Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Sambal Bawang Mbah Jayus Rasanya “Membakar”

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 8, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 8 Oktober 2010

“Lomboknya berapa mas?” Seloroh seorang perempuan dengan senyumnya kepada saya yang baru saja datang untuk memesan makanan. Saya tidak begitu memperhatikan omongannya. Saya malah asyik melihat beberapa orang yang sedang menikmati pedasnya sambel bawang. “Tiga atau lima apa tujuh atau berapa mas?” Tambah perempuan itu semakin keras. Rupanya perempuan itu tau kalau saya tidak begitu memperhatikan omongannya.

Karena teriakannya agak keras, maka saya langsung menoleh menuju sumber suara dan menjawab pertanyaan itu. “5 saja mbak”,  jawabku pendek. Setelah memesan saya langsung duduk di tempat yang paling nyaman.  Setelah saya ada yang memesan dengan cabai 10 dan beberapa yang lain malah 20 cabai. “Gila.. apa tidak terbakar mulut orang ini memakan cabai sebanyak itu”, saya berguman dalam hati. Tapi saya mengabaikan mereka dan langsung menoleh kiri dan kanan mencari tempat kosong untuk duduk.

Warung Mbah Jayus memang menyediakan meja dan kursi untuk makan, namun tidak sedikit pembeli memilih duduk lesehan di depan ruko-ruko samping warung Mbah Jayus yang sudah tutup. Mereka sangat menikmati sekali sambal bawang buatan para pembantu Mbah Jayus. Sementara saya memilih duduk di kursi, karena saya paling gampang terserang masuk angin akhir-akhir ini.

Tidak sampai lima menit sambal bawang dalam cobek dan satu piring nasi sudah disodorkan seorang perempuan kepada saya.

“Kalau kurang lauknya silahkan mengambil sendiri di sana ya mas!” seloroh perempuan hitam manis itu sembari menunjuk ke arah etalase. “Iya mbak beres saya pesen es jeruk 1 gelas aza”

Tanpa ba..bi…bu..ba… saya langsung mengambil beberapa sayap ayam goreng, kepala, tempe dan beberapa tahu. Tanpa ketinggalan kecambah kacang hijau. Lalapan kecambah kacang hijau menjadikan sambal bawang ini semakin nikmat. Saya langsung melahap sepiring nasi dengan sayap ayam yang sudah di penyet di atas cobek yang berisi sambel bawang tadi. Mmmm rasanya luar biasa. Asin, gurih, dan pedas jadi satu. Kalau kita mencampurkan kecambah, maka rasanya aka nada manis-manisnya sedikit. Rasanya ampus bon luar biasa sekali. Mulut ini serasa terbakar, namun di sinilah nikmatnya sambal bawang.

Serasa terbakar. Ya, setelah melahap sepiring nasi putih dan beberapa lauk saya memang merasakan mulut, wajah, juga jari-jemari tangan kanan saya jadi seperti terbakar saja. Untuk mencoba meredakannya, saya sampai perlu menenggak segelas es teh plus segelas air putih, merendam tangan beberapa lama di mangkuk kobokan. Keringat dingin keluar semua seperti habis lari sprint 100 meter. Sampai-sampai saya harus menghabiskan 4 sampai 5 tisu untuk mengelap keringat yang keluar di sekitar dahi dan leherku.

Saking ramenya pengunjung yang membeli sambal bawang di tempatnya Mbah Jayus, beberapa pengamen jalanan setiap malam siap menghibur di sini. Jika harinya tepat anda akan dihibur oleh orkes melayu “kampung” yang siap menyanyikan lagu-lagunya. Karena yang membawakan adalah orkes melayu kelas ndeso, maka lagu yang dibawakan adalah dangdut koplo. Dalam kesempatan itu anda boleh reques lagu atau malah duet bersama dengan penyanyinya. Nikmat sekali sambil goyang lidah kita bisa sambil manggut-manggut dan menggoyangkan pinggul. heheh… tariiik mas.

Sambal Bawang mbah Jayus 

Bagi pecinta kuliner pedas di Kota Malang, tentunya warung Mbah Jayus tidaklah asing. Warung Mbah Jayus ini buka mulai dari pukul 19.00-21.30 WIB saja. Menu yang dijual juga tidak begitu spesial, hanya nasi panas yang pulen, berbagai macam lauk pauk yang digoreng (tempe kedelai, tempe “keset”, tempe kacang, sayap ayam, kepala ayam, usus, dll) dan yang paling spesial adalah sambal bawang yang jumlah cabainya bisa kita tentukan sesuka hati.

Pada awalnya warung Mbah Jayus hanyalah bilik bambu yang berada di Jalan Candi Ngrimbi (Belakang Kampus Widyagama Kota Malang). Kini warung Mbah Jayus Hanya bergeser sedikit dari tempat semula. Namunsudah tidak seperti dahulu lagi tempatnya. Sekarang mbah Jayus sudah memiliki warung di sebuah Ruko tidak jauh dari tempat sebelumnya. Semasa Mbah Jayus masih sehat, dialah yang senantiasa ngulek dan mencampur sambal bawang itu. Sekarang Mbah Jayus setiap hari hanya duduk manis di warungnya mengamati para pekerja yang sedang melayani para tamu. Sementara yang mengurusi penjualannya adalah anaknya sendiri dengan dibantu oleh beberapa orang pekerja.

Untuk membuat sambal bawang ini sebenarnya sangatlah mudah. Resep sambal bawang sangatlah sederhana. Bumbunya hanya cabai rawit, bawang  putih dan garam (semuanya diulek dalam kondisi mentah). Nah, agar sambal bawang terasa gurih, tambahkan minyak goreng yang telah mendidih. Jadi dech. Lalu hidangkan bersama ayam goreng, tempe, tahu atau yang lainnya. sangat sederhana bukan? Saya sering mencoba membuat sendiri lho di rumah. Apakah anda pernah merasakan nikmatnya sambal bawang?

Gambar: http://www.flickr.com/photos/c_motz/page11/

Sumber tulisan: http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/sambal-bawang-mbah-jayus-rasanya-%E2%80%9Cmembakar%E2%80%9D.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: