Edi Purwanto Trace

Save the Freedom Thoughts

Archive for the ‘Psikologi Tought’ Category

Peran Psikologi Positif Mengatasi Prasangka Sosial dalam Masyarakat Multikultural

Posted by Edi Purwanto pada Desember 2, 2010

A. Latar Belakang

Bangsa indonesia adalah bangsa yang memiliki beragam budaya dan etnis. Perbedaan ini justru berfungsi  mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut.  Pluralisme masyarakat, dalam tatanan sosial,  agama dan suku bangsa, telah ada sejak nenek moyang, kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan, merupakan kekayaan dalam khasanah budaya Nasional, bila identitas budaya dapat bermakna dan dihormati, bukan untuk kebanggaan dan sifat egoisme kelompok, apalagi diwarnai kepentingan politik. Permasalahan silang budaya melalui prasangka sosial dapat terjembatani dengan membangun kehidupan multikultural yang sehat dilakukan dengan  meningkatkan toleransi dan apresiasi antarbudaya. Yang dapat diawali dengan pengenalan ciri khas budaya tertentu,  terutama psikologi  masyarakat yaitu pemahaman pola perilaku masyarakatnya. Juga peran media komunikasi, untuk melakukan sensor secara substantif dan distributif, sehingga dapat menampilkan informasi apresiatif terhadap budaya masyarakat lain. Baca entri selengkapnya »

Posted in jurnal pemikiran, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , , , , | 3 Comments »

Alternatif Pemecahan Perilaku Bullying Pada Anak Sekolah Dasar

Posted by Edi Purwanto pada Desember 1, 2010

A. Latar Belakang Masalah

Sekolah adalah suatu lembaga tempat menuntut ilmu.. Berbicara sekolah, erat kaitannya dengan pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Namun tanpa kita sadari banyak  terjadi kasus kekerasan dilingkungan sekolah yang nota bene tempat luhur. Betapa tidak, hampir setiap hari, selalu saja ada berita tentang kekerasan di kalangan pelajar. Mulai dari tawuran, pencurian, pelecehan seksual, sampai konsumsi narkoba. Bahkan, kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri dibeberapa sekolah di Indonesia, telah membuka mata semua orang, betapa kekerasan di kalangan pelajar kian hari kian mengkhawatirkan. Baca entri selengkapnya »

Posted in jurnal pemikiran, Psikologi Tought | 15 Comments »

Sufisme dan Spiritualisme Jalan Pencarian Kebermaknaan Hidup 2

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 27, 2010

Tulisan sebelumnya Krisis Kebermaknaan Hidup Manusia Modern

Menaggapi berbagai pelik permasalahan di perkotaan, beberapa tahun belakangan ini, muncul fenomena antusiasme terhadap tasawuf. Karena agama menurut mereka cenderung formalistik dan pakem dalam memberikan solusi. Tasawuf adalah alternatif jawaban yang cenderung mengena langsung ke hati mereka. Tasawuf juga dianggap dapat menghidupkan kembali semangat keagamaan di perkotaan yang semakin mengering. Baca entri selengkapnya »

Posted in opini, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Krisis Kebermaknaan Hidup Manusia Modern 1

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 26, 2010

Hiruk pikuk perkotaan menuntut manusia harus berjalan seiring dengan tuntutan pasar. Kehidupan dipaksa untuk mengikuti trend dan mode yang diciptakan oleh pasar. Hampir tidak ada ruang untuk berekspresi dan berkreasi apalagi melakukan perlawanan terhadap arus modernisasi ini. Baca entri selengkapnya »

Posted in opini, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , | 3 Comments »

Penjajahan dan Penyakit Mental

Posted by Edi Purwanto pada Oktober 23, 2010

Oleh Edi Purwanto

Para pemikir post-kolonial tentunya sangat familiar dengan Frantz Fanon. Fanon lahir di Aljazair pada saat kolonialisme Perancis masih menggurita negerinya. Dalam perjalanan intelektualnya, dia banyak berjasa mengembangkan psikologi marxsis. Karya-karyanya lebih banyak dibaca oleh para kaum revolosioner daripada psikolog dan psikiater. Pribadinya yang terlibat langsung dalam perang mengakibatkan dirinya hanya dilihat sebagai sosok yang berada dalam sejarah revolusi. Namanya sebagai orang yang memiliki kontribusi untuk pembebasan psikologi masyarakat Aljazair tidak begitu kentara. Baca entri selengkapnya »

Posted in pemikiran tokoh, Psikologi Tought, Resensi buku | Leave a Comment »

What is Positive Psychology / Psikologi Positif ?

Posted by Edi Purwanto pada September 27, 2010

Martin Sligman

Seperti yg kita tau, psikologi awalnya lahir dari orang-orang neurotik. Sehingga akhirnya segala diagnosis di psikologi selalu diidentikkan dengan gangguan jiwa, neurosis, dll(intinya buruklah). Sehingga munsullah sebutan psikologi negatif.

Nah, sekarang mulai lahir psikologi positif, atau tenarnya psikologi orang waras. Dalam ilmu ini mencakup aspek kebersyukuran(gratitude). Sejauh ini saya belum terlalu tahu perkembangan psikologi positif itu sendiri. Mungkin ada yg mau berbagi ide?

Psikologi Positif (Positive Psychology) muncul sebagai cabang psikologi (terbaru) pada tahun 1998. Martin Seligman Presiden APA (American Psychological Association), adalah tokoh utama cabang psikologi ini. Psikologi Positif mempelajari tentang kekuatan dan kebajikan yang bisa membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi berhasil (dalam hidup atau meraih tujuan hidupnya), dan oleh karenanya ia menjadi bahagia. Salah satu pusat perhatian utama dari cabang psikologi ini adalah pencarian, pengembangan kemampuan, bakat individu atau kelompok masyarakat , dan kemudian membantunya untuk mencapai peningkatan kualitas hidup (dari normal menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih bahagia).

Psikologi Positif  berakar pada mazhab atau aliran Psikologi Humanistik. Abraham Maslow, Carl Rogers dan Erich Fromm, adalah para tokoh psikologi humanis yang telah dengan gemilang mengembangkan penelitian, praktek dan teori tentang kebahagiaan atau kehidupan individu yang positif. Upaya ini kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh para ahli dan praktisi Psikologi Positif untuk terus mencari fakta empirik dan fenomena baru untuk mengukuhkan hasil kerja para psikolog humanis. Salah satu teori yang dikemukakan oleh Psikologi Positif adalah Self-determination Theory.

Jika ditelusuri lebih jauh ke belakang, pengaruh-pengaruh yang ikut andil dalam lahirnya cabang Psikologi Positif  ini berasal dari ilmu Filsafat dan Agama. Jauh sebelum psikologi moderen muncul di akhir abad ke XIX. Judaisme mengajarkan bahwa kebahagiaan dan rewards akan terjadi jika orang menjalankan perintah-perintah dari Sang Pencipta. Socrates berpendapat bahwa pengetahuan diri (self knowledge) adalah jalan menuju kebahagiaan. Aristoteles percaya bahwa kebahagiaan atau eudaimonia terjadi jika kegiatan-kegiatan rasional selaras dengan tata nilai (individu atau masyarakat). Agama Kristen kemudian mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak akan pernah terjadi di dunia ini melainkan pada kehidupan sesudah kematian.

Era Renaissance, kemudian menempatkan orang sebagai fokus dan sesuatu yang sangat bernilai. Akibatnya orang-orang kreatif memiliki prestise atau nilai lebih di mata masyarakat. Para pemahat, pelukis, musician tidak lagi dianggap hanya sebagai pekerja seni melainkan sebagai Artis. Ahli filsafat seperti John Stuart Mill percaya bahwa bagi kebanyakan orang, tindakan moral akan bisa menimbulkan atau meningkatkan kebahagiaan hidup. Oleh karenanya ilmu pengetahuan tentang kebahagiaan harus dimanfaatkan untuk menentukan perbuatan-perbuatan apakah yang termasuk dalam tindakan (ber)moral. Thomas Jefferson dan para pelopor demokrasi lainnya, percaya bahwa Hidup, Kebebasan dan Upaya mencari Kebahagiaan adalah hak azasi yang mutlak, dan oleh karenanya tidak boleh ada pihak-pihak tertentu (misalnya pemerintah) yang bisa menghalangi seseorang untuk meraih “kemutlakan” hak ini. Di jaman Romantik, orang menghargai ekspresi emosional individu dan mencari “wajah asli” emosi individu yang harus terbebas dari norma-norma sosialnya. Pada waktu yang bersamaan, Hubungan interpersonal dan rasa cinta adalah tema atau motivasi utama mengapa orang kemudian menikah dan membangun keluarga.

Dari refleksi singkat ini, semoga kita dapat semakin tahu apa, dimana dan bagaimana eksistensi Psikologi Positif dalam kerangka atau bingkat Psikologi secara keseluruhan. Mata kuliah dan praktek-praktek seperti Kesehatan Mental, Psikologi Kebugaran, Psikologi Inspirasi, dsb.  pun pula karya-karya (tulisan, buku, penelitian) tentang self-inspiration, self-fulfillment, self-determination  adalah buah-buah manis yang dihasilkan Psikologi melalui cabang Psikologi Positif.

Ada buku sangat bagus bagi pemula yang ingin mengetahui tentang Psikologi Positif. Judulnya Authentic Happiness, tulisan Martin Seligman, si mbahnya Psikologi positif. di bab awal buku itu om seligman cerita tentang bagaimana ia bersama dua temannya (om Diener sama satu lagi lupa aku namanya) mendirikan mahzab baru ini sambil berlibur bersama keluarga mereka di sebuah vila di tepi danau. saat om seligman terpilih jadi presiden APA pun ia menjadikan dekade kepemimpinannya sebagai decade of well-being.

Bukunya sendiri sekarang sudah susah dicari, saya pernah muter-muter Social Agency, Togamas, Gramedia, Shopping, udah gak nemu. kalo banyak yang berminat saya sarankan untuk datang langsung ke Penerbit Mizan Pustaka di Jl. Kaliurang KM 6, dan tanyakan apakah stok buku tersebut masih ada atau bisakah dipesan. hoho… agak ngiklan nih, tapi mudah-mudahan bermanfaat ya…

Seorang teman bilang, buku ini adalah buku psikologi populer paling ilmiah, sekaligus buku ilmiah yang paling populer. heee… intinya, enak dibaca dan dilengkapi dengan skala-skala tentang kebahagiaan. kalo susah dapet bukunya bisa lihat di http://www.authentichappiness.com

Saya sendiri lebih tertarik untuk mempelajari psikologi positif daripada belajar hal-hal yang bersifat abnormal. Salah-salah belajar nanti malah penasaran dan menjajal hal yang tidak normal, atau saking hapalnya dengan hal-hal yang tidak normal, semua-muanya dilihat tidak normal, hiiiy… so, lebih baik fokus dengan sesuatu yang positif bukan?

Barangkali ada kaitan menarik juga antara positive psychology dan critical psychology. nah, klo critical psychology atau psikologi kritis adalah kritik terhadap ilmu psikologi arus utama/modern yang selama ini kita kenal. lebih gampangnya begini, ketika ada orang mengalami stres ahli psikologi cenderung akan mengalisis kenapa dia stres, pemicunya, apa, dan bagaimana orang tersebut bisa mengatasi pemicu stres. ahli psikologi arus utama tidak berusaha bersama untuk mengatasi pemicu yang membuat stres alih-alih mendorong orang tersebut untuk dapat beradaptasi terhadap lingkungan yang menenkan (misalnya pekerjaan yang overload, gaji kecil, sering lembur, keluarga kebutuhan banyak, dll, maka biasanya yang terjadi adalah bagaimana menyesuaikan dengan kondisi tersebut, tidak mengatasi kenapa sampai terjadi kondisi tersebut)

Inti dari ajaran psikologi kritis setahu saya adalah ilmu psikologi harus lebih bisa membawa kepada arah keadilan sosial bagi semua..

Sekedar catatan kecil: kleptomania adalah istilah yang tercipta pada masa-masa awal munculnya supermarket dimana orang menjadi terdorong/tergiur untuk memiliki sesuatu karena display yang menarik dan konsumen dapat menyentuh bahkan mencoba barang yang dijajakan. ketika orang kelas rendah mencuri di supermarket dan tertangkap dia diperlakukan sebagai kriminal namun ketika orang kelas atas yang mencuri di supermarket dia dianggap memiliki kelainan dan dapat dibebaskan dari jerat hukum (bukan kriminal). inilah salah satu kritik kecil terhadap psikologi arus utama..yang tidak berkeadilan sosial

Sumber: http://forum.psikologi.ugm.ac.id

Posted in jurnal pemikiran, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Mengembangkan Komunikasi Sosial Anak Autis Dengan Metode Bermain

Posted by Edi Purwanto pada September 6, 2010

Pendahuluan

Saya memiliki seorang teman yang memiliki anak yang telah divonis autis oleh seorang psikiater. Setelah saya dihubungi dan diberikan cerita banyak, maka saya tertarik untuk datang ke rumah temenku itu. Setelah saya memperkenalkan diri  dan melalui strategi saya akhirnya andi mau berkata danmenyebutkan menyebut namanya. Namun setelah itu dia asyik dengan permainannya lagi. Walaupun andi memiliki teman sebaya di sekeliling rumahnya, namun kesehariannya hanya dihabiskan dengan bermain sendiri di rumahnya. Dia memang tidak maubergaul dengan teman-temannya dan memilih menghabiskan waktunya dengan hanya berada di kamar atau di depan televisi.

Berangkat dari kasus yang dialami oleh Andi di atas, saya hendak mencoba memberikan model terapi anak menggunakan permainan. Harapannya dengan permainan ini, anak memiliki kecerdasan sosial. Karena ada banyak permainan yang bisa mendorong anak untuk mengembangkan social controlnya. Model terapi ini sangat menyenangkan dan sesuai dengan dunia anak yaitu bermain. Dalam makalah ini saya akan memaparkan sedikit tentang berbagai teori bermain. Kemudian saya akan mencoba menganalisis lebih jauh tentang kasus di atas.

Berbicara tentang anak, tentu tidak bisa lepas dari dunia permainan. Bermain adalah dunia yang senantiasa dilakukan oleh anak. Di manapun dan kapan pun anak tidak pernah mau terlepas dari permainan. Mereka tidak mengenal ruang dan waktu untuk melakukan kegiatan yang satu ini. Mereka bisa melakukan dengan teman ataupun sendirian. Dengan kegiatan ini, anak mampu mengekspresikan segala apa yang menjadi keinginannya.

Dalam psikologi, semenjak akhir tahun 1980-an bermain merupakan aktivitas yang paling penting dalam proses perkembangan anak. Seiring perkembangan waktu, pandangan para ahli tentang bermain berubah dan bermain dipandang sebagai perilaku yang bermakna. Misalnya, menurut Groos bermain dipandang sebagai ekspresi insting untuk berlatih peran di masa mendatang yang penting untuk bertahan hidup. Sedang Hall (dalam Schaefer, et al., 1991) melihat bermain sebagai rekapitulasi perkembangan suatu ras dan merupakan media yang penting untuk menyatakan kehidupan dalam diri (inner life) anak. Bahkan menurut Hall tidak ada alat yang dapat mengungkap jiwa anak sebaik permainan boneka. Baca entri selengkapnya »

Posted in Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , | 2 Comments »

Mengembangkan Komunikasi Sosial Anak Autis Dengan Metode Bermain

Posted by Edi Purwanto pada Juni 1, 2010

Pendahuluan

Saya memiliki seorang teman yang memiliki anak yang telah divonis autis oleh seorang psikiater. Setelah saya dihubungi dan diberikan cerita banyak, maka saya tertarik untuk datang ke rumah temenku itu. Setelah saya memperkenalkan diri  dan melalui strategi saya akhirnya andi mau berkata danmenyebutkan menyebut namanya. Namun setelah itu dia asyik dengan permainannya lagi. Walaupun andi memiliki teman sebaya di sekeliling rumahnya, namun kesehariannya hanya dihabiskan dengan bermain sendiri di rumahnya. Dia memang tidak maubergaul dengan teman-temannya dan memilih menghabiskan waktunya dengan hanya berada di kamar atau di depan televisi. Baca entri selengkapnya »

Posted in jurnal pemikiran, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Psikologi Minoritas – Mayoritas

Posted by Edi Purwanto pada Maret 18, 2010

Hubungan mayoritas-minoritas agama pastilah sangat kompleks, apalagi di Indonesia yang memang secara historis dan sosial sangat majemuk dari sudut keagamaan. Karena itu, jika terdapat konflik bernuansa agama di antara para penganut agama yang berbeda, mestilah dilihat tidak hanya dari sudut agama, melainkan juga dari sudut budaya, ekonomi, dan politik. Perspektif yang melihat dari sudut agama saja bisa dipastikan tidak hanya gagal memahami dinamika hubungan antara komunitas-komunitas keagamaan, melainkan juga bisa tidak historis dan tidak sosiologis.

Sejauh menyangkut hubungan antara komunitas-komunitas keagamaan yang berbeda, terdapat apa yang saya sebut “psikologi mayoritas-minoritas”. Psikologi semacam itu pada dasarnya mencerminkan kompleks psikologis yang muncul, berkembang, dan bertahan dalam pengalaman interaksi yang panjang; dan ia juga menggambarkan ketakutan-ketakutan yang ada dalam sebuah masyarakat agama vis-a-vis komunitas keagamaan lain yang berbeda.

Dalam konteks itu, banyak konflik dan bahkan kekerasan yang melibatkan komunitas-komunitas keagamaan yang berbeda muncul dari ambang kesadaran yang bertumpu pada “kenangan bersama” (collective memory) masing-masing komunitas keagamaan satu sama lain. “Kenangan bersama” itu tidak dengan mudah pudar dalam perjalanan waktu; bahkan sebaliknya bisa muncul kembali sewaktu-waktu dan dapat mewujudkan dirinya dalam berbagai bentuk tindakan kekerasan komunal yang kadang-kadang dipicu masalah sepele belaka.

Psikologi Minoritas

Secara umum, kaum minoritas keagamaan di mana pun memiliki psikologi tertentu yang pada dasarnya menggambarkan ketakutan-ketakutan ketika berhadapan dengan kaum mayoritas di lingkungan sekitar mereka. Sekali lagi, psike semacam itu terbentuk tidak hanya karena posisi mereka yang rentan vis-a-vis kaum mayoritas, melainkan juga karena tindakan kaum yang disebutkan terakhir ini memang pernah mendatangkan ancaman eksistensial bagi kaum minoritas.

Salah satu “psikologi minoritas” paling menonjol yang tidak bisa hilang begitu saja dalam perjalanan waktu di Indonesia adalah “bayangan” dan mitos tentang “negara Islam”. Dalam berbagai pertemuan dan dialog dengan kelompok-kelompok agama minoritas, saya dari waktu ke waktu menemukan psikologi semacam itu. Dalam psikologi ini, kaum minoritas umumnya melihat orang-orang Islam Indonesia selalu berusaha mewujudkan negara Islam dengan cara apa pun –baik melalui cara-cara evolusi damai maupun revolusi kekerasan, seperti pemberontakan Darul Islam.

Psikologi semacam itu, pada hemat saya, cenderung meningkat di bawah permukaan di kalangan minoritas di Indonesia. Dan karena itu, gejala perlawanan eksistensial di kalangan masyarakat keagamaan minoritas juga meningkat. Peningkatan psikologi minoritas itu berbarengan dengan atau bahkan sebagai reaksi terhadap meningkatnya apa yang sering disebut sebagai santrinisasi di Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir, yang dalam perspektif kaum minoritas kian mengancam eksistensi mereka.

Pada masa pasca-Soeharto yang penuh dengan hiruk-pikuk kekebasan dan demokrasi, terlihat berbagai perkembangan yang tidak bisa lain hanya meningkatkan psikologi minoritas tersebut, mulai usaha parpol dan gerakan Islam tertentu mengembalikan Piagam Jakarta ke Pembukaan UUD 1945, usaha penegakan syariah, adanya perda-perda yang dipandang mengandung syariah, sampai mencoloknya tayangan-tayangan dakwah Islam dalam berbagai saluran TV.

Berhadapan dengan gejala-gejala seperti itu, kaum minoritas melakukan tidak hanya kontra-wacana, melainkan juga kontra-aksi. Gejala terakhir ini bisa dilihat, misalnya, pada kesulitan-kesulitan yang dialami kaum muslimin minoritas di Bali untuk mendirikan masjid dan di daerah lain, tempat non-muslim menjadi mayoritas.

Dua kali pengeboman di Bali yang dilakukan kelompok Amrozi dan kawan-kawannya jelas meningkatkan rasa keterancaman itu, yang pada gilirannya menimbulkan kontra-reaksi di kalangan masyarakat mayoritas Hindu Bali. Hasilnya, kaum muslimin yang sebenarnya tidak ada urusan dengan Amrozi cs menerima dampaknya dalam bentuk meningkatnya kesulitan-kesulitan keagamaan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya.

Masih dalam konteks itu, muncul kontra-wacana yang lebih radikal di kalangan minoritas di Indonesia, tetapi mayoritas di wilayah tertentu. Ini, misalnya, terlihat dengan upaya melegislasi kota atau wilayah tertentu sebagai “kota Injil” dan sebagainya. Kaum muslimin minoritas di wilayah ini tentu saja tidak bisa berbuat banyak, karena proses legislasi itu terjadi di daerah tempat mereka tidak memiliki kekuatan politik untuk menolaknya. Karena itu, yang bisa mereka lakukan adalah berusaha menggalang oposisi terhadap upaya seperti itu, baik pada tingkat lokal maupun nasional.

Berhadapan dengan peningkatan “psikologi minoritas” tersebut –kaum non-muslim pada level Indonesia dan sebaliknya kaum muslimin pada daerah tertentu– saya menyarankan agar masing-masing kelompok tidak over-reactive. Dalam konteks itu, upaya-upaya memperkuat posisi politik agama tertentu, baik pada tingkat nasional maupun lokal, hendaklah dipandang bukan sebagai representasi keseluruhan umat beragama.

Di kalangan muslim pada tingkat nasional dan lokal, terdapat organisasi-organisasi mainstream yang tidak mendukung usaha kelompok tertentu di kalangan umat Islam yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Karena itu, tidak perlu ada perasaan ketakutan berlebihan di kalangan minoritas yang pada gilirannya menguasai psike mereka dalam kehidupan. Dan, bisa dipastikan, jika psikologi minoritas yang tumbuh menjadi “exaggerated fear” (ketakutan berlebihan) itu terus bertahan –apalagi meningkat– maka dapat mendorong kontra-reaksi yang tidak sehat dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan secara keseluruhan.

Psikologi Mayoritas

Jika di kalangan minoritas terdapat “psikologi minoritas” –yang dapat meningkat menjadi “exaggerated fear” — di dalam diri kaum muslimin mayoritas Indonesia juga terdapat semacam “psikologi mayoritas”. Lagi-lagi psikologi semacam itu tumbuh dan berkembang karena faktor-faktor historis, sosiologis, dan politis yang sangat kompleks.

Salah satu bentuk “psikologi mayoritas” muslim Indonesia adalah apa yang disebut sosiolog Belanda, CAO van Niewenhuijze, pada 1980-an sebagai “majority with minority complex”, masyarakat mayoritas tetapi dengan sikap mental sebagai minoritas. Psikologi seperti ini muncul karena pengalaman historis-politis sejak zaman Belanda, ketika kaum muslimin mengalami marjinalisasi sosial, ekonomi, dan politik. Dan ini terus berlanjut dalam masa Orde Lama dan Orde Baru, ketika parpol-parpol, organisasi-organisasi, dan tokoh-tokoh muslim yang dipandang mewakili Islam (baca: Islam santri) mengalami marjinalisasi dan bahkan supresi penguasa.

Dengan psikologi “mayoritas dengan kompleks minoritas” itu, terdapat kalangan muslimin yang merasa asing di rumahnya sendiri dan tidak menganggap pemerintahan yang ada sebagai bagian dari mereka. Lebih dari itu, psikologi seperti itu memendam ketakutan berlebihan terhadap kalangan minoritas keagamaan –khususnya Kristen– yang mereka pandang memiliki agenda-agenda yang mereka jalankan secara agresif untuk menguasai Indonesia melalui program Kristenisasi. Dalam perspektif ini, Kristenisasi dilakukan dengan berbagai cara; bukan hanya dengan evangelisasi yang persuasif, melainkan juga dengan mengeksploitasi kemiskinan orang-orang Islam melalui bantuan pendidikan, kesehatan, pangan, dan sebagainya.

Psikologi seperti inilah yang sering menguasai imajinasi (capturing imagination) banyak kalangan muslim tentang kaum minoritas Kristen yang mereka pandang sangat agresif dan ekspansif sejak zaman Belanda sampai sekarang. Lebih jauh, menurut perspektif ini, jika dulu misi Kristenisasi mendapat dukungan kekuasaan Belanda, sekarang menyandarkan diri pada kekuatan pendanaan gereja internasional, khususnya Amerika Serikat. Dan, pihak terakhir ini memang terkenal tidak hanya memiliki kemampuan finansial berlimpah, sumber daya evangelis sangat bersemangat, melainkan juga berani melakukan langkah-langkah evangelisasi yang dramatis.

Karena itu, dalam psikologi “majority with minority complex” itu, belakangan ini menguat pula kepercayaan pada “teori persekongkolan” (conspiracy theory). Dalam teori ini, kaum muslimin percaya, terdapat persekongkolan Kristen Barat untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin; membuat orang-orang Islam menjadi Kristen; dan juga menguasai wilayah-wilayah muslim, seperti pernah dilakukan Eropa sepanjang abad ke-18 sampai masa berakhirnya Perang Dunia II.

Dalam kerangka psikologi seperti itulah, kita bisa melihat kenapa dalam dua dasawarsa terakhir muncul banyak kelompok Islam yang menyebut diri “kelompok anti-pemurtadan”, “kelompok pembela akidah”, dan seterusnya. Mereka tidak hanya melakukan dakwah mencegah konversi orang-orang Islam ke dalam agama Kristen, melainkan juga melakukan aksi-aksi menentang pembangunan gereja atau menutup gereja-gereja yang mereka pandang berdiri secara tidak sah dan seterusnya.

Dengan demikian, proses santrinisasi yang meningkat sepanjang dua dasawarsa terakhir –misalnya dalam bentuk kian meluasnya pemakaian jilbab di kalangan kaum muslimah dan makin banyaknya lembaga baru Islam seperti bank syariah– gagal menghapuskan psikologi “majority with minority complex” tersebut. Mungkin psikologi seperti itu berkurang dalam bidang politik, tetapi kelihatannya tidak dalam hubungan antar-agama.

Penutup

Baik psikologi minoritas maupun psikologi mayoritas tadi jelas tidak sehat bagi kehidupan antar-agama dan kebangsaan. Memang tidak mudah menghapus “ketakutan-ketakutan” yang ada di balik psikologi seperti itu, karena akar-akar historis, sosiologis, dan politisnya begitu kuat sehingga telah menjadi memori kolektif dan menguasai psike masing-masing kelompok umat beragama.

Bagi saya, upaya-upaya serius untuk menghilangkan –atau mengurangi– psike itu dapat dilakukan, antara lain, melalui dialog-dialog antar-agama yang berani, jujur, dan ikhlas. Memang dialog-dialog antar-agama telah lama dilakukan umat beragama yang berbeda, tetapi kecenderungannya adalah: dialog-dialog tersebut masih formalitas dan basa-basi. Atau dialog-dialog itu menjadi forum “pemadam kebakaran” ketika konflik dan kekerasan terjadi di antara umat beragama yang berbeda. Jika kita menginginkan hubungan umat beragama yang genuinely harmonis dan damai, tidak bisa lain, keberanian dan keikhlasan dalam dialog-dialog antar-agama menjadi keharusan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Azyumardi Azra
Guru besar sejarah dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
[Mukaddimah, Gatra Edisi Khusus beredar Kamis, 25 September 2008]

Posted in opini, Psikologi Tought | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

 
%d blogger menyukai ini: