Senggama Intelektual

Membuka Cakrawala Berfikir Bebas

Saat Ini Merupakan Era Politik Ketokohan

Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Juli 11, 2009

Pemilu legislatif 9 April 2009 telah lewat, pemilu presiden 8 Juli 2009 tinggal sehari lagi. Berbeda dengan pemilu pada zaman Orde Lama dan Orde Baru, saat ini panggung politik tak lagi dimeriahkan pertarungan ideologi atau aliran. Pertarungan dalam pemilu lebih banyak diwarnai pencitraan dan jualan pesona para tokoh populer.

Apa sebenarnya yang terjadi di balik pergeseran peta politik itu? R William Liddle, Indonesianis dan profesor ilmu politik Ohio State University, Columbus, Ohio, AS, menjawab beberapa pertanyaan Kompas melalui surat elektronik beberapa waktu lalu.

Bagaimana sesungguhnya gambaran politik aliran yang mewarnai peta politik Indonesia sejak Orde Lama dan Orde Baru?

Mulai sekarang, kita perlu memikirkan kembali sejarah politik aliran di Indonesia. Sebelum 1999, masyarakat Indonesia hanya diberi satu kesempatan untuk menyatakan secara bebas pilihan politiknya, yaitu pada Pemilu 1955. Gambaran aliran, khususnya empat partai yang mewakili kaum santri modernis (Masyumi), santri tradisional (Nahdlatul Ulama), priayi (PNI), dan abangan (PKI) terbentuk pada waktu itu. Dasar analitisnya bagi ilmuwan politik seperti saya adalah penelitian antropolog tersohor almarhum Clifford Geertz di Pare.

Kalau dilihat dari perspektif masa kini, semakin jelas bahwa gambaran itu hanya merupakan sebuah potret ataupun snapshot yang diambil pada momen itu. Sayangnya, para pengamat, dalam dan luar negeri, termasuk saya, berpegang lama sekali kepada snapshot itu. Tentu kami dibantu oleh penguasa pada dua masa berikut, Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru. Misalnya, Presiden Soeharto menciptakan sistem dua partai, PPP (gabungan partai-partai santri) dan PDI (gabungan partai-partai abangan dan non-Islam) atas dasar penggambaran aliran 1950-an. Seakan-akan memang begitulah realitas partisan para pemilih Orba.

Pertanyaan saya sekarang, seandainya ada pemilu demokratis pada 1960, 1965, dan seterusnya, tentu dalam rangka penerusan demokrasi konstitusional (istilah Herb Feith almarhum) tahun 1950-an, apakah PNI, Masyumi, NU, dan PKI akan bertahan kira-kira pada persentasi-persentasi 1955? Menurut ramalan hipotesis aliran, memang harus begitu. Sebab, empat partai itu dianggap mewakili kekuatan-kekuatan politik yang besar dan berakar, khususnya di Jawa.

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tentu memerlukan penelitian baru tentang partai-partai 1950-an.

Pokoknya jangan melihat sistem pola kepartaian tahun 1955 sebagai sesuatu yang abadi, apalagi sesuatu yang ideal karena mencerminkan perbedaan ideologis.

2. Bagaimana perkembangan dan peran politik aliran itu pada zaman Orde Reformasi saat ini?

Yang paling menentukan pada zaman Orde Reformasi adalah peran tokoh. PDI-P memperoleh 34 persen dari semua suara pada Pemilu 1999 karena Megawati Soekarnoputri didukung oleh para pemilih yang melihat dan menyetujui perlawanannya yang berani secara bertanggung jawab terhadap pemerintahan Soeharto sejak awal 1990-an.

Keberhasilan Partai Demokrat dalam dua pemilu tak terpisahkan dari popularitas tokoh Susilo Bambang Yudhoyono. Begitu juga dengan PAN (Amien Rais, meski tidak di depan lagi) dan PKB (Abdurrahman Wahid). Munculnya Gerindra dan Hanura pada Pemilu 2009 berhubungan dengan popularitas Prabowo Subianto dan Wiranto.

Faktor kedua yang menjelaskan hasil pemilu-pemilu Orde Reformasi adalah organisasi. Golkar dan PKS boleh membanggakan organisasi partai yang paling modern dan teratur, sementara PKB dan PAN (juga PPP pada awalnya) dibangun atas dasar dua organisasi agama yang terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Faktor ketiga adalah keterampilan berkampanye. Partai Demokrat dan Gerindra betul-betul memanfaatkan keterampilan berkampanye, khususnya lewat iklan TV.

Tentu semua faktor ini tak terpisahkan dari uang yang diperlukan dalam jumlah yang sangat besar untuk membangun sebuah partai dan mengadakan kampanye nasional setiap lima tahun.

Partai-partai Islam memang semakin melemah karena yang diinginkan masyarakat Indonesia bukanlah presiden dan MPR yang mau ”mensyariahkan” Indonesia, melainkan yang mau membuat masyarakat Indonesia lebih makmur, adil, dan aman.

Para pemimpin PKS membuktikannya ketika mereka belajar dari pengalaman buruk 1999 tatkala mereka gagal mendapatkan dukungan luas. Tema kampanye non-agama yang menjanjikan pemerintahan yang ”bersih” dan ”peduli” lebih masuk di lubuk hati pemilih 2004.

Adakah proses demokratisasi di Indonesia membuat suasana politik semakin terbuka dan penuh pencitraan sehingga akhirnya memunculkan sosok-sosok anggota legislatif yang mudah dijual karena punya citra bagus?

Terlalu awal untuk menyimpulkan begitu. Keputusan Mahkamah Konstitusi pada Desember lalu mengejutkan semua pemain, termasuk pemimpin partai dan para calon. Tentu mereka mencoba sejauh kemampuan mereka dalam waktu yang amat singkat untuk memanfaatkan keadaan baru (bagi calon selebriti) atau menyelamatkan diri dan organisasi (bagi pemimpin partai nasional) dari bencana kekalahan.

Bagi saya, keputusan MK dan dampaknya pada badan-badan legislatif merupakan sebuah kesempatan emas bagi bangsa Indonesia untuk merumuskan kembali peran partai sebagai organisasi dan politisi sebagai pemain individu dalam sistem politik Indonesia.

Indonesia sedang menciptakan sebuah sistem politik yang memberikan peran besar kepada politisi sebagai individu. Hal ini berbeda sekali dengan Orde Lama ketika partai dan pemimpin partai memainkan peran yang jauh lebih besar.

Kalau Anda menginginkan sistem kepartaian yang lebih kuat, ada langkah-langkah institusional, misalnya yang menyangkut undang-undang kepartaian dan pemilihan umum, yang bisa ditempuh. Kalau boleh saya usulkan, tahun depan, setelah presiden dan MPR baru dilantik serta jauh sebelum Pemilu 2014, adalah waktu yang baik untuk mengadakan sebuah diskusi nasional tentang peran partai dan sistem kepartaian yang diharapkan atau ideal buat Indonesia.

Bagaimana masa depan demokrasi di Indonesia dengan politik pencitraan semacam itu?

Pertama, pilihan kebijakan ekonomi yang tepat yang diperlukan untuk menghadapi tantangan-tantangan globalisasi masa kini. Kebijakan tersebut perlu bersifat pragmatis, bukan ideologis, kalau yang dimaksudkan dengan ideologi adalah pertentangan antara kutub-kutub populisme ala Hugo Chavez dan apa yang disebutkan (dituduhkan) sebagai neoliberalisme yang tidak memberikan peran kepada negara, hanya kepada pasar.

Perdebatan itu sudah lama steril. Ikutilah perdebatan yang sedang terjadi di Amerika, tempat yang dipersoalkan bukan peran negara sebagai lawan, melainkan sebagai teman pasar. Jangan takut kepada pasar yang memang merupakan sumber utama pertumbuhan dan oleh karena itu sumber utama distribusi yang lebih merata. Tanpa pertumbuhan, tidak ada pendapatan, dan tidak ada pajak yang bisa dipakai untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Jangan takut pula kepada luar negeri karena luar negeri itu tidak terdiri dari negara-negara imperialis yang ingin mengepung dan menguasai Indonesia, melainkan dari negara-negara yang juga ingin maju dan bisa diajak bekerja sama kalau Anda punya kebijakan-kebijakan yang tepat dan keterampilan diplomatis.

Kedua, setidak-tidaknya untuk sementara, katakanlah lima tahun ke depan, pusat pembuatan kebijakan ekonomi sebaiknya berada di bidang eksekutif, tepatnya di tangan presiden, bukan di legislatif yang memang selama ini kurang berfungsi.

Siapa saja yang dipilih sebagai presiden untuk masa jabatan 2009-2014 akan memerlukan dua hal: masukan tentang kebijakan ekonomi dalam bentuk informasi dan saran serta hubungan yang damai dengan DPR. Hal yang pertama bisa diperoleh dengan agak gampang dari para ekonom profesional. Hal yang kedua lebih sulit dan mungkin baru bisa dibicarakan secara serius setelah kita tahu siapa yang menjadi presiden terpilih.(Ilham Khoiri)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/07/03350926/saat.ini.merupakan.era.politik.ketokohan

Ditulis dalam opini | Bertanda: , , , | 4 Komentar »

Saya, Facebook dan Autisme Simbolik

Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Mei 13, 2009

Apa yang sedang kamu pikirkan? Itulah pertanyaan muncul setiap kita masuk ke dalam Facebook. Seorang teman sempat risih banget dengan pertanyaan ini. Sehingga pada suatu ketika dia menulis di dindingnya ”Facebook ini goblok banget sich masak udah dijawab masih tanya-tanya terus dengan pertanyaan sama”. Paling tidak itulah umpatan dari seorang teman di dindingnya. Banyak ekspresi yang senantiasa dituliskan di dinding pengguna Facebook. Mulai dari hal politik sampai suasana hati yang tidak menentu.

Semenjak mengetahui seorang teman dari Jakarta yang pada saat itu main ke Averroes bermain Facebook, saya tidak sama sekali tertarik. Karena saya menganggap facebook hanyalah permainan biasa yang hanya bercelometan ria tanpa jelas apa yang menjadi perbincangan. Kalau hanya sekedar Say Hello pada teman-teman pada saat itu saya hanya menggunakan Yahoo Masangger.

Pada saat itu memang komunitas saya lagi demam tentang Yahoo Masangger, Blog, Frienster dan millis sehingga keberadaan Facebook tidak begitu menjadi perhatian saya. Blog dan millis menjadi tujuanku ketika pertama kali saya membuka internet. Untuk mengetahui teman-teman yang online saya membuka Yahoo Masangger. Keberadaan aplikasi ini saya rasa sangat menarik pada saat itu. Saya senantiasa mencari teman baru dengan cara berkunjung dari blog satu ke blog lainnya. Dengan memberikan komentar pada tulisan-tulisan yang pernah dia tulis, atau hanya sekedar lewat saja dengan memberikan sedikit jejak kunjungan.

Akhir tahun 2008 hampir semua orang di sekelilingku sudah menggunakan facebook. Saya tetap bersikukuh tidak mau menggunakan fitur ini. Kampungan lho kalau tidak menggunakan Facebook” begitulah isi pesan yang saya dapatkan dari chatting yang saya lakukan di YM. ”Saya bukan tidak mau menggunakan Facebook akan tetapi saya takut kalau menjadi candu”, begitu balasan saya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam opini | Bertanda: , , , , , , , , , | 11 Komentar »

MUI Blitar Selidiki Aliran Tiket Masuk Surga (TMS)

Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Maret 25, 2009

Aliran ini muncul di desa Jajar Kecamatan Talun Kabupaten Blitar sejak Awal tahun 2009 lalu. MUI beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Sulani 62 warga RT2/RW1 Desa Jajar sebagai pimpinan aliran ini telah menyimpang dari ajaran Islam. Maka dari itu, MUI Kabupaten Blitar akan segera menyelidiki lebih lanjut.

Dari keterangan yang diperoleh MUI setempat indikasi penyimpangan aliran ini adalah pengikutnya dibebaskan dari sholat namun tetap dinyatakan akan masuk surga asalkan membayar `sedekah` berupa uang yang besarnya ditentukan oleh pemimpin aliran TMS. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam serba-serbi | Bertanda: | 7 Komentar »

Ada Apa Dengan Pencabutan Subsidi BBM?

Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Februari 28, 2009

Baru-baru ini kita lihat berbagai TV di Indonesia dibanjiri oleh iklan penurunan harga BBM. ”Belum pernah ada dalam sejarah Indonesia BBM diturunkan sampai tiga kali”, kata seorang laki-laki setengah baya dalam iklan itu. Iklan yang dibuat oleh partai yang membawanya menuju kursi kepresidenan ini langsung menggandeng presiden SBY sebagai ikon. Sepintas iklan ini memang memberikan harapan baru bagi pengusaha kecil dan masyarakat yang hidup di bawah kemiskinan. Tidak ayal jika iklan itu membuat setiap mata yang sedang menyaksikan siaran televisi terkesima.

Iklan yang tampil hanya beberapa detik itu mampu menenggelamkan kebijakan BBM sebelumnya. Tepatnya pada bulan Maret 2005 kenaikan premium sampai 90 persen, dari Rp. 2400,-/liter menjadi Rp. 4.500,-/liter. Solar naik 104,7 persen, dari Rp. 2.100,-/liter menjadi Rp. 4.300/liter. Pada saat itu minyak tanah juga naik dari Rp. 700,-/liter menjadi Rp. 2.000,-/liter. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Resensi buku | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Sastra Jawa dan Politik Kebudayaan

Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Februari 28, 2009

Sastra Jawa sebagai khasanah pemikiran yang berkembang, rupanya memiliki akar kekuatan dan khasanah yang luas atas sejarah perkembangan Jawa. Keberadaan serat-serat Jawa kuno merupakan representasi dari Jawa pada zaman itu. Sekaligus sebagai alat legitimasi untuk pengukuhan identitas Jawa. Betapa tidak, hampir seluruh kejadian di Jawa pada saat itu senantiasa diceritakan lewat karya sastra. Manifestasi cerita-cerita itu berupa tembang, mantra, suluk dan lain sebagainya. Seperti kebanyakan munculnya karya sastra yang lain, sastra Jawa timbul berawal dari adanya ketimpangan. Akan tetapi tidak sedikit sastra Jawa yang muncul untuk memperkuat sistem pemerintahan yang berkuasa pada saat itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam jurnal pemikiran | Bertanda: , , , , , , , , | 4 Komentar »

Menyimpang, Jemaah Pengajian Noto Ati Disesatkan

Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Februari 20, 2009

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten Jombang melakukan pemantauan terhadap salah satu kelompok Jamaah yang sedang berkembang di Jombang.  Pasalnya, kelompok aliran yang menyebut dirinya sebagai Jamaah Pengajian Noto Ati ini diresahkan oleh masyarakat. Jamaah ini memiliki pengikut dari berbagai kalangan masyarakat, mulai pensiunan polisi, TNI aktif, Pegawai hingga kalangan pelajar. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam opini | Bertanda: , , | 3 Komentar »

Kontruksi Kebenaran tentang Dampak Merokok

Ditulis oleh Edi Purwanto di/pada Januari 28, 2009

Oleh : Edi Purwanto
Baru-baru ini muncul diskursif dipermukaan bumi Indonesia ini tentang haramnya merokok. Betapa naifnya lembaga resmi agama dari opemrintah yaitu MUI hanya mengurusi masalah sepele seperti ini. Untuk mengupas lebih jauh tentang keberadaan rokok dan bagaimana sebenarnya kontruksi kesehatan atas rokok itu di ciptakan mari kita ulas lebih detil dalam tulisan ini.
Sejarah Rokok
Jauh sekitar 200 sampai 300 tahun yang lalu rokok sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pada sekitar tahun 1700-an merokok masih menjadi kebiasaan para bangsawan dan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Pada waktu itu orang masih menyebutnya sebagai dry drunkenness (minum angin).  Kebiasaan orang-orang waktu itu minum kopi sehingga ia memaknai rokok dengan Dry Drunkennes. Mereka beranggapan bahwasanya merokok sama halnya dengan minum kopi. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam penelitian | Bertanda: , , | 2 Komentar »