Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Berani Bertarung di Pencak Dor?

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 6, 2010

Oleh Edi Purwanto pada

Malam tampak semakin larut, rintik hujan mulai membasahi ratusan kepala yang menganga tercengang berdiri mengelilingi ring sederhana ukuran 5 x 5 m. Di atas ring tampak 2 orang pemuda yang sedang berantem adu tangkas dan kekuatan dan seorang wasit yang memimpin pertarungan.

dua orang peserta pencak dor sedang berduel 

Sementara di pojok-pojok ring tampak olehku gerombolan pemuda bertubuh kekar mengantri untuk bisa main di atas ring. Matanya melotot konsentrasi mengamati calon-calon petarung yang ada di pojok seberang ring, namun sesekali mereka melihat pertandingan yang sedang berlangsung. Rupanya mereka mulai memilih calon yang kira-kira tepat untuk diajak berduel di atas ring nantinya. Mereka akan mengukur lawan mana yang kira-kira bisa dihabisi.

Olah raga ini dinamakan seni pencak silat dor. Dikatakan sebagai pencak silat dor dikarenakan pertunjukan ini senantiasa diiringi oleh alat musik yang bernama jidor. Alat msik itu terus dibunyikan bertalu-talu guna memberikan semangat kepada para petarung untuk bisa menangkan diri.

Permainan ini bukanlah tinju seperti yang ada di Las Vegas yang sering kita lihat di televisi secara live. Juga bukan pertandingan silat yang nantinya akan mendapatkan juara. Ini adalah pertandingan nyali dan kemampuan bela diri serta kekuatan orang.

Saling pukul 

Ini adalah pertandigan bebas, namun masih mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh panitia. Wasit akan selalu mengingatkan di awal pertandingan tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak. Siapapun boleh bertanding di atas ring. Syaratnya cuman satu yaitu punya nyali dan keberanian untuk bertanding.

Sementara para petarung boleh menggunakan model tarung secara bebas. Mulai model silat, petinju, tawuran jalanan, kungfu sampai model silat ala Wiro Sableng pun juga diperbolehkan asalkan mau menanggung resiko. Tidak jarang ada petarung yang hanya mengandalkan otot, tanpa teknik, namun asal main pukul. Sehingga arena pertarungan diubah menjadi tarung kampung yang brutal, tanpa mengindahkan teknik bela diri yang benar. Tentunya ini adalah tontonan menarik buat yang suka dengan tantangan.

Biasanya setelah dua orang siap bertanding di atas ring mereka akan bersalaman dahulu. Wasit akan memberikan aba-aba setelah kedua pemain siap untuk bertanding. Jika mundur karena musuhnya tidak sebanding, maka wasit akan mengumumkan untuk mengganti pemain yang mundur tersebut. Setelah benar-benar siap maka pertandingan segera bisa dimulai.

Seperti yang saya ceritakan di atas bahwa pertunjukan ini adalah gaya bebas dan sportif. Wasit akan menghentikan permainan jika salah satu pemain menyerah. Walaupun sudah berdarah-darah namun pemain belum ada yang menyerah maka wasit belum memberhentikan permainan ini. Hingga benar-benar salah satu pemain ada yang menyerah. Namun wasit akan segera menghentikan permainan jika membahayakan jiwa salah satu pemain.

Uniknya dari permainan ini adalah masalah biasanya selesai di atas ring. Ketika sudah berada di bawah ring mereka akan menjadi teman seperti sediakala.

Konon sejarah Pencak Dor ini adalah olahraga beladiri yang didirikan oleh Gus Maksum (KH Maksum Jauhari) pada tahun 1960 an. Tradisi ini tetap berlanjut hingga sekarang ini. Biasanya digunakan untuk acara hajatan atau peringatan hari besar tertentu, seperti yang diadakan oleh masyarakat Junwatu minggu lalu untuk memeriahkan selamatan dusun.

Ayo siapa berani bertarung di Pencak Dor? Kalau saya tidak berani. Entah tidak memiliki nyali atau tidak tega ngelihat orang lain kesakitan saya sendiri kurang tau.

Gambar: http://bolopleks.blogspot.com/2009_01_29_archive.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: