Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Archive for the ‘perjalanan’ Category

Junwatu Lestarikan Bersih Dusun

Posted by Edi Purwanto pada September 21, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 21 September 2010

Warga Dusun Junwatu Desa Junrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu akan mengadakan selametan dusun pada Pada kamis Wage, 30 September 2010 atau bertepatan dengan 21 Syawal di penanggalan Jawa. Acara yang digelar secara rutin setiap tahun ini akan dilaksanakan selama 3 hari penuh.

Ruwatan bersih desa dengan wayangan

Umumnya pelaksanaan selamatan desa dilakukan satu desa, namun di Desa Junrejo selamatan dilakukan di masing-masing dusun. Menurut Wignyo selaku kamituwo (sesepuh) dusun Jeding, hal ini dikarenakan setiap dusun memiliki hari jadi sendiri-sendiri, sehingga dalam bersih dusun juga dilakuakan sendiri-sendiri.  Dahulu pernah dilakukan secara bersasma-sama satu desa, namun karena berbagai alasan maka kembali dilakukan di masing-masing dusun.

Ritual bersih dusun ini di beberapa daerah ada yang dinamakan sebagai ritual mreti desa, di Jawa Tengah disebut dengan dukutan. Di Jawa Timur sendiri ada beberapa istilah yaitu nyadran dan selametan yang  kadangkala ritual ini digabung dengan upacara adat sedekah bumi atau mreti bumi.

Menurut Wignyo bersih dusun ini bertujuan untuk membersihkan desa dari segala bala’(musibah), baik yang sudah terjadi maupun yang akan datang. Harapannya adalah agar dusun dan seluruh mahluk yang berada di dalamnya bisa terhindar dari berbagai bala’. Menurut Wignyo Bersih Desa merupakan warisan dari nilai-nilai luhur lama budaya yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.

Menurut Dedik Efendi selaku Panitia bersih dusun, acara selamatan dusun ini akan dilakukan dengan serangkaian acara yang akan dilakukan selama tiga hari. Mulai Rabu malam sampai dengan Jumat malam. Rangkaian acara bersih dusun itu akan diawali dengan Istighosah bersama pada Rabu malam di depan balai Desa Junrejo yang akan melibatkan berbagai element masyarakat dan beberapa tokoh agama di Junrejo.

Berebut berkah Bersih desa

Keesokan harinya akan dilaksanakan ritual bersih dusun yang akan dilaksanakan di danyangan Mbah Junwatu. Acara ini akan dimulai jam 06.30 sampai dengan 08.00, lanjut Dedik. Upacara ritual bersih dusun akan dipimpin oleh sesepuh Dusun Junwatu. Setelah berakhirnya ritual, akan dilanjutkan dengan ruwatan dengan pertunjukan kesenian Jaran kepang serta kesenian klontong (sebuah kesenian tradisional yang memadukan kesenian kentrung dengan jaranan).

Kemudian malam harinya akan ada ruwatan wayang kulit dengan dalang Ki Suwondo dari Blitar. Pada malam terakhir, menurut ketua RW 04 ini, warga Junwatu akan dihibur para pendekar-pendekar dari berbagai tempat lewat kesenian pencak silat. Sebuah pertunjukan yang sangat menantang nyali para pemuda acara ini sekaligus sebagai akhir penelenggaraan bersih dusun.

M. Faizal, selaku kamituwo Junwatu mengatakan bahwa pada tahun ini tidak melakukan karnaval seperti tahun-tahun sebelumnya. Tayub yang dahulu senantiasa menjadi kesenian wajib pada saat bersih desa Juga tidak ada pada tahun ini. Menurutnya, masyarakat Junwatu tidak menghendaki karnaval dan tayuban. “Karena permintaan masyarakat seperti itu maka saya harus mengikutinya”, pungkas Faizal.

*****

Harusnya Kota Batu tidak saja hanya menjadi kota pariwisata yang berbasiskan pada hal-hal yang popular seperti adanya Jatim Park, Batu Night Spektakuler (BNS), Museum Satwa, Agrowisata dll. Namun Batu sebenanrya memiliki potensi yang tinggi untuk pengembangan wisata budaya. Karena kota Batu masih memiliki tradisi yang kuat yang bisa dijual dan dinikmati oleh wisatawan. Selain itu batu juga memiliki beragam kesenian dan kebudayaan yang harus mendapatkan porsi yang tinggi dalam mengangkat Batu sebagai kota Wisata. Mungkin ini sampai hari ini belum menjadi agenda Dinas Pariwisata, namun banyak yang berharap agar pemerintah bisa lebih peka dalam mengembangkan potensi budaya yang ada.

Pada dasarnya bersih desa merupakan pernyataan masyarakat terhadap identitas, akar budaya, dan idealisme melalui pengalaman otentik orisinal komunitas, dimana komunitas menjadi pencipta budayanya sendiri, bukan hanya obyek yang dicekoki oleh rezim kebudayaan yang menghegemoni, seperti globalisasi budaya kapitalistik yang menggurita akhir-akhir ini.

Posted in penelitian, perjalanan | Leave a Comment »

Kupatan Yuk!

Posted by Edi Purwanto pada September 16, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 16 September 2010

Anda yang berada di Jakarta mungkin tidak pernah asing dengan makanan Ketoprak yang bahan bakunya juga berasal dari ketupat. Biasanya dijual di pinggir-pinggir jalan atau dujual keliling dengan menggunakan gerobak. Atau anda yang berada di Kota Malang juga sangat mengenal makanan yang khas disebut sebagai orem-orem. Orem-orem pun lontongnya juga dibungkus dengan janur.  Nah, mungkin kedua makanan di atas mirip dengan ketupat, cuman perbedaannya makanan ini bisa kita jumoai sepanjang waktu. Selama penjualnya masih berjualan, maka kita masih bisa menkmatinya.

Ketupat yang belum dimasak

Saat arus balik lebaran, di jalan-jalan di daerah Jawa Timur-an akan banyak ditemui penjaja ketupat. Baik yang masih berupa janur atau yang sudah berbentuk ketupat. Bagi orang-orang di luar daerah Jawa Timur-an seperti Jakarta atau sekitarnya jangan heran dengan fenomena ini, sebab memang di sana ketupat sudah bisa ditemui saat lebaran tiba. Hal yang berbeda lagi di Jawa Timur ketupat hanya bisa ditemui saat hari raya ketujuh.

Lain daerah memang terkadang lain caranya walaupun mungkin maksudnya sama. Di daerah Jawa timur-an ada sendiri momentum untuk lebaran ketupat, atau dikenal dengan kupatan. Dari penuturan orang-orang dulu lebaran ketupat ini dimaksudkan bagi orang-orang yang menjalankan puasa syawal. Makanya ketupat dapat ditemui setelah hari ketujuh lebaran. Caranya ketupat diantar ke tetangga-tetangga terdekat, atau ada juga yang diantar ke mushola untuk salamatan.

Terlepas dari hal itu makna simbolis ketupat sangat beragam. Beras ada yang mengasumsikan sebagai symbol dari nafsu, sedangkan janur merupakan istilah dari jatining nur atau hati nurani. Pembuatan ketupat dengan anyaman yang rumit juga menjadi symbol tersendiri yaitu sulitnya pengekangan hawa nafsu, belum lagi cara memasaknya membutuhkan waktu berjam-jam. Hal ini dimaksudkan bahwa semakin lama waktu memasaknya maka ketahanan ketupat tersebut juga akan lebih lama atau tidak cepat basi. Hal itu mengajarkan pada kita bahwa belajar untuk mengekang hawa nafsu juga tidak instan tapi juga membutuhkan kesabaran dan proses yang lama. Proses itu kita jalankan saat puasa ramadhan dan disunnahkan lagi saat Bulan Syawal.  Jadi ketupat merupakan perlambang dari pengekangan hawa nafsu itu.

Ketupat siap di santap

Makanan khas yang hanya dapat kita temui satu tahun sekali ini memang seringkali kita tunggu-tunggu, karena selain rasanya yang enak juga aromanya yang berbeda dari lontong biasa. Aroma daun janurnya membuat makanan tidak saja enak untuk dinikmati tetapi juga membuat rindu untuk membuatnya di tahun mendatang.

Kerinduan karena rasa inilah yang seringkali membuat kita lupa akan rasa yang sebenarnya. Rasa yang mengajarkan untuk selalu mengekang hawa nafsu dengan mata hati nurani kita. Sudahkah kita bisa membuat ketupat yang sebenarnya  setelah lebaran ini?

Sumber:

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/kupatan-yuk.html

Posted in opini, perjalanan | Dengan kaitkata: , , , , | 2 Comments »

Pecel Tumpang Pincuk Lesehan Jalan Dhoho Kediri

Posted by Edi Purwanto pada September 13, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 13 September 2010

Jika anda berjalan-jalan ke Kota Kediri pada malam hari, belum lengkap jika tidak berkunjung di Jalan Dhoho. Jalan Dhoho ini layaknya Jalan Marlboro di Yogyakarta, namun versi Kediri. Berbagai pertokoan berjajar sepanjang Jalan Dhoho. Ada toko pakaian, aneka kerajinan dan swalayan. Tidak lupa berbagai makanan khas Kediri juga terpampang sepanjang jalan ini.

pecel tumpang

Termasuk di antaranya adalah pecel tumpang. Nah, setelah anda puas berbelanja, anda bisa istirahat santai di pinggir Jalan Dhoho sembari memesan nasi pecel tumpang pincuk. Sembari makan pecel tumpang kita bisa menikmati lalu lalang kendaraan yang berjalan lambat di sepanjang Jalan Dhoho.

Pecel tumpang Jalan Dhoho biasanya mulai digelar pukul 15.00 WIB hingga tengah malam. Jangan anggap bahwa pecel tumpang di sini disajikan di dalam ruangan lengkap dengan tempat duduk seperti apa yang kita bayangkan. Pembeli hanya disediakan tikar plastik atau karpet dan bebas memilih tempat duduk lesehan. Boleh di depan pertokoan yang tutup, trotoar maupun di manapun di sepanjang Jalan Dhoho, asal tidak di tengah jalan.

Para penjual pecel tumpang pun tidak memiliki bedak. Mereka menggelar dagangannya di depan pertokoan dengan bermodalkan pikulan dan tempat seadanya. Walaupun tempat pedagang antara satu dengan lainnya saling berdekatan, namun mereka sama sama laku dan memiliki penggemar fanatik. Para penikmat pecel tumpang fanatik itu seringkali datang hanya untuk bersantai dan menikmati makanan khas Kediri ini.

Menu yang disajikan pun beragam, sesuai dengan selera pembeli. Ada yang suka dengan nasi pecel, nasi tumpang maupun nasi campur (campuran antara tumpang dan pecel). Cara penyajian sambal tumpang tak jauh beda dengan cara penyajian sambal pecel, yaitu dengan nasi yang di atasnya di beri aneka lalapan atau sayur – mayur yang telah direbus terlebih dahulu lalu disiram dengan sambal tumpang dan diberi peyek sebagai pelengkap, bisa peyek kacang atau peyek teri. Pecel tumpang ini disajikan disajikan di atas pincuk yang terbuat dari daun pisang. Anda bisa menggunakan sendok yang disediakan atau muluk pakai tangan. Jika anda muluk anda tinggal minta kobokan untuk cuci tangan.

Tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menikmati makanannya hanya mengeluarkan Rp. 5000,- anda sudah mendapatkan satu pincuk pecel tumpang, 1 gelas teh anget ato es teh dan sisanya bisa buat parkir. tidak mahal bukan?

Pecel Tumpang Pincuk

Sambal tumpang terbuat dari tempe yang telah busuk (bosok). Tempe yang sudah membusuk ini dimasak di campur dengan aneka bumbu seperti lombok atau cabe, bawang, garam dan bumbu dapur lainnya. Sambal tumpang memang terbuat dari tempe bosok, namun jangan keburu jijik cobalah dulu rasanya jika telah matang, pasti akan membuat anda ketagihan. Saya sudah mulai ketagihan nich.

Di Kota Malang tempat saya tinggal sekarang setahu saya pecel tumpang yang rasanya nendang di lidah hanya ada di samping Rumah Saikit Islam Dinoyo. Namun warung itu hanya buka dari jam 06.30 sampai jam 12.00 WIB. Itu pun saya harus mengantri panjang untuk mendapatkannya. Untuk para pembaca yang hoby makan pecel tumpang bisa merekomendasikan di mana tempat-tempat yang paling nikmat untuk makan pecel tumpang menurut anda. Pasti akan menjadi refrensi para pembaca yang lain penikmat Pecel tumpang.

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/pecel-tumpang-pincuk-lesehan-jalan-dhoho-kediri.html

Posted in penelitian, perjalanan | Leave a Comment »

Sandal Jepit Sisian Trend Baru

Posted by Edi Purwanto pada September 13, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 13 September 2010
Sandal anti maling sekaligus anti sisian

Bagaimanapun baik dan mahalnya harga sandal, tempatnya pasti di bawah. Sehari-hari barang ini hanya diinjak-injak karena hanya difungsikan sebagai alas kaki. Namun betapa pun tidak pentingnya sandal toh penampilan tidak akan lengkap tanpa barang yang satu ini.

Sandal jepit yang normal

Awalnya sandal jepit atau sering disebut sebagai sandal Jepang adalah sandal yang terbuat dari karet. Tali sandal biasanya berupa tali karet berbentuk huruf “V” yang menghubungkan antara bagian depan dan belakang sandal. Bagian atasnya tidak ada penutupnya sedangkan bagian bawahnya pun tidak ada haknya.

Sandal adalah alas kaki yang sudah dikenal manusia sejak zaman Mesir Kuno. Di zaman kuno, orang India, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang juga sudah mengenakan sandal. Sandal jepit di Amerika Serikat disebut flip-flops, thongs, atau beach sandals. Beberapa negara memiliki istilah sendiri-sendiri untuk menamai sandal jepit ini. Konon menurut cerita, sandal jepit di Amerika ini adalah oleh-oleh dari Jepang prajurit AS Seusai Perang Dunia II.

Sandal sisian yang biasa kita temukan di rumah kos dan pesantren

Sandal jepit merupakan trend memang. Buktinya sandal ini masih laku hingga sekarang. Peminatnya pun sangat beragam. Mulai dari pejabat kelas tinggi hingga para gembel pun juga menggunakan sandal jepit ini. Biasanya para pejabat hanya menggunakan sandal jepit untuk hal-hal yang tidak resmi. Sementara kelas bawah menggunakan sandal jepit dalam berbagai momen baik resmi maupun tidak.

Selain sandal jepit ada sandal bakiak atau klompen. Sandal ini barangkali adalah yang paling unik, karena dibuat dari kayu. Sandal ini sejak dulu sudah populer di negara-negara Eropa, seperti Belanda, Belgium, Denmark dan Sweden. Yang asli memang di depannya tertutup. Hanya saja dipengaruhi oleh budaya Cina dan Jepang, sehingga kemungkinan besar bakiak Indonesia agar mudah dibuat bagian depannya tidak tertutup tetapi terbuka.

Sandal bakiak dari kayu

Bakiak Indonesia sama dengan bakiak Eropa memang diperuntukkan untuk kelas bawah. Bakiak ala Indonesia, dibuat dari kayu ringan dan diberi tali dari bekas ban untuk tempat jari kaki. Sederhana dan murah sekali. Biasanya kita sering mendapatkan sandal ini di pedesaan dan di pondok pesantren, atau di tempat lain. Namun sekarang peminat sandal ini lebih banyak kita mendapatkannya pada para santri di pesantren.

****

Biasanya kita mendapatkan sandal dalam bentuk berpasangan yaitu kanan dan kiri. Pasangan kanan dan kiri itu kita temukan dengan jenis dan warna yang sama. Orang akan sangat malu jika bepergian dengan menggunakan sandal yang tidak sesuai (sandal sisian). Karena orang beranggapan orang yangmemakai sandal ini sedang nglindur. Inilah ptologi sosial yang disematkan kepada orang yang berperilaku menyimpang. Sampai-sampai sandal yang berbeda pun dianggap sebagai patologi.

Trend baru sandal sisian bertuliskan “meski beda warna yang penting keren”

Namun patologi sosial di atas tidak ditemukan di rumah kos ataupun di pondok pesantren. Tempat di mana antara batas personal dan publik mulai bias. Atau barangkali kebiasaan ghasab (meminjam tapi tidak bilang dengan yang punya) yang biasa dilakukan para santri dan penghuni kos-kosan. Mereka sudah tidak lagi mempermasalahkan warna dan jenis sandal. Mereka hanya membutuhkan nilai pakai bukan nilai intrinsik sandal. Bagi mereka sandal sisian tidak menjadi persoalan. Bagi mereka tidak memakai sandal itulah yang menjadi persoalan.

Sandal sisian ini justru dibidik oleh produsen sandal sebagai peluang bisnis yang menarik. Dengan sentuhan produsen, sandal sisian sekarang malah menjadi trend tersendiri. Para penjual sandal sisian beda warna akhir-akhir ini mengambil banyak keuntungan. Konsumen sandal pun kini malah senang dengan sandal sisian.

Rupanya masyarakat kelas bawah mulai menyadari bahwa berbeda warna itu indah dan bukan lagi sebagai patologi sosial. Semoga sandal yang berbeda warna ini juga mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat tentang kebaeragaman agama, suku, ras, bangsa merupakan pernak-pernik yang indah untuk dilihat dan dijalankan. Semoga.

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/sandal-jepit-dan-bakiak-alas-kaki-kelas-bawah.html

Posted in opini, penelitian, perjalanan | Leave a Comment »

Tahu Takwa: Kuliner Khas Kota Santri

Posted by Edi Purwanto pada September 11, 2010

Oleh Edi Purwanto pada 11 September 2010

Jika anda berjalan-jalan ke Kota Kediri, anda akan bertemu dengan berbagai jajanan khas. Ada beberapa jajanan khas Kediri, yaitu tahu takwa, krupuk uli (santri Lirboyo menamainya dengan krupuk tayamum), dan pecel tumpang. Krupuk tayamum sudah pernah diulas di kuliner http://jelajahbudaya.com, dalam tulisan ini akan saya paparkan kuliner tahu takwa di Kota Kediri. Untuk pecel tumpang Jalan Dhoho yang terkenal itu akan saya ulas pada tulisan saya berikutnya.

tahu taqwa

Tahu takwa, nama yang cukup unik. Ketakwaan adalah derajad keimanan seorang. Konon, kata tahu berasal dari bahasa Cina: tao-hu, teu-hu, atau tokwa. Tao atau teu berarti kacang (kedelai). Hu dan kwa berarti lumat. Entah darimana asalnya muasal kata ini sehingga disematkan di belakang kata tahu, yang jelas jajanan tahu khas Kota Kediri lebih dikenal dengan nama tahu takwa. Mungkin karena Kediri terkenal dengan dengan kota santri. Sehingga orang mengatakan tahu taqwa.

Rasanya gurih dan tidak ada rasa asam sama sekali. Kalau di goreng, bagian luar kering renyah namun tetap lembut di bagian dalamnya. Karen rasanya kenyal gurih tahu ini biasanya dipotong kecil ditumis dengan tauge dan kucai. Atau dipakai untuk campuran bakmoy ayam. Tahu takwa atau tahu kuning Kediri memiliki tekstur yang kenyal dan lembut kalau di makan. Bentuknya kotak segi empat dan agak pipih.

Bentuknya pun juga unik. Tahu takwa berbeda dengan tahu pada umumnya yang berwarna putih. Tahu taqwa berwarna kuning. Warna kuning pada tahu takwa bukan karena pewarna sistesis, namun menggunakan pewarna alami, yaitu kunyit. Keunggulan lain pada tahu takwa, jelas terdapat pada kandungan gizinya. Seperti tahu pada umumnya, kandungan protein yang tinggi, dapat dipastikan akan sangat baik untuk tubuh manusia. Tahu takwa adalah jajanan yang bersifat basah, dan memiliki daya tahan di tempat terbuka maksimal selama 1 X 24 jam.

Salah satu kawasan penyedia tahu di Jalan Yos Sudarso Kota Kediri, bahkan tak pernah sepi dari kunjungan pembeli. Kawasan yang dipadati pembuat dan penjual tahu itu sengaja berjualan hingga malam hari ditambah dengan mematok harga kompetitif. Tujuannya yaitu mereka berebut menjaring pembeli untuk menikmati makanan berprotein tinggi ini.

Adalah Lauw Soe Hoek atau hingga kini lebih dikenal sebagai Bah Kacung yang pertama kali membuat tahu dan menjadi pelopor industri tahu Kediri. Ia mulai merintis usaha tahu sejak 1912. Saat ini usahanya telah diteruskan oleh cucunya Herman Budiono setelah putranya Yosef Seger Budisantoso (Lauw Sing Hian) meninggal bulan Mei 2008 lalu.

Mbah Kacung telah meninggal tahun 1963, namun tahu Bah Kacung masih bisa kita nikmati dan membeli di tokonya yang terletak di Jalan Trunojoyo pecinan kota lama Kediri. Tahu produksi Bah Kacung memang telah menjadi legenda Kediri.

http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/tahu-takwa-kuliner-khas-kota-santri.html

Posted in opini, perjalanan | Leave a Comment »

 
%d blogger menyukai ini: