Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Sufisme dan Spiritualisme Jalan Pencarian Kebermaknaan Hidup 2

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 27, 2010

Tulisan sebelumnya Krisis Kebermaknaan Hidup Manusia Modern

Menaggapi berbagai pelik permasalahan di perkotaan, beberapa tahun belakangan ini, muncul fenomena antusiasme terhadap tasawuf. Karena agama menurut mereka cenderung formalistik dan pakem dalam memberikan solusi. Tasawuf adalah alternatif jawaban yang cenderung mengena langsung ke hati mereka. Tasawuf juga dianggap dapat menghidupkan kembali semangat keagamaan di perkotaan yang semakin mengering.

poster shalat khusyu

Kehadiran Ustaz Haryono, Ustaz Arifin Ilham, dan Aa Gym, ustaz Jefri dan ataupun Abu Sangkan dengan Spiritual Training Shalat Khusyu’-nya rupanya memberikan harapan baru bagi masyarakat perkotaan. Dengan berbagai tausiah dan kekuatan zikir serta doa yang dipimpin oleh orang-orang ini, masayarakat perkotaan seolah mendapatkan angin segar untuk bisa keluar dari pekatnya hiruk pikuk kehidupan kota. Mereka mendapatkan semangat hidup baru dan mulai mampu memaknai arti hidupnya di tengah riuhnya kota.

Kekuatan meditasi dan yoga juga menjadi alternatif perkembangan spiritualitas di perkotaan. Sebut saja misalnya Anand Krihsna dengan Padepokan Anand Ashram-nya. Anan mencoba untuk menyuguhkan berbagai pelatihan spiritual yang tidak terikat dengan sekat-sekat salah satu agama tertentu. Dia mengkomparasikan berbagai menu meditasi dengan memanfaatkan potensi lokal dari semua agama yang ada. Wal hasil, Spiritualitas yang dikembangkan Anand berjalan dengan baik dan banyak pengikutnya.

Fenomena tasawuf perkotaan ini oleh Julie Day Howell (2007) dalam bukunya yang berjudul “Sufism and The ‘Modern’ in Islam disebut sebagai urban sufism. Gerakan ini menurutnya hanyalah gerakan spiritual yang lebih mengutamakan ritual zikir dan do’a. Gerakan ini juga tidak memiliki organisasi tarekat, seperti yang ditampakkan oleh komunitas Tarekat Qadiriyyah-Naqsybandiyyah ataupun yang lainnya.

Menurut Martin Van Bruinessen (1996) dalam bukunya “Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia”, tarekat secara kelembagaan tidak dikenal dalam Islam hingga abad ke-8 H atau abad ke-14 M. Dengan demikian, sebagai organisasi dalam dunia tasawuf, tarekat bisa dianggap sebagai hal baru yang tidak pernah dijumpai dalam tradisi Islam periode awal. Kalau melihat sejarahnya demikian, maka tidak mengherankan jika semua jenis tarekat banyak dinisbatkan kepada nama para wali atau ulama belakangan yang hidup berabad-abad jauh setelah masa Nabi Muhammad (Bruinessen 1996: 47).

Tarekat Qadiriyyah misalnya, dinisbatkan kepada Shaikh ‘Abd al-Qadir al-Jailani (471-561 H/1079-1166 M), tarekat Suhrawardiyyah dinisbatkan kepada Shihab al-Din Abu Hafs al-Suhrawardi (539-632 H/1145-1235 M), tarekat Rifaiyyah dinisbatkan kepada Ahmad ibn ‘Ali Abu al-‘Abbas al-Rifa’i (w. 578 H/1182 M), tarekat Shadhiliyyah dinisbatkan kepada Abu al-Hasan Ahmad ibn ‘Abd Allah al-Shadhili (593-656 H/1197-1258 M), tarekat Naqshabandiyyah dinisbatkan kepada Baha’ al-Din al-Naqshabandi (717-791 H/1317-1389 M). Demikian halnya dengan tarekat Shattariyyah, yang dinisbatkan kepada Shaih Abd Allah al-Shttari, yang wafat pada 890 H/1485 M.

Belakangan ini fenomena ini di perkotaan semakin meningkat tajam. Kursus-kursus tasawuf, penerbitan buku, jurnal, serta majalah yang membahas tasawuf adalah indikatornya. Nah mungkin inilah yang membedakan tasawuf baru di perkotaan dengan tasawuf tradisional yang harus melewati tarikat.

Maraknya tasawuf di perkotaan ini tentunya membawa kabar baik karena memberikan sepirit baru atas kekeringan keberagamaan di perkotaan. Namun di sisi lain menjamurnya model tasawuf baru di perkotaan yang merupakan jalan trabas untuk mencapai tuhannya menjadi komoditas baru.

Bagaiamana tidak, untuk bisa ikut pelatihan shalat khusuk anda harus merogoh uang belanja hingga jutaan rupiah. Atau kalau ingin emosi dan spiritual anda bagus, anda harus mengikuti pelatihan ESQ yang akan di pandu oleh para professional dalam beberapa hari saja. Dengan mengeluarkan sekian juta rupiah dan waktu yang relative cepat, mungkinkah spiritualitas dan kekhusukan sholat itu tercapai? Silahkan di coba sendiri.

Tidak ada lagi karya-karya tasawuf yang kualitasnya sebanding dengan karya-karya para sufi terdahulu, seperti Fushush Al-Hikam, karangan Ibnu Arobi, Al-Hikam karangan Ibnu Athoillah, Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Ghazali, Hikmah Muta’aliyah karangan Mula Sadra, Al-Muwaqif wal Mukhathabat karangan Imam An-Nifari dan banyak lagi lainnya.

Apabila para tokoh sufi dahulu menulis karyanya dari hasil ber-thariqat, mencapai ma’rifat, dan menemukan al-ilm attasawur-nya serta dianugerahi nuril ilmu, setelah sekian tahun jatuh bangun dalam pelbagai kehidupn dalam menjalani hidupnya, maka tasawuf hari ini lebih didominasi oleh wacana-wacana rasional tanpa pengalaman dan pengetahuan mistik.

pelatihan salat khusyuk

Fenomena maraknya kajian tasawuf Islam khususnya, dan spiritualitas pada umumnya, di kalangan masyarakat perkotaan ini tentu saja merupakan hal menarik, karena sebelumnya tasawuf seringkali diidentikkan dengan aktivitas masyarakat pedesaan tradisional belaka, bahkan dianggap sebagai simbol ketertinggalan. Kini, kajian-kajian tentang sufisme dilakukan di hotel berbintang, di kantor, dan di perumahan-perumahan mewah. Apalagi, fenomena bangkitnya tasawuf dan spiritualitas ini sudah menjadi trend umum, tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di sejumlah negara lain. Entah ini adalah proses pencarian kebermaknaan hidup seperti yang diinginkan oleh Frankl atau malah justru kebuntuan dan kejumudan manusia modern.

Tunjung Sekar Damai
23 Oktober 2010

Suber Bacaan:

Adlin, Alfathiri (ed.). 2007. Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer, Yogyakarta: Jalasutra.

Bruinessen, Martin van. 1996. Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, cetakan keempat, Bandung: Mizan.

Fathurahman, Urban Sufism: Perubahan dan Kesinambungan Ajaran Tasawuf. http://naskahkuno.blogspot.com/2007/01/urban-sufism-perubahan-dan.html

Frankl, Victor E. 2003. Man’s Search for Meaning: an Introduction to Logoteraphy. Ter. Murtadlo. 2003. Logoterapi: Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensi. Yogyakarta: LKPM.

Sumber gambar :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=429047217936

Http://duniakudunianya.blogspot.com

Sumber tulisan: Jelajah Budaya

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: