampai di rumah mereka bisa merasakan masakan yang dimasak oleh tetangganya. Menurut Dedik warga Junwatu, tradisi ijol-ijolan ambeng ketika selamatan dusun ini sudah dilakukan secara turun temurun. Setelah selesai ijol-ijolan orang boleh langsung pulang atau memakan berkatnya di punden bersama yang lainnya, sisanya baru dibuat berkat buat keluarganya yang sudah menunggu di rumah.

makan bersama setelah usai slametan

Acara selametan dusun itu dihadiri oleh seluruh warga masyarakat baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan Junwatu termasuk juga pemerintah Desa Junwatu, tokoh masyarakat dan para sesepuh dusun. Mereka membaur dengan cara duduk lesehan di atas Koran yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Tidak lagi ada perbedaan antara pejabat dengan buruh tani yang tua maupun yang muda. Semuanya berada dalam satu niatan yaitu meminta keselamatan kepada yang kuasa dan mengirinm doa kepada para leluhur yang sudah meninggal, khususnya adalah pembedah krawang cikal bakal dusun Junwatu.

Andi Faizal selaku kamituwo ditemui seusai acara mengatakan bahwa acara bersih dusun ini sudah dilakukan secara turun temurun. Sebagai orang yang dipercaya masyarakat sebagai sesepuh desa dia hanya melanjutkan tradisi yang ada. Menurut Faizal, orang yang pertama kali membedah krawang dusun Junwatu adalah Mbah Gumenuk yang kemudian diteruskan oleh Mbah Paing. Jasanya sebagai pembedah krawang inilah yang kemudian senantiasa diselamati oleh warga Junwatu.

Sementara menurut Rohmat Santoso selaku Kepala Desa, Tradisi slametan dusun ini memang diadakan setahun sekali di masing-masing dusun. Untuk dua dusun yang berada di bawah kendalinya yaitu Jeding dan Rejoso sudah dilakukan pada minggu yang lalu. Biasanya memang setelah selametan desa pasti ada acara tayuban, namun di Dusun Junwatu ruwatan dusunnya dengan menggunakan wayang kulit. Menurut Rohmat itu tidak menjadi masalah, karena menurutnya masing-masing dusun memiliki aturan dan kesepakatan yang berbeda-beda. Sebagai kepala desa saya hanya memfasilitasi saja, pungkasnya.

Posted in Indegenius | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Junwatu Lestarikan Bersih Dusun

Posted by Edi Purwanto pada September 21, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 21 September 2010

Warga Dusun Junwatu Desa Junrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu akan mengadakan selametan dusun pada Pada kamis Wage, 30 September 2010 atau bertepatan dengan 21 Syawal di penanggalan Jawa. Acara yang digelar secara rutin setiap tahun ini akan dilaksanakan selama 3 hari penuh.

Ruwatan bersih desa dengan wayangan

Umumnya pelaksanaan selamatan desa dilakukan satu desa, namun di Desa Junrejo selamatan dilakukan di masing-masing dusun. Menurut Wignyo selaku kamituwo (sesepuh) dusun Jeding, hal ini dikarenakan setiap dusun memiliki hari jadi sendiri-sendiri, sehingga dalam bersih dusun juga dilakuakan sendiri-sendiri.  Dahulu pernah dilakukan secara bersasma-sama satu desa, namun karena berbagai alasan maka kembali dilakukan di masing-masing dusun.

Ritual bersih dusun ini di beberapa daerah ada yang dinamakan sebagai ritual mreti desa, di Jawa Tengah disebut dengan dukutan. Di Jawa Timur sendiri ada beberapa istilah yaitu nyadran dan selametan yang  kadangkala ritual ini digabung dengan upacara adat sedekah bumi atau mreti bumi.

Menurut Wignyo bersih dusun ini bertujuan untuk membersihkan desa dari segala bala’(musibah), baik yang sudah terjadi maupun yang akan datang. Harapannya adalah agar dusun dan seluruh mahluk yang berada di dalamnya bisa terhindar dari berbagai bala’. Menurut Wignyo Bersih Desa merupakan warisan dari nilai-nilai luhur lama budaya yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.

Menurut Dedik Efendi selaku Panitia bersih dusun, acara selamatan dusun ini akan dilakukan dengan serangkaian acara yang akan dilakukan selama tiga hari. Mulai Rabu malam sampai dengan Jumat malam. Rangkaian acara bersih dusun itu akan diawali dengan Istighosah bersama pada Rabu malam di depan balai Desa Junrejo yang akan melibatkan berbagai element masyarakat dan beberapa tokoh agama di Junrejo.

Berebut berkah Bersih desa

Keesokan harinya akan dilaksanakan ritual bersih dusun yang akan dilaksanakan di danyangan Mbah Junwatu. Acara ini akan dimulai jam 06.30 sampai dengan 08.00, lanjut Dedik. Upacara ritual bersih dusun akan dipimpin oleh sesepuh Dusun Junwatu. Setelah berakhirnya ritual, akan dilanjutkan dengan ruwatan dengan pertunjukan kesenian Jaran kepang serta kesenian klontong (sebuah kesenian tradisional yang memadukan kesenian kentrung dengan jaranan).

Kemudian malam harinya akan ada ruwatan wayang kulit dengan dalang Ki Suwondo dari Blitar. Pada malam terakhir, menurut ketua RW 04 ini, warga Junwatu akan dihibur para pendekar-pendekar dari berbagai tempat lewat kesenian pencak silat. Sebuah pertunjukan yang sangat menantang nyali para pemuda acara ini sekaligus sebagai akhir penelenggaraan bersih dusun.

M. Faizal, selaku kamituwo Junwatu mengatakan bahwa pada tahun ini tidak melakukan karnaval seperti tahun-tahun sebelumnya. Tayub yang dahulu senantiasa menjadi kesenian wajib pada saat bersih desa Juga tidak ada pada tahun ini. Menurutnya, masyarakat Junwatu tidak menghendaki karnaval dan tayuban. “Karena permintaan masyarakat seperti itu maka saya harus mengikutinya”, pungkas Faizal.

*****

Harusnya Kota Batu tidak saja hanya menjadi kota pariwisata yang berbasiskan pada hal-hal yang popular seperti adanya Jatim Park, Batu Night Spektakuler (BNS), Museum Satwa, Agrowisata dll. Namun Batu sebenanrya memiliki potensi yang tinggi untuk pengembangan wisata budaya. Karena kota Batu masih memiliki tradisi yang kuat yang bisa dijual dan dinikmati oleh wisatawan. Selain itu batu juga memiliki beragam kesenian dan kebudayaan yang harus mendapatkan porsi yang tinggi dalam mengangkat Batu sebagai kota Wisata. Mungkin ini sampai hari ini belum menjadi agenda Dinas Pariwisata, namun banyak yang berharap agar pemerintah bisa lebih peka dalam mengembangkan potensi budaya yang ada.

Pada dasarnya bersih desa merupakan pernyataan masyarakat terhadap identitas, akar budaya, dan idealisme melalui pengalaman otentik orisinal komunitas, dimana komunitas menjadi pencipta budayanya sendiri, bukan hanya obyek yang dicekoki oleh rezim kebudayaan yang menghegemoni, seperti globalisasi budaya kapitalistik yang menggurita akhir-akhir ini.

Posted in penelitian, perjalanan | Leave a Comment »

Eksploitasi atau Persamaan Gender?

Posted by Edi Purwanto pada September 20, 2010

Perempuan kuli pasir

Ini adalah para perempuan yang sedang menurunkan pasir dari bak pick up. Di depan Balai Desa Tlekung Kota Batu. Mereka hanya diongkosi Rp. 40.000,- setiap pick up nya. Itu pun sudah termasuk menaikkan dan menurunkan pasir.

Dua perempuan tangguh ini juga mengangkut batu dari tempat satu ke tempat yang lainnya.

Dua orang perempuan sedang menurunkan pasir dari Pick up

Mereka mengaku melakukan hal ini dikarenakan terpaksa. Tuntutan ekonomi yang kian tinggi membuat para perempuan ini melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh suami.

Masyarakat di Desa Tlekung tidak pernah ada yang komentar tentang profesi mereka berdua.

Apakah ini yang dinamakan persamaan gender? Ataukah ini adalah penindasan? Adakah perempuan di perkotaan yang seperti mereka?

Posted in serba-serbi | Leave a Comment »

Bertani Organik Tidak Sekedar Mengganti Pupuk

Posted by Edi Purwanto pada September 20, 2010

Dewasa ini pupuk organik semakin populer dan banyak digunakan, hal ini disebabkan oleh semakin sulitnya para petani mendapatkan pupuk an organik. Entah pemerintah kuwalahan dalam menyediakan pupuk untuk para petani ataupun memang sengaja dimainkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengambil keuntungan.

Selain itu menurut beberapa penelitian penggunaan pupuk an organik (kimia) dalam jangka panjang tanpa di imbangi penggunaan pupuk organik dapat menyebabkan rusaknya sifat fisik dan kimia tanah termasuk rusaknya kehidupan mikroorganisme dalam tanah. Hal ini tentunya sangat membahayakan keberlanjutan pertanian kita.

Maka dari itu untuk menopang keberlanjutan tanaman dan keseimbangan unsur hara dan mokroorganisme dalam tanah, maka perlu dikombinasikan dengan pemakaian pupuk organic. Bahkan petani secara perlahan-lahan harus meninggalkan pupuk anorganik menuju pupuk organik yang ramah terhadap lingkungan. Upaya pengadaan pupuk organik berkualitas dengan teknologi sederhana dan biaya yang murah mutlak di perlukan guna berlangsungnya proses produksi petani.

Pupuk organik salah satunya adalah dengan menggunakan kompos. Kompos merupakan hasil dekomposisi bahan-bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos dapat berupa kotoran ternak, sampah organik, dan sisa tumbuh-tumbuhan.

Pupuk organik yang baik dapat dibuat dari bahan yang mudah didapat seperti dari kotoran hewan ternak. Dalam pembuatannya, kotoran ternak dapat didekomposisi dengan menggunakan bahan pemacu mikroorganisme seperti stardec atau bahan sejenis, di tambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos seperti serbuk gergaji, abu, jerami dan kapur. Ataupun dengan mengguankan fermentasi sederhana.

jerami yang sudah mulai membusuk

Kotoran sapi sebagai limbah usaha peternakan merupakan bahan pembuat kompos yang baik karena memiliki kandungan nitrogen dan potasium. Kualitas pupuk organik yang baik dapat diperoleh melalui proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktifitas biologis pada kondisi yang terkontrol.

Menurut Muhammad Irsyadul Ibad, pengalihan petani dari pupuk an organik menjadi organik ini tidak semata-mata merubah pupuknya. Direktur Infest Jogjakarta ini mengatakan bahwa perubahan itu membutuhkan proses yang panjang. Untuk merancang tanaman organik, maka tanahnya perlu disterilkan dari pupuk an organik dengan cara membiarkan tanah itu tidak ditanami minimal satu musim tanam.

Setelah itu biarkan tanah tumbuh dengan berbagai rerumputan. Setelah dirasa cukup, maka tanah sudah mulai dikerjakan dengan menggunakan model pertanian organik. “Kalau hanya merubah pupuk saja kita bisa mencari pupuk-pupuk organik yang dijual secara bebas. Namun saya tidak menjamin bahwa pertaniannya akan berhasil”, imbuh Ibad.

Kegagalan Pertanian dengan pupuk kimia

Selain itu, menurut laki-laki yang mengaku sudah mulai mengembangkan pertanian organik ini di Wonolelo dan Kulonprogo Jogjakarta ini, mengembangkan pertanian organik tidak hanya merubah dari pupuk an organik menjadi organik. Hal yang paling penting menurutnya adalah nalar yang digunakan oleh para petani harus sesuai dengan siklus rantai makanan. “Rantai makanan yang ada di sawah tidak boleh putus”, terangnya.

Karena menurutnya selain penggunaan pupuk kimia, banyaknya hama tanaman dan kegagalan panen dikarenakan ekosistem pertanian yang sudah tidak berimbang. Kalau memang jejaring makanan dalam rantai makanan sudah putus, maka kita harus membuatnya nyambung lagi dengan cara melengkapinya dengan cara buatan. Hal ini bukan perkara sulit menurutnya. Tinggal kita bisa sabar dan mulai menjobanya atau tidak, pungkasnya.

Manfaat Pupuk Organik

• Menggantikan atau mengefektifkan penggunaan pupuk An Organik.

• Bebas dari biji-bijian liar.

• Bebas dari bakteri pathogenic dan parasit.

• Bebas Phytotoxin.

• Tidak berbau / mudah penggunanya.

• Tidak membakar tanaman.

• Hemat Biaya dan tenaga.

• Menyediakan unsur hara.

• Meningkatkan Mikroba Tanah.

• Mempermudah pengolahan tanah karena membaiknya struktur tanah.

• Memperbaiki Ph tanah.

• Meningkatkan daya tahan tanah terhadap Erosi.

• Meningkatkan produksi 10-30%

• Biji-bijian lebih Berisi.

• Tidak cepat busuk

• Tanaman jauh dari Hama/Penyakit/Jamur.

• Berfungsi sebagai Growth Stimulant dan Soil Conditioner.

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/bertani-organik-tidak-sekedar-mengganti-pupuk.html

Posted in opini, serba-serbi | Leave a Comment »

Kupatan Yuk!

Posted by Edi Purwanto pada September 16, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 16 September 2010

Anda yang berada di Jakarta mungkin tidak pernah asing dengan makanan Ketoprak yang bahan bakunya juga berasal dari ketupat. Biasanya dijual di pinggir-pinggir jalan atau dujual keliling dengan menggunakan gerobak. Atau anda yang berada di Kota Malang juga sangat mengenal makanan yang khas disebut sebagai orem-orem. Orem-orem pun lontongnya juga dibungkus dengan janur.  Nah, mungkin kedua makanan di atas mirip dengan ketupat, cuman perbedaannya makanan ini bisa kita jumoai sepanjang waktu. Selama penjualnya masih berjualan, maka kita masih bisa menkmatinya.

Ketupat yang belum dimasak

Saat arus balik lebaran, di jalan-jalan di daerah Jawa Timur-an akan banyak ditemui penjaja ketupat. Baik yang masih berupa janur atau yang sudah berbentuk ketupat. Bagi orang-orang di luar daerah Jawa Timur-an seperti Jakarta atau sekitarnya jangan heran dengan fenomena ini, sebab memang di sana ketupat sudah bisa ditemui saat lebaran tiba. Hal yang berbeda lagi di Jawa Timur ketupat hanya bisa ditemui saat hari raya ketujuh.

Lain daerah memang terkadang lain caranya walaupun mungkin maksudnya sama. Di daerah Jawa timur-an ada sendiri momentum untuk lebaran ketupat, atau dikenal dengan kupatan. Dari penuturan orang-orang dulu lebaran ketupat ini dimaksudkan bagi orang-orang yang menjalankan puasa syawal. Makanya ketupat dapat ditemui setelah hari ketujuh lebaran. Caranya ketupat diantar ke tetangga-tetangga terdekat, atau ada juga yang diantar ke mushola untuk salamatan.

Terlepas dari hal itu makna simbolis ketupat sangat beragam. Beras ada yang mengasumsikan sebagai symbol dari nafsu, sedangkan janur merupakan istilah dari jatining nur atau hati nurani. Pembuatan ketupat dengan anyaman yang rumit juga menjadi symbol tersendiri yaitu sulitnya pengekangan hawa nafsu, belum lagi cara memasaknya membutuhkan waktu berjam-jam. Hal ini dimaksudkan bahwa semakin lama waktu memasaknya maka ketahanan ketupat tersebut juga akan lebih lama atau tidak cepat basi. Hal itu mengajarkan pada kita bahwa belajar untuk mengekang hawa nafsu juga tidak instan tapi juga membutuhkan kesabaran dan proses yang lama. Proses itu kita jalankan saat puasa ramadhan dan disunnahkan lagi saat Bulan Syawal.  Jadi ketupat merupakan perlambang dari pengekangan hawa nafsu itu.

Ketupat siap di santap

Makanan khas yang hanya dapat kita temui satu tahun sekali ini memang seringkali kita tunggu-tunggu, karena selain rasanya yang enak juga aromanya yang berbeda dari lontong biasa. Aroma daun janurnya membuat makanan tidak saja enak untuk dinikmati tetapi juga membuat rindu untuk membuatnya di tahun mendatang.

Kerinduan karena rasa inilah yang seringkali membuat kita lupa akan rasa yang sebenarnya. Rasa yang mengajarkan untuk selalu mengekang hawa nafsu dengan mata hati nurani kita. Sudahkah kita bisa membuat ketupat yang sebenarnya  setelah lebaran ini?

Sumber:

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/kupatan-yuk.html

Posted in opini, perjalanan | Dengan kaitkata: , , , , | 2 Comments »

Pecel Tumpang Pincuk Lesehan Jalan Dhoho Kediri

Posted by Edi Purwanto pada September 13, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 13 September 2010

Jika anda berjalan-jalan ke Kota Kediri pada malam hari, belum lengkap jika tidak berkunjung di Jalan Dhoho. Jalan Dhoho ini layaknya Jalan Marlboro di Yogyakarta, namun versi Kediri. Berbagai pertokoan berjajar sepanjang Jalan Dhoho. Ada toko pakaian, aneka kerajinan dan swalayan. Tidak lupa berbagai makanan khas Kediri juga terpampang sepanjang jalan ini.

pecel tumpang

Termasuk di antaranya adalah pecel tumpang. Nah, setelah anda puas berbelanja, anda bisa istirahat santai di pinggir Jalan Dhoho sembari memesan nasi pecel tumpang pincuk. Sembari makan pecel tumpang kita bisa menikmati lalu lalang kendaraan yang berjalan lambat di sepanjang Jalan Dhoho.

Pecel tumpang Jalan Dhoho biasanya mulai digelar pukul 15.00 WIB hingga tengah malam. Jangan anggap bahwa pecel tumpang di sini disajikan di dalam ruangan lengkap dengan tempat duduk seperti apa yang kita bayangkan. Pembeli hanya disediakan tikar plastik atau karpet dan bebas memilih tempat duduk lesehan. Boleh di depan pertokoan yang tutup, trotoar maupun di manapun di sepanjang Jalan Dhoho, asal tidak di tengah jalan.

Para penjual pecel tumpang pun tidak memiliki bedak. Mereka menggelar dagangannya di depan pertokoan dengan bermodalkan pikulan dan tempat seadanya. Walaupun tempat pedagang antara satu dengan lainnya saling berdekatan, namun mereka sama sama laku dan memiliki penggemar fanatik. Para penikmat pecel tumpang fanatik itu seringkali datang hanya untuk bersantai dan menikmati makanan khas Kediri ini.

Menu yang disajikan pun beragam, sesuai dengan selera pembeli. Ada yang suka dengan nasi pecel, nasi tumpang maupun nasi campur (campuran antara tumpang dan pecel). Cara penyajian sambal tumpang tak jauh beda dengan cara penyajian sambal pecel, yaitu dengan nasi yang di atasnya di beri aneka lalapan atau sayur – mayur yang telah direbus terlebih dahulu lalu disiram dengan sambal tumpang dan diberi peyek sebagai pelengkap, bisa peyek kacang atau peyek teri. Pecel tumpang ini disajikan disajikan di atas pincuk yang terbuat dari daun pisang. Anda bisa menggunakan sendok yang disediakan atau muluk pakai tangan. Jika anda muluk anda tinggal minta kobokan untuk cuci tangan.

Tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menikmati makanannya hanya mengeluarkan Rp. 5000,- anda sudah mendapatkan satu pincuk pecel tumpang, 1 gelas teh anget ato es teh dan sisanya bisa buat parkir. tidak mahal bukan?

Pecel Tumpang Pincuk

Sambal tumpang terbuat dari tempe yang telah busuk (bosok). Tempe yang sudah membusuk ini dimasak di campur dengan aneka bumbu seperti lombok atau cabe, bawang, garam dan bumbu dapur lainnya. Sambal tumpang memang terbuat dari tempe bosok, namun jangan keburu jijik cobalah dulu rasanya jika telah matang, pasti akan membuat anda ketagihan. Saya sudah mulai ketagihan nich.

Di Kota Malang tempat saya tinggal sekarang setahu saya pecel tumpang yang rasanya nendang di lidah hanya ada di samping Rumah Saikit Islam Dinoyo. Namun warung itu hanya buka dari jam 06.30 sampai jam 12.00 WIB. Itu pun saya harus mengantri panjang untuk mendapatkannya. Untuk para pembaca yang hoby makan pecel tumpang bisa merekomendasikan di mana tempat-tempat yang paling nikmat untuk makan pecel tumpang menurut anda. Pasti akan menjadi refrensi para pembaca yang lain penikmat Pecel tumpang.

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/pecel-tumpang-pincuk-lesehan-jalan-dhoho-kediri.html

Posted in penelitian, perjalanan | Leave a Comment »

Sandal Jepit Sisian Trend Baru

Posted by Edi Purwanto pada September 13, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 13 September 2010
Sandal anti maling sekaligus anti sisian

Bagaimanapun baik dan mahalnya harga sandal, tempatnya pasti di bawah. Sehari-hari barang ini hanya diinjak-injak karena hanya difungsikan sebagai alas kaki. Namun betapa pun tidak pentingnya sandal toh penampilan tidak akan lengkap tanpa barang yang satu ini.

Sandal jepit yang normal

Awalnya sandal jepit atau sering disebut sebagai sandal Jepang adalah sandal yang terbuat dari karet. Tali sandal biasanya berupa tali karet berbentuk huruf “V” yang menghubungkan antara bagian depan dan belakang sandal. Bagian atasnya tidak ada penutupnya sedangkan bagian bawahnya pun tidak ada haknya.

Sandal adalah alas kaki yang sudah dikenal manusia sejak zaman Mesir Kuno. Di zaman kuno, orang India, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang juga sudah mengenakan sandal. Sandal jepit di Amerika Serikat disebut flip-flops, thongs, atau beach sandals. Beberapa negara memiliki istilah sendiri-sendiri untuk menamai sandal jepit ini. Konon menurut cerita, sandal jepit di Amerika ini adalah oleh-oleh dari Jepang prajurit AS Seusai Perang Dunia II.

Sandal sisian yang biasa kita temukan di rumah kos dan pesantren

Sandal jepit merupakan trend memang. Buktinya sandal ini masih laku hingga sekarang. Peminatnya pun sangat beragam. Mulai dari pejabat kelas tinggi hingga para gembel pun juga menggunakan sandal jepit ini. Biasanya para pejabat hanya menggunakan sandal jepit untuk hal-hal yang tidak resmi. Sementara kelas bawah menggunakan sandal jepit dalam berbagai momen baik resmi maupun tidak.

Selain sandal jepit ada sandal bakiak atau klompen. Sandal ini barangkali adalah yang paling unik, karena dibuat dari kayu. Sandal ini sejak dulu sudah populer di negara-negara Eropa, seperti Belanda, Belgium, Denmark dan Sweden. Yang asli memang di depannya tertutup. Hanya saja dipengaruhi oleh budaya Cina dan Jepang, sehingga kemungkinan besar bakiak Indonesia agar mudah dibuat bagian depannya tidak tertutup tetapi terbuka.

Sandal bakiak dari kayu

Bakiak Indonesia sama dengan bakiak Eropa memang diperuntukkan untuk kelas bawah. Bakiak ala Indonesia, dibuat dari kayu ringan dan diberi tali dari bekas ban untuk tempat jari kaki. Sederhana dan murah sekali. Biasanya kita sering mendapatkan sandal ini di pedesaan dan di pondok pesantren, atau di tempat lain. Namun sekarang peminat sandal ini lebih banyak kita mendapatkannya pada para santri di pesantren.

****

Biasanya kita mendapatkan sandal dalam bentuk berpasangan yaitu kanan dan kiri. Pasangan kanan dan kiri itu kita temukan dengan jenis dan warna yang sama. Orang akan sangat malu jika bepergian dengan menggunakan sandal yang tidak sesuai (sandal sisian). Karena orang beranggapan orang yangmemakai sandal ini sedang nglindur. Inilah ptologi sosial yang disematkan kepada orang yang berperilaku menyimpang. Sampai-sampai sandal yang berbeda pun dianggap sebagai patologi.

Trend baru sandal sisian bertuliskan “meski beda warna yang penting keren”

Namun patologi sosial di atas tidak ditemukan di rumah kos ataupun di pondok pesantren. Tempat di mana antara batas personal dan publik mulai bias. Atau barangkali kebiasaan ghasab (meminjam tapi tidak bilang dengan yang punya) yang biasa dilakukan para santri dan penghuni kos-kosan. Mereka sudah tidak lagi mempermasalahkan warna dan jenis sandal. Mereka hanya membutuhkan nilai pakai bukan nilai intrinsik sandal. Bagi mereka sandal sisian tidak menjadi persoalan. Bagi mereka tidak memakai sandal itulah yang menjadi persoalan.

Sandal sisian ini justru dibidik oleh produsen sandal sebagai peluang bisnis yang menarik. Dengan sentuhan produsen, sandal sisian sekarang malah menjadi trend tersendiri. Para penjual sandal sisian beda warna akhir-akhir ini mengambil banyak keuntungan. Konsumen sandal pun kini malah senang dengan sandal sisian.

Rupanya masyarakat kelas bawah mulai menyadari bahwa berbeda warna itu indah dan bukan lagi sebagai patologi sosial. Semoga sandal yang berbeda warna ini juga mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat tentang kebaeragaman agama, suku, ras, bangsa merupakan pernak-pernik yang indah untuk dilihat dan dijalankan. Semoga.

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/sandal-jepit-dan-bakiak-alas-kaki-kelas-bawah.html

Posted in opini, penelitian, perjalanan | Leave a Comment »

 
%d blogger menyukai ini: