Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

What is Positive Psychology / Psikologi Positif ?

Posted by Edi Purwanto pada September 27, 2010

Martin Sligman

Seperti yg kita tau, psikologi awalnya lahir dari orang-orang neurotik. Sehingga akhirnya segala diagnosis di psikologi selalu diidentikkan dengan gangguan jiwa, neurosis, dll(intinya buruklah). Sehingga munsullah sebutan psikologi negatif.

Nah, sekarang mulai lahir psikologi positif, atau tenarnya psikologi orang waras. Dalam ilmu ini mencakup aspek kebersyukuran(gratitude). Sejauh ini saya belum terlalu tahu perkembangan psikologi positif itu sendiri. Mungkin ada yg mau berbagi ide?

Psikologi Positif (Positive Psychology) muncul sebagai cabang psikologi (terbaru) pada tahun 1998. Martin Seligman Presiden APA (American Psychological Association), adalah tokoh utama cabang psikologi ini. Psikologi Positif mempelajari tentang kekuatan dan kebajikan yang bisa membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi berhasil (dalam hidup atau meraih tujuan hidupnya), dan oleh karenanya ia menjadi bahagia. Salah satu pusat perhatian utama dari cabang psikologi ini adalah pencarian, pengembangan kemampuan, bakat individu atau kelompok masyarakat , dan kemudian membantunya untuk mencapai peningkatan kualitas hidup (dari normal menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih bahagia).

Psikologi Positif  berakar pada mazhab atau aliran Psikologi Humanistik. Abraham Maslow, Carl Rogers dan Erich Fromm, adalah para tokoh psikologi humanis yang telah dengan gemilang mengembangkan penelitian, praktek dan teori tentang kebahagiaan atau kehidupan individu yang positif. Upaya ini kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh para ahli dan praktisi Psikologi Positif untuk terus mencari fakta empirik dan fenomena baru untuk mengukuhkan hasil kerja para psikolog humanis. Salah satu teori yang dikemukakan oleh Psikologi Positif adalah Self-determination Theory.

Jika ditelusuri lebih jauh ke belakang, pengaruh-pengaruh yang ikut andil dalam lahirnya cabang Psikologi Positif  ini berasal dari ilmu Filsafat dan Agama. Jauh sebelum psikologi moderen muncul di akhir abad ke XIX. Judaisme mengajarkan bahwa kebahagiaan dan rewards akan terjadi jika orang menjalankan perintah-perintah dari Sang Pencipta. Socrates berpendapat bahwa pengetahuan diri (self knowledge) adalah jalan menuju kebahagiaan. Aristoteles percaya bahwa kebahagiaan atau eudaimonia terjadi jika kegiatan-kegiatan rasional selaras dengan tata nilai (individu atau masyarakat). Agama Kristen kemudian mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak akan pernah terjadi di dunia ini melainkan pada kehidupan sesudah kematian.

Era Renaissance, kemudian menempatkan orang sebagai fokus dan sesuatu yang sangat bernilai. Akibatnya orang-orang kreatif memiliki prestise atau nilai lebih di mata masyarakat. Para pemahat, pelukis, musician tidak lagi dianggap hanya sebagai pekerja seni melainkan sebagai Artis. Ahli filsafat seperti John Stuart Mill percaya bahwa bagi kebanyakan orang, tindakan moral akan bisa menimbulkan atau meningkatkan kebahagiaan hidup. Oleh karenanya ilmu pengetahuan tentang kebahagiaan harus dimanfaatkan untuk menentukan perbuatan-perbuatan apakah yang termasuk dalam tindakan (ber)moral. Thomas Jefferson dan para pelopor demokrasi lainnya, percaya bahwa Hidup, Kebebasan dan Upaya mencari Kebahagiaan adalah hak azasi yang mutlak, dan oleh karenanya tidak boleh ada pihak-pihak tertentu (misalnya pemerintah) yang bisa menghalangi seseorang untuk meraih “kemutlakan” hak ini. Di jaman Romantik, orang menghargai ekspresi emosional individu dan mencari “wajah asli” emosi individu yang harus terbebas dari norma-norma sosialnya. Pada waktu yang bersamaan, Hubungan interpersonal dan rasa cinta adalah tema atau motivasi utama mengapa orang kemudian menikah dan membangun keluarga.

Dari refleksi singkat ini, semoga kita dapat semakin tahu apa, dimana dan bagaimana eksistensi Psikologi Positif dalam kerangka atau bingkat Psikologi secara keseluruhan. Mata kuliah dan praktek-praktek seperti Kesehatan Mental, Psikologi Kebugaran, Psikologi Inspirasi, dsb.  pun pula karya-karya (tulisan, buku, penelitian) tentang self-inspiration, self-fulfillment, self-determination  adalah buah-buah manis yang dihasilkan Psikologi melalui cabang Psikologi Positif.

Ada buku sangat bagus bagi pemula yang ingin mengetahui tentang Psikologi Positif. Judulnya Authentic Happiness, tulisan Martin Seligman, si mbahnya Psikologi positif. di bab awal buku itu om seligman cerita tentang bagaimana ia bersama dua temannya (om Diener sama satu lagi lupa aku namanya) mendirikan mahzab baru ini sambil berlibur bersama keluarga mereka di sebuah vila di tepi danau. saat om seligman terpilih jadi presiden APA pun ia menjadikan dekade kepemimpinannya sebagai decade of well-being.

Bukunya sendiri sekarang sudah susah dicari, saya pernah muter-muter Social Agency, Togamas, Gramedia, Shopping, udah gak nemu. kalo banyak yang berminat saya sarankan untuk datang langsung ke Penerbit Mizan Pustaka di Jl. Kaliurang KM 6, dan tanyakan apakah stok buku tersebut masih ada atau bisakah dipesan. hoho… agak ngiklan nih, tapi mudah-mudahan bermanfaat ya…

Seorang teman bilang, buku ini adalah buku psikologi populer paling ilmiah, sekaligus buku ilmiah yang paling populer. heee… intinya, enak dibaca dan dilengkapi dengan skala-skala tentang kebahagiaan. kalo susah dapet bukunya bisa lihat di http://www.authentichappiness.com

Saya sendiri lebih tertarik untuk mempelajari psikologi positif daripada belajar hal-hal yang bersifat abnormal. Salah-salah belajar nanti malah penasaran dan menjajal hal yang tidak normal, atau saking hapalnya dengan hal-hal yang tidak normal, semua-muanya dilihat tidak normal, hiiiy… so, lebih baik fokus dengan sesuatu yang positif bukan?

Barangkali ada kaitan menarik juga antara positive psychology dan critical psychology. nah, klo critical psychology atau psikologi kritis adalah kritik terhadap ilmu psikologi arus utama/modern yang selama ini kita kenal. lebih gampangnya begini, ketika ada orang mengalami stres ahli psikologi cenderung akan mengalisis kenapa dia stres, pemicunya, apa, dan bagaimana orang tersebut bisa mengatasi pemicu stres. ahli psikologi arus utama tidak berusaha bersama untuk mengatasi pemicu yang membuat stres alih-alih mendorong orang tersebut untuk dapat beradaptasi terhadap lingkungan yang menenkan (misalnya pekerjaan yang overload, gaji kecil, sering lembur, keluarga kebutuhan banyak, dll, maka biasanya yang terjadi adalah bagaimana menyesuaikan dengan kondisi tersebut, tidak mengatasi kenapa sampai terjadi kondisi tersebut)

Inti dari ajaran psikologi kritis setahu saya adalah ilmu psikologi harus lebih bisa membawa kepada arah keadilan sosial bagi semua..

Sekedar catatan kecil: kleptomania adalah istilah yang tercipta pada masa-masa awal munculnya supermarket dimana orang menjadi terdorong/tergiur untuk memiliki sesuatu karena display yang menarik dan konsumen dapat menyentuh bahkan mencoba barang yang dijajakan. ketika orang kelas rendah mencuri di supermarket dan tertangkap dia diperlakukan sebagai kriminal namun ketika orang kelas atas yang mencuri di supermarket dia dianggap memiliki kelainan dan dapat dibebaskan dari jerat hukum (bukan kriminal). inilah salah satu kritik kecil terhadap psikologi arus utama..yang tidak berkeadilan sosial

Sumber: http://forum.psikologi.ugm.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: