Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Kupatan Yuk!

Posted by Edi Purwanto pada September 16, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 16 September 2010

Anda yang berada di Jakarta mungkin tidak pernah asing dengan makanan Ketoprak yang bahan bakunya juga berasal dari ketupat. Biasanya dijual di pinggir-pinggir jalan atau dujual keliling dengan menggunakan gerobak. Atau anda yang berada di Kota Malang juga sangat mengenal makanan yang khas disebut sebagai orem-orem. Orem-orem pun lontongnya juga dibungkus dengan janur.  Nah, mungkin kedua makanan di atas mirip dengan ketupat, cuman perbedaannya makanan ini bisa kita jumoai sepanjang waktu. Selama penjualnya masih berjualan, maka kita masih bisa menkmatinya.

Ketupat yang belum dimasak

Saat arus balik lebaran, di jalan-jalan di daerah Jawa Timur-an akan banyak ditemui penjaja ketupat. Baik yang masih berupa janur atau yang sudah berbentuk ketupat. Bagi orang-orang di luar daerah Jawa Timur-an seperti Jakarta atau sekitarnya jangan heran dengan fenomena ini, sebab memang di sana ketupat sudah bisa ditemui saat lebaran tiba. Hal yang berbeda lagi di Jawa Timur ketupat hanya bisa ditemui saat hari raya ketujuh.

Lain daerah memang terkadang lain caranya walaupun mungkin maksudnya sama. Di daerah Jawa timur-an ada sendiri momentum untuk lebaran ketupat, atau dikenal dengan kupatan. Dari penuturan orang-orang dulu lebaran ketupat ini dimaksudkan bagi orang-orang yang menjalankan puasa syawal. Makanya ketupat dapat ditemui setelah hari ketujuh lebaran. Caranya ketupat diantar ke tetangga-tetangga terdekat, atau ada juga yang diantar ke mushola untuk salamatan.

Terlepas dari hal itu makna simbolis ketupat sangat beragam. Beras ada yang mengasumsikan sebagai symbol dari nafsu, sedangkan janur merupakan istilah dari jatining nur atau hati nurani. Pembuatan ketupat dengan anyaman yang rumit juga menjadi symbol tersendiri yaitu sulitnya pengekangan hawa nafsu, belum lagi cara memasaknya membutuhkan waktu berjam-jam. Hal ini dimaksudkan bahwa semakin lama waktu memasaknya maka ketahanan ketupat tersebut juga akan lebih lama atau tidak cepat basi. Hal itu mengajarkan pada kita bahwa belajar untuk mengekang hawa nafsu juga tidak instan tapi juga membutuhkan kesabaran dan proses yang lama. Proses itu kita jalankan saat puasa ramadhan dan disunnahkan lagi saat Bulan Syawal.  Jadi ketupat merupakan perlambang dari pengekangan hawa nafsu itu.

Ketupat siap di santap

Makanan khas yang hanya dapat kita temui satu tahun sekali ini memang seringkali kita tunggu-tunggu, karena selain rasanya yang enak juga aromanya yang berbeda dari lontong biasa. Aroma daun janurnya membuat makanan tidak saja enak untuk dinikmati tetapi juga membuat rindu untuk membuatnya di tahun mendatang.

Kerinduan karena rasa inilah yang seringkali membuat kita lupa akan rasa yang sebenarnya. Rasa yang mengajarkan untuk selalu mengekang hawa nafsu dengan mata hati nurani kita. Sudahkah kita bisa membuat ketupat yang sebenarnya  setelah lebaran ini?

Sumber:

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/kupatan-yuk.html

2 Tanggapan to “Kupatan Yuk!”

  1. isdiyanto said

    barusan nikmatin lontong dan ketupat yang usah siap untuk tradisi syawalan besok, enak makan ketupat lagi, he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: