Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Archive for the ‘opini’ Category

Sufisme dan Spiritualisme Jalan Pencarian Kebermaknaan Hidup 2

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 27, 2010

Tulisan sebelumnya Krisis Kebermaknaan Hidup Manusia Modern

Menaggapi berbagai pelik permasalahan di perkotaan, beberapa tahun belakangan ini, muncul fenomena antusiasme terhadap tasawuf. Karena agama menurut mereka cenderung formalistik dan pakem dalam memberikan solusi. Tasawuf adalah alternatif jawaban yang cenderung mengena langsung ke hati mereka. Tasawuf juga dianggap dapat menghidupkan kembali semangat keagamaan di perkotaan yang semakin mengering. Baca entri selengkapnya »

Posted in opini, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Krisis Kebermaknaan Hidup Manusia Modern 1

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 26, 2010

Hiruk pikuk perkotaan menuntut manusia harus berjalan seiring dengan tuntutan pasar. Kehidupan dipaksa untuk mengikuti trend dan mode yang diciptakan oleh pasar. Hampir tidak ada ruang untuk berekspresi dan berkreasi apalagi melakukan perlawanan terhadap arus modernisasi ini. Baca entri selengkapnya »

Posted in opini, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , | 3 Comments »

Kesenian Tradisional (Senantiasa) Menjadi Makmum

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 16, 2010

Krisis ekonomi yang melanda bangsa ini pada 1997 rupanya juga berimbas pada krisis kebudayaan. Bagaimana tidak, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masyarakat kalang kabut, apalagi untuk kebutuhan tersier seperti hiburan dalam bentuk kesenian. Di Malang sendiri kondisi yang demikian ini mempengaruhi pementasan seni pertunjukan. Terlebih untuk kesenian ludruk yang memerlukan puluhan juta untuk bisa menaggapnya. Pun demikian juga dengan kesenian-kesenian tradisi lainnya seperti wayang topeng mulai tenggelam ditelan peradaban. Baca entri selengkapnya »

Posted in opini | Leave a Comment »

Problem Muslim Mayoritas

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 11, 2010

perusakan-tempat-ibadah 

Bangsa Indonesia memiliki penganut muslim terbesar di dunia. Ironisnya kerukunan interumat beragama (Islam) masih lumpuh, apalagi kerukunan antar agama yang masih terseok-seok. Berbeda dengan Negara yang memiliki penduduk Islam minoritas. Walaupun mereka berbeda firqoh, namun mereka masih bisa bersatu dalam berbagai hal. Baca entri selengkapnya »

Posted in opini, serba-serbi | Dengan kaitkata: , , | 2 Comments »

Membubarkan FPI, Mungkinkah?

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 9, 2010

Oleh Edi Purwanto

Indonesia yang terkenal dengan penduduk muslimnya terbesar di dunia seolah tidak memberikan jawaban bahwa Islam adalah agama yang membawa pesan perdamaian dan cinta kasih. Apalagi akhir-akhir ini sering kita mendengar dan bahkan melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa kekerasan berbasis agama sudah semakin sering dilakukan, baik oleh individu terlebih kelompok. Tindakan-tindakan Front Pembela Islam (FPI) yang cenderung main hakim sendiri menjadi salah satu contoh nyata betapa memang kekerasan telah semakin membudaya di diri sebagian bangsa ini. Baca entri selengkapnya »

Posted in opini, serba-serbi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Ketika Keberagaman dalam Ancaman

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 7, 2010

Bekas Masjid Ahmadiyah di bakar 

Dalam satu bulan ini, ruang publik kita banyak disuguhi oleh beragam kekerasan. Mulai kekerasan yang berbau agama, ras, hingga etnis dan aksi premanisme. Tentunya kasus penusukan jemaat HKBP di Ciketing Bekasi beberapa saat yang lalu masih belum hilang dalam kognisi kita. Selang berapa hari kemudian konflik berbau etnis terjadi di Tarakan Kalimantan Timur. Hingga yang terakhir ini kasus premanisme yang terjadi di Jalan Ampera Jakarta.  Yang paling akhir adalah penyerangan dan pembakaran Masjid Ahmadiyah di Cisalada, Ciampea, Kabupaten Bogor pada 1 Oktober kemarin. Baca entri selengkapnya »

Posted in jurnal pemikiran, opini | Leave a Comment »

Semuanya Milik Allah

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 6, 2010

Pada sebuah pesantren, para santri diberikan kewenangan untuk memelihara hewan peliharaan seperti itik, ayam, dan entog. Binatang piaraan itu dibiarkan bebas berkeliaran di kebun dan halaman pondok.

Semuanya Milik Allah 

Suatu hari seorang ustazd ingin melihat bagaimana reaksi para santri jika barang peliharaannya dicuri orang. Akhirnya Ustadz menyuruh seorang santri untuk mengambil seekor ayam milik Mustofa kemudian langsung dipotong dan dibagi-bagikan kepada santri pada saat makan bersama. Baca entri selengkapnya »

Posted in opini, serba-serbi | Leave a Comment »

Sama-Sama Bid’ah

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 5, 2010

Pada suatu sore tampak di sebuah langgar kecil dua pemuda yang sudah lama tidak bertemu. Dari raut wajah mereka tampak sekali bahwa mereka saling merindukan antara satu dengan lainnya. Maklumlah karena mereka berdua kini sudah memiliki aktivitas di luar kampung itu. Walaupun sama-sama muslim namun mereka memiliki latar belakang ormas yang berbeda, namun mereka berdua tetap merupakan sahabat karib.
Sudah menjadi kebiasaan ketika mereka bertemu pasti terjadi perdebatan yang tidak berujung. Terlebih masalah ubudiayah. Mungkin karena lingkungan yang membentuk berbeda, satunya santri yang hidup di pedesaan sementara yang satu lagi santri yang ditempa dengan tradisi modern, sehingga mengakibatkan pemikiran yang berbeda pula.
Pemuda 1 : Apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dan para shahabat maka hendaklah kita berhenti menjalankannya.
Pemuda 2 : maksudnya ? (sambil menatap mulut pemuda 1 yang sedang memberikan penjelasan)
Pemuda 1 : Janganlah kita mengamalkan apa-apa yang tidak ada dalilnya dari mereka agar tidak terjerumus kepada perbuatan bid’ah yang telah dilarang oleh Rasulullah.
Pemuda 2 : Bid’ah?
Pemuda 1 : iya. Bid’ah adalah perbuatan atau ritual-ritual yang tidak ada pada zaman Nabi. Seperti misalnya menabuh bedhug sebelum adzan, puji-pujian, mendengarkan tarkhim, membunyikan tape recorder sebelum adzan.
Pemuda 2 : kalau pengertian bid’ah seperti itu, berarti apa yang dilakukan oleh orang-orang modern juga bid’ah dong.
Pemuda 1 : koq bisa?
Pemuda 2 : Bagaimana tidak wong kamu juga menggunakan alat-alat modern yang tidak ada pada zaman nabi. Gelang tangan dan HP yang kamu pakai itu juga termasuk bid’ah karena nabi dan para sahabatnya tidak menggunakan itu. Orang-orang tradisional yang menggunakan bedhug, dibaan, tahlilan, manaqiban memang tidak ada di zaman Nabi. Karena mereka ingin mengagungkan nama Allah dan para Nabi Nya. Nah kalau dikatakan bid’ah ini disebut sebagai bid’ah hasanah. Seperti juga kamu menggunakan jam tangan dan HP itu. Sudahlah jangan berbicara masalah bid’ah khurafat dan tahayul lagi di sini. Karena apa yang dilakukan orang-orang modern juga sama bid’ahnya, walaupun medianya berbeda.
Akhirnya pemuda 1 bisa memahami dan ketika bertemu kembali mereka tidak pernah lagi memperdebatkan masalah bid’ah.

Posted in opini | Dengan kaitkata: | 1 Comment »

Puji-Pujian Menjelang Shalat Jamaah

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 4, 2010

Pujian berasal dari bahasa Jawa yang artinya sanjungan hamba kepada Allah SWT, lalu dijadikan sebagai istilah khusus kaum nahdliyin yang biasanya dilakukan setelah adzan sebelum shalat berjama’ah dilaksanakan. Jadi yang dimaksud dengan pujian adalah membaca dzikir atau syair sanjungan hamba kepada Allah secara bersama-sama sebelum shalat berjama’ah dilaksanakan.

Puji-pujian sebelum shalat jamaah

Jika dilihat dari struktur katanya, kata yang berasal dari kata puji dan akhiran an yang berarti kata benda. Namun jika kita terjemahkan lagi pujian memiliki persamaan arti dengan sanjungan kepada sesesorang. Pada dasarnya ada beragam cara manusia memberikan pujian kepada orang lain diantaranya dengan memberikan apresiasi atas segala prestasi yang telah diraihnya. Apresiasi itu bisa dalam bentuk materi atau hadian atau bisa pula dalam bentuk perkataan.

Pada masyarakat tertentu, pujian biasa digunakan untuk memuji sang pencipta. Dalam agama Kristen ada puji-pujian yang ditujukan kepada Tuhan Yesus. Dalam agama Budha Juga ada puji-pujian yang ditujukan kepada Sang Budha Gautama. Begitu pula dengan Hindu yang dalam hari-hari besarnya senantiasa memberikan puji pujian kepada Sang Hyang Widi. Hampir semua agama senantiasa melakukan puji-pujian ketika mereka hendak mendekatkan dirinya pada tuhannya. Walaupun memiliki cara dan lagu serta ritme yang berbeda, namun secara keseluruhan mereka memuji tuhannya dengan lagu-lagu tersendiri.

Dalam tulisan ini saya tidak hendak menceritakan tentang bagaimana puji-pujian di masing-masing agama. Saya hendak memberikan gambaran tentang puji-pujian dalam Islam terlebih Islam yang berada di pedesaan.

Islam pedesaaan lebih akrab dikenal oleh orang yang melek huruf sebagai Islam konservatif. Walaupun kenyataannya istilah ini tidak dikenal oleh para kyai kampung yang senantiasa menjaga umatnya di akar rumput. Biasanya Islam di pedesaan masih sangat terikat dengan tradisi Jawa. Gending-gending (lagu-lagu) Jawa yang biasa mereka dengarkan dari radio ataupun dari pertujukan-pertunjukan begitu melekat di hati mereka.

Puji-pujian ini biasanya dilakukan pada saat jedah antara adzan menuju shalat berjamaah sambil menunggu makmum yang lain serta imam shalat datang. Pujian ini dibawakan oleh muadzin bersamaan dengan para jamaah yang sudah datang. Puji-pujian bisa dalam bentuk dzikir, ajakan, doa, ataupun pujian.

Ini adalah puji-pujian yang dalam bentuk ajakan

Allahoma Solli ala Muhammad

Yaa robi sholli alaihi wasallim

E…. sedulur yen wis podo krungu adzan

Ojo podo tetungkul omong-omongan

Menyang sumur hajat wudlu terus dandan

Mlebu langgar nglakonono kesunantan

Nunggu imam sinambi puji-pujian

Malem jemuah wong kubur podo mbukak lawang

Nyuwun kiriman saayat saking Al-qur’an

Yen wong dunyo oragelem ngirimi

Bali wong kubur brebes mili podo tangisan..

Ada pula yang dalam bentuk do’a

Astaghfirullahal adhim

Inallaha ghafururrohim

Gusti Allah kulo nyuwun ngapuro 2x

Sekathaing dosa kulo

Dosa agung kelawan ingkang alit

Boten wonten ingkang saget ngapuro 2x

Kang kagungan sifat rohman

Kang kagungan Allah sifat rokhim

Iyo iku gusti Allah asmane 2x

Biasanya puji-pujian ini paling pas jika dilantunkan menjelang sholat subuh berjamaah. Ada lagi yang bisa dilantunkan menjelang Subuh.

Solatullah salamullah 2x

Ala thoha rusulillah

Solatullah salamullah

Ala yasin habibillah

Solat subuh wis wancine 2x

Fajar sodik iku kawitane

Metune srengenge iku pungakasane

Monggo-monggo enggal wungu anggone sare

Ilahi salimin umah 2x

Minal afati wa nikmah

Wa min hamin wamin hummah

Biahlilbadri ya Allah

Solat subuh wis wancine 2x

Alqur’an nerangake

Hadist nabi ugo ngriwayatake

Jamaah subuh gede ganjarane

Monggo-monggo sami nindaake

Tradisi puji-pujian ini sebenarnya sudah berkembang lama di Jawa. Semenjak jaman Ronggowarsito, Jawa sudah akrab dengan berbagai tembang. Ada mijil, dandanggulo, macapat, pangkur, Pucung dan lain sebagainya.

Berbagai tembang ini sudah lazim di telinga masyarakat Jawa secara keseluruhan. Suasana yang menarik untuk didendangkan di sela-sela kesibukan mereka di sawah maupun di kebun. Sambil leyeh-leyeh mereka bisa uro-uro mendendangkan berbagai hal yang mereka lihat dan rasakan. Dari sini kita bisa melihat betapa orang-orang Jawa sangat dekat dengan alamnya.

Kondisi yang seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Sunan Bonang untuk memasuki tembang-tembang Jawa memiliki spirit Islam. Sehingga nilai syiar Islam lebih membumi dan mudah dimengerti oleh para petani yang masih awam pengetahuannya tentang Islam. Tentunya puji-pujian itu berupa kalimat-kalimat yang mengandung dzikir, tasbih, takbir, tahlil, shalawat dan doa-doa dengan irama yang santun.

Berbagai gubahan yang dilakukan oleh beberapa sunan dan kyai kampung hingga kini masih bisa kita dengarkan di berbagai pelosok pulau Jawa ini.  Walaupun beberapa masjid terlebih di perkotaan sudah semakin banyak yang meninggalkan puji-pujian ini. Bagaimana dengan langgar dan masjid di daerah anda?

Bersambung ke Hukum Puji-pujian Menjelang Shalat Jamaah

Posted in Indegenius, opini | 2 Comments »

 
%d blogger menyukai ini: