Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Tautan antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 13, 2010

Filsafat dan ilmu adalah dua entitas yang saling memiliki koherensi di antara keduanya. Ini adalah awal mula manusia mencoba untuk menggunakan akal budinya untuk membaca realitas ataupun apa yang ada di balik realitas. Proses pencarian ini akan menghasilkan kesadaran yang bisa disebut sebagai pengetahuan. Proses manusia mengetahui realita yang memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan dapat dipertanggung-jawabkan kebenarnnya baik secara rasional maupun empiris maka lahirlah ilmu pengetahuan.

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga diambil dari bahasa Yunani philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata philia (persahabatan, cinta dsb.) dan sophia (kebijaksanaan). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang pencinta kebijaksanaan atau ilmu.

Dengan pengertian di atas, maka ilmu pengetahuan bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang ditangkap oleh indra yang disusun metodis, sistematis dan koheren tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan dan yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan tersebut. Sedangkan Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan realitas. Filsafat merupakan refleksi rasional (olah fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (kebenaran) dan memperoleh hikmat (kebijaksanaan).

Seorang filosof Islam terkemuka Al-Kindi (801 – 873 M), pernah mengungkapkan bahwa perbuatan rasio manusia yang paling utama adalah berfilsafat. Karena dengan berfilsafat manusia akan mengetahui hakikat dari segala sesuatu. Dalam berfilsafat, unsur rasional merupakan syarat mutlak, dalam upaya untuk mempelajari dan mengungkapkan secara mendasar pengembaraan manusia. Dengan rasio, orang akan mampu mencari sebab musabab pertama atas segala sesuatu atau sebab-musabab terakhir, atau bahkan sebab-musabab terdalam dari obyek yang dipelajari. Inilah yang kemudian dalam istilah filsafat kita kenal dengan scientia rerum per causas ultimas.

Menurut Aristoteles (384-322 SM), pemikiran manusia melewati 3 jenis abstraksi.  Menurutnya setiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis ilmu pengetahuan dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut filsafat:

Aras abstraksi pertama adalah fisika.  Menurutnya manusia akan mulai berfikir kalau mengamati. Dalam berfikir, akal dan budi akan melepaskan diri dari pengamatan indrawi segi-segi tertentu, yaitu materi yang dapat dirasakan (hyle aistete). Dari hal-hal yang partikular dan nyata, ditarik menuju hal yang bersifat umum. Akal budi manusia bersama materi yang abstrak akan menghasilan ilmu pengetahuan yang disebut fisika.

Aras abstraksi kedua adalah atesis. Dalam proses abstraksi selanjutnya, kita dapat melepaskan diri dari materi yang kelihatan.  Hal ini hanya bisa terjadi ketika akal budi bisa melepaskan materi dari segi yang dapat dimengerti (hyle noete). Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini oleh Aristoteles disebut matesis atau matematika.

Aras abstraksi ketiga adalah teologi atau bisa disebut sebagai filsafat pertama. Kita dapat mengabstraksikan semua materi dan berfikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya dan tentang asas pembentukannya. Aras fisika dan aras matematika jelas telah kita tinggalkan. Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi atau filsafat pertama.  Akan tetapi  karena ilmu pengetahuan ini datang sesudah fisika, maka dalam tradisi selanjutnya disebut pengetahuan ini disebut sebagai metafisika.

Filsafat memang membahas tetnang segala hal. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut sebelum karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut sesudah karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya.

Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan pembicaraan, yaitu gejala manusia di dunia danlingkungan yang ada di sekelilingnya.  Sedangkan obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan.

Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia di dunia.  Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.

Ilmu pengetahuan harus diperoleh dengan cara sadar, melakukan sesuatu tehadap objek, didasarkan pada suatu sistem, prosesnya menggunakan cara yang lazim, mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur, harus memenuhi aspek metodologi, bersifat teknis dan normatif akademik. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia.

Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan, tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirik) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir.  Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan.

Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. Akan tetapi, salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional, sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Oleh sebab itu, hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara.

Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional, maka dengan meningkatnya intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah (Jujun 1990). Berdasarkan terminologi, empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen, bukan teori atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakukan).

Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta, hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati, melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan.

Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan, yaitu; pertama, penginderaan dan kedua, sifat alami. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja, karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. Sementara, pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja.  Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif), karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme, empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional, empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya.

Dengan demikian rasionalisme, empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, kemahiran, dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas), maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: