Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Archive for the ‘Indegenius’ Category

Ronda: Sistem Keamanan yang Mulai Ditinggalkan

Posted by Edi Purwanto pada November 6, 2010

Dong…dong…dong..dong..x11

Suara ini akan kita dengarkan ketika jarum jam dinding di rumah anda sudah menunjukkan pukul 23.00. Ini bukanlah suara penjual nasi goreng atau mie ayam seperti di perkotaan. Namun ini adalah bunyi kentongan yang senantiasa dipukul oleh para penjaga pos ronda. Mereka akan memukul kentongan setiap jamnya sesuai dengan jumlah bilangan jam itu. Biasanya kentongan mulai dipukul jam 23.00 sampai dengan 03.00. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in Indegenius | Dengan kaitkata: , , | 14 Comments »

Berani Bertarung di Pencak Dor?

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 6, 2010

Oleh Edi Purwanto pada

Malam tampak semakin larut, rintik hujan mulai membasahi ratusan kepala yang menganga tercengang berdiri mengelilingi ring sederhana ukuran 5 x 5 m. Di atas ring tampak 2 orang pemuda yang sedang berantem adu tangkas dan kekuatan dan seorang wasit yang memimpin pertarungan.

dua orang peserta pencak dor sedang berduel 

Sementara di pojok-pojok ring tampak olehku gerombolan pemuda bertubuh kekar mengantri untuk bisa main di atas ring. Matanya melotot konsentrasi mengamati calon-calon petarung yang ada di pojok seberang ring, namun sesekali mereka melihat pertandingan yang sedang berlangsung. Rupanya mereka mulai memilih calon yang kira-kira tepat untuk diajak berduel di atas ring nantinya. Mereka akan mengukur lawan mana yang kira-kira bisa dihabisi. Baca entri selengkapnya »

Posted in Indegenius, serba-serbi | Leave a Comment »

Puji-Pujian Menjelang Shalat Jamaah

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 4, 2010

Pujian berasal dari bahasa Jawa yang artinya sanjungan hamba kepada Allah SWT, lalu dijadikan sebagai istilah khusus kaum nahdliyin yang biasanya dilakukan setelah adzan sebelum shalat berjama’ah dilaksanakan. Jadi yang dimaksud dengan pujian adalah membaca dzikir atau syair sanjungan hamba kepada Allah secara bersama-sama sebelum shalat berjama’ah dilaksanakan.

Puji-pujian sebelum shalat jamaah

Jika dilihat dari struktur katanya, kata yang berasal dari kata puji dan akhiran an yang berarti kata benda. Namun jika kita terjemahkan lagi pujian memiliki persamaan arti dengan sanjungan kepada sesesorang. Pada dasarnya ada beragam cara manusia memberikan pujian kepada orang lain diantaranya dengan memberikan apresiasi atas segala prestasi yang telah diraihnya. Apresiasi itu bisa dalam bentuk materi atau hadian atau bisa pula dalam bentuk perkataan.

Pada masyarakat tertentu, pujian biasa digunakan untuk memuji sang pencipta. Dalam agama Kristen ada puji-pujian yang ditujukan kepada Tuhan Yesus. Dalam agama Budha Juga ada puji-pujian yang ditujukan kepada Sang Budha Gautama. Begitu pula dengan Hindu yang dalam hari-hari besarnya senantiasa memberikan puji pujian kepada Sang Hyang Widi. Hampir semua agama senantiasa melakukan puji-pujian ketika mereka hendak mendekatkan dirinya pada tuhannya. Walaupun memiliki cara dan lagu serta ritme yang berbeda, namun secara keseluruhan mereka memuji tuhannya dengan lagu-lagu tersendiri.

Dalam tulisan ini saya tidak hendak menceritakan tentang bagaimana puji-pujian di masing-masing agama. Saya hendak memberikan gambaran tentang puji-pujian dalam Islam terlebih Islam yang berada di pedesaan.

Islam pedesaaan lebih akrab dikenal oleh orang yang melek huruf sebagai Islam konservatif. Walaupun kenyataannya istilah ini tidak dikenal oleh para kyai kampung yang senantiasa menjaga umatnya di akar rumput. Biasanya Islam di pedesaan masih sangat terikat dengan tradisi Jawa. Gending-gending (lagu-lagu) Jawa yang biasa mereka dengarkan dari radio ataupun dari pertujukan-pertunjukan begitu melekat di hati mereka.

Puji-pujian ini biasanya dilakukan pada saat jedah antara adzan menuju shalat berjamaah sambil menunggu makmum yang lain serta imam shalat datang. Pujian ini dibawakan oleh muadzin bersamaan dengan para jamaah yang sudah datang. Puji-pujian bisa dalam bentuk dzikir, ajakan, doa, ataupun pujian.

Ini adalah puji-pujian yang dalam bentuk ajakan

Allahoma Solli ala Muhammad

Yaa robi sholli alaihi wasallim

E…. sedulur yen wis podo krungu adzan

Ojo podo tetungkul omong-omongan

Menyang sumur hajat wudlu terus dandan

Mlebu langgar nglakonono kesunantan

Nunggu imam sinambi puji-pujian

Malem jemuah wong kubur podo mbukak lawang

Nyuwun kiriman saayat saking Al-qur’an

Yen wong dunyo oragelem ngirimi

Bali wong kubur brebes mili podo tangisan..

Ada pula yang dalam bentuk do’a

Astaghfirullahal adhim

Inallaha ghafururrohim

Gusti Allah kulo nyuwun ngapuro 2x

Sekathaing dosa kulo

Dosa agung kelawan ingkang alit

Boten wonten ingkang saget ngapuro 2x

Kang kagungan sifat rohman

Kang kagungan Allah sifat rokhim

Iyo iku gusti Allah asmane 2x

Biasanya puji-pujian ini paling pas jika dilantunkan menjelang sholat subuh berjamaah. Ada lagi yang bisa dilantunkan menjelang Subuh.

Solatullah salamullah 2x

Ala thoha rusulillah

Solatullah salamullah

Ala yasin habibillah

Solat subuh wis wancine 2x

Fajar sodik iku kawitane

Metune srengenge iku pungakasane

Monggo-monggo enggal wungu anggone sare

Ilahi salimin umah 2x

Minal afati wa nikmah

Wa min hamin wamin hummah

Biahlilbadri ya Allah

Solat subuh wis wancine 2x

Alqur’an nerangake

Hadist nabi ugo ngriwayatake

Jamaah subuh gede ganjarane

Monggo-monggo sami nindaake

Tradisi puji-pujian ini sebenarnya sudah berkembang lama di Jawa. Semenjak jaman Ronggowarsito, Jawa sudah akrab dengan berbagai tembang. Ada mijil, dandanggulo, macapat, pangkur, Pucung dan lain sebagainya.

Berbagai tembang ini sudah lazim di telinga masyarakat Jawa secara keseluruhan. Suasana yang menarik untuk didendangkan di sela-sela kesibukan mereka di sawah maupun di kebun. Sambil leyeh-leyeh mereka bisa uro-uro mendendangkan berbagai hal yang mereka lihat dan rasakan. Dari sini kita bisa melihat betapa orang-orang Jawa sangat dekat dengan alamnya.

Kondisi yang seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Sunan Bonang untuk memasuki tembang-tembang Jawa memiliki spirit Islam. Sehingga nilai syiar Islam lebih membumi dan mudah dimengerti oleh para petani yang masih awam pengetahuannya tentang Islam. Tentunya puji-pujian itu berupa kalimat-kalimat yang mengandung dzikir, tasbih, takbir, tahlil, shalawat dan doa-doa dengan irama yang santun.

Berbagai gubahan yang dilakukan oleh beberapa sunan dan kyai kampung hingga kini masih bisa kita dengarkan di berbagai pelosok pulau Jawa ini.  Walaupun beberapa masjid terlebih di perkotaan sudah semakin banyak yang meninggalkan puji-pujian ini. Bagaimana dengan langgar dan masjid di daerah anda?

Bersambung ke Hukum Puji-pujian Menjelang Shalat Jamaah

Posted in Indegenius, opini | 2 Comments »

Hukum Puji-Pujian Sebelum Shalat Jamaah

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 4, 2010

Tulisan sebelumnya

Puji-pujian Menjelang Shalat Berjamaah

Pelaksanaan puji-pujian sebelum shalat secara hukum hingga kini masih menjadi perdebatan. Ada yang membolehkan dan ada sebagian yang melarangnya. Namun sebagian besar ulama’ membolehkan melakukannya selama tidak berniatan riya’ dan tidak mengganggu orang yang sedang shalat sunnah.

shalawat-nariyah

Ulama’ yang melarang kegiatan ini memiliki alasan bahwa tidak ada dalil yang kuat baik dari Al-qur’an maupun hadist. Puji-pujian atau membaca solawat pada saat menjelang shalat berjamaah memang tidak ada dalil yang kuat yang bisa dijadikan sandaran. Oleh karena itu sebagian ulama yang berhati-hati dalam penerapan sunnah, sangat menjaga agar jangan sampai kita membiasakan diri melakukan sesuatu yang tidak ada anjuran atau perintahnya, di mana hukum asalnya boleh-boleh saja, namun karena selalu dibaca dan dibiasakan, dikhawatirkan nantinya akan ada orang yang beranggapan bahwa hal itu bagian dari tata cara ibadah shalat.

Walaupun sebagian ulama ada yang melarangnya. Namun ada sebagian ulama yang membolehkan. Para ulama’ yang membolehkan itu berdasarkan pada:

Berpijak dari isi baca’an dalam pujian itu berupa dzikir, sholawat, dan nilainya yang mengandung banyak dakwah Islamiyah, maka hukum mengamalkan pujian-pujian sebelum sholat berjama’ah adalah mubah, bahkan sunnah, sebab memuji kepada Allah merupakan suatu anjuran yang harus dilakukan setiap waktu.

Pujian ini berdasarkan:

1. Hadits riwayat Anas, yang terjemahnya:
Kami meriwayatkan dari Anas bahwa Rosulullah bersabda: Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqomah tidak akan ditolak (kitab al-Adzkar al-Nawawiyyah hal. 391)

2. Kitab Bughyatul Mustarsyidin hal. 48, yg terjemahnya:
Dzikir sebagaimana membaca (al-Qur’an) jelas disunnahkan dengan dalil shorihnya ayat dan hadits, dan mengeraskan suara dzikir itu boleh selama tidak dikhawatirkan riya’ dan tidak mengganggu orang sholat.

3. Kitab Sunan an-Nasa’iy. Hadits riwayat al-Nasa’iy yang terjemahnya:
Dari Sa’id bin al-Musayyab beliau berkata: pada suatu sa’at Umar berjalan bertemu Hasan bin Tsabit yg sedang melantunkan sebuah sya’ir indah di Masjid, lalu Umar menegurnya, namun Hasan menjawab: Aku telah melantunkan syair di Masjid yang di dalamnya ada seseorang yang kemuliaannya lebih mulia dari pada kamu (Nabi Muhammad), kemudian ia menoleh kepada Abu Huroiroh, Hasan melanjutkan perkataanya, bukankah kamu telah mendengar sabda Rosulullah saw, jawablah dariku, yaa Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan ruh al-Qudus, lalu Umar menjawab, Ya Allah, benar (aku sudah mendengarkannya)

4. Kitab Irsyadul Mu’minin hal. 16
Yg bisa diambil dari hadits tersebut (HR Nasa’iy di atas) adalah hukum kebolehan melantunkan sebuah sya’ir yg didalamnya berisi pujian, nasihat, pelajaran budi pekerti dan ilmu yg bermanfaat didalam Masjid, dan itu pasti dilakukan dengan suara keras dalam perkumpulan (secara bersama-sama) HR. Nasa’iy
Dari beberapa penjelasan di atas pada dasarnya puji-pujian kepada Rasulullah SAW adalah sebuah ibadah yang dianjurkan. Termasuk juga membaca shalawat dan salam kepadanya. Sebab Allah SWT pun telah bershalawat kepadanya, demikian juga para malaikat, ikut juga bershalawat kepada beliau. Maka Allah SWT pun memerintahkan umat Islam untuk banyak-banyak menyampaikan shalawat kepada nabi dan rasul termulia itu.

Dalam salah satu ayat Al-Qur’an, perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman untuk bershalawat dan memberi salam kepada beliau sangat jelas. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi (QS Al-Ahzab: 56). Dengan demikian puji-pujian sebelum melakukan shalat berjamaah diperbolehkan, selama masih menjaga nilai-nilai menagungkan dan bersolawat kepada para nabi.

Note: tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber.

Gambar: http://aghofur.sebelas.net/2010/03/14/sholawat-nabi-syair-dan-nada-terindah-sepanjang-masa/

Posted in Indegenius, opini | Leave a Comment »

Pingin Slamet, Warga Junwatu Bersih Dusun

Posted by Edi Purwanto pada September 26, 2010

Batu, JB. Terdengar sayu-sayu dari kejauhan suara kendang kempul yang dipadukan dengan gong, kenong dan gong. Suara itu semakin nyata ketika saya mendekati sebuah punden yang berada di Junwatu Desa Junrejo Kota Batu. Rupanya itu adalah suara kesenian reog kendang yang tampil sebelum selametan dusun.

serius mendengarkan doa dari sesepuh desa

Tampak di pagi itu seluruh warga dusun tumplek blek memenuhi pelataran danyangan di Junwatu. Mereka datang dengan membawa makanan dan buah-buahan yang sudah ditata rapi dalam baskom atau ambeng.Masing-masing kepala keluarga membawa minimal satu baskom makanan, sementara untuk buah-buahan boleh membawa dan boleh tidak. Mereka datang dengan bergelombang dan hampir bersamaan antara RT satu dengan yang lainnya. Setelah dirasa semua warga masyarakat berkumpul, maka acara selametan pun bisa dimulai.

Pembawa acara membuka acara diteruskan dengan sambutan Petinggi Desa. Kemudian dilanjutkan dengan do’a yang didpimpin oleh sesepuh dusun. Do’a yang dipimpin oleh Pak Ta’in itu mengisyaratkan banyak hal. Diantaranya menjelaskan tentang maksud dan tujuan selamatan itu diadakan. “Ingkang dipun petri menika inggih punika Nabi Muhammad, Nabi Ilyas ingkang nguasai daratan ugi nabi khidir ingkang nguasai banyu. Ugi bapa biyung ingkang mbedah krawang Dusun Junwatu meniko mugi-mugi dipun paringi padang dalane lan jembar kubure. Mugi-mugi slamet sedayanipun, slamet ingon-ingone, keluargane, masyarakate, tandurane ugo slamet sak kabehe…..” Setelah selesai doa dan upacara penyerahan yang dilakukan oleh sesepuh desa, acara dilanjutkan dengan doa bahasa arab yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Selesai berdoa bukan berarti acara selesai, namun masih ada acara ijol-ijolan (saling menukar) ambeng. Tanpa dikomando oleh siapapun mereka sudah ijol-ijolan dengan sendirinya. Mereka saling membagikan makanan yang mereka bawa dari rumah kepada keluarga yang lain. Sehingga ketika sampai di rumah mereka bisa merasakan masakan yang dimasak oleh tetangganya. Menurut Dedik warga Junwatu, tradisi ijol-ijolan ambeng ketika selamatan dusun ini sudah dilakukan secara turun temurun. Setelah selesai ijol-ijolan orang boleh langsung pulang atau memakan berkatnya di punden bersama yang lainnya, sisanya baru dibuat berkat buat keluarganya yang sudah menunggu di rumah.

makan bersama setelah usai slametan

Acara selametan dusun itu dihadiri oleh seluruh warga masyarakat baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan Junwatu termasuk juga pemerintah Desa Junwatu, tokoh masyarakat dan para sesepuh dusun. Mereka membaur dengan cara duduk lesehan di atas Koran yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Tidak lagi ada perbedaan antara pejabat dengan buruh tani yang tua maupun yang muda. Semuanya berada dalam satu niatan yaitu meminta keselamatan kepada yang kuasa dan mengirinm doa kepada para leluhur yang sudah meninggal, khususnya adalah pembedah krawang cikal bakal dusun Junwatu.

Andi Faizal selaku kamituwo ditemui seusai acara mengatakan bahwa acara bersih dusun ini sudah dilakukan secara turun temurun. Sebagai orang yang dipercaya masyarakat sebagai sesepuh desa dia hanya melanjutkan tradisi yang ada. Menurut Faizal, orang yang pertama kali membedah krawang dusun Junwatu adalah Mbah Gumenuk yang kemudian diteruskan oleh Mbah Paing. Jasanya sebagai pembedah krawang inilah yang kemudian senantiasa diselamati oleh warga Junwatu.

Sementara menurut Rohmat Santoso selaku Kepala Desa, Tradisi slametan dusun ini memang diadakan setahun sekali di masing-masing dusun. Untuk dua dusun yang berada di bawah kendalinya yaitu Jeding dan Rejoso sudah dilakukan pada minggu yang lalu. Biasanya memang setelah selametan desa pasti ada acara tayuban, namun di Dusun Junwatu ruwatan dusunnya dengan menggunakan wayang kulit. Menurut Rohmat itu tidak menjadi masalah, karena menurutnya masing-masing dusun memiliki aturan dan kesepakatan yang berbeda-beda. Sebagai kepala desa saya hanya memfasilitasi saja, pungkasnya.

Posted in Indegenius | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

 
%d blogger menyukai ini: